
Aeera saat ini sedang asyik menonton televisi kartun kesukaannya, yaitu dua anak kembar botak dengan baju kuning dan biru. Ia sampai tak menyadari bahwa ada Bavendra yang sedang duduk di sampingnya dengan wajah masam. Bagaimana tidak? Ia tak di hiraukan oleh Aeera hanya karna kartun botak yang menurutnya aneh.
Bavendra menghela nafas dengan pelan, lalu ia pun menyenderkan kepalanya di bahu Aeera.
Aeera sontak memekik kaget, "Eh! "Aeera menoleh ke samping, dilihatnya Bavendra yang sedang menyandar dengan sangat nyaman dibahunya, membuat Aeera mendengus kesal.
"Bavendra! Kamu itu ya, bikin kaget tau! " teriak Aeera keras, tepat ditelinga Bavendra. Bavendra yang diteriaki dengan keras oleh Aeera, langsung saja mengangkat kepalanya.
Bavendra menatap tajam kearah Aeera, dan Aeera pun menatap Bavendra tak kalah tajamnya. Aeera mencubit pinggang Bavendra dengan gemas, membuat Bavendra kesakitan dan reflek meliuk liukkan badannya bagai cacing kepanasan.
Melihat hal itu, Aeera langsung tertawa dengan keras, membuat Bavendra langsung beranjak dari duduknya. Aeera yang menyadari Bavendra merajuk, lalu tersenyum tipis. Ia tak menyangka, 'Bavendra kan sudah gede? Masak sih marah marahan gak jelas begitu. Bohong banget! Yang wajar marah mah aku, karna aku perempuan'batin Aeera merasa geli sendiri.
Aeera lalu bangkit berdiri, dan Bavendra pun langsung pergi meninggalkan Aeera. Aeera yang kaget kalau ternyata Bavendra benar benar marah, pun langsung mengejar Bavendra yang kini sudah berada di bagian samping. Dimana terdapat kolam renang yang tentu saja berguna untuk berenang.
Aeera melihat Bavendra yang tengah duduk di tepi kolam dengan kaki yang masuk kedalam kolam, dengan pandangan mata yang tengah melihat matahari yang sebentar lagi akan tenggelam. Senyum Aeera mengembang melihat Bavendra yang asik memandang senja.
Ia lalu mengikuti sang kekasih, duduk disampingnya dan ikut menceluplan kedua kakinya di kolam dan sama sama menatap sang surya yang sebentar lagi akan hilang di ufuk barat. Sesekali Aeera menoleh, menatap Bavendra yang masih mogok bicara.
"Jangan menatapku seperti itu, nanti cintamu akan begitu besar dan sulit untuk dilupakan"ujar Bavendra tanpa menoleh kearah Aeera yang sedang tercengang.
__ADS_1
"Apa maksud mu? Kenapa kamu bilang kalau cintaku untuk mu akan sulit untuk dilupakan? Apa kamu berniat untuk meninggalkan ku nanti? Makanya kamu memperingatkan ku agar cinta ku tak terlalu besar untuk mu? " Tanya Aeera dengan suara yang terdengar bergetar dan mata yang berkaca kaca.
Bavendra menoleh, dan sangat kaget melihat sang kekasih tercinta dan tersayangnya hendak menangis. Ia lalu langsung memeluk Aeera, membiarkan tubuh gadis itu masuk kedalam dekapan hangatnya. Bavendra mengelus kepala Aeera dengan sayang, membuat tangis Aeera pun pecah, dan ia pun langsung menangis dengan sejadi jadinya.
"Honey, berhentilah menangis. Aku berbicara seperti itu, agar saat aku pergi dari dunia ini kamu bisa terbiasa tanpa diriku. Kematian tidak akan ada yang mengetahuinya sayang, siapa tahu aku yang dahulu meninggal? "Tanya Bavendra sambil mengelap air mata yang sedang berseluncur bebas dipipinya. Mendengar itu, Aeera tambah mengencangkan tangisnya, membuat Bavendra juga mengencangkan pelukannya.
"Huwaaa!! A-aku gak mau pisah sama Bavendra! Pokoknya engga! Kalau Bavendra m-mati ya Aeera juga mati, Titik! Ujar Aeera dengan tegas.
Bavendra tersenyum simpul. Ia lalu melepas pelukannya, lalu menangkup wajah Aeera menggunakan kedua tangannya. Dengan perlahan dan gerakan lembut, Bavendra mengusap pipi gembul Aeera, menghapus air mata yang mulai mereda.
"Pokoknya janji, kalau Bavendra ajak Aeera buat mati bareng! Janji? "Tanya Aeera lalu mengacungkan jari kelingkingnya. Bavendra terdiam sesaat, lalu terkekeh. Ia lalu menautkan jari kelingking nya dengan jari kelingking kecil milik Aeera.
Mereka pun hanyut dalam suasana haru tersebut. Kesedihan mereka hilang seiring dengan tenggelamnya sang mentari yang bertugas untuk menyinari bumi di pagi hingga sore hari.
Dan kebahagiaan mereka muncul diiringi dengan datangnya sang penjaga malam, yang tak lain tak bukan ialah sang bulan. Bulan ditemani oleh sahabat sahabat baiknya, yaitu para bintang. Ditengah keadaan haru tersebut, tiba tiba datang Athifah yang merusak suasana.
"Halo kakak dan calon kakak ipar. Tante Ajeng sudah menunggu di ruang tamu. Mereka akan menanyakan sesuatu"lapor Athifah sembari berjalan santai kearah Aeera dan Bavendra yang kini telah berdiri.
"Hm? Untuk apa mama memanggil ku?"Tanya Aeera mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Aku gak tau si kak, tapi kayaknya sih mau tanya tentang cincin pertunangan kalian"
"Oh.. begitu. Eh? Apa kau bilang? Yaampun! Kita tak pernah membeli cincin untuk pertunangan kita sayang!"panik Aeera sambil menggoyang goyangkan bahu tegap milik sang calon suami.
"Hm? Ga tahu ah. Kita langsung aja samperin mama"putus Bavendra sambil menggandeng tangan Aeera. Mereka bertiga pun segera pergi ke ruang tamu dimana Ajeng, Zelda, Putra, Danu dan seorang penjual perhiasan sedang berkumpul. Entah sedang membicarakan apa.
"Ma? Ada apa ini? "Tanya Aeera memandang Ajeng dan Zelda secara bergantian.
"Ah sayangku, kita akan memilih cincin untuk pertunangan kalian. Cepatlah, lihat cincin cincin ini! "Tunjuk Ajeng pada cincin yang terlihat mengkilap ditimpa cahaya lampu yang padang benderang.
"Aku yang memilih, ma? "Tanya Aeera sambil mengarahkan jari telunjuknya kearah wajah cantiknya.
"Tentu saja sayang, kau yang akan bertunangan. Tentu saja kau yang menentukan"jawab Zelda sembari tertawa kecil.
"Ah begitu? Baiklah"
Aeera pun mendekati Ajeng dan Zelda yang sedang memilah milih cincin. Aeera menoleh kearah cincin cincin itu. Betapa terkejutnya Aeera, melihat banyaknya cincin yang sangat sangat indah. Ia langsung tertarik, untuk mencari bentuk cincin yang akan dipakainya bersama Bavendra.
Bersambung...
__ADS_1