Kembar Jenius Si Mantan Playboy

Kembar Jenius Si Mantan Playboy
Bab. 7. Versi Walls Mini


__ADS_3

"Apakah ini gedungnya," tanya Will seraya menoleh kebelakang.


"Iya, benar," jawab Hiro sambil menggaruk pelipisnya. Kelakuan yang sama persis ketika Walls sedang kikuk.


'Anak ini! Siapa dia sebenarnya?' batin Walls dipenuhi segala pertanyaan.


" Ternyata letak gedungnya cuma bersebelahan! Ya ampun, jadi jauh lantaran kita harus memutar. Memangnya kemana sih orang tuamu?" cecar Will begitu gemas, merasa jika bocah yang duduk di sebelah bos-nya ini sedang mengerjainya.


"Mama menunggu di sana, kalau pak guru tadi Hiro suruh jalan duluan kesana," jelas Hiro dengan memasang senyum imutnya. Will hanya bisa menghela napasnya. Melihat wajah manis yang nampak polos tanpa dosa itu membuat kekesalannya seketika menguap begitu saja.


"Jadi, kau sengaja ingin menumpang dengan ku? Atau memang ingin aku mengantarmu?" cecar Walls membuat Hiro memasang kembali senyumnya. Walls, akhirnya juga ikut melebarkan sudut kedua bibirnya. Ia tersenyum, setelah sekian lama tak ada lagi alasan yang membuatnya melakukan itu.


Semenjak kejadian pembiusan malam itu di kamar hotel. Walls mendapati jika Rose telah pergi tanpa sedikitpun jejak tertinggal. Dirinya sempat marah, lalu mengerahkan segala kemampuan IT-nya untuk melacak keberadaan Rose Brania. Beberapa waktu kemudian, Walls akhirnya sadar bahwa apa yang ia lakukan terhadap wanita itu adalah satu kesalahan besar.


Semenjak hari ketika kesadarannya datang. Walls seakan di kejar dosa. Ia tak lagi bergairah terhadap wanita manapun. Bahkan, roketnya mati rasa. Pada saat itulah, ia tersadar bahwa hukum alam itu benar adanya. Dan, semenjak hari itu ... Walls menjadi kepribadian yang berbeda. Hilang sudah keceriaannya serta tingkah absurdnya yang mana bisa membuat orang kesal sekaligus gemas. Walls menjadi pribadi yang lebih pendiam dan kaku.


Wajahnya menjadi terlihat agak sinis dan mirip seperti Arjuna kala menjadi kanebo kering. Masih ingat kan sama si Abang ganteng yang membiayai kuliahnya sampai Walls kini jadi orang sukses?


Nanti kita akan munculkan beberapa tokoh dari novel lama. Itung-itung demi mengobati kerinduan kalian.

__ADS_1


Sebab, novel ini tempat reuni dimana empat sekawan bertemu sambil membawa pasangan dan juga anak keturunan masing-masing.


Pasti seru kan, tunggu saja waktunya.


"Hiro, hanya ingin merasakan duduk bersama dengan promotor sebuah acara luar biasa. Dimana, talenta anak di seluruh dunia di jembatani dan di dukung sehingga mereka bisa berkembang. Mereka juga bisa mengepakkan sayap ke tempat yang lebih jauh," tutur Hiro menjelaskan maksudnya kenapa ia melakukan hal itu. Tentu tidak seluruhnya. Sebab, Hiro tidak mungkin mengatakan bahwa ia ingin tahu kenapa pria dewasa di sebelahnya ini memiliki warna mata serta gaya rambut yang sama dengannya.


Mendengar ucapan Hiro yang begitu tertata rapi, bahkan tak nampak keluar dari mulut seorang anak kecil. Walls serta Will menoleh dan menatap tanpa kedip. Seingat Will, ketika dirinya seusia dengan Hiro, ia hanya tau jajan dan mainan saja. Bicaranya juga tidak selancar dan setegas ini.


Begitupun dengan Walls, seingatnya dulu waktu kecil dirinya tidak seserius Hiro. Apa benar anak ini jelmaan dirinya waktu kecil? Meskipun ada beberapa hal yang sangat mirip. Tapi kecerdasannya benar-benar setara anak jenius.


"Apa yang akan kau lakukan jika nanti memenangkan hadiah kejuaraan anak jenius ini?" pancing Walls ingin tau apa keinginan anak ini sebatas apa yang ia pikirkan saja. Sangat melekat dengan karakter anak-anak tentu saja.


"Hiro, mau ajak mama dan juga adek jalan-jalan. Selama ini, Hiro belum melakukan apapun untuk memberi kebahagiaan juga kebanggaan buat mama. Selama ini, mama, hanya tau bekerja keras untuk mencari uang demi kami berdua. Mama, bahkan tidak memikirkan untuk merawat dirinya," tutur Hiro begitu dewasa. Sungguh tidak menyangka jika kalimat semanis itu keluar dari bibirnya yang mungil serta tubuhnya yang kecil.


"Mungkin anda benar, Tuan Diamond. Sebaiknya, Hiro turun di disini saja," ucap bocah kecil bertubuh mungil dengan segudang talenta di otak mininya itu.


"Baiklah, sampai ketemu lagi," sahut Walls dengan senyum tipis yang menghiasi wajah tampannya. Sedikit lebih dewasa dengan bulu halus yang sengaja ia biarkan tumbuh menghiasi rahangnya yang menawan.


"Kenapa kita buru-buru pergi, Bos? Apa anda tidak penasaran terhadap wanita yang telah melahirkan anak jenius sepertinya. Belum lagi, Hiro begitu mirip dengan anda. Siapapun pasti akan mengira jika kalian adalah ayah dan anak," ucap Will mengingatkan Walls terhadap sesuatu.

__ADS_1


"Tidak mungkin, Will! Wanita mana yang kemungkinan hamil anakku?" bingung Walls seraya memijat pelipisnya.


"Ya iya bingung, Bos. Dimana ada sawah di situlah anda membajak. Sekarang bingung sawah mana yang menghasilkan benih," celetuk Will ketus.


Pletakk!


"Aww! Kenapa sih, Bos? Salah saya dimana coba?" protes Will seraya mengelus belakang kepalanya yang terkena timpukan botol air mineral.


"Aku selalu mengenakan pengaman. Juga untuk para wanitaku, mereka selalu mengkonsumsi pil penghancur benih kecebong. Hanya, ada satu wanita yang tidak, bahkan malam itu aku tidak menggunakan pengaman apapun ...," terang Walls sambil menerawang. Seketika tengkuknya merasa berat.


______


"Ma!"


"Hiro!" Kedua ibu dan anak ini akhirnya ketemu di lobi. Segemas apapun, Rose tidak akan bisa mencium putranya. Jangankan ditempat umum, di rumah saja ia akan marah dan kesal. Kecuali jika Hiro yang memulai duluan. Entahlah, Rose pun heran. Tapi begitulah anaknya. Unik dan selalu membuatnya bangga.


Tanpa Rose sadari ada sepasang mata yang memindai dan menelisik dengan kening uang berkerut. "Rose, apa ini putra jeniusmu itu?" tanya Better dengan tatapan mata lekat menatap keseluruhan wajah Hiro.


"Ya, ini dia, Hiro Albano. Salah satu anak kembar saya. Oh iya sayang, perkenalkan, ini kawan baru Mama. Tuan Better dan Nyonya Vanish," jelas Rose. Satu hal yang tentu saja membuat Better dan Vanish membulatkan matanya heran.

__ADS_1


"Sugan, apa dia versi Walls mini?"


...Bersambung ...


__ADS_2