Kembar Jenius Si Mantan Playboy

Kembar Jenius Si Mantan Playboy
Bab. 16. Kecurigaan


__ADS_3

Para tamu tak diundang ini asik makan siang dengan penuh khidmat. Tanpa ada satu patah pun yang keluar. Mereka hanya menikmati sajian demi sajian berbagai menu yang di sediakan oleh koki pribadi dalam penthouse mewah ini. Tentu saja, segala kemewahan, pelayanan dan kemudahan ini diperoleh Walls dari hasil kerja kerasnya. Arjuna tak henti-hentinya mengucap kagum dan rasa bangga dalam hati.


Tak menyangka bahwa kejadian enam tahun lalu mampu membuat sosok adik sepupunya yang terkenal nakal, terutama dalam hubungan satu malam bersama wanita ini, bisa juga serius dalam menapaki karirnya.


Setidaknya ada hal yang, Arjuna syukuri dari kejadian malam itu. Roket sang adik yang tiba-tiba mati rasa dan tak berfungsi, ternyata membawa hasil sebesar ini dalam kehidupan, Walls. Setidaknya, si anak badung menjadi lebih konsen menjalankan keahliannya. Dalam bidang ilmu teknologi dan membuat pertahanan server di dunia perangkat lunak.


Keahlian, Walls yang di lirik beberapa aliansi sempat membuat, Arjuna khawatir. Semakin banyak yang tau kemampuannya maka semakin terancam juga keselamatannya. Sebab, tak sedikit organisasi yang mengalami kesulitan bahkan penurunan kinerja mereka berkat teknologi keamanan yang di ciptakan oleh Walls. Meskipun, identitasnya pasti di rahasiakan. Namun, siapa yang tau jika ada musuh di balik tirai jendela maupun di atas langit-langit.


Jaman sekarang, kawan dekat pun harus di waspadai. Mencari kawan sejati yang tulus dan setia itu bagaikan mencari emas di dalam sungai berpasir. Hati dan pikiran mudah dirubah oleh secarik kertas bernominal angka.


Intinya, jangan mempercayai orang hingga seratus persen. Sisakan sedikit kewaspadaan, bukan lantaran prasangka buruk, hanya sebuah jalan kehati-hatian.


Di ruang yang terpapar sinar matahari langsung dari jendela-jendela besar pada penthouse. Tepatnya di atas meja makan, hanya terdapat suara sendok dan garpu yang berdenting lantaran beradu dengan piring. Bahkan, decap dan suara kunyahan pun sepi tak terdengar. Arjuna memang tidak suka ada suara apalagi obrolan di meja makan kecuali jika mereka telah selesai makan.


Peraturan itu tetap sama dan berlaku dimanapun dirinya berada. Walls, pun paham akan hal itu. Karenanya, ia hanya menyendok, mengunyah pelan sambil sesekali bermain mata dengan kedua ponakannya itu. Mereka, mengadakan perjanjian lewat isyarat. Bahwa sehabis makan ajak mereka berkeliling penthouse lalu main UNO balok.

__ADS_1


Susi hanya tersenyum simpul, melihat bagaimana interaksi antar kedua anaknya pada Walls, si adik ipar menyebalkan yang ternyata dia sayang. Di luar sikap dan sifat, Walls yang suka seenaknya dan menganggap enteng wanita. Di sana ia memahami sesuatu, bahwa takkan ada asap jika tak ada api.


Bagaimana, Walls tumbuh besar tanpa kasih sayang orang tua, juga bertapa keras masa kecilnya. Membuat hati pria itu gamang, haus perhatian dan kasih sayang. Namun, ia mencari lewat jalan kepuasan yang salah. Walls berpikir ia dapat menuntaskan dahaganya dengan cara menyelam ke dalam sungai.


Nyatanya, dahaga yang ia rasakan tidak pernah akan hilang. Hingga, ia naik ke permukaan lalu meneguk segelas air jernih yang segar. Susi pun mengambil kesimpulan, jika perkenalan Walls dengan Rose adalah jalan dari semesta untuk menghentikan semua kegilaan pria itu sebelum menghancurkan seluruh talenta dan masa depannya.


Terbukti, bahwa Rose akhirnya menjadi wanita terakhir yang membuat Walls merasakan kenikmatan haramnya. Sejak kejadian hari itu, Walls tidak lagi dapat bergairah meski di hadirkan sepuluh wanita bugil di hadapannya. Di awal, hal itu tentu saja hampir membuatnya gila dan frustrasi. Ia sempat memaki dan bersumpah akan membuat Rose menanggung akibatnya.


Seiring waktu, kedewasaan sebagai pria sejati mulai mengisi hati dan juga relung jiwanya. Sehingga, Walls mulai berpikir bahwa ialah yang telah memulai semua menjadi seperti ini. Setidaknya, ia menjadi fokus dan berhasil memiliki apa yang belum tentu di miliki oleh pria lain seusianya. Apalagi dengan masa lalu yang terkesan gila dan nakal.


Arjuna telah mengambil kain di sisi piringnya, lalu memberihkan sudut bibirnya dengan benda tersebut. Pertanda, wajah waktu makan telah selesai. Para penghuni meja pun bisa bernapas santai sedikit. Tidak kaku seperti tadi. Arjuna meneguk air putih, lalu menatap ke arah Walls dengan mata elangnya. Hampir saja, Walls tidak mampu menelan suapan terakhir yang baru saja melalui kerongkongan.


'Ni orang mau ngomong apa dah! Horor gitu kan tatapannya. Perasaan ku langsung tidak enak.' batin Walls berusaha tidak sejurus dengan tatapan Abang sepupunya itu. Siapapun, akan ciut nyalinya jika di tatap oleh di ahli berkelahi dan memiliki strategi perang yang selalu jitu. Walls, tau bagaimana sepak terjang Arjuna yang selalu memang melawan musuh-musuhnya.


Sebab, Arjuna memiliki kemampuan beladiri yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan dirinya. Abangnya itu, mampu bahkan lihai menggunakan berbagai jenis senjata. Baik api maupun tajam.

__ADS_1


Apalagi, ilmu beladiri dengan tangan kosongnya. Tidak perlu di ragukan lagi. Tapi, itu kisah enam tahun yang lalu. Sejak saat pertarungan terakhir dengan ketua gangster dunia. Arjuna tidak lagi, atau tidak diijinkan lagi oleh Susi untuk terjun ke dunia penuh kekerasan ini.


Meskipun, harus berhadapan dengan mafia. Arjuna, hanya akan membayar sebuah organisasi tanpa turun tangan sendiri. Setahunya, belum lagi ada musuh yang sepadan selama enam tahun terakhir ini. Semoga saja, hingga beberapa waktu kedepannya dan juga seterusnya. Bukankah, hidup tenang adalah impian semua orang.


Tanpa sepengetahuan mereka yang sedang tenang menikmati, makanan pencuci mulut. "Ice cream !" teriak Kakak beradik, Junior dan Elisa. Keduanya memekik ketika pelayan mengantarkan es krim dalam piala besar.


Tentu saja hal itu membuat keduanya berhamburan memeluk paman mereka.


Pria berwajah garang dengan senyum miring, mengangkat kedua kakinya keatas meja. Salah satu orang kepercayaan telah datang membawa kabar yang sangat ia nantikan beberapa bulan belakangan ini.


"Awasi mereka terus, Snake Eye. Aku yakin, Diamond pasti memiliki satu titik kelemahan. Dia itu bukan dewa yang kebal peluru dan immortal bukan?" Pria berambut kelimis itu mengusap kumis tipis yang bertengger di antara hitung dan bibirnya. Seringai bak Joker menandakan sebuah rencana terbaik yang telah ia rangkai dalam otak kejam nan bengisnya.


"Cukup sudah, bocah itu terus mengacaukan Bisnisku! Sudah waktunya kita pancing dia keluar menggunakan senjata baru yang kini berada dalam genggamanku," ucapnya sambil terus menyeringai. Tatapannya tak lepas dari sebuah layar besar di hadapannya. Di mana sejauh alat yang mirip proyektor mengantarkan gambar berupa dua wajah yang sangat mirip hanya berbeda versi dan ukuran saja.


"Tidak mungkin, dua orang yang memiliki kemiripan hampir 75% jika tidak ada hubungan darah diantara mereka. Berikan kabar selanjutnya padaku, secepatnya!" ucap pria yang diketahui bernama Andreas Balotelli itu, pada sosok kekar bermata kuning yang ia panggil Snake Eye.

__ADS_1


"Mereka yang sudah berada dalam genggaman Snake Eye, tidak akan terlepas dengan mudah, Bos!" seru pria bermata kuning itu.


...Bersambung...


__ADS_2