
"Apakah, Mama harus mencari Papa kalian? Tapi, apakah pria itu mau mengakui bahwa kalian adalah anaknya?" gumam Rose seraya menekan dadanya yang nyeri.
"Mama, hanya butuh pengakuan pria itu. Ternyata, semakin besar, kalian kelak membutuhkan sosoknya. Mama pikir, kita bisa hidup bertiga saja selamanya," gumam Rose lagi sambil menyenderkan punggungnya di balik dinding. Suara tawa kedua anak kembarnya masih terdengar nyaring. Tanpa, Rose tau jika, mereka berdua nampak bersemangat mencari identitas laki-laki yang menurutnya pantas untuk di selidiki.
"Kakak, ini pasti akan mudah. Kau hanya perlu berteman dengannya lalu, kita bisa mengambil sampe untuk di lakukan tes DNA. Pria itu, pasti akan menyukai anak jenius yang satu circle dengannya. Semangat, Kak. Aku yakin, kau bisa mengambil hatinya," ucap Milea memberi dukungan pada saudara kembarnya itu.
"Kakak, akan melakukan apapun agar dapat dekat dengan pria itu. Ini bukan hal yang sulit," ucap Hiro penuh dengan keyakinan.
"Kak, apa kita harus menceritakan semua rencana kita ini pada mommy?" tanya Milea yang kini masih berada di belakang Hiro. Menyaksikan saudara kembarnya itu berselancar di depan layar komputernya. Hiro, begitu lihai. Mencampur dan menukar beberapa angka untuk membuka kunci sandi beberapa situs. Bahkan, tak jarang Hiro menemukan situs yang merupakan lahan jual beli perempuan, bayi dan juga organ. Seperti jantung, empedu, ginjal, mata dan juga hati.
Anak sekecil ini, telah melihat dan mengetahui betapa bobroknya dunia tekhnologi jika dimanfaatkan oleh manusia-manusia tak berakal budi. Bukan tak pernah, justru sering jika tanpa sengaja, Hiro akan masuk ke situs penyusup. Kenapa di katakan penyusup? Semua karena situs tersebut menyusup dari situs yang legal. Sehingga sudah menjadi makanan sehari-hari jika bocah lima tahun ini melihat situs atau web pornografi.
Justru dengan otak dan cara berpikirnya yang tidak seperti anak kecil. Hiro membuat situs bandingan. Sebuah situs yang mengkampanyekan web bersih serta situs aman bagi anak dibawah umur. Menurutnya teknologi yang semakin maju, alangkah baiknya mementingkan moral juga. Jangan semakin maju tekhnologi sebuah negara menjadikan moral dan akal penerus bangsa menjadi rusak lantaran hal-hal berbau pornografi dan juga kekerasan.
"Haihh, Kak. Kenapa anak sekecil kita sudah terkontaminasi dengan gambar-gambar yang menjijikkan seperti ini," dengus Milea seraya memutar bola matanya malas.
"Bukan rahasia umum. Bagaimana pun kita harus menghadapinya, Lea. Setidaknya kampanye yang Kakak buat di situs rahasia kita mendapat sambutan antusias yang sangat baik. Semoga saja, semakin banyak orang tua yang sadar untuk mendampingi anak-anak mereka. Juga, semakin banyak para orang tua yang paham untuk tidak mengotori otak suci nan murni anak-anak mereka dengan perbuatan asusila tak mengenal tempat," tutur Hiro, yang mana kata-katanya barusan sungguh tak nampak jika keluar dari mulut mungil dengan wajah imut menggemaskan.
__ADS_1
"Sudah, ah. Kak. Kita tidur yuk. Nanti, kalau kelamaan jiwa anak kecil kita benar-benar hilang. Lea gak mau, era golden age ini tidak akan terulang lagi. Lea gak mau menghilangkannya," rajuk Milea sambil menarik tangan Hiro untuk menyudahi aksi selancarnya di dunia maya.
"Kau benar, Dek. Kita harus tetap menjaga kepolosan dan juga sisi imut kita," ucap Hiro seraya tersenyum kepada saudari kembarnya yang nampak mengantuk ini.
"Ya, itu maksud Lea," celetuk Milea dengan mengerucutkan bibirnya.
"Ayo, kita ke kamar, Mommy dulu!" ajak Hiro seraya menuntun sang adik. Sementara itu, nampak Rose berlari tergopoh-gopoh memasuki kamarnya. Naik ketempat tidur lalu menyelimuti dirinya. Ah, tidak, Rose merubah posisinya. Ia menjadi bersandar pada punggung dipan lalu seakan-akan membuka laptopnya. Napasnya terdengar bersahut-sahutan dengan naik-turun dadanya. Gugup, jika saja sampai ketauan kalau tadi ia menguping di kamar kedua anak kembarnya.
Di saat, Rose masih menguasai hatinya yang berdegup kencang. Pintu kamarnya telah di dorong oleh dua tangan kecil mungil.
Klekk!
"Oh, hai! My Kiddos ...," jawab Rose seraya menyingkirkan laptop dari pangkuannya, lalu melempar senyum ke arah dua malaikatnya ini.
"Come here!" Rose merentangkan kedua tangannya. Biasa, kedua anaknya akan meminta pelukan dan ciuman sebelum mereka tidur. Pada saat inilah, Rose akan memanfaatkan kesempatan untuk mencium Hiro sampai hatinya puas. Anak lelakinya itu akan pasrah dan iklhas sebab ini memang waktunya bagi mereka untuk mendekatkan perasaan satu sama lain.
"Enough, Ma!" ucap Hiro menghentikan seketika hujanan ciuman dari sang mama ke seluruh wajahnya.
__ADS_1
Rose pun terkekeh, seraya memeluk sekali lagi putranya yang dewasa lebih cepat dari perkiraannya itu. "Oke, Its time for the story?" tanya Rose pada kedua anak kembarnya ini. Kembar tapi tidak seiras. Mungkin jika kembar silang memang seperti ini ya. Mereka tidak nampak jikalau kakak beradik. Kontur wajah dan juga perawakan sangat berbeda. Hiro agak lebih pendek dari Milea yang memang agak lebih tinggi sedikit. Sehingga, kalau mereka berjalan berdua, Hiro yang nampak sebagai adiknya. Padahal, Hiro lahir lebih dulu sepuluh menit dari Milea.
Rose tidak akan pernah melupakan masa-masa berselimut duka dan cita saat mengandung dan melahirkan keduanya. Juga, masa dimana ia berjuang membesarkan dua orang bayi sendirian. Sebab, kala itu Mona bekerja untuk membantu keuangan sehari-hari mereka. Mona, bukan hanya sebatas sahabat bagi, Rose. Tapi, sudah ia anggap laksana kakak dan juga ibu angkat bagi kedua anak-anaknya.
Rose mengambil buku di bawah nakas. Dimana terdapat beberapa tumpuk buku cerita di sana. Meksipun, anak kembarnya itu lebih dewasa dari anak seusia mereka. Bahkan keduanya sudah bisa membaca tanpa mengeja di usia mereka yang saat itu baru dua tahun. Mereka membaca buku-buku cerita yang dibacakan oleh Rose dengan sangat lancar juga intonasi yang tepat.
Padahal, Rose tidak mengajarkan kedua anaknya cara membaca hanya saja Rose rutin membacakan setiap menjelang waktu tidur mereka saja. Si kembar memang cepat belajar dari apa yang mereka lihat dan dengar. Pada saat itulah, Rose dan Mona mulai sadar. Bahwa Milea dan Hiro memiliki IQ kecerdasan di atas rata-rata. Hingga, ketika suatu hari Hiro, di usianya yang hampir empat tahun itu. Berhasil memecahkan kode dari sebahu game. Hingga, owner dari aplikasi itu memberikan hadiah seperangkat komputer canggih. Dari sanalah, Hiro mulai menjajaki dunia IT.
Hingga di ulang tahunnya yang keempat, Hiro sudah pandai menggunakan komputer juga mampu menguasai tiga bahasa asing. Sedangkan Milea, gadis kecil yang selalu mengatakan dirinya paling cantik. Selalu mengajak bicara setiap orang yang ia temui. Menemukan hobi dan kesukaannya menggambar secara otodidak juga. Kesukaannya memasak lantaran melihat keseharian Rose dan juga, Mona. Lalu, secara naluriah, Milea kecil menciptakan resep sendiri dari hasil modifikasi beberapa bumbu masakan. Anak itu sangat suka bereksperimen dengan makanan.
"Makan ini, Mama akan kembali menceritakan kisah tentang siput yang mampu mengalahkan kesombongan kancil," ucap Rose memulai sesi pengantar tidur kedua anak kembar jeniusnya.
"Here we go! Once upon a time, at the jungle ... bla bla blaa ..."
______
Sementara itu, pria yang telah di tandai oleh Hiro sebagai calon tersangka, kini tengah menguping obrolan kedua ponakannya. Padahal niatnya tadi ingin mengajak turun. Tapi ia tertarik dengan kata-kata dari Elisa.
__ADS_1
"Siapa yang mereka maksud si kembar jenius? Apa yang sebenarnya mereka hendak lakukan di sini?"
...Bersambung ...