Kembar Jenius Si Mantan Playboy

Kembar Jenius Si Mantan Playboy
Bab. 12. Perjanjian Antara Walls Dan Will


__ADS_3

Susi mengerutkan keningnya, lalu berjalan mendekat demi memastikan penglihatannya. Wanita cantik dengan tubuh yang berhasil kembali ramping dan singset setelah usahanya selama satu tahun belakangan ini. Sebab, Susi sempat mengalami kenaikan bobot yang drastis semenjak melahirkan anak keduanya. Yaitu, adik perempuan dari Satria Junior yang bernama Elisa Chandrawinata.


"Siapa sih, Mom? Kenapa begitu kaget?" cecar Elisa yang juga ikut menghampiri tempat dimana kedua orang tuanya duduk sambil menatap tajam ke arah layar laptop.


"Sepertinya, keponakan dari Daddy," jelas Susi seraya mengelus pucuk kepala gadis kecil berusia enam tahun itu.


"Berarti, dia sepupu Elisa?" tanya gadis kecil yang masih mengenakan seragam sekolah taman kanak-kanak itu.


"Exactly! Anak Mommy, pintar!" puji Susi yang sontak langsung melabuhkan kecupan gemasnya pada kedua pipi chubby Elisa.


"Mom, aku pernah melihatnya di tivi. Gadis kecil itu, yang rambut ikalnya di kuncir dua!" tunjuk Elisa lada layar yang menampilkan wajah imut Milea.


"Benarkah? Di acara apa ya? Memang sih, Mommy, seperti pernah melihatnya," ucap Susi sambil berusaha mengingat sesuatu.


"Kompetisi memasak anak-anak. Gadis kecil itu adalah peserta termuda, Mom. Namanya ... Milea," terang Elisa.


"Wah, putri Daddy hafal benar!" heran Arjuna. Ia pun langsung menghubungi Better yang kebetulan berada satu negara dengan Walls.


[ Halo, Ar! ]


"Kau tau apa yang harus kau lakukan, Bet. Aku mau, informasi mengenai mereka secepatnya!" ucap Arjuna tegas seperti biasa.


[ Beres, Ar. Tanpa kau perintah, aku telah mendapatkan informasi mengenai mereka. ]


"Heh! Lalu kenapa tidak kau sampaikan padaku!" teriak Arjuna seraya berdiri dengan seketika.

__ADS_1


"Sabar kenapa sih, Arjuna," ucap Susi gemas, seraya menarik ujung kemeja suaminya itu agar duduk kembali. Sementara, Elisa hanya menahan senyumnya kala melihat ekspresi gemas sang Mommy. Sudah biasa ia saksikan, sifat sang Daddy yang suka marah-marah jika menelepon kawan-kawannya. Kecuali jika dengan keluarga, sang Daddy adalah pria yang lembut dan penyabar.


[ Saya baru mau kirim file-nya. Siapa mengira, kau akan menelepon lebih dulu. ] Di seberang sana Better pasti tengah memutar bola matanya malas.


Benar saja, lelaki gondrong itu sedang menggerutu saat ini. Terlihat dari mulutnya yang terus komat-kamit. "Makin tua makin jadi, dasar pemarah, gak sabaran!" umpat Better kesal. Ia pun mengetik kembali untuk mengirim informasi yang baru saja ia dapatkan.


Sementara itu.


"Siapa yang kau hubungin Will? Kenapa terlihat mencurigakan sekali?" cecar Walls yang melihat gerak-gerik asistennya itu macam tak biasa.


"Kepo aja sih, Bos. Biasalah, gebetan," elak Will, berusaha menutupi apa yang tengah ia lakukan tanpa sepengetahuan bos-nya itu. Sebab, bagaimana pun dirinya penasaran, mengenai identitas Hiro sebenarnya.


"Haissh, siapa gebetan mu itu. Manusia atau roh halus!" ledek Walls, sesudahnya pria itu tergelak kencang. Baginya, Will itu senasib sepenanggungan dengan dirinya. Will tidak akan pernah menikah sebelum roketnya kembali seperti semula.


"Tidak keduanya, Bos," jawab Will malas. Entah sampai kapan dirinya melajang. Demi janji dan sumpah setia yang ia ucapkan di saat mabuk. Justru berimbas seumur hidup.


"Nah, itu Bos tau. Dia cantik lho, tapi telinganya lancip, mau gak aku kenalin?" balas Will yang mana hal itu langsung membuat Walls bergidik. Asisten rese itu pun tertawa melihat sang bos akhirnya pergi menjauh darinya. "Ck, lagian rese duluan," gumam Will masih sesekali tertawa geli.


"Gimana, lo udah dapet data-datanya?" tanya Will pada seseorang yang ia hubungi lewat ponsel pintarnya itu.


[ Susah Bos, keluarga anak itu meminta tim untuk menyembunyikan data-datanya. Itu salah satu syarat mereka ketika diundang oleh tim kompetitor. ]


"Ck, ternyata harus aku juga yang turun tangan!" decak Will, kesal.


[ Maaf, Bos. Sepertinya memang begitu. ]

__ADS_1


"Ya sudah, atur pertemuan ku dengan mereka!" titah Will kemudian.


"Bos, saya mau ijin ketemuan dulu ya. Sebentar kok!" ucap Will meminta ijin sambil memainkan alisnya.


Sebuah bolpoint kembali melayang dengan cepat dan mengenai kening, Will.


Pletukk.


"Astaga! Bos!" Will menjerit lantaran benda itu mengenai pelipisnya, serasa tajam dan sedikit menggores. ' Untung majikan, kalau bukan sudah, hegh!' batin Will kesal.


"Maka itu jangan seenaknya! Apa kau lupa perjanjian kita!" protes Walls, menahan geram.


"Eh, iya sih. Tapi kan, Bos. Masa roket saya juga harus vacum sih? Kan itu--"


"Itu apa! Apa perlu ku kebiri sekarang!" Walls sampai menggebrak meja saking kesalnya. "Enak saja kau. Sebelum aku kembali normal, tidak ada yang namanya wanita dalam hidupmu, paham!" bentak Walls serius. Bahkan, sang asisten sampai memegangi dadanya lantaran kaget.


_____


"Sayang, ternyata benar. Di kembar yang mirip dengan sepupu nakalku itu adalah anak dari wanita ini," panggil Arjuna seraya menunjukkan kembali beberapa foto yang dikirim melalui aplikasi chat berwarna hijau.


"Benar, Ar. Wanita ini yang saat itu diincar setengah mati oleh si badung playboy itu. Aku ingat wajahnya. Meksipun, sekarang dirinya nampak lebih dewasa dan anggun," ucap Susi seraya menarik sudut bibirnya ke atas.


"Kita harus, menyusul mereka. Temui mereka, Ar. Keponakan mu!" seru Susi antusias, bahkan dirinya hampir saja berjingkrak-jingkrak.


"Elisa ikut ya, Mom!"

__ADS_1


"Satria juga!"


...Bersambung ...


__ADS_2