
"Hei, Bang! Ada angin apa kalian mengunjungiku ...?" Walls menatap bingung pada rombongan yang tengah tersenyum aneh padanya ini.
Arjuna sang abang sepupu mengunjunginya tanpa memberitahukan terlebih dahulu. Tentu saja hal itu amat mengangetkan. Pasti ada sesuatu hal yang besar dan penting. Sehingga, Arjuna membawa pasukannya komplit.
"Setidaknya jamu dulu tamu spesialmu ini. Sungguh terlalu!" celetuk Arjuna seraya masuk melewati Walls. Mereka semua kini berada di penthouse mewah milik Walls. Dimana pemandangan bangunan tersebut menjorok ke laut dan juga gedung pencakar langit lainnya.
Walls hanya bisa menggeleng akan kelakuan satu-satunya saudara yang ia miliki ini. Senyumnya terkembang kala melihat kedua ponakannya juga menatap kepadanya.
"Apa kalian merindukan, Om tampan?" tanya Walls seraya berpose bak foto model.
"Aaaa ...!" Satria dan Elisa langsung memekik girang dan menghampiri Walls dengan berlari. Kedua anak dari Arjuna memeluknya erat. Mereka cukup dekat, sebab Walls sangat perhatian dengan kedua keponakannya ini. Meskipun mereka jarang bertemu, akan tetapi setiap ada waktu Walls akan mengunjungi dan mengajak keduanya bermain sampai puas. Mencekoki mereka dengan berbagai mainan berteknologi canggih.
"Aku bosan dengan gadget. Kita main UNO saja!" celetuk Satria. Sebab, Walls selalu mengajak mereka bermain acapkali bertemu.
"Junior, ajak adik mu istirahat dulu di kamar. Mommy dan Daddy ingin bicara dulu sama Om kalian ini. Ok!" ucap Susi seraya mengacak gemas ujung rambut Satria yang sedikit ikal seperti rambutnya. Berbeda dengan Elisa, yang lurus sama seperti Arjuna. Tapi untuk keseluruhan bentuk kontur wajah dan juga perawakan, Satria Junior benar-benar menuruni genetik suaminya.
"Oke, Mom. Ju, mengerti," sahut putra pertama Susi itu dengan menempelkan telapak tangannya ke depan kening. "Ayo, El. Kita istirahat dulu." Satria Junior pun menuntun sang adik, lalu mengikuti kemana arah sang pelayan membawa mereka.
Penthouse yang mewah dan luas ini begitu memanjakan mata. Susi bahkan beberapa kali berdecak kagum. Meskipun, mansion yang ia tempati juga mewah dan serba ada. Akan tetapi, penthouse ini memiliki view yang luar biasa bagus. "Berapa harga, tempat tinggal mu ini, Walls?" tanya Susi yang ingin tau, berapa banyak Walls menghabiskan uangnya untuk mendapatkan kemewahan seperti ini.
"Murah. Hanya, beberapa ratus juta dollar saja," jawab Walls santai. Membuat Susi seketika melongo di buatnya. Bagaimana tidak, jika Walls mengucapkan angka triliunan itu seperti mengucap harga ratusan ribu. Dasar bocah tengil!
__ADS_1
"Wajar dan pantas! Viewnya langsung menghadap ke laut Mediterania. Seorang hacker nomer satu di dunia memang pantas memiliki ini semua," ucap Arjuna kagum. Tidak menyangka jika bocah badung yang setiap sekolah seperti main-main saja ini, ternyata bisa menjadi orang yang berhasil. Meskipun, sifat jeleknya itu yang membuat kepala Arjuna migren setiap kali melihat Walls bergonta-ganti wanita hampir setiap hari.
"Apa kau menghabiskan seluruh uang mu hanya untuk sebuah hunian berkelas begini? Apa tidak ada tabungan untuk menikah suatu saat nanti?" tanya Susi, heran. Meksipun kehidupan yang Arjuna berikan cukup mewah. Namun, tetap saja ia adalah pribadi yang sederhana. Cukup tau kehidupan pribadi keluarga nya saja. Menikmati kebersamaan dengan anak dan suaminya. Meskipun, Arjuna tidak pernah absen mengajak liburan setiap akhir tahun pada keluarga kecilnya ini.
"Siapa juga yang mau menikah? Cukup ya! Kalian tidak membawa si Markonah kesini kan?" tanya Walls langsung memasang mode waspada sekaligus curiga.
"Tidak jadi! Kami sudah menemukan calon yang terbaik," celetuk Arjuna dengan senyum yang sulit untuk diartikan. Terutama oleh Walls.
"Apa rencana kalian? Aku tau, kalau Abang kesini pasti karena ingin mengacaukan hidupku, iya kan? Ha! Kakak ipar, apa rencana yang ada dalam otak mu itu. Kelian jangan macam-macam padaku!" ancam Walls dengan raut wajah ketakutan sekaligus khawatir.
Ia hafal benar bagaimana tabiat kakak iparnya ini. Betapa sang abang bucin dan selalu menurut apapun katanya. Ia takkan rela jika pasangan suami istri yang menggantikan peran orang tua untuknya, juga mengatur masa depannya. Apalagi jika memaksanya menikahi seorang janda. Lebih baik roket nya pensiun selamanya.
Sikap yang ditunjukkan oleh Walls, sontak membuat Arjuna dan Susi tergelak puas. Ternyata kena juga anak badung ini dikerjai mereka berdua.
"Kalian ini memang pasangan yang cocok. Sama-sama menyeramkan!" celetuk Walls, kembali mencipta gelak tawa dari pasangan hot-couple ini.
"Permisi, Tuan Muda. Makan siang telah siap!" ucap sang kepala pelayan. Memberi informasi bahwa jamuan telah mereka siapkan. Walls mengangguk, lalu mengajak pasangan menyebalkan ini keruang makan.
"Biarkan aku saja, yang memanggil Ju dan juga El." Walls pun naik kelantai atas, untuk menjemput kedua keponakannya itu.
"Menurut, Abang. Bagaimana tanggapan, Om. Jika, tahu bahwa dirinya memiliki dua anak yang jenius?" tanya Elisa pelan. Gadis yang rambutnya senang bila di kepang ini, duduk menghampiri sang Abang. Satria Junior. Atau biasa di panggil Ju.
__ADS_1
"Om, pasti akan semakin sombong!" celetuk Junior.
"Dan juga tengil!" tambah Elisa. Keduanya pun lantas tertawa terbahak-bahak.
Sementara itu di balik dinding, dimana ternyata pintu kamar tidak terkunci rapat. "Anak jenius? Anakku?"
______
"Kak, bagaimana? Apa sudah ada petunjuk?" tanya Milea yang kini tengah berada di depan seperangkat komputer canggih milik Hiro. Bocah lima tahun itu mendapatkan satu set komputer tersebut dari hasil kuis kecerdasan otak yang diadakan salah satu pencipta game.
"Lea, Kakak mencurigai promotor dari kompetisi anak jenius Super One Hundred. Wajahnya sangat mirip dengan, Kakak. Kau lihatlah!" Hiro pun menunjukkan, gambar profile dari Walls Diamond pada layar komputernya.
"Itu, Papa?"
"Kakak masih menyelidikinya, tapi hanya dia pria satu-satunya yang memiliki kemungkinan besar. Otaknya jenius, seorang hacker dan ahli IT. Memiliki tingkat kepercayaan diri. Hanya saja, identitas masa lalunya di sembunyikan," jelas Hiro dengan ekspresi cerah.
"Sangat masuk akal. Kejeniusannya ada pada Kakak--"
"Kepercayaan diri tingkat tingginya ada padamu!" potong Hiro seraya mengacak gemas pucuk kepala kembarannya itu.
"Ck,baru aku mau bilang gitu. Udah di samber aja!" cebik Milea. Mereka berdua pun tertawa. Rose, yang memang sengaja berniat menghampiri kedua anak kembarnya itu, hanya dapat menyusut air mata di ujung kelopaknya. Tatkala dirinya kembali di buat trenyuh oleh kedekatan dan kekompakan kedua anaknya itu.
__ADS_1
"Apakah, Mama harus mencari Papa kalian? Tapi, apakah pria itu mau mengakui bahwa kalian adalah anaknya?" gumam Rose seraya menekan dadanya yang nyeri.
...Bersambung...