Kembar Jenius Si Mantan Playboy

Kembar Jenius Si Mantan Playboy
Bab. 6. Mengenang Kepahitan Masa Lalu


__ADS_3

"Oiya, Kakak ini namanya siapa tadi? Maaf, saya lupa," ucap Vanish merasa tak enak.


"Panggil saja, Rose. Tidak perlu panggil Kakak segala," ujar Rose dengan senyum ramahnya. Meskipun di sebelah relung hatinya yang kosong ia begitu perih. Melihat kebersamaan pasangan di hadapannya ini. Perut, Vanish belum begitu besar. Tapi, Better sebagai suami begitu perhatian. Seakan-akan, Vanish begitu menderita kala membawa perutnya.


Berbanding terbalik ketika dirinya hamil enam tahun yang lalu. Semua fase ia jalani dan perjuangkan sendirian. Untung saja ada, Mona sahabat yang sangat ia andalkan dalam segala hal. Mulai dari mengelus punggung serta pinggangnya setiap malam. Memijat kakinya, menuruti semua keinginannya kala mengidam. Mengantar setiap pemeriksaan rutin, juga bagian yang ia cakar dan gigit ketika merasa kontraksi saat proses melahirkan.


Kebetulan, saat itu, Rose melahirkan si kembar di rumah Nyonya Megan. Wanita tua yang pernah di rawat oleh Rose telah menyewa seorang dokter spesialis untuk membantunya melahirkan secara normal. Rose yang faham efek samping obat bius untuk melakukan pembedahan sejak hamil selalu bersikeras ingin melahirkan secara normal. Meskipun pada saat itu, dokter mengatakan bahwa ia mengandung bayi kembar.


Ibu dari Nyonya Megan yang bernama Lily Allen, selalu memberikan fasilitas rumah sakit serta dokter terbaik untuk Rose. Sayang, keluarga itu telah tiada karena kecelakaan kapal pesiar yang mereka tumpangi kala berlibur tenggelam di tengah samudera Hindia.


Semua aset, habis untuk membayar hutang perusahaan Nyonya Lily. Rose beserta kedua anak kembarnya dan juga Mona. Harus rela angkat kaki dari rumah yang telah memfasilitasi mereka akan kemewahan.


Mona mengajak Rose dan kedua anaknya, pindah ke dusun kecil. Memulai semua dari nol kembali. Berbekal tabungan mereka kala kerja bersama nyonya Megan dan Lily. Rose yang tak sengaja membantu seseorang yang mana terdapat robekan luka pada perut akibat terjatuh dari motor di salah satu pusat kesehatan masyarakat desa. Membuat para dokter di sana tercengang. Pasalnya, tehnik yang Rose miliki adalah skill bedah dokter spesialis yang cukup sulit. Pasien tersebut selamat dan Rose didaulat untuk berkerja sebagai salah satu asisten dokter di sebuah klinik satu-satunya desa. Meskipun, dirinya tidak memiliki surat ijin ataupun sertifikasi pendidikan kedokteran.


Hingga, kejeniusan kedua anak kembarnya mau tak mau memaksanya untuk hijrah ke kota. Hiro dan Milea mendapat beasiswa pendidikan dari turnamen yang mereka ikuti di tingkat provinsi. Tanpa merasakan bangku sekolah taman kanak-kanak. Hiro dan Milea di usianya yang menginjak lima tahun ke atas itu, masuk sekolah primary school dan menduduki kelas tiga.


Rose, tidak kaget. Darimana asal genetik kejeniusan kedua anak kembarnya. Ia masih ingat bagaimana jeniusnya Walls kala memperdayainya dulu. Bahkan, dirinya tidak sadar jika telah di awasi selama berbulan-bulan. Sehingga, Walls tau sekecil apapun hal dan rahasia mengenai dirinya. Termasuk masa lalunya dengan Max.


"Ada apa? Kau sepertinya memiliki masalah yang berat? Katakanlah, siapa tau kami dapat membantumu. Anggap saja sebagai permintaan maaf ku," ucap Vanish membuyarkan lamunan Rose. Sebab, wanita cantik berambut pirang dengan wajah indo-bule di hadapannya ini menghela napas begitu berat. Seperti ada beban yang begitu menghimpit dadanya.

__ADS_1


"No, I'm, Oke!" jawab, Rose seraya memasang senyum ramahnya. Berusaha menutupi kisah pahitnya dari pasangan asing yang baru di kenalnya. Namun, Rose merasa nyaman. Aura ketulusan menguar begitu saja dari pembawaan keduanya.


"Sudah berapa bulan kandungannya, Van?" tanya Rose yang merasa lebih enak jika memanggil nama saja.


"Jalan tujuh belas minggu. Kenapa? Kecil ya?" cecar Vanish seraya memasang wajah sendunya.


"Tidak apa, yang penting bayi kalian tumbuh sehat di dalam sana. Nanti kalau sudah dua puluh minggu akan terlihat semakin besar.


"Apa aku sudah menikah, Rose?" Kulik Vanish tak enak hati sebenarnya. Tapi dirinya kepo juga. Sebab, dari gaya bicaranya barusan seperti berpengalaman terhadap kehamilan.


"Ehm, aku sudah memiliki satu putra dan putri. Mereka mengikuti kompetisi di gedung yang bersebelahan," jelas Rose tersenyum simpul. Sebab ia mendapat tatapan penuh kekagetan dari Vanish dan Better.


"Kau benar, sayang. Anak Joy, Hexy dan Foxy," jawab Better yang langsung berwajah ramah dengan tatapan hangat ketika berbicara dengan Vanish, istrinya.


"Nama yang unik," celetuk Rose, tertarik. "Pasti mereka, adalah anak yang luar biasa hebat. Kala mengandungnya saja sudah luar biasa," ucap Rose sambil menerawang kembali. Mengingat bagaimana dirinya kesulitan berjalan dan sekedar bangun ketika memasuki usia kandungan tiga puluh dua Minggu.


"Pasti berat, aku saja yang membawa bayi satu suka mengeluh pada suamiku," ucap Vanish dengan nada bersalah sambil menatap ke arah Better. Sontak hal itu membuat, Better menggeleng pelan, sambil mengelus perut buncit Vanish. Rose ikut tersenyum menyaksikan kasih sayang pasangan di hadapannya ini.


Meskipun dalam hatinya merasa miris lada nasibnya sendiri. Pertama kali hamil, anak kembar pula. Tak ada pria yang memberi perhatian, kehangatan serta kasih sayang padanya.

__ADS_1


Hanya, Mona, tempatnya bergantung. Sebab itulah, kedua buah hatinya sangat dekat dengan sahabat kentalnya itu.


Tiba-tiba ...


Drrttt !


Rose mengeluarkan ponselnya dari dalam saku Coat yang ia kenakan. Kebetulan di negara ini mulai musim gugur. Sehingga keadaan menjadi sedikit berangin.


"Maaf, pendamping putriku mengatakan bahwa. Ia masuk final lomba memasak di kalangan anak-anak. Bahkan usianya paling muda dari kontestan yang lain," ijin Rose pada Vanish dan Better untuk pergi lebih dulu.


"Memang, berapa usia putra dan putri anda?" tanya Better sopan. Meskipun terdapat sesuatu hal dari maksud pertanyaannya itu.


"Aku melahirkan mereka, hampir enam tahun yang lalu."


Deg!


"Boleh aku ikut melihat anak-anak mu, Rose?" pinta Vanish antusias. Better pun ikut mengiyakan. Ia juga ingin tau siapa orang yang kini tepat berada di hadapannya. Sepertinya tersimpan kisah yang menyangkut pada perubahan seseorang yang juga ia kenal.


...Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2