Kembaranku Perusak Rumah Tanggaku

Kembaranku Perusak Rumah Tanggaku
Bab 35


__ADS_3

Setelah kurang lebih dua puluh menit menunggu pesanan, karyawan wanita tadi kembali membawa dua gelas yang berisi jus alpukat dan juga kopi panas.


Karyawan itu menghampiri meja nomor enam dan menaruh dua minuman itu di atas meja. Jus alpukat, untuk Athifah, sedangkan kopi panas, untuk Asfar.


Setelah mengantarkan pesanan, karyawan tadi pergi ke arah meja yang terdapat seseorang sedang memanggilnya. Seorang pria dengan wajah tampan, dan jas panjang putihnya.


Pria itu menatap ke arah Athifah yang juga sedang menatapnya. Pria itu dan Athifah mengernyit, saling mengingat sesuatu. Setelah beberapa saat, keduanya melempar senyuman manis yang sangat memikat hati.


Akhirnya, mereka memutus kontak mata. Sibuk dengan urusan masing masing. Pria itu memesan, sementara Athifah meminum jus nya.


"Siapa? " Tanya Asfar sambil menghisap kopi panas di cangkirnya.


"Itu dokter Devan. Dia dokter di rumah sakit, tempat Bavendra di rawat. " jawab Athifah santai. Di letakkannya gelas panjang di atas meja.


"Oh. " jawab Asfar singkat.


"Silahkan duluan As, waktu kita sedikit. Hanya beberapa jam sebelum lebih dari jam dua belas siang" ujar Athifah, menarik tangan kirinya dan memperhatikan jam pemberian Aeera.


Sudah memasuki pukul delapan pagi.


Asfar menghela nafas panjang terlebih dahulu, lalu langsung mengutarakan apa yang mengganjal hatinya.


"Aku takut, Aeera di sana tertekan batin. Dia tentu saja tidak terlalu mengenal semua orang di sana. Aku juga akan menyampaikan tentang perkembangan polisi yang hampir sampai di wilayah hutan terlarang itu.


Apa jadinya nanti saat markas Jon telah di temukan? Lalu Aeera di bawa, dan Jon menyeret kita, lalu kita di hukum. Apalagi, selain hukuman penjara, kita juga akan di benci seantero negara, bahkan mungkin luar negeri. Kau tahu kan kuatnya keluarga Putra di perbisnisan? " terang Asfar sambil sesekali menatap jalanan yang dapat di lihat dari dalam cafe.

__ADS_1


"Huh.. Tentu saja semuanya sudah benar. Tapi, penjelasanmu terhadap pencarian polisi, sudah ketinggalan zaman. Kau tahu, siang nanti, berbagai polisi di kota ini akan menelusuri hutan itu?


Aku mendengarnya sendiri dari calon mertuaku, mama Ajeng. Di katakan bahwa polisi berhasil menangkap mobil milik Jonathan yang di dalamnya terdapat empat anak buahnya, yang sedang membawa Aeera di dalam cctv.


Jendela kacanya terbuka, baju yang sangat mirip milik Aeera terlihat di cctv jalanan kota. Apalagi, mobil itu keluar dari hutan sebelah yang bisa di lewati untuk menuju rumahku.


Mobil itu keluar, tepat beberapa saat setelah kecelakaan terjadi. Dan berbagai bukti lainnya, yang langsung mengikuti mobil. Hingga, cctv memperlihatkan mobil hitam itu memasuki hutan terlarang itu dengan santai.


Dan perlahan lahan, menghilang. Tak bisa lagi di jangkau cctv. Itu lah beberapa informasi yang kudapat dari mama Ajeng dan juga berita update di ponsel. Memang tak heran bukan, jika kejadian ini di liput di laman berita dan media sosial?


Mengingat kuasa keluarga Putra. Keluarga ku juga berpengaruh atas berita itu, ayahku memiliki tiga perusahaan sekaligus di negeri ini, hehe. Jadi dari situ laman media-"


"Cukup, "


Penjelasan Athifah di potong cepat oleh Asfar. Athifah cemberut, namun tetap patuh, diam. Asfar mencubit pipi kiri Athifah dengan keras. Athifah meringis, namun tetap diam.


(Amsbzbnavzak kenapa masa kecil mereka sangat lucu dan menggemaskan)


"Sudah kan? " Tanya Asfar melepas cubitannya. Athifah hanya mengangguk pelan.


"Aku tidak menyuruhmu untuk bercerita tentang laman berita dan media sosial! Jangan mengobrol melenceng seperti ini, paham? " gertak Asfar dengan suara tertahan.


Kalau mereka berdua saja, sudah pasti Athifah akan budeg saat ini, karna Asfar pasti akan meneriakinya.


"Ck iya iyaa. Kau ini sangat galak dari dulu" sinis Athifah sambil memutar bola matanya malas.

__ADS_1


"Huh sudahlah. Apa rencana mu? Kalau dari ku, kita akan memerintah orang untuk menjemput Aeera di sana sekarang juga. Jadi, saat para polisi menemukan markas, mereka hanya akan menemukan korban yang lain, jadi Aeera tidak akan di temukan, bagaimana? " usul Asfar lalu menghisap kopi yang sudah hangat dengan santainya.


"Tidak tidak tidak! " tolak Athifah sambil menggeleng geleng cepat.


"Apa maksudmu? " tanya Asfar. Ia merasa tersinggung, karna Athifah telah menolak rencananya yang menurutnya akan berhasil.


"Yaampun tuan Asfar Gun Zayn, apa kau tidak mengingat bahwa polisi akan datang di siang hari? Coba saja pikirkan. Kalau para anak buahmu datang ke pojok hutan, pasti akan membutuhkan waktu lama, lalu membawa pergi, itu kira kira membutuhkan waktu tiga jam lebih, bahkan mungkin lebih dari empat jam. Ini sekarang sudah jam delapan lebih.


Sementara, pemberangkatan polisi kira kira jam sebelas siang, dan akan tiba jam dua belas siang. Itu pun jika perjalanan mereka tidak tergesa gesa. Kalau mereka bergerak cepat, bagaimana? Bisa bisa jam setengah dua belas mereka sudah sampai.


Tahu sendiri kan, semua polisi di kota ini, bahkan bisa di tambah dari kota lain, akan menelusuri hutan terlarang itu. Kalau anak buah mu ingin melewati jalan lain, itu sangat percuma. Para polisi pasti akan menemukan mereka dengan mudah.


Kalau anak buahmu di temukan sedang membawa Aeera, mereka pasti akan di interogasi dan di bawa polisi saat itu juga! Lalu, kita akan mampus di dalam penjara, apa kau menginginkannya?! " jelas Athifah kesal.


"Lalu, apa kau memiliki rencana? " Tanya Asfar menurunkan nada suaranya. Ia sekarang sadar, rencananya pantas sekali untuk di tolak. Itu pasti akan memiliki akibat yang sangat besar.


"Begini saja. Untuk urusan pengawal dan pembantu di markas, tidak akan pernah buka suara. Jadi aman, " ujar Athifah. Ia meminum jus alpokatnya sedikit, lalu melanjutkan perkataannya.


"Nah, untuk itu, kita hanya perlu memiliki kambing hitam. Beli saja di kalangan orang miskin. Sebagian dari mereka pasti mau menjual diri hanya untuk kehidupan keluarga, apa kau mengerti tuan As? " jelas Athifah setengah setengah.


Asfar menjadi geram, ia paling tidak suka sifat Athifah sedari dulu, yaitu selalu menjelaskan sesuatu setengah setengah, seperti tidak berniat menjelaskan.


Sementara Athifah, ia akan mencoba menilai tingkat kelicikan Asfar. Kalau Asfar paham rencananya, pasti Asfar akan dapat bekerja dengan baik tanpa penjelasan lebih jauh.


Namun, pemikiran itu terbuang begitu saja saat melihat wajah bingung dan penasaran, juga rasa jengkel dan geram tercetak sempurna di lekukan wajah tampannya. Athifah menepuk dahi nya sendiri, lalu menghirup nafas panjang, dan mengeluarkannya secara perlahan. Wajahnya menunjukkan kejengkelan terhadap lawan bicaranya saat ini, yaitu Asfar sendiri. Asfar hanya bersikap acuh tak acuh, ia hanya menunggu penjelasan lebih dari Athifah.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2