Kembaranku Perusak Rumah Tanggaku

Kembaranku Perusak Rumah Tanggaku
Bab 9


__ADS_3

"Kenapa Ndra? "Tanya Ajeng.


"Engga papa"jawab Bavendra.


"Yasudah Bavendranya sudah datang, yhok makan dulu! "Ajak Ajeng antusias.


Yang lain pun hanya menganggukan kepalanya tanda setuju. Lantas, mereka pun melanjutkan aktivitas sarapan pagi mereka.


Menu pagi ini ada nasi hangat, tumis kangkung, rendang, ayam goreng, dan juga capcay. Sesekali Athifah melirik Bavendra dan menatap Aeera dengan sengit. Namun, yang ditatap tak merasakannya dan terus makan dengan lahap.


Setelah semuanya selesai dengan kegiatan mereka yaitu mengisi perut yang telah berpuasa semalaman, Ajeng memanggil pelayan untuk membereskan meja makan.


Saat semua sudah beres, seorang pelayan membawa nampan berisi beberapa makanan penutup yang tak lain tak bukan ialah pie manis dan puding coklat.


Dan pelayan lainnya membawa mangkok berukuran cukup besar yang berisi buah buahan seperti pisang, apel, dan juga semangka yang terkenal enak dengan kandungan air yang tinggi. Para pelayan segera meletakkan semua makanan pencuci mulut itu diatas meja makan.


"Silahkan tuan, nyonya, dan juga nona"ucap salah satu pelayan itu sambil membungkukkan badan.


"Hem, terimakasih. Kalian boleh kembali"ujar Ajeng.


"Baik, nyonya" jawab kedua pelayan itu lalu langsung pergi dari ruang makan.


"Aeera, kamu mau puding, pie, atau buah buahan? Atau mau ketiganya? "Tanya Ajeng menatap Aeera dengan senyum yang mengembang.


"Emm.. mau puding sama pengin apel sepotong aja tan"jawab Aeera.


"Panggil aku mama sekarang, Heemmm? "


"Eh? Oke ma, Aeera mau puding sama sepotong apel yang manis kaya mama Ajeng, hehe"


"Yaampun, calon menantu mama gemes banget sih, makasih loh pujiannya"


Aeera mengangguk dengan senyum manisnya.


Zelda terkekeh kecil, "nak Bavendra, tuh Aeera mau puding sama apel. Kamu ambilin, apelnya juga dikupas sama dipotongin ya?"goda Zelda.


"Oke, siap ma. Apa sih yang gak buat anak mama yang paling cantik itu"jawab Bavendra mengambilkan puding dan apel. Lalu memberikan puding coklat itu ke Aeera. Sedangkan apelnya, ia mulai mengelupasnya dengan pisau buah.


"Oh ya, mama dan papa sekalian. Aeera sama Bavendra mau izin buat pergi jalan jalan ke taman"ujar Aeera meminta izin dan memulai memakan puding coklatnya.

__ADS_1


"Oh? Boleh dong. Bagus malahan"jawab Putra sambil memasukkan pie manis dalam mulutnya.


"bagus kak! Athifah mau ikut boleh? " Tanya Athifah antusias.


"Eh.. Mau ikut? ***-"


"Gak! Athifah gak boleh ikut. Ini khusus buat calon pengantin, biar bisa makin deket, kamu ngertiin ya, fah? "Ucap Zelda memotong ucapan Aeera yang hendak mengatakan 'boleh' atas permintaan Athifah yang ingin ikut ke taman bersama Aeera dan Bavendra.


"Yahh.. yaudah gapapa ma, Athifah disini aja" ucap Athifah dengan suara yang terdengar sedih.


"Kalo Athifah mau ikut, gapapa kok ma"ujar Aeera sambil menerima satu potong apel berukuran sedang yang Bavendra suapkan.


Melihat hal itu, Athifah langusng mendidih. Ia lantas berubah pikiran untuk mengikuti mereka. Membayangkan bagaimana jadinya jika ia harus melihat Aeera dan Bavendra yang terus bermesraan dalam jarak dekat. Sedangkan dirinya? Nanti jadi penjual kacang dadakan atau yang lebih parah menjadi obat nyamuk. Tidak! Lebih baik aku dirumah saja merancang rencana. Batin Athifah.


"Engak deh, gak jadi. Pengin main sama temen"


"Oke. Oh iya pah, aku kerjaannya gimana? Aku bahkan sampe lupa hari ini mau kerja" ucap Aeera sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Hem, Athifah cuti sampe hari pernikahanmu. Kamu cuti sampe tiga atau empat bulan. Sekalian, bulan madu kamu dan Bavendra setelah kalian menikah"jawab Danu sambil memakan semangka yang telah dipotong potong menjadi kecil.


"Hee? Oke deh"ucap Aeera sambil mengacungkan jempolnya.


Putra dan Danu pergi ke kantor, Ajeng dan Zelda pergi ke taman belakang sedang sibuk berkebun, Aeera dan Bavendra pergi ke taman, dan Athifah? Sungguh malang sekali ia tak punya pasangan untuk melakukan aktivitas paginya, dan katanya mau main sama teman.


Ntah itu benar atau nggaknya, author masih mendalami akan hal ini. Tapi, dari yang author lihat dan perhatiin, ada gelagat aneh dari Athifah. Mulai dari menunggu Aeera dan Bavendra pergi duluan, sampai mengikuti mereka secara diam diam. Ntah apa yang sedang direncanakan otak liciknya itu.


---๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ---


Sekarang, Aeera dan Bavendra sedang duduk bersebelahan. Posisi mereka saat ini ialah, Bavendra merangkul pundak Aeera sedangkan Aeera memeluk pinggang Bavendra dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Bavendra.


Sungguh pemandangan yang ah.. kalau Athifah melihat ini, pasti langsung kaya cacing kepanasan. Untung gadis itu tidak ikut. Ehh.. ntah juga dia masih gadis atau.. sudahlah.


"Yang, tunangannya besok malem aja gimana? "Usul Aeera sambil memandang Bavendra.


Alhasil, jarak mereka sangatlah dekat. Melihat hal itu, Aeera langsung memalingkan wajahnya, salting sekali si Aeera ini. Haha.


Bavendra terkekeh, "Hm? Besok? Bukannya besok terus besoknya lagi? Pas rumah kamu dah bisa ditempatin"jawab Bavendra sambil terus memandang Aeera.


"Hem, kamu gak seneng ya? Aku ada dirumah kamu? Haa? "

__ADS_1


"Lah? Kok gitu? Gak gituu akutu seneng seneng aja kamu dirumah akuu. Apa aku tadi bilang gak seneng kamu di rumahku? Gak kann. Dahlah jangan overthingking" jawab Bavendra sambil mengelus elus kepala Aeera dengan lembut.


"Hemm"


"Apaan sih yang.. jangan gitu ah. Liat tu! Ada balon! "Tunjuk Bavendra pada seorang tukang penjual balon yang sedang mangkal disebrang jalan.


"Eh? Mana mana! Woahh.. iya! Ayo beli" ajak Aeera antusias.


"Mau balon? "


"Iyaa! Mau balonn "


Entah kenapa. Aeera yang dewasa, pendiam, dingin, ketus dan jutek sekarang sedang merengek meminta balon. Apa ini? Kenapa di depan Bavendra, Aeera menjadi seperti anak usia lima tahun saja? Huh sungguh membagongkan.


"Oke, yhuk"


Aeera dan Bavendra pun langsung berjalan kearah tukang balon. Karna mangkalnya di seberang jalan, jadi mereka harus menyeberang. Tapi, beruntung jalannya sedang sepi, Aeera dan Bavendra pun berjalan santai.


Sampai waktu ditengah jalan, Aeera menghentikan langkahnya. Melihat Aeera yang berhenti, Bavendra juga ikut berhenti.


"Kenapa? Kok berhenti? "Tanya Bavendra bingung.


"Yaampun! Ponsel ku ketinggalan dibangku tadi! Bentar ya aku ambil dulu. Kamu sana milih milih, siapa tau aku suka sama pilihan kamu"ujar Aeera lalu meninggalkan Bavendra yang masih termenung.


Firasatnya tidak enak kali ini. Apakah ini? Apa akan terjadi sesuatu yang tidak baik? Dan tiba tiba Bavendra mengingat Aeera.


"Kembalilah, Aeeraku.. aku menunggumu disini"ucap Bavendra lirih saat melihat Aeera yang sudah berhasil mengambil ponselnya.


Bavendra pun berjalan kearah mang tukang balon, tapi belum juga sampai, ia seperti mendengar suara mobil yang mengebut dan suara langkah kaki Aeera yang sedang berlari.


Bavendra menengok kebelakang. Dilihatnya sebuah mobil putih sedang melaju kencang kearah Aeera seperti sengaja ingin menabraknya. Semakin dekat, mobil itu semakin kencang.


Bavendra langsung berlari kearah Aeera. Dan Aeera yang melihat kearah Bavendra yang berlari kearahnya pun berhenti seketika.


"Aeera!! Awass!! "Teriak Bavendra.


"Apa? "Tanya Bavendra dan sejurus kemudian, ia langsung berteriak karna melihat sebuah mobil putih hendak menabrak dirinya. Dan..


Brukk..

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2