
Uhukk Uhukk
Semua terbatuk-batuk lantaran asap yang memenuhi udara di sekitar. Walls dan Arjuna tetap memasang sikap waspada. Berusaha melihat di antara kabur asap. Walls mendekap, Heru dengan erat seraya siaga menggenggam senjata api revolver di tangannya.
Begitupun, Rose. Wanita ini memeluk putrinya Milea dengan erat sambil menutup mata. Karena gas air mata ini begitu perih dimata dan sesak di dada. Milea sudah mulai sudah bernapas. Tak lama kemudian terdengar suara deru mesin mobil melaju dengan kencang.
Beberapa saat kemudian, beberapa pria bersepatu fantopel dengan jas mewah menghampiri mereka dengan sebuah alat untuk menghalau asap yang mengerubungi kawan-kawannya.
Setelah asap hilang, maka terlihatlah beberapa raga tergeletak lemas. Beberapa pria berpakaian rapi dengan kacamata dan juga penutup muka segera membawa korban ke tepi. Memberi bantuan dengan oksigen seadanya.
"Segera panggilan ambulance dari Rumah Sakit XXX sekarang juga. Katakan jika direktur Ar dan keluarganya kecelakaan! Cepat!" seru Better memberi perintah pada, anak buahnya yang juga anak buah Arjuna.
"Brother! Kau memang ... selalu bisa kuandalkan. Tapi, siapa yang mengabarimu? Apakah kakak iparmu yang cerewet itu?" cecar Arjuna.
"Hei, meskipun cerewet tapi dia kakak ipar yang baik. Dia sangat menghawatirkan keadaanmu. Maka itu, kami langsung meluncur. Syukurlah, semua belum terlambat," ucap Better yang sedang memasang membantu Arjuna menghirup oksigen dengan sebuah alat bantu.
Sementara, si kembar dan Rose telah mendapat penanganan dari anak buah yang lain. Mereka tidak membawa alat oksigen yang cukup karena itu mereka hanya membasahi kain dan menempelkannya di antara mulut dan juga hidung.
Sepertinya, Arjuna menghirup gas air mata terlalu banyak. Atau memang kondisinya yang sudah tua sehingga keadaannya yang paling parah alias bengek.
"Bang, kau payah!" celetuk Walls yang terlihat membuka kancing pada jas yang di kenakan oleh, Heru. Anak itu juga makin lama terlihat lemas.
__ADS_1
"Anak nakal! Aku begini karena menolongmu!" sembur Arjuna, walaupun begitu ia juga nampak khawatir pada keadaan keponakannya yang lesu.
"Mana ambulance itu, Bet! Kenapa lama sekali! Apa mereka ingin agar aku mencabut investasi di sana!" protes Arjuna yang nampak tak sabaran dan kesal. Ia khawatir, dengan keadaan para ponakannya ini yang semakin lemah.
Walls juga, terlihat pucat. Entah, racun apa yang barusan di lempar oleh si mata kuning itu. Arjuna bertekad akan menyelidiki sampai tuntas masalah ini. Meskipun, Walls sudah dewasa dan mandiri, tapi jika semua berhubungan dengan penjahat yang mengancam keselamatan maka dirinya akan turun tangan. Harus turun tangan, apalagi ada dua ponakannya yang luar biasa ini.
Tak lama kemudian ambulans datang dan mereka semua dibawa ke rumah sakit di mana Arjuna menanam investasi cukup besar di sana. Sehingga, mereka semua mendapatkan perawatan yang sangat spesial dan khusus. Terutama, untuk Rose dan kedua anak kembarnya. Heru dan Lulu ternyata harus bermalam di pusat kesehatan tersebut.
Kedua, anak itu ternyata telah menghirup gas beracun tersebut cukup banyak. Juga, kondisi mereka yang memang masih anak-anak, dengan pertahanan tubuh yang masih lemah. Semua itu memungkinkan, keadaan mereka semakin lama semakin menurun. Tentu saja hal itu membuat, Walls sangat terpukul.
Keadaan, Heru dan Lulu yang bahkan tak mampu untuk sekedar membuka mata dan berbicara membuat dadanya seketika sesak. Kedua buku tangannya mengepal erat. Mengantarkan sebuah hasrat dendam yang menyala dan berkobar di dalam hatinya.
"Kau! Mengerti minta maaf juga rupanya!" pekik, Rose tertahan. Namun, terlihat dari raut wajahnya yang menahan geram teramat pada pria di hadapannya ini.
"Aku akan menyelidiki ini semua, aku pasti--"
"Setiap yang dekat denganmu pasti bernasib sial! Kau itu pembawa petaka! Aku, tidak akan membiarkan kedua anakku terancam karena mu. Kau, belum pernah membuat mereka senang. Tapi, sekarang kau malah membuat kedua anakku terluka!" pekik Rose penuh emosi. Bahkan kali ini ia mendorong tubuh, Walls hingga keluar dari kamar perawatan kedua anaknya.
"Bule brengsek!" Rose terus memukuli dada, Walls dengan sepenuh tenaganya. Hingga, Walls mundur perlahan merapat ke tembok. Rose masih terus memukuli dan menampar wajah, pria yang sangat mirip dengan putranya ini.
Walls tak bergeming, ia diam saja membiarkan, Rose, wanita yang pernah menjadi obsesinya sejak dulu hingga kini itu melampiaskan kemarahan kepada dirinya.
__ADS_1
Hingga, pukulan demi pukulan dari tangan kecilnya itu terasa melemah dan melambat. Seiring dengan Isak tangisnya yang semakin keras.
Seketika, kedua mata Walls memanas. Ia tidak kuat jika melihat wanita menangis begitu menyayat. Terutama, jika wanita itu memiliki tempat spesial di dalam hatinya. Baru tiga wanita yang membuatnya tak tahan, pertama kakak iparnya, Susi. Istri dari Arjuna, yang merupakan abang sepupunya.
Kedua, Milna yang merupakan istri dari sahabat Arjuna , yang ia panggil Uncle Joy. Ketiga adakah, Rose. Ibu dari kedua anak kembarnya.
Rose hampir meluruhkan raganya jika saja, Walls tidak segera menangkap dan mendekap kedalam dadanya. Seketika, aroma Woody merasuk kedalam indera penciuman, Rose. Membuat, kedua bola matanya yang hampir terpejam seketika terbuka lebar. Ingatannya mendadak kembali pada kejadian kelam malam itu.
"Akh! Lepas! Jangan sentuh aku!" Rose yang kaget pun mundur seraya mendorong dada, Walls. Tubuhnya yang lemas, tentu saja limbung dan membuat langkah kaki jenjang itu tidak seimbang. Apalagi dirinya berjalan mundur sehingga ...
Brughh!
Walls reflek mengulurkan tangannya untuk menahan tangan, Rose tapi terlambat. Wanita itu telah mencium lantai marmer rumah sakit menggunakan pantatnya.
Posisi, Walls yang agak condong ke depan, di karenakan ingin menangkap, Rose tapi tidak kesampaian ini. Membuat, beberapa orang yang menghampiri keduanya membulatkan bola mata mereka.
Terutama, kakak iparnya, Susi.
"Walls!"
...Bersambung ...
__ADS_1