
"Hiro, Milea. Apa kalian tahu siapa aku?" tanya Walls ketika ia telah duduk kembali di depan kedua anak kembar yang memasang senyum termanis mereka untuknya.
Hiro dan Milea menoleh dan saling tatap satu sama lain. Keduanya tersenyum simpul, kemudian kembali mengarahkan pandangan penuh binar mereka ke arah Walls. Belum ada niat bagi kedua anak kembar beda jenis kelamin ini untuk menjawab. Mereka masih terhanyut dalam rasa penuh kekaguman dan tak percaya.
Sementara, Rose yang berdiri tak jauh dari ketiganya, tepatnya di belakang Walls. Wanita cantik ini yang sejak tadi berusaha mati-matian untuk tenang, justru saat ini tengah menahan napasnya. Heran, kenapa, si bule mesum ini bertanya seperti itu kepada kedua anak kembarnya.
Will, yang berdiri di hadapan keempat orang yang saling berhubungan ini. Merapikan kacamatanya yang sempat berembun lantaran haru. Ketika mereka semua di sandingkan. Walls melihat formasi keluarga bahagia yang sangat sempurna. Jiwa kesendiriannya meronta tak terima. Kenapa sang Bos harus mendapatkan segala kesempurnaan ini.
Bahkan, dari terakhir kali Will bertemu dengan Rose. Wanita itu, sudah mampu memikat hati bos maniaknya. Apalagi sekarang, penampilan dan postur dari Rose semakin matang dan menawan. Will yakin jika saat ini, Walls tenaga menahan kembang api yang hendak meledak di dalam dadanya. "Anda kuat juga, bos. Ternyata, anda semakin dewasa," gumam Will pelan, ia kembali menurunkan kacamata itu dan mengusapnya dengan kain yang lembut.
"Kenapa kalian diam saja? Jika belum tau, ijinkan saya memperkenalkan diri. Atau, kalian ingin mama saja yang memberi tahu semuanya?" Sontak, pertanyaan dari, Walls barusan membuat, Rose seketika tersentak kaget. Udara di sekitarnya tiba-tiba menipis dan membuatnya tercekik. Dia butuh segelas air, atau jantungnya akan berhenti berdetak pada saat ini juga.
"Bos," panggil Will membuat pria bule berambut pirang ikal itu menengok ke belakang tubuhnya sesuai penglihatan asistennya itu. Seketika, kedua mata biru, Walls membola. Tanpa komando ia menghampiri, Rose dan langsung menahan raga ramping itu yang hampir terkulai ke lantai.
"Ambilkan dia air, Will!" titah, Walls yang mana langsung membuat Will panik. Begitu pun dengan kedua bocah kembar yang langsung berlari kearah mama mereka.
__ADS_1
"Maa!" teriak keduanya berbarengan.
"Kak, kenapa, mama pingsan lagi?" Sontak pertanyaan dari Milea membuat Hiro langsung memandang ke arah Walls.
"Menjauh, dari Mama!" usir Hiro pada Walls. Bahkan, bocah kecil itu mendorong bahu pria tampan yang kini tengah memegangi bahu sang mama.
"Tuanlah, ternyata penyebab depresi dari mamaku! Kau pria yang jahat! Aku tidak mau punya papa sepertimu!" teriak Hiro lagi, seraya mengambil alih tubuh Rose yang terkulai.
"Milea juga tidak mau, Kak! Lebih baik tidak punya papa saja!" Setelah mengatakan hal yang membuat kedua mata Walls sukses melotot itu,Milea langsung menarik dengan kencang sambil memeluk raga Rose.
Rasa bersalah itu seketika menyeruak keluar dari rongga dadanya. Niat sebelumnya yang telah ia rangkai dalam otaknya pun bubar semua. Kini, ia sadar bahwa apa yang telah ia lakukan pada Rose , enam tahun yang lalu berefek terhadap psikologis wanita itu. Mana penampilannya semakin menawan. Sejak tadi, Walls berusaha mati-matian untuk tetap mempertahankan posisi jantungnya.
"Bos, dokter, Netta sebentar sudah datang," bisik Will. Membuat, Walls seketika menoleh ke arah tangga.
"Halo, Kak Netta! Tolong ya," ucap Walls seraya menjabat tangan dokter wanita yang cantik itu. Kebetulan, sahabat abang sepupunya ini sedang berada di apartemen yang sama.
__ADS_1
"Padahal aku lagi pacaran, tapi demi kau dan demi kelangsungan masa depan roketmu. Aku datang," ucap Netta pelan menyinggung masalah yang sudah menjadi rahasia umum dikalangan circle mereka.
"Halo, Kids. Boleh, Aunty periksa mama kalian?" tanya dokter Netta meminta ijin pada kedua anak kembar yang nampak posesif pada mama mereka ini. Terbukti dan terlihat dari bagaimana mereka memeluk erat sang mama yang tengah pingsan ini.
Hiro dan Milea pun mengangguk dan menyingkir, meski tak jauh dari tempat dimana Rose berbaring. Hal itu lantas membuat, dokter Netta tersenyum simpul. 'Kapan ya, aku memiliki kedua anak manis seperti kalian?' batin Netta yang begitu gemas pada perhatian dan kedekatan antara ibu dan anak ini.
Netta pun melakukan pemeriksaan pada, Rose. Tak lama kemudian, ia telah selesai. Netta segera mendatangi, Walls dengan cepat dan ...
Pukkk!
"Aw! Kenapa, Kak?" heran Walls yang tiba-tiba mendapat pukulan keras serta tatapan tajam dari dokter yang juga merupakan sahabatnya itu.
"Kau lah penyebabnya. Hampir saja jantung wanita itu berhenti berdetak karena menahan tekanan dan rasa takut yang berusaha ia lawan, mati-matian. Kau telah membuat seseorang, mengalami depresi seberat itu. Perlahan, kau bisa membuatnya terkena serangan jantung! Dasar anak badung!" omel Netta dengan berbicara pelan, akan tetapi penuh penekanan. Sehingga, setiap ucapannya barusan membuat Walls merasa bersalah yang teramat sangat.
"Katakan, bagaimana caraku menyembuhkannya? Aku menyesal, Kak. Kedua anak itu, tidak menginginkan papa seperti ku," ucap Walls, lirih. Ia seperti tengah mengadu pada seorang ibu.
__ADS_1
...Bersambung ...