Kembar Jenius Si Mantan Playboy

Kembar Jenius Si Mantan Playboy
Bab. 18. Siapa, Tuan Diamond?


__ADS_3

"Selamat! Hiro Albano! The real of jenius Kids of the year!" seru sang pembawa acara atau biasa juga di sebut host. Sehingga, pengumumannya barusan memancing tepuk tangan meriah dari para penonton di dalam tribun studio tersebut. Tak terkecuali para dewan juri.


Mereka tidak akan menyesal telah memenangkan, Hiro. Berharap perusahaan promotor akan memberi dukungan pendidikan yang mumpuni untuk menunjang bakat yang dimiliki Hiro, demi kemajuan pendidikan anak usia dini di masa depan.


Mereka, telah mengetahui sepak terjang anak kecil imut yang luar biasa cerdas ini. Hiro adalah pencetus sebuah situs penyelamat anak usia dini dari pengaruh gadget dan tekhnologi. Betapa mengagumkan jika anak seusia itu sudah dapat memikirkan nasib anak-anak sebayanya. Bahkan, Hiro menjadikan agenda mendongeng dan membaca sebagai cara untuk mengalihkan keinginan anak usia dini bermain gadget.


"Liat biasa! Kau sangat hebat, Nak!" puji sang Host secara langsung kepada Hiro. Para dewan juri pun maju memberikan hadiah dan juga Thropy kepada tiga pemenang terpilih yang berada di atas panggung. Sampai saat ini, Rose masih tidak boleh menampakkan diri. Hingga, wanita cantik berparas indo-bule itu hanya bisa terisak kecil di depan layar laptopnya.


"Apakah, anak badung itu tau. Jika keturunannya sehebat ini. Apakah, jika ia tau ... kalian akan di ambil dari sisi mama? Hiro, kau sudah bukan menjadi rahasia umum lagi. Mama rasa cepat atau lambat, pria itu akan menemukan kalian. Lalu, apakah Mama akan siap jika tinggal sendirian ...," Rose semakin kencang membekap mulutnya menggunakan kedua tangan.


Menekan dadanya yang merasa sesak dan seketika tertekan benda berat. Tenggorokannya seakan tercekik. Kristal bening yang mengalir dari kelopak matanya mengalir deras melewati kedua pipinya yang tirus. Rose semakin kacau dengan segala pikiran buruk yang singgah dalam pikirannya sendiri.


Tak sanggup lagi untuk menulis cerita dalam novel karangannya. Padahal waktu deadline dari editor tinggal beberapa hari lagi. Pikiran dan juga hatinya telah dipenuhi segala kemungkinan kejadian yang ia rekayasa sendiri. "Mama, tidak membiarkan pria itu merebut dan menguasai kalian. Mama yang paling berhak segala-galanya atas kalian," lirih Rose dengan segala kegundahan hatinya. Ingin bangkit dan menyakini dirinya sendiri, akan tetapi, Rose luruh lagi setelah ia sadar jika dirinya tak memiliki apa-apa untuk nanti dapat mempertahankan kedua anaknya.


 


"Persiapkan semuanya, Will! Aku ingin menyambut anak itu dengan spesial!" titah Walls, dan sang asisten pun tau apa yang harus ia lakukan.

__ADS_1


"Akhirnya, anda penasaran juga, Bos," gumam Will pelan, seraya menampilkan seringainya. Ia pun menereskan apa yang telah di mulainya terlebih dulu. Meskipun di awal, ia tidak memberi tau rencananya pada Walls. Sebab, Will yakin jika suatu saat nanti, bosnya akan membutuhkan hasil dari penyelidikannya.


_______


"Kakak!" teriak, Milea ketika Hiro telah sampai di halaman rumah sederhana mereka berempat. Rose yang sedang menata meja makan segera menghampiri ke depan.


"My Boy!" pekik Rose yang melihat medali menggantung di leher sang putra, serta Thropy di tangan sebelah kanan, Hiro. Putranya itu baru saja turun dari sebuah mobil sedan.


"Mama bangga sekali, bukan lantaran hadiah yang Hiro bawa pulang. Tapi, kenyataan bahwa kamu, memiliki hati dan pikiran yang mulia. Membuat sesuatu yang bahkan tak terpikirkan oleh orang dewasa," puji Rose beruntun sambil mengecup kedua pipi, putranya itu.


"Selamat, Nyonya. Putra anda luar biasa. Semua tak lepas dari bagaimana anda mendidiknya," puji Pak Gru, guru muda pembimbing Hiro selama mengikuti kompetisi. Pria bertubuh tinggi dan atletis ini adalah guru di bidang sains. Pada sekolah favorit tempat Hiro dan Milea menuntut ilmu setelah sampai di kota besar.


"Baiklah, saya hanya mengantar, Hiro. Sampai jumpa!" ucap pria itu yang sudah pamit tapi tetap berdiri ditempat. Sementara, Rose telah menuntun sang putra memasuki rumah sederhana mereka.


Pak Gru, menggaruk tengkuknya kikuk. Salah jika ia berharap tawaran minum teh atas sekedar basa-basi dari wanita cantik yang antipati pada setiap hubungan dengan laki-laki. Rose memiliki sikap dingin bak bongkahan es di Antartika. Satu-satunya pria yang ia banyak ajak bicara hanyalah pemilik klinik di desa. Sebab, Rose tau jika pria paruh baya itu begitu memuja istrinya. Hingga, salah satu ginjalnya telah ia donorkan untuk sang istri. Meskipun pada akhirnya, jiwanya itu tetap tidur berkalang tanah untuk selamanya.


"Terimakasih, Pak Gru!" ucap Milea, seraya membungkukkan sedikit tubuh kecil mungilnya itu. Ia sengaja menemui pria yang mengantar Hiro itu sekedar untuk menjaga perasaannya.

__ADS_1


"Ma, besok ...Tuan Diamond mengundang para pemenang untuk makan malam di rumahnya. Sekaligus pembicaraan mengenai kelanjutan program anak jenius," ucap Hiro selepas mandi. Kini bocah lelaki yang berwajah tampan tapi imut ini, telah duduk di meja makan. Menantikan sang adik selesai membuat makaroni Mozarella kesukaannya.


"Ya, Mama sudah mendapat kabar itu dari pihak pelaksana. Juga, Pak Gru tadi dia kirim chat pada, Mama," jawab, Rose sedikit risau dan gelisah. Pasalnya baru saja ia mencari tau siapa promotor kompetisi tersebut. Mungkin dari nama agak sedikit asing baginya, akan tetapi tidak dengan wajah pria itu. Mendadak, Rose merasa gemetar seluruh tubuhnya. Bayang-bayang malam itu mendadak berputar kembali dan membuatnya limbung seketika.


Brugh!


"Mama!!"


"Maa!"


Milea dan Hiro, sontak menghambur berbarengan menubruk raga sang mama yang terkulai ke atas lantai. Rose, terjatuh dari kursi tempat ia duduk tadi.


"Astaga! Apa yang terjadi pada mama kalian?" tanya Mona yang segera menghampiri dari arah dapur, ketika ia mendengar teriakan si kembar.


"Hi–Hiro tidak tau ... Aunt. Ma–mama, pingsan setelah mendengar berita bahwa kami diundang makan malam besok ke penthouse tuan Diamond," jelas Hiro sambil menahan tangisnya. Tapi tidak dengan Milea, gadis kecil itu terus menangis memanggil mama mereka. Belum pernah seumur hidup keduanya melihat keadaan Rose yang seperti ini.


"Panggil, bibi Fei kemari. Aunty butuh bantuan untuk membawa mama kalian ke atas sofa di sana!" tunjuk Mona, karena ia tidak akan kuat mengangkat Rose seroang diri.

__ADS_1


"Siapa, Diamond? Kenapa, Rose langsung tak sadarkan diri?"


...Bersambung ...


__ADS_2