
"Apa yang kau lakukan padanya!" pekik Susi, seraya membangunkan, Rose. Tatapan matanya nyalang mendelik ke arah adik sepupu suaminya itu. Sontak hal itu membuat, Walls menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Kau tidak apa-apa kan, Rose. Kau tenang saja, kali ini aku berada di pihakmu dan ku pastikan kali ini, suamiku akan menghajarnya tanpa ampun," ucap Susi pada, Rose. Namun tatapannya tertuju lekat ke arah Walls. Bernada sebuah ancaman keras.
"Kakak ipar, kau salah paham," jelas Walls kikuk. Posisinya tadi membuatnya sulit untuk mengelak. Apalagi, Rose begitu nampak ketakutan hingga wajahnya seketika pucat pasi. Tubuhnya bahkan gemetar dan lemas. Bagaimana harus membela diri jika keadaan yang terlihat seperti itu.
Aura mencekik semakin menjadi ketika, sang abang, Arjuna Satria, menatapnya intens. Tatapan itu seakan menembus ke dalam jantung, Walls. Membuat bule slengean ini menelan ludahnya kasar.
'Haihh, kenapa keadaannya menjadi seperti ini? Bagaimana caraku menjelaskannya?' batin Walls pasrah. Ia siap menerima ceramah dari kedua saudaranya ini. Keluarga satu-satunya yang ia miliki. Apapun, harus ia terima. Semua terjadi memang karena dirinya. Kedua anak kembarnya bahkan kini terbaring dalam keadaan lemah.
"Ikut aku!" Arjuna memerintah seraya memberi tatapan tajam kearah, Walls. Membuat pria berwajah bule itu menurut seketika. Entah kemana sang Abang membawanya.
"Kakak ipar, ini!" Better menyerahkan sebotol air mineral ke arah, Susi. Kemudian, wanita yang justru semakin cantik di usianya yang semakin matang ini menyodorkannya kepada, Rose.
"Minumlah. Kedua anakmu, pasti baik-baik saja. Suamiku, akan mengerahkan seluruh tenaga kesehatan yang terbaik. Jika, negara ini sudah tidak aman untuk keselamatan kalian bertiga. Maka, kami, akan membawa kau dan kedua anakmu ikut pulang," tutur, Susi. Membuat, Rose yang lemas. Seketika mendongak ke arahnya.
"Ya. Bawa kami, Nona. Bawa kami," sahut, Rose lirih. Ia sangat setuju jika memang wanita cantik nan anggun di sebelahnya ini ingin mengajaknya juga beserta si kembar.
Rose, sangat takut jika sampai kejadian seperti tadi terulang lagi. Ia tau, jika penjahat-penjahat itu mengincar kedua anaknya. Ia juga paham jika ini semua pasti berhubungan dengan bule mesum itu. Memikirkannya kembali sontak membuat dadanya naik turun menahan emosi.
"Rose, bawa aku menemui anak mu," ucap Susi. Ia terus merangkul bahu wanita yang tengah rapuh ini. Atau memang, selama ini Rose sangatlah rapuh karena traumanya. Ketakutan yang di barengi kebencian ini menguras tenaga dan juga pikirannya. Karena itulah, bobotnya semakin turun.
Rose hanya mengangguk, ia pun mengajak Susi menuju kedalam kamar perawatan kedua anaknya. Terlihat di atas hospital bed ukuran besar. Kedua anaknya itu nampak tengah tertidur dengan lelap. Infused water mengalir melalui selang kecil yang menancap di lengan kedua bocah lima tahun ini.
Susi memandangi lambat kedua wajah yang tampan dan cantik serta menggemaskan dengan keimutan keduanya. Keponakannya ini, tanpa memiliki wajah tanpa cela, semuanya nampak sempurna. Bagaimana, Walls bisa seberuntung ini, pikirnya.
__ADS_1
Kemudian, pandangannya beralih hanya pada , Hiro. Wajah anak itu benar-benar bentuk copy-an dari si anak badung. Hanya saja, terdapat sedikit kelembutan dari Rose yang membuat, Hiro tidak terlihat menyebalkan seperti sang papa.
"Kau sangat beruntung memiliki mereka berdua!" ujar Susi pada Rose. Membuat wanita yang digilai oleh, Walls ini tersentak. Rupanya ia tengah termenung.
"Ah, iya, Nona. Saya sangat beruntung memiliki mereka berdua. Merekalah, sumber kekuatan saya. Mungkin, saya hanya akan menjadi wanita tanpa arti jika bukan karena kehadiran Hiro dan Milea," tutur Rose penuh kebanggaan serta gurat kebahagiaan itu langsung tercetak di wajahnya yang tadi sendu dan pucat.
"Lalu, apa yang membuatmu begitu membenci kejadian enam tahun yang lalu? Jika kejadian itu tidak ada, bukankah kedua anak kembarmu juga tidak akan ada?" tanya, Susi. Mencoba untuk mengulik isi hati Rose yang sebenarnya.
Sontak, Rose pun menatap, Susi dengan sorot mata yang mengartikan keheranannya.Ia bingung, mengartikan maksud dari wanita yang berada di samping hospital bed, putra dan putrinya itu.
"Maaf, bukannya aku ingin membenarkan tindakan dan kelakuan yang dilakukan oleh sepupu suamiku itu. Hanya saja, aku ingin agar pada saat ini, kau melihat segala masalah dari sisi baik dan positifnya saja. Agar, itu semua tidak menjadi beban yang menyiksa batinnya terus menerus," jelas, Susi agar Rose tidak salah tanggap akan ucapannya.
"Saat ini, bukan masa lalu yang membuat ku takut. Semua telah berlalu dan ku terima itu sebagai kisah yang singgah sekejap. Tapi, yang kini aku takutkan adalah. Masa depan mereka, yang pasti akan dikaitkan dan selalu terkait padanya. Aku juga takut, jika dia, pria menyebalkan itu, suatu saat akan mengambil si kembar dari sisiku," tutur, Rose dengan suara parau. Pertanda ia tengah menahan tangisnya saat ini.
Susi langsung menghampiri, Rose yang sudah mulai bergetar. Terlihat dari cara wanita itu memeluk dirinya sendiri.
"Terimakasih, Nona. Aku--" Rose tidak dapat berkata apapun lagi. Pelukan dan perhatian dari Susi, serta setiap ucapan lembut yang keluar dari bibir wanita ini, membuat sisi hati, Rose menghangat.
"Jangan panggil aku, Nona. Panggil saja aku, Kakak ipar, seperti cara Walls memanggil ku,"ucap Susi, membuat Rose menunduk malu.
"Saya mana pantas melakukan itu. Seperti tidak sopan," ucap Rose, masih menunduk.
"Hei! Angkat kepalamu ketika berbicara dengan orang lain. Kau tidak perlu menunduk pada siapa pun. Aku bukan meminta tapi memerintahkan mu untuk melakukanya. Atau aku tidak akan mau lagi membelamu!" Akhirnya, Susi terpaksa memberi ancaman pada, Rose. Ia perlu menekan wanita keras kepala ini agar menurut padanya.
"Baiklah, Nona–maksudku, Kakak ipar," ucap Rose hampir saja.
__ADS_1
"Good girl!" Susi mengusap lembut bahu, Rose seraya memasang senyumnya.
Sementara itu di lain tempat.
"Selidiki siapa yang telah melakukan penyerangan terhadap Rose dan kedua anaknya. Aku akan memberi perlindungan ketat terhadap ketiganya. Kalau menunggu inisiatif mu pasti lama!" ujar, Arjuna. Ia sengaja mengajak, Walls ke roof top rumah sakit ini.
Tempat yang di desain nyaman bak sebuah taman. Membuatnya dapat bicara dari hati ke hati kepada sepupunya ini. Juga secara tidak langsung, Arjuna, juga dapat memantau keadaan dari atas sini.
Ia dapat melihat beberapa orangnya berjaga-jaga di bawah sana.
"Iyaa, Bang. Aku telah memerintahkan hal itu pada asisten ku. Will, yang akan menyelidikinya. Tidak akan kubiarkan penjahat itu melenggang bebas setelah melukai kedua anakku!" ujar Walls, terdengar menyimpan geram dan dendam.
"Mereka pasti adalah salah satu dari sekian musuhmu. Cepat atau lambat, identitasmu pasti terkuak. Hackers!" sarkas, Arjuna.
"Ya, aku tau itu, Bang. Aku telah mempersiapkan semuanya. Salah satu pasukan khusus telah menawarkan satu bagian dari aliansi mereka untuk ku gunakan jika dalam keadaan mendesak," ucap Walls enteng.
"Percuma. Mereka itu bukan anak buah yang setia. Kupikir kau sudah lebih pintar dengan mempersiapkan pasukan sendiri yang berani mati dalam membelamu. Berperang untukmu! Dasar bodoh! Kau masih saja tidak memiliki pemikiran jangka panjang!" Omelan dari sang abang ternyata mampu membuat, Walls merunduk kalah.
"Seharusnya kau dapat membangun aliansi sendiri untuk memperkuat kekuasaan. Kapan, kau akan belajar, Walls!" geram Arjuna, ternyata ekspektasi nya terhadap Walls terlalu ketinggian.
"Maaf, Bang!"
"Aku akan membawa mereka pulang!"
"Hah, apa!"
__ADS_1
...Bersambung ...