Kembaranku Perusak Rumah Tanggaku

Kembaranku Perusak Rumah Tanggaku
Bab 29


__ADS_3

"Bavendra.. "


"Maafin Bavendra, Bavendra gak bisa jaga Aeera dengan baik. Maaf, Bavendra yang udah bikin Aeera hilang. Maaf sebesar besarnya, kalau kalian mau benci Bavendra, Bavendra tidak apa apa kok" ujar Bavendra terus semakin menunduk.


"Bavendra, kamu gak salah. Semua kejadian ini, sudah di atur sama yang maha kuasa. Jadi, Bavendra gak boleh salahin diri Bavendra sendiri, ya? Gak boleh pantang menyerah, Aeera pasti bakal di temuin, oke?" Kata Zelda sembari tersenyum tipis.


"Maafin Bavendra, Bavendra salah! " ucap Bavendra sambil memukul kepalanya sendiri.


"Bavendra! Jangan nak! "


Larangan semua orang tidak di gubris oleh Bavendra. Ia semakin menjadi memukul kepalanya menggunakan kepalan tangan. Sambil terus mengatakan 'maaf', Bavendra semakin menjadi jadi.


Hingga akhirnya, Zelda dan Ajeng memegangi kedua tangan Bavendra, namun sangat di sayangkan. Karna Bavendra memiliki tenaga yang lebih kuat.


Jadi, kepalan tangannya masih ia pukulkan di kepalanya.Secara, Bavendra adalah lelaki muda, sedangkan Zelda dan Ajeng wanita dengan umur yang hampir memasuki paruh baya.


Putra dan Danu, segera memanggil dokter yang dapat menenangkan Bavendra. Beberapa saat, dokter dan dua suster pun datang bersama kedua calon besan itu. Mereka memasuki ruangan lima puluh tiga dengan tergesa gesa.


"Permisi nyonya" izin dokter sambil membawa sebuah suntikan yang berisi cairan obat penenang, yang dapat membuat Bavendra tidur dengan jangka waktu beberapa jam, atau sampai esok hari.


Ajeng dan Zelda menjauh, lalu mendekat ke arah suami mereka masing masing. Kedua suster segera memegang salah satu tangan Bavendra, lalu dokter dengan ketepatan menyuntikkan suntikan itu.


Awalnya tidak ada respon apapun dari Bavendra. Namun, beberapa saat, Bavendra mulai kehilangan kesadaran. Ia mulai menutup matanya dengan tenang, tertidur.


Semuanya mengucap syukur.


Ajeng dan Putra, yang baru pertama kali melihat Bavendra se-frustasi itu pun, langsung di buat cemas dan kebingungan. Mereka tak menyangka, sudah sebesar itu kah cinta mereka berdua? Sebesar itukah cinta Bavendra pada Aeera?


Suster segera merebahkan tubuh Bavendra. Karna kan sebelumnya, Bavendra sedang terduduk. Sementara, dokter menjauh sedikit, lalu bertanya.


"Di mana orang tua dari saudara Bavendra Putra? " Tanya dokter sambil melihat kedua pasangan di sana secara bergantian.


Putra mengangkat tangannya, "kami dok"

__ADS_1


Dokter mengangguk, lalu mengajak Ajeng dan Putra ke ruangannya. Ia akan menjabarkan kondisi putra dari Ajeng dan Putra, yaitu Bavendra. Zelda dan Danu, memutuskan untuk pulang.


Mereka sudah sangat lelah. Ini juga sudah memasuki hari esok. Kira kira sudah jam satu kurang. Sementara, Ajeng dan Putra mengikuti dokter ke ruangannya.


Lebih dari sepuluh ruangan terlewati. Dan kini, Ajeng dan Putra sedang duduk berhadapan dengan dokter itu.


"Perkenalkan, saya dokter Devan. Kebetulan saya sedang bekerja malam di sini. Tuan dan nyonya? " ujar dokter yang bernama Devan, mengawali pembicaraan.


"Oh iya dokter Devan. Saya Putra, dan ini istri saya Ajeng. Kami adalah orang tua kandung dari Bavendra Putra" ujar Putra mengenalkan dirinya dan juga istrinya.


Devan mengangguk angguk, "Begini tuan, nyonya. Anak tuan dan nyonya, haruslah di jaga ketenangannya. Jangan membuat dia cemas dan gelisah. Itu akan membuatnya resah setiap saat.


Dan, membuatnya melakukan hal hal yang dapat menyakiti diri sendiri atau bahkan membunuh diri sendiri. Seperti tadi, tuan Bavendra memukul kepalanya berulang kali. Kondisi seperti ini terjadi sebab benturan yang cukup keras di kepala, sehingga menyebabkan trauma berkepanjangan yang membuat otak menjadi berpikiran negatif. Anak tuan dan nyonya, akan menjadi orang yang cepat cemas dan takut saat mendengar kabar buruk.


Itu akan membuatnya berpikiran yang tidak tidak. Jadi, di mohon agar tuan dan nyonya tidak memberatkan pikirannya. Buat tuan Bavendra tenang sehingga dapat mempercepat kesembuhannya. Berikan hal hal positif, maka ia akan berpikir positif juga. Trauma akan hilang tergantung lingkungan dia berada" terang Devan serius.


"Baik dokter, terimakasih atas penjelasannya" ucap Putra.


Devan mengangguk, "silahkan kalau tidak ada pertanyaan bisa keluar tuan dan nyonya"


Ajeng dan Putra pun, meninggalkan ruangan. Mereka lantas memasuki ruangan Bavendra. Ajeng mendekati Bavendra lalu mengusap usap punggung tangannya. Putra yang melihat Ajeng tampak sedih, langsung merangkul istri tercintanya.


"Sudah ya? Ayo pulang dulu. Besok bisa kesini lagi" ujar Putra sembari mengusap punggung Ajeng.


Ajeng menatap sendu ke wajah Putra. Lalu mengangguk lemah. Mereka pun berjalan menuju mobil.Akhirnya beberapa saat kemudian mereka berdua sudah berada di mobil, dan sudah dalam perjalanan pulang.


Namun, di tengah perjalanan ponsel Ajeng ada yang menelepon. Ajeng langsung mengangkatnya tanpa pikir panjang. Ia takut kalau itu tentang kondisi Bavendra atau pun Aeera.


"Halo? " sapa Ajeng cepat.


Namun, tidak ada yang meresponnya sama sekali.


Hanya ada, hembusan nafas berat yang terdengar. Lalu, tiba tiba suara seperti isak tangis terdengar. Mirip seperti.. suara Aeera! Walau pun samar samar, tetapi Ajeng meyakini itu adalah suara Aeera.

__ADS_1


Ajeng berusaha untuk mengajak ngobrol orang di ujung sana. Siapa tau, mereka meminta tebusan uang agar Aeera di bebaskan, Ajeng akan siap, berapa pun itu. Tapi, hanya ada suara hembusan nafas berat dan suara isak tangis Aeera.


"Halo? Halo! Berapa pun, akan saya transfer. Saya janji! Tidak akan lapor polisi, halo! Halo?!! Di mana Aeera sekara-"


Tut.. tut.. tut..


"Kenapa ma? Siapa yang telpon? " Putra memberondong Ajeng dengan banyak pertanyaan.


"Pa, ta-tadi.. a-ada yang telpon. Trrus, gak ada yang ngomong. Cuma ada hembusan nafas berat sama suara isak tangis, yang mirip banget sama suaranya Aeera! " cerita Ajeng sembari memperlihatkan wajah cemasnya.


"Tenang ma, tenang. Mungkin itu cuman orang iseng. Mungkin, itu bukan suara Aeera" ujar Putra menenangkan.


"Mungkin kan paa!! Kalau iya gimana?! Kayaknya ini gak butuh uang deh pa yang nyulik. Entah punya tujuan apa.. " pekik Ajeng yang diakhiri dengan lirihan.


"Sudahlah ma, nanti kita bahas lagi" ucap Putra menutup percakapan.


"Tapi paa! "


"Maa.. "


Ajeng mendengus kesal. Perjalanan pun terus dilanjutkan. Hingga tak terasa, mobil milik Putra berhenti di depan mansion mereka. Mereka pun segera memasuki kamar dan tertidur lelap.


Sementara, Zelda yang mendapat panggilan telpon yang sama dengan Ajeng, mencoba untuk menghubungi nomor orang itu lagi. Ia terus saja berusaha menelepon, namun, malah tak aktiv. Akhirnya, dengan lesu, Zelda memeluk Danu yang sudah tertidur lelap.


Ia lantas menangis, menumpahkan seluruh isi hati melalui buliran buliran yang mengalir deras dari matanya. Danu yang merasa bajunya basah, dan juga mendengar isak tangis istrinya, langsung terbangun.


Melihat Zelda menangis, Danu langsung memeluknya dengan erat. Tanpa mengucap sepatah kata pun.


"Papa.. tadi ada yang telpon pa. Ada suara Aeera lagi nangis. Huaaa papa.. Aeera lagi di siksa kali pa, dia kayak merintih kesakitan pa.. huwa hiks hiks hikd" lirih Zelda semakin memeluk Danu dengan erat.


"Mama.. itu cuman orang iseng kali. Sudahlah, tidur. Nanti kita bicarakan lagi" ujar Danu menenangkan.


Danu mengusap usap punggung Zelda secara perlahan, terus menerus. Semakin lama, tangisan dan siakan Zelda mereda. Danu melihat ke arah Zelda.

__ADS_1


Istrinya telah tertidur dengan jejak air mata yang masih ada. Juga genangan di antara bulu mata yang lentik. Danu semakin memeluk Zelda erat, lalu ia pun ikut tertidur.


Bersambung...


__ADS_2