
"Keponakanku ... kalian begitu menawan!" pekik Susi yang menghampiri, Hiro dan juga Milea lalu mulai menciumi mereka berdua. Milea sih senang saja, tapi tidak dengan sang kakak yang lahir lebih dulu sepuluh menit dari dirinya.
"Kenapa?" Susi kaget melihat ekspresi Hiro yang nampak tertekan.
"Kakak, tidak suka di peluk dan di cium. Termasuk dengan, mama sekalipun," bisik Milea, setelah Hiro meminta ijin untuk menghampiri sang mama di pelaminan.
"Oh, jadi begitu ya. Kalian itu menggemaskan, Aunty tidak tahan," ucap Susi yang merasa bersalah pada, Hiro.
"Hiro, tidak akan marah kok. Jadi, Aunty jangan khawatir ya.
"Ah, tidak akan. Ayo, bergabung dengan yang lain. Kalian adalah bagian cari kami sekarang. Klan Dragon Storm. Tidak akan ada yang dapat menyentuh kalian meskipun seujung kuku," ucap Susi lagi yang kini terlihat menuntun lengan kecil Milea. Gadis ini mengenakan gaun gadis penabur bunga. Membuatnya terlihat semakin cantik dan menggemaskan.
"Jangan heran, jika nanti akan ada pengawal yang akan menjaga kalian. Kemanapun, kalian akan pergi. Paman Ar, akan mengerahkan hampir separuh dari pasukan yang kami miliki untuk melindungi kalian bertiga. Jadi, jangan takut dan khawatir lagi. Penjahat Cemen seperti kemarin, pasti akan kapok untuk selamanya." Susi bercerita dengan penuh keyakinan, sehingga membuat Milea ikut percaya diri.
Gadis kecil nan imut itu, kembali memutuskan untuk meneruskan turnamen memasaknya. Demi mewujudkan cita-citanya menjadi koki cilik.
"Hei jagoan, kemarilah!" panggil, Walls pada putranya, Hiro. Bocah lelaki ini barusan memandang kedua orang tuanya dengan tatapan bahagia.
"Papa, harus membahagiakan, Mama. Atau--"
"Atau apa, Jagoan?" tanya Walls dengan memasang wajah tak serius.
__ADS_1
"Aku akan menghabisi, Papa tanpa sisa. Karena, aku telah memecahkan kode rahasia yang akan menghancurkan karir mu selamanya," ucap, Hiro penuh penekanan dan serius, bahkan tanpa senyum. Kedua iris pekatnya menatap lamat ke dalam mata, pria yang kini telah menjadi suami sang mama.
"Hiro ...." Rose mematung.
Walls, pun sempat terkesiap dengan ancaman yang di lontarkan oleh putra kecilnya itu. Namun, dalam sekejap ia mampu menutupi ekspresi kagetnya. Lagipula, mana mungkin apa yang di ucapkan putranya itu benar.
Tak ada satu tekhnologi pun yang mampu, memecahkan kode sandi rahasia yang ia buat. Bahkan, para hacker terhebat sekalipun. Beberapa kali berusaha membobol pertahannya, akan tetapi serangan tersebut berbalik.
Apalagi, hanya anak jenius sekecil, Hiro. Apa yang ia tau tentang-- Oh, tidak! Apa iya, Hiro juga paham ilmu IT. Apa, Rose mampu membelikan putranya ini perangkat komputer dengan Pentium Cell tertinggi?
Walls, mulai memproduksi kelenjar keringat lebih banyak dari biasanya.
Blushhh!
Rose seketika merasakan aliran panas menjalar menyusup ke tulang kedua pipinya, hingga kesemutan. Mungkin, kini warnanya sudah semerah tomat. Terpaksa, ia pun menoleh ke lain arah demi menutupi itu semua dari, Walls.
"Ma, apa kau sakit," tanya, Hiro yang langsung meletakkan punggung tangannya ke dahi sang mama.
"Ti–tidak?" Rose menggeleng gugup.
"Iya, sih, tidak demam. Tapi ... wajah mu memerah, Ma!" pekik, Hiro yang membuat, Rose ingin masuk ke lubang kelinci saat ini juga. Malu.
__ADS_1
Walls, yang merasa selangkah di depan. Menaikkan kedua sudut bibirnya hingga menciptakan lengkungan sabit. Keyakinannya semakin menjulang tinggi.
'Aku akan segera mendapatkanmu, Rose. Hatimu dan juga semua yang kau miliki.'
______
"Awasi dan jangan lengah!" Joy memimpin penyergapan di markas, Andreas Balotelli. Pria paruh baya keturunan Itali itu mendiami sebuah Villa di bawah bukit. Vill mewah yang dijaga oleh tembok-tembok tinggi sebagai pembatas.
Pria maskulin, yang terlihat lebih dewasa ketimbang enam tahun yang lalu. Seorang mantan Casanova yang akhirnya menikahi wanita yang kerap bermusuhan dengannya. Ahli bertempur menggunakan senjata api maupun katana.
Ia dan anak buahnya, akhirnya dapat menemukan markas tersembunyi ini. Lantaran, beberapa hari yang lalu. Milea sempat mengalami insiden, penculikan. Namun, karena memang tim tengah mengamati maka kejadian itu pun gagal. Milea, selamat tanpa kurang suatu apapun.
Si mata kuning, alias Snake Eye, telah tertangkap. Berulang kali di siksa pun tetap bertahan dalam bungkam. Hingga, Joy mendatangkan kaum menyimpang yang ia perintahkan untuk mempermainkannya.
Snake Eye yang ternyata masuk kategori normal, menjerit keras lantaran makhluk yang satu gender dengannya itu, memainkan dirinya dengan sesuka hati.
Akhirnya, pria itu pun buka mulut setelah beberapa, mahluk astral itu menggerayangi seluruh tubuh kekarnya. Ternyata, Joy tidak perlu membayar makhluk-makhluk menyimpang ini. Mereka justru berterima kasih karena telah mengijinkan untuk bermain dengan pria kekar dan macho macam, Snake Eye.
"Sergap mereka tanpa ampun!" Joy berteriak menggunakan alat komunikasi yang menempel di pipi sebelah kirinya. Ia pun berlari dengan senjata api yang telah berada dalam genggaman kuat kedua tangannya.
...Bersambung ...
__ADS_1