Kembar Jenius Si Mantan Playboy

Kembar Jenius Si Mantan Playboy
Bab. 31. Pilihan Yang Sulit


__ADS_3

Sunyi.


Walls, tenggelam dalam keheningan di dalam ruangannya. Pikirannya berkecamuk, berbagai macam hal seolah tengah berkelahi di dalam kepalanya.


Ia tidak bodoh, sungguh. Apa yang telah dilakukan terakhir kali oleh, Andreas Balotelli, terlalu jelas mengatakan betapa ketua kelompok mafia bawah tanah itu ternyata belum puas menunggu kehancurannya.


Ia tidak ingin menciptakan konflik tidak berguna di antara mereka, karena satu hal yang mestinya benar-benar ia khawatirkan saat ini adalah bagaimana perasaan, Rose padanya.


"Bagaimana caranya aku bisa melindungi kedua anakku dan juga menghabisi kelompok mafia ini bersamaan?"


Sekali lagi, Walls benar-benar paham betapa teknologi ciptaannya merupakan ancaman bagi beberapa aliansi dan kelompok, terutama para penjahat cyber.


Katakanlah ia sedikit ceroboh kala itu, sehingga identitasnya bocor ke permukaan. Karena sesungguhnya, Walls, tidak sekuat itu untuk menumbalkan orang yang ia cintai demi memancing kemunculan anggota mafia yang merupakan sisa dari klan Don Domino.


Walls, tidak ingin mengotori dirinya dengan darah para penjahat itu secara langsung. Ia bukan seorang petarung berdarah dingin layaknya, ketiga orang sahabat yang tergabung dalam Genk Patpat Gulipat.


Dirinya hanya memiliki kemampuan beladiri sedikit, dan sangat jauh sekali jika dibandingkan dengan, Arjuna, Better dan Joy. Dirinya lebih cocok berada di belakang layar dan bermain dengan komputer serta alat-alat canggih ciptaannya.


Hatinya masih berdegup kencang dan sesekali berdebar. Ketika ia mengingat bagaimana dirinya memangsa, Rose di malam enam tahun yang lalu.


Walls, masihlah seorang manusia, meskipun tidak utuh, tapi dia bukan iblis yang tidak punya hati. Ia takkan sanggup untuk menyakiti lagi, Rose. Wanita, yang sebenarnya sangat ia cintai.


Seseorang yang sangat ingin ia taklukkan di dunia ini. Namun di sisi lain, ia kini harus memikirkan bertanggung jawab terhadap kedua anak kembarnya. Relakah, ia menyingkirkan idealisme yang ia jalani sejak remaja?

__ADS_1


Sungguh, hal ini cukup membebani pikirannya. Ia harus segera membuat keputusan dengan cepat. Tidak ada banyak waktu untuk berpikir. Tidak ada banyak pilihan, untuknya mencoba pilih-pilih.


Bagaimanapun caranya, ia harus mengambil hati, Rose secara baik-baik.


Saat, ini dirinya harus mengesampingkan ego dan juga mungkin harga dirinya. Sebab, jika gagal, maka sang Abang akan membawa ketiganya pergi dari sisinya.


"Bagaimana, caraku meminta wanita itu agar mau menikah, dengan ku?"


ARRGHHH!


Walls pun berteriak seraya mengacak-acak rambutnya. Bingung, kehilangan akal dan rencana. Tak tau apa yang harus ia perbuat. Semua ini lebih sulit, ketimbang harus mendobrak pertahanan militer sebuah negara melalui cyber.


Haruskah ia menjatuhkan harga dirinya demi cinta? Sungguh, ini bukan gayanya.


BRAK!!!


Thunder menggebrak mejanya.


Deru napasnya begitu cepat dan patah-patah, ia menggosok wajahnya dengan kasar.


Sial!


Dirinya teramat kesal dengan ketua mafia itu. Penjahat yang semestinya ia hancurkan sejak dia tahun yang lalu.

__ADS_1


Sebut ia tidak waras, ia tak lagi peduli. Biarkanlah sekali ini hatinya yang mengambil alih, sebab, Walls telah bertekad untuk melindungi kedua anak dan juga wanita yang ia cintai dengan cara apapun. Apapun.


Sekalipun, berakhir dengan menikah dan seumur hidup dengan satu wanita.


Hah.


Sudah enam tahun ia tak lagi dapat menyentuh wanita manapun. Roketnya mati rasa dan mati gaya juga.


Hanya, ketika dengan dengan Rose, ia merasa jika Roketnya itu kembali berfungsi. Terdapat gelenyar dan kedutan di sana.


"Aku akan membujuknya. Atau Abang akan membawa mereka semua pergi selamanya dariku. Enak saja!"


Disaat, Walls berperang dengan jalan pikirannya sendiri.


Di sinilah, Rose tersenyum hangat menyaksikan kebersamaan kedua anaknya dengan saudara yang baru mereka temui. Bahkan, ia dan kedua anaknya baru tau jika memiliki saudara dekat.


Perasaan hangat ini juga di rasakan oleh sang kakak ipar, siapa lagi kalau bukan istri Arjuna yang cantik. Tapi namanya bukan Sinta melainkan, Susi.


"Ternyata mereka cepat akrab. Jadi bagaimana? Kau siap menikah?" Susi bertanya seraya memberi tatapan penuh dominasi ke arah Rose.


Rose seketika menelan ludahnya kasar. Apalagi dirinya masih punya pilihan? Peraturan dalam klan Dragon Storm mengatakan, jika ingin mendapat perlindungan yang utuh dan sempurna maka harus menjadi satu keluarga.


"Apa boleh jika aku berkata, tidak siap? Apa aku punya pilihan lain?"

__ADS_1


...Bersambung ...


__ADS_2