
"Bagaimana, Pa? Sudah bisa belum? " Milea menguap di ruang dapur. Hari telah menunjukkan waktu hampir jam sepuluh malam. Seharusnya, anak kecil sepertinya telah bermuara di alam mimpi pada jam segini.
Namun, lantaran sang papa gagal terus dalam membuat brownies maka jadilah gadis kecil mungil ini menguap terus sambil bertumpu tangan di atas meja.
"Sayang, Papa gagal lagi." Suara walls saat ini begitu nyata jika dirinya teramat frustrasi. Entah kenapa otak jeniusnya yang jika berhubungan dengan tekhnologi serta software akan menjadi sangat lancar. Akan tetapi, ketika di hadapkan dengan bahan-bahan kue, maka si otak mendadak bebal dan tulalit.
"Haihh, Pa. Ini sudah percobaan yang dua puluh lima. Lihatlah tempat sampah kita. Papa sudah memenuhinya dengan brownie pahit, brownies gosong, brownis hancur dan brownies monster!" keluh Milea seraya menjatuhkan kepalanya ke atas meja. Ia benar-benar lelah dan mengantuk.
Walls, seketika menjadi tak tega terhadap anak perempuannya itu. Milea begitu bersikeras mengajarinya dalam membuat kue kesukaan, Rose. Kedua anaknya begitu memikirkan nasibnya yang di benci oleh istri sendiri.
"Baiklah. Papa akan berusaha sekali lagi."
"Tentu saja, Pa. Kali ini harus berhasil. Karena tepung dan bahan lainnya hanya cukup untuk satu porsi kue lagi. Lea menyerah, ngantuk mau bobo aja. Dah, Papa ... semoga kau beruntung." Milea lantas melompat dari kursi dan segera berlari ke kamarnya. Meninggalkan, Walls termangu sendirian di dalam dapur.
"Tuan kasian sekali."
"Apa sebaiknya kita bantu saja?"
"Ayo!" Dua orang koki khusus yang Walls pekerjakan ternyata tengah memperhatikan keadaan tuan muda mereka yang mengenaskan.
Seluruh tubuhnya penuh tepung dan juga gula. Bahkan, celemek yang ia gunakan sudah tak terlihat lagi warna aslinya.
"Ma–af, tuan muda."
__ADS_1
Kedua koki itu menunduk.
"Hei, kenapa kalian belum istirahat. Pergi sana, jangan mengganggu ku!" Walls mengusir dua orang koki pribadinya.
"Tapi, tuan muda. Kami telah melihat bagaimana sejak awal Anda ..." Keduanya tak lagi meneruskan kalimat itu ketika mengetahui perubahan pada raut wajah Walls.
"Apa rencana kalian. Aku ingin berusaha sendiri. Dan kali ini kau pasti akan berhasil!" ujar Walls sepenuh hati dan yakin.
"Karena itu, ijinkan kami membantu. Sehingga tuan berhasil membuat brownies untuk nona muda."
Mau tak mau, Walls pun mengikuti saran dari koki pribadinya ini.
Sebut saja mereka, Vay dan Ray.
Koki kembar yang menjadi penanggung jawab gizi seluruh anggota keluarga di penthouse miliknya ini.
Walls terlihat mengepalkan tangannya.
Si koki kembar mengulum senyum mereka. Baru kali ini melihat tuannya itu, berjibaku selama berjam-jam di dalam dapur. Ingin rasanya mereka mengabadikan bentukan tuan muda Walls saat ini. Dimana wajah tampannya di penuhi oleh bubuk tepung dan juga coklat bubuk.
"Kenapa kalian berdua menatapku sambil menahan senyum? Apa ada yang aneh? Ketika tuan muda kalian berusaha memikat hati seorang wanita." Walls berkacak pinggang membuat para koki ini menahan tawa setengah mati.
Berhubung tidak etis menertawakan majikan mereka yang sensitif ini. Akhirnya mereka memilih untuk menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan.
__ADS_1
Huuuhh.
"Maaf, tuan. Boleh tidak kami mengabadikan gambar anda?
" Untuk apa!" Melotot.
"Sebagai kenang-kenangan, jika nanti anda telah berhasil mendapatkan hati nona muda." Si koki kembar saling pandang satu sama lain.
"Terserah kalian."
Tanpa banyak bicara lagi, Walls pun memulai kembali perjuangannya. Dan si kembar, koki sibuk mendokumentasikan dari berbagai sudut. Mengambil foto dan juga Vidio. Betapa imut dan manisnya tuan muda mereka. Meskipun, seluruh wajah tuan muda mereka terlihat sangat berantakan. Tapi, di sinilah seninya. Ini adalah momen langka yang sangat mahal.
Kapan lagi, para pekerja akan sangat terhibur saat melihat video ini nanti.
Vay dan Ray membekap mulut mereka menahan tawa.
Kemudian ikut terlonjak gembira ketika perjuangan sang majikan berhasil, ketika jam menunjukkan hampir jam satu dini hari.
Fiuuhhh ...
"Perjuangan berat ini, demi kau, Rose. Ku harap kau tidak mati ketika menyantap kue buatanku ini."
"Tenang saja tuan. Nona tidak mati, tapi akan jatuh cinta pada Anda."
__ADS_1
Sontak ucapan kedua kakinya itu membuat bibir Walls melengkung sempurna.
...Bersambung ...