
"Maaf, Bang!" Hanya kalimat ini yang mampu, Walls ucapkan pada, Arjuna.
"Aku, akan membawa mereka pulang!" celetuk Arjuna yang mana membuat, Walls seketika menganga.
"Hah! Apa? Mana bisa begitu, Bang. Aku bahkan baru menemukan mereka bertiga. Bahkan, aku telah menyusun beberapa rencana untuk melakukan pendekatan. Bagaimana jadinya jika kami terpisah jauh seperti itu?" tuntut, Walls tak terima begitu saja ide dari abang sepupunya itu.
"Mana bisa tenang meninggalkan mereka bersama mu. Bahkan, untuk sebagian melindungi diri sendiri saja kau masih mengandalkan kecermatan dari asisten mu, Si kriwil itu," tukas, Arjuna tetap bersikukuh dengan rencananya.
"Will, Bang. Bukan kriwil, memangnya dia itu pelawak yang--" Walls tidak meneruskan kalimatnya lantaran, Abang sepupunya itu telah memberi tatapan tajam padanya. Arjuna itu pantang di kritik. Apalagi oleh, Walls.
"Sama saja, tak usah pakai protes segala. Kau itu, hanya mengandalkan dia. Selalu ceroboh dan tidak pernah melakukan tindakan yang terstruktur dengan baik. Selalu menggampangkan setiap masalah yang timbul. Sebagai, ahli komputer dan juga peretas perangkat lunak. Kau, seharusnya lebih teliti dan waspada. Kesalahan sekecil apapun akan berimbas dan berefek besar di kemudian hari," tutur, Arjuna mendikte adik sepupunya yang selalu saja menggampangkan setiap persoalan.
"Baiklah, Bang. Terserah kau saja. Tapi jangan bawa kedua anakku pulang. Aku berjanji akan memberi perlindungan yang terbaik," ucap Walls penuh permohonan.
"Biarlah, momen ini menjadi sebuah kesempatan emas untukku lebih dekat dengan mereka, Bang. Aku akan menunjukkan sikap seorang papa yang bertanggung jawab. Jika mereka kau bawa pergi, apa yang harus aku buktikan. Aku dapat menghabisi seluruh penjahat itu pun percuma," tambah Walls lagi, serius.
Arjuna menatap papa muda di hadapannya ini intens. Ia dapat melihat keseriusan di kedua mata pria tampan yang sebenarnya sudah lebih baik dari beberapa tahun yang lalu. Berkat kejadian itu, Walls tak lagi bermain dengan wanita-wanita cantik lagi.
"Baiklah, aku akan memberimu kesempatan," ucap Arjuna dengan seulas senyum penuh arti.
Malam ini, Walls berniat mengunjungi kedua putra dan putrinya lagi. Sang asisten, Will Smurf setia menemani bos-nya yang labil ini.
Pria bermata sipit dengan postur tubuh kurus tinggi itu, telah menyiapkan pengawal pesanan, Walls. Sekitar, empat orang bertugas mengawasi di depan kamar rumah sakit dan sekitar lorong. Sedangkan keempatnya lagi bertugas di luar rumah sakit.
__ADS_1
Keempat penjaga, menunduk sopan ke arah Walls sebagai majikan yang membayar mereka. Lalu membukakan pintu agar, Walls dapat masuk. Ketika di dalam, hati Walls seketika menghangat. Ia melihat kedua anaknya nampak sehat dan tengah duduk mengunyah buah naga sambil menonton televisi.
Merasakan kedatangan orang lain di kamar mereka. Sontak ketiga penghuni kamar ini menoleh serentak secara bersamaan ke arah, pintu. Pada saat inilah, kedua tatapan saling beradu kembali. Pandangan Walls saat ini seakan terkunci, entah kenapa ia tak dapat bergeser ke tempat lain. Ia justru memandangi, Rose begitu dalam.
Sepersekian detik kemudian keduanya tersadar. Keduanya pun memalingkan wajah mereka demi menyembunyikan rasa malu yang menciptakan guratan merah muda di tulang pipi. Walls pun, kembali pada inti kedatangannya yang bukan hanya ingin menjenguk. Akan tetapi, lantaran ada sesuatu hal, yang akan ia sampaikan pada, Rose. Menyampaikan apa maksud dari kedatangannya kesini.
Baru saja, Walls hendak membuka mulutnya untuk berbicara, dengan cepat, Rose memotong keinginan itu.
"Kami, akan ikut, Kak Susi. Aku tidak ingin tinggal bersama dengan mu. Apalagi, status kita tidaklah jelas. Ingat, kita bukanlah sebuah keluarga berencana," ucap, Rose. Seketika, membuat Walls kembali menelan kata-kata yang hendak ia ucapkan.
"Hah! Maksudku, kenapa? Semua demi keselamatan mu dan juga kedua anakku, maksdnya anak kita, ah itu ... ya, seperti itulah maksudku, iya ... seperti itu," ucap, Walls kikuk dan terbata-bata.
Entah apa yang saat ini mampir dalam pikiran, Walls. Ia bahkan mengusap tengkuknya dengan senyum kikuk. Ah, Walls mendadak jadi orang bodoh ketika berhadapan dengan wajah polos, wanita beranak dua ini. Ternyata, semakin matang usianya. Maka, Rose semakin menawan di hadapan, Walls.
"Siapa, Mona? Apa dia kerabat mu. Biar, Will merevisi isi perintah ku kepada penjaga di luar," ucap Walls berusaha sabar. Ia telah berjanji dalam hatinya untuk dapat mengambil hati, Rose terlebih dahulu. Baru ia dapat memiliki kedua anaknya.
"Dia sudah kuanggap seperti kakakku sendiri. Sudah delapan belas jam dia menunggu di luar rumah sakit sambil menangis," jelas, Rose. Ia bahkan segan untuk berbicara sambil menatap pada, Walls.
"Baik." Walls segera mengeluarkan ponselnya.
"Will, suruh pengawal menjemput pengunjung di lobi. Namanya, Mona. Ia adalah kakak dari Rose," ucapnya di balik ponsel pintarnya itu.
Rose, sempat terkesiap sesaat. Pasalnya, tidak seperti biasanya Walls akan menuruti permintaannya.
__ADS_1
"Sebentar lagi, Kakakmu sampai kesini. Sebelum itu, aku mohon padamu. Jangan ikut kakak iparmu. Tetaplah di sini, berjanji akan menjaga kalian dengan baik. Akan kukerahkan segala kemampuanku untuk dapat melindungi kalian bertiga. Aku, hanya ingin menjadi laki-laki yang bertanggung jawab. Sungguh, Kalian bertiga adalah tanggung jawabku saat ini. Bukan tanggung jawab dari Bang Arjuna. Karena itu kumohon tetaplah disini," ucap Walls tanpa sadar ia telah meraih sebelah tangan Rose dan menggenggam jemari itu erat.
Bertepatan, dengan masuknya, Mona ke dalam kamar perawatan si kembar.
"Rose!" panggil Mona yang tak lama kemudian segera menutup mulutnya menggunakan telapak tangan.
Walls pun langsung tak sadar atas apa yang ia lakukan barusan. Ia segera menarik tangannya begitu juga dengan wanita di hadapannya.
" Maaf, aku tidak sengaja. Aku hanya, takut kalian meninggalkanku. Aku ... maksudku, aku baru saja bertemu dan mengetahui keberadaan kedua anakku. Mana, mungkin dapat kubiarkan kalian pergi lagi dari sisiku. Terutama, kau. Ada satu hal yang ingin ku tanyakan padamu," jelas, Walls. Ia pun menatap serius ke arah, Rose. Hingga, mereka berdua beradu dalam pandang lagi.
"Ehem! Serius ya. Sampai aku datang saja kau tak sambut!" celetuk, Mona yang membuat, Rose menarik napasnya. Pasalnya setiap, pria bule di hadapannya memberi tatapan intens. Rose seakan tercekik. Entah karena apa, tapi tak mungkin itu semua karena ia terpesona kan?
Rose pun, buru-buru menggelengkan kepalanya cepat. Tentu saja hal itu membuat, Mona semakin bingung.
"Hei! Rose. Kau baik-baik saja kah?" tanya, Mona heran. Ia berjaga-jaga, takut Rose pingsan lagi. Tapi, sepertinya tidak akan terjadi. Semburat merah di pipi sahabatnya ini memberi arti jika sikap Rose barusan bukan lantaran takut ataupun kecemasan berlebihan seperti biasanya.
"Kita, akan membahas masalah itu lagi nanti. Saat ini, aku ingin bicara dengan sahabatku," ucap, Rose mengusir halus, Walls.
"Oke! As u wish, my lady!" ucap, Walls mencoba tengil seperti biasa.
Tapi, justru yang ia lakukan barusan kembali membuat dada, Rose berdentum.
'Sial! Aku ini kenapa sih!' batin, Rose merasa aneh.
__ADS_1
...Bersambung...