
Mereka akhirnya makan es krim. Hiro mentraktir dengan uang dollar yang ia bawa. Hal itu semakin membuat Better dan Vanish takjub. Pasangan suami istri ini kagum akan bagaimana cara dari Rose mendidik kedua putra-putrinya.
"Bagaimana caramu mencetak kepribadian yang begitu bagus juga berattitude begini, Rose?" tanya Vanish yang meleleh tatkala melihat Hiro serta Milea bergantian memberi perhatiannya pada mama mereka. Bahkan, Vanish pun tak luput dari perhatian itu.
Contohnya seperti tadi, ketika Rose menjatuhkan sendok ke lantai. Hiro, begitu sigap menutup ujung meja menggunakan kedua tangan kecilnya. Benar saja, kening Rose membentur ujung meja yang telah ditutupi telapak tangan Hiro. Anak seusia itu bagaimana bisa memiliki naluri untuk menjaga seperti itu.
Bahkan terhadap Milea sekalipun. Hiro, sangat memanjakan adiknya sama sekali tidak ada rengekan atau hal-hal kecil yang biasa di lakukan anak-anak seusia mereka.
"Aku, tidak tau. Sama saja kurasa seperti para ibu yang lain dimanapun. Hanya saja, kami terbiasa hidup bertiga, dengan sahabatku sih sebenarnya," jelas Rose, jujur.
"Maaf, Rose. A--" Vanish memutuskan tidak bertanya lagi. Sebab, Better telah memberi kode dengan menyentuh punggung tangannya juga sebuah tatapan.
Hiro, tiba-tiba berhenti memasukkan es krim bermacam rasa itu kedalam mulut mungilnya. Bocah laki-laki itu menatap ke arah sang mama penuh arti. Kemudian, beralih pada Better sesaat, lalu kembali pada kegiatannya tadi. Hingga akhirnya ia berhasil menghabiskan es krim hingga satu cup besar.
"Semoga kita bertemu lagi. Ah, aku masih ingin bersama anak-anak mu, Rose. Sungguh menyenangkan dan manis. Hanya saja, kami ada pekerjaan lain," ucap Vanish seperti enggan berpisah. Hanya saja ia memang ada janji dengan Walls Diamond. Sepupu dari Arjuna Satria, yang mana juga adalah sahabat dari suaminya. Arjuna juga merupakan sungai dari sahabatnya yang sudah ia anggap sebagai kakak sendiri, yaitu Susi.
"Kita bisa bertemu lagi, kau kan sudah memegang nomer ponselku," ucap Rose sambil mengusap pelan perut Vanish. Entah kenapa, keduanya begitu mudah akrab padahal baru pertama kali bertemu hari ini. "Hubungi saja aku jika kau butuh teman bicara," ucap Rose lagi, yang mana hal tersebut langsung diangguki cepat oleh Vanish.
"Daa, Milea cantik. Hiro yang tampan. Aunty dan Uncle pergi dulu ya. Sukses untuk kompetisinya. Aunty tunggu traktiran berikutnya dari kalian!" ucap Vanish, sebelum akhirnya melambaikan tangan. Kemudian pasangan suami istri tersebut berlalu bersama Lamborghini berwarna kuning mereka.
__ADS_1
"Mobil yang keren, seperti Bumblebee," celetuk Hiro. Bocah lima tahun itu terus mengikuti kemana arah mobil mewah tersebut pergi, hingga menghilang di sebuah tikungan.
"Suatu saat nanti, Kakak pasti bisa memiliki Bumblebee. Milea sangat yakin." celetuk gadis kecil dengan kepalan tangannya yang ia tinjukan ke udara. Milea tau bertapa besar rasa suka sang kakak terhadap mobil dan juga robot. Apalagi dengan salah satu tokoh dari film Transformer tersebut. Siapa lagi kalau bukan sedan kuning bernama Bumblebee. Mobil yang bisa berubah menjadi robot tersebut. Ternyata adalah bangsa Autobots, alien yang berasal dari planet lain. Bersama Optimus Prime menjaga bumi dari serangan invasi dari detepticon yang dipimpin oleh Megatron.
"Kakak juga yakin, jika suatu saat nanti, Milea pasti bisa memiliki restoran yang menjual hanya makanan anak-anak," ucap Hiro balik yang serta merta segera mendapat pelukan hangat dari sang adik.
"I love you, my brother!" ucap Milea. Tentu saja kekompakan kedua anak kembarnya itu membuat Rose menumpahkan air mata yang sejak tadi ditahan olehnya. Kedekatan Hiro dan Milea. Perhatian dan cinta kasih sayang dari kedua anaknya itu membuatnya ia lupa akan segala sakit dan penderitaan yang telah di hadirkan oleh pria bermata biru dengan senyum tengil yang mana hal itu membuat Rose membencinya sampai ke tulang sumsum.
Buka tanpa rasa khawatir, tatkala dirinya memutuskan untuk go publik dengan kedua anaknya ini. Apalagi, Hiro begitu menyita perhatian setiap berada di manapun. Bukan tidak menyadari, bahkan Rose sangat sadar. Jika, Hiro memiliki gestur dan mirip dengan pria yang telah menanam benih secara paksa di rahimnya enam tahun yang lalu itu.
"Aku akan mempertahankan kalian, dengan nyawaku sekalipun. Anak badung itu, tidak akan pernah bisa menyentuh kalian barang sedikit. Mama berjanji, kalian berdua hanya milik mama seorang," gumam Rose seraya mengusap kristal bening yang terus menggenang di sudut matanya itu.
"Bos, apa anda tidak memerintahkan satu hal yang penting untuk saya?" tanya Will ambigu, yang mana hal itu lantas menciptakan semburat kebingungan di wajah tampan Walls.
"Bicara yang jelas!" seru Walls kesal. Sebab ia tak mampu menebak apa maksud dari Will.
"Haih! Apa anda tidak mau memerintahkan pada saya untuk mencari tau siapa anak itu? Mengawasinya mungkin? Atau mencari tau siapa ibunya? Siapa tau kan--"
Pluk!
__ADS_1
Sebuah bolpoint sukses mendarat di kening Will, membuat pria berwajah oriental itu mengusap kasar bagian wajahnya yang terkena timpukan Bos garang.
"Apa yang kau pikirkan! Aku tidak mungkin memiliki anak di luar sana! Sebuah kemiripan adalah hal yang wajar. Sepertinya kau perlu tau sebuah fakta, Will. Jika setiap wajah kita ini, memiliki enam wajah lain yang kemungkinan mirip dan tersebar di seluruh dunia. Jadi, bukan hal yang aneh. Karena itu, mulai sekarang. Kau jangan lagi berpikiran macam-macam!" hardik Walls yang langsung membuat Will bungkam, demi cari aman. Masalahnya di depan meja bos-nya ini juga ada cangkir. Takut-takut jika ia menjawab lagi makan cangkir berserta isinya itu akan turut melayang.
"Sebaiknya kau persiapkan saja pertemuan kita dengan klien yang ingin membayar sistem keamanan buatanku. Siapa tau, tahun ini aku dapat bekerja sama dengan NASA," ucap Walls dengan senyum miringnya.
"Siap, Bos!" Will pun berlalu dengan wajah serius kembali. "Aku akan mencari tau sendiri, Bos. Aku yakin jika anak itu adakah jelmaan kedua dirimu. Tapi, dalam versi yang menyenangkan dan lebih elegan." Will terkekeh di belakang pintu dengan berbagai rencananya. Sebab, pria ini yang tau bagaimana kejadian penjebakan di hotel enam tahun yang lalu.
"Aku tidak mungkin mempunyai seorang anak. Apalagi jika dia itu jenius. Walls Diamond, hanya ada satu di dunia ini. Ya, tentu saja. Semua ini pasti hanyalah sebuah kebetulan," gumam Walls sambil menatap keluar jendela.
"Tapi, aku harus menemukanmu untuk membuka kunci kutukan ini. Rose Brania!" Kali ini Walls berkata seraya menggeram kesal. Sudah bertahun-tahun lamanya, roket perkasanya ini tak mampu menjelajah keindahan surga dunia. Bahkan, hasrat itu pun ikut tenggelam, seiring kepergian wanita yang menjadi obsesinya itu.
"Aku yakin, jika ada sesuatu zat yang kau masukkan kedalam tubuhku ini. Aku pasti akan membuat perhitungan dengan mu, kucing liarku!" monolog Walls lagi.
"Bos, tuan Arjuna menghubungi anda!" Will pun menyambungkan hubungan komunikasi jarak jauh itu melalui laptop yang berada di atas meja kerja Walls.
"Kenapa sih, Bang. Aku lagi sibuk!" sambut Walls ketika sambungan telah tersedia. Tentu saja, ia langsung mendapat tatapan tajam menghunus dari Abang sepupunya itu.
"Dasar anak kurang ajar! Pulang! Maka aku akan langsung menikahkan mu dengan janda!" hardik Arjuna kesal. Punya adik sok sibuk bukan main.
__ADS_1
...Bersambung ...