Kembaranku Perusak Rumah Tanggaku

Kembaranku Perusak Rumah Tanggaku
Bab 18


__ADS_3

Saat ini, Athifah masih dilanda kegelisahan. Ia begitu takut dengan mimpinya itu. Apa benar, yang di lakukannya itu adalah sebuah kesalahan? Tapi.. Aeera memang selalu membantu dan menyayangi Athifah. Namun.. Aeera juga yang membuat hidupnya seperti ini! Semua kasih sayang orang tua, cinta Bavendra, teman, bahkan urusan pekerjaan pun, Aeera selalu jadi yang terdepan. Athifah yang selalu ketinggalan. Dan akhirnya, setelah sekian menit Athifah mermonolog dengan otak dan pikirannya, ia pun langsung saja memantapkan hatinya untuk membalas kakaknya. Untuk membuktikan kalau Athifah juga bisa lebih baik dari Aeera.


"Sudahlah, jangan mengasihi kakak sialan itu! Lebih baik, aku segera mandi " ujar Athifah pada dirinya sendiri, sambil mengusap kening dan pelipisnya yang penuh keringat. Beginilah Athifah, saat ia bermimpi buruk, ia akan mengigau sampai ke dunia nyata. Lalu, bangun dengan peluh yang membanjiri wajah bahkan seluruh tubuhnya.


"Lagian, ini jam berapa? " gumam Athifah sambil bangkit, duduk dan melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 06.30 PM.


Athifah semakin jengkel. Ia yang bahkan sudah terlalu lama tertidur, tak di bangunkan oleh siapa pun. Ia berkir, apa kalau dirinya mati, tidak akan ada yang mempedulikannya? Jika ia hilang, tidak ada yang mencarinya? Apakah kalau sudah mati atau hilang, keluarganya akan bahagia? Apakah tidak akan ada yang bersedih?


Athifah terus saja berfikir tentang kemungkinan kemungkinan jika dirinya tak ada di dalam keluarganya. Lalu, Athifah pun langsung membanting tubuhnya sendiri di atas kasur. Lalu, mulai menangis. Menangis, adalah cara Athifah untuk menenangkan fikirannya yang mulai absurd. Saat sudah mulai tenang, ia pun segera beranjak dari kasurnya dan berjalan menuju kamar mandi.


Sementara Aeera yang tak sengaja melewati kamar Athifah pun, langsung mendekatinya. Ia lupa memberitahu pada adik kembar kesayangannya itu bahwa malam ini akan ada acara makan malam di mansion Putra. Saat sudah sampai di depan pintu, Aeera mendengar suara air dari guyuran shower yang terjatuh ke atas lantai kamar mandi. Aeera yang mengerti kalau adiknya itu sedang mandi, pun berinisiatif untuk membantu memilihkan gaun agar di pakai oleh Athifah saat nanti mereka pergi ke mansion Putra.


Dibuka nya pintu coklat itu secara perlahan, lalu melihat ke kasur yang berantakan. Aeera hanya menggelang gelengkan kepalanya, melihat kamar Athifah yang tak berubah sejak dulu. Selalu saja berantakan. Aeera segera membereskan tempat tidur Athifah, lalu mengambil gaun juga pakaian dalam untuk di pakai oleh Athifah di dalam walk in closet. Saat Aeera sedang memilih milih pakaian yang cocok, ia pun segera melangkahkan kaki, menuju ranjang Athifah dan menaruh gaun nya di sana. Saat sudah selesai, ia lantas mengambil kertas, juga bolpoint yang berada di meja. Lalu, menulis sesuatu disana. Setelah selesai menulisnya, Aeera segera menempatkannya di atas gaun Athifah. Aeera tersenyum, lalu mulai membayangkan masa kecilnya dulu bersama Athifah.


Flashback on


Aeera kecil, sedang menulis sesuatu di kertas, lalu menaruhnya di atas gaun milik Athifah yang sengaja ia pilih. Gaun itu berada di atas kasur. Dengan cekatan, Aeera membereskan juga membersihkan kamar Athifah yang terlihat berantakan dan juga sedikit kotor. Setelah selesai, Aeera segera pergi meninggalkan kamar Athifah.

__ADS_1


Sedangkan Athifah kecil yang baru selesai mandi, langsung tersenyum lebar, melihat kamarnya telah rapi dan bersih oleh Aeera. Athifah semakin senang melihat gaun dan kertas di atasnya. Athifah memang mengerti jika kamarnya yang telah di bersihkan juga gaunnya yang di pilihkan oleh Aeera. Karna itu adalah kebiasaan Aeera jika mereka akan pergi. Setelah itu, ia langsung mengenakan gaunnya dan bergegas keluar kamar, untuk pergi bersama Aeera, papa dan mamanya.


Flashback off


Aeera tersenyum sambil menghapus air mata nya, saat mengenang masa kecilnya dengan Athifah. Ia yang mendengar shower tak menyala dan mengeluarkan air lagi pun, langsung berlari kecil, dan meninggalkan kamar Athifah. Sedangkan Athifah, yang baru sak keluar dari kamarnya, langsung tersentak kaget, melihat kamarnya yang sudah rapi dan bersih. Athifah menghampiri kasurnya, melihat ada gaun pilihan Aeera dan ada secarik kertas di atasnya. Athifah membacanya.


'Pakai, buat pergi malem ini ya cantik!'


-kakak imutmu, Aeera.


Tanpa di sadari, Athifah menyunggingkan bibirnya. Ia lalu mengingat kembali kebiasaan kakaknya dua belas tahun lalu, yang di lakukan jika mereka akan pergi ke suatu tempat, atau mengunjungi acara saat mereka masih kecil, sekitar umur sepuluh tahun. Tapi, Athifah langsung melunturkan senyumnya. Saat mengingat betapa papa dan mamanya yang selalu memanjakan Aeera. Bahkan sejak kecil, Athifah lebih sering bersama pembantunya. Sedangkan Aeera, ia sangat lah di jaga dan di rawat dengan baik oleh kedua orang tuanya. Entah mengapa, papa dan mamanya tak begitu mempedulikan Athifah, mereka acuh tak acuh pada Athifah.


"Kak, kita mau ke mana? " Tanya Athifah saat ia sudah duduk di samping Aeera. Aeera menoleh, lalu tersenyum puas, melihat Athifah yang menggunakan gaun pilihannya.


"Kita di ajak makan malam di mansion papa Putra, ada hal yang mau di bicarakan di sana" jawab Aeera masih dengan senyumnya yang mengembang. Athifah membalas senyuman kakaknya, lalu menyenderkan punggungnya.


"Oh.. " gumam Athifah sambil mengangguk anggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Dimana papa dan mama? " Tanya Athifah lagi.


"Papa sama mama, lagi siap siap. Sebentar lagi sampai kok" jawab Aeera lalu merangkul dengan gemas pundak Athifah. Ia lantas menyenderkan kepalanya di bahu milik Athifah yang tak terlalu lebar.


"Kamu emang gak pernah berubah sejak dulu, selalu aja jadi adik kecil seorang Aeera Zoya Kirana, haha" ujar Aeera sambil memegang tangan Athifah dengan erat.


Athifah yang di perlakukan hangat oleh Aeera pun, matanya langsung ber kaca kaca. Hatinya sedikit goyah, untuk membalas dan melampiaskan rasa sakit hatinya pada Aeera. Athifah pun berusaha untuk tidak menangis, walau tangannya sudah bergetar hebat. Aeera yang merasakan tangan Athifah yang bergetar, langsung duduk tegak, dan menatap Athifah dengan intens. Terlihat Athifah sedang memalingkan wajahnya, seperti sedang menahan tangis.


"Kau tidak apa apa? " Tanya Aeera bingung, sambil memegang bahu Athifah. Athifah menggeleng cepat.


"A-aku cuma sedih. K-kakak bakal pergi dari sini. Athifah gak punya temen lagi kak" jawab Athifah dengan suara bergetar, menahan tangis yang ingin sekali ia keluarkan.


"Athifah.. " Aeera memeluk Athifah, membuat Athifah langsung menangis. Aeera membiarkan, karna ia tahu Athifah akan lega jika sudah menangis, sama seperti dirinya.


"Kakak gak pergi, cuma pindah doang. Kan, kakakmu ini sayanggg banget sama kamu. Kakak, tetep bakal main ke sini, buat temenin Athifah. Biar ga kesepian, ya? " ujar Aeera menenangkan Athifah.


Athifah hanya mengangguk, tak mampu menjawab perkataan Aeera. Lalu, Athifah segera melepas pelukannya dengan Aeera. Ia lantas mengusap pipinya, berusaha menghilangkan jejak air mata. Athifah pun berusaha menenangkan diri, lalu berapa saat kemudian, Zelda dan Danu pun datang. Mereka lantas segera menuju mobil, untuk pergi ke kediaman Putra.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2