Kembar Jenius Si Mantan Playboy

Kembar Jenius Si Mantan Playboy
Bab. 41. Kebahagian Klan Dragon Strom. ( Tamat )


__ADS_3

Rose, ini untukmu."


Walls, menyerahkan satu kotak box berwarna merah jambu dengan gambar love dan juga pita.


"Apa ini?" Rose menerima kotak itu sedikit gugup. Akan tetapi ia masih mampu menyembunyikan gemetar pada tubuhnya. Dengan cara mendekap erat kotak tersebut.


"Bukalah!"


Rose mendapat dukungan dari semua anggota keluarga untuk membuka kotak pemberian dari Walls, dimana pria menyebalkan di hadapannya ini adalah suaminya Sekarang.


Rose menarik pita dan kemudian membuka penutupnya perlahan.


Ia menoleh sebentar ke arah kedua anaknya dan juga melihat raut tegang di wajah Walls. Itu sangat lucu baginya. Pria itu terlihat lelah dan terdapat kantung mata. Namun, sorot matanya terlihat tulus. Tidak lagi penuh obsesi. Apakah itu cinta?


Ah, Rose mencoba abai dan memutuskan untuk membuka saja kotak di tangannya ini.


Hingga ...


"Ini, Brownies?" Rose menatap aneh ke arah Walls. Kejutan apa ini. Hanya kue kesukaannya saja. Di setiap toko pun ada. Jadi apanya yang spesial? Ia terkejut? Tentu saja tidak. Justru ia merasa sedang dipermainkan.


"Aku membuatnya, untukmu."


"Hah!"


"Apa kau ingin aku percaya?"


"Maaf, Nona. Tolong lihat Vidio ini." Tiba-tiba, Ray masuk diantara mereka dan menjadi penyelamat wajah Walls yang malu.


Seketika kedua mata Rose sukses membola, dengan genangan kristal bening yang perlahan turun membasahi pipinya.


"Jadi, kau bergadang demi membuat kue kesukaanku," tanya Rose dengan air mata yang tak mampu ia bendung lajunya. Bahkan, Susi yang memperhatikan mereka di depan sana, terlihat beberapa kali menyusut genangan bening itu.


"Total, aku membuat sebanyak dua puluh lima kegagalan yang menghabiskan waktu selama empat belas jam. Tepung sebanyak tujuh belas kilo, telur sepuluh kilo, gula se--"

__ADS_1


"Terimakasih."


Sepasang iris blue ocean itu membola, ketika dadanya merasakan raga lembut ini menempel erat pada dirinya. Rose memeluk erat tubuh tinggi tegap, Walls membuat semua orang di sana terkesiap campur haru.


Rose yang tersadar setelah luapan kebahagiaannya menguap. Ia segera melepaskan pelukannya pada, Walls.


"Apa ini artinya, kau memaafkanku, Rose Brania?" tanya Walls ragu. Ia takut jika barusan adalah luapan rasa haru dan terkejut sesaat.


"Ya, aku ... memaafkanmu. Karena, aku melihat ada usaha di sana. Setidaknya, kau telah mengakui kesalahanmu dan berusaha untuk bertanggung jawab menebusnya. Itu sudah cukup menunjukkan, kedewasaan. Semoga, kau tidak mengecewakan ku, Walls." Rose tersenyum tulus membuat, Walls tanpa sadar meneteskan air mata bahagianya.


Bukan karena apa, sebab, Rose menyebut namanya dengan benar untuk pertama kalinya.


"Kau menyebut namaku, terimakasih. Sial, aku menangis." Walls, terkekeh seraya menyusut air mata yang meleleh di wajah tampannya kebuleannya itu.


"Ma, Pa ... we are together now?" Hiro dan Milea menggenggam tangan kedua orang tua mereka yang baru saja bersatu itu.


"Yes, my kiddos!" seru Walls seraya mengangkat kedua anak jeniusnya.


"Papa hebat!" Milea berteriak girang ketika Walls menggendong keduanya untuk pertama kali.


Begitupun dengan Better, Vanish dan Joy.


"Kau telah memiliki keluarga yang bahagia dan sempurna. Semoga kau semakin dewasa. Agar menjadi panutan yang membuat kedua anakmu bangga. Aku percaya kau bisa, hot Daddy!" puji Better.


Namun, Joy terlihat murung. Ia hanya dapat tersenyum tipis. Kerinduannya pada keluarga kecilnya semakin menjadi dan menciptakan sesak yang seolah menenggelamkan dirinya dalam riak haru.


"Bang Joy. Terimakasih banyak. Kau adalah super Hero bagi keluargaku. Kedua anakku bahkan mengidolakanmu. Jangan bersedih lagi, karena nanti orang yang di belakangmu itu akan ikut bersedih juga," ucap Walls ambigu.


"Kau jangan meledekku. Mentang-mentang sudah dapatkan, Rose. Berbahagialah kalian semua. Aku pamit, keluargaku pasti telah menunggu kepulangan ku." Joy, pun berbalik dan ...


"Popo!" Teriakan dari si kembar Hexy dan Foxy membuat kedua bola mata Joy sukses hampir meloncat keluar dari rongganya.


"Ka–kalian?"

__ADS_1


"Momo?" Setelah memeluk kedua anak kembarnya, Joy beralih ke arah wanita cantik nan anggun yang tak tampak jika dulunya ia adalah seorang petarung yang bagaikan lelaki.


Milna, begitu keibuan dan cantik dengan rambut panjangnya.


"Kami merindukanmu, Popo." Milna memeluk erat suaminya itu dengan bayi perempuan berusia satu bulan yang berada dalam gendongannya.


"Relixi ... kau membawanya naik pesawat, sayang?"


"Yup, dan baby R sangat hebat. Dia tidak kena jetleg. Sepertinya, kita akan sering-sering keluar negeri setelah ini, ya."


"As you wish, my majesty."


Pasangan suami istri ini pun kembali berpelukan.


"Semua sudah bahagia, ayo kita makan!" teriak Arjuna yang kemudian di sambut teriakan yang sama oleh semua anggota klan Dragon Storm.


"Hiro, Milea, ayo ikut, Kakak!" Satria mengajak kedua adik kembarnya ini menuju satu tempat permainan. Namun, mommy Susi meneriaki mereka.


"Hiro, Milea, Elisa, Satria, Hexy dan Foxy ... kalian harus ikut makan! Mainnya nanti lagi!"


Kelima anak ini pun menurut ketika Susi yang berbicara.


"Kau itu memang pawang anak. Nanti kita bikin lagi ya, kembar kayak anaknya Walls, tuh," bisik Arjuna. Membuat kedua mata Susi membola seketika.


"Yakin? Setiap aku melahirkan saja kau yang menangis dan menjerit. Sampai para dokter itu kau maki-maki."


Sontak perkataan sang istri yang merupakan kenyataan itu sukses membuat Arjuna menggaruk tengkuknya dengan sebuah seringai bodoh.


"Terimakasih, Rose. Aku akan berusaha menjadi suami dan papa yang terbaik bagi kalian."


Walls pun merangkul bahu wanita yang telah menerimanya dengan sepenuh hati itu.


'Sabar ya roket, sebentar lagi kau akan menemukan landasan mu.' batin Walls girang.

__ADS_1


...TAMAT...


__ADS_2