
"Hahaha.. iyaa maaf ya. Mungkin itu cuma perasaan kamu aja? " ujar Bavendra sambil mengusap usap punggung tangan Aeera.
"Gak lah, orang aku denger pas keadaan sadar, dan itu nyata banget tau ga si" ucap Aeera dengan wajah meyakinkan.
"Hm.. atau, mungkin yang ketuk langsung pergi. Kamu keluar cari orangnya gak? " Tanya Bavendra memastikan.
"Ehm.. keknya aku cuma keluar sebentar terus masuk lagi deh. Tapi masa iya sih orang bisa se cepet itu ilangnya! " jawab Aeera dengan menggebu gebu.
"Hm.. " Bavendra menggumam, lalu mengalihkan pandangan matanya ke arah depan. Terlihat seekor kucing hitam berada di tengah jalan. Bavendra yang melihatnya, langsung menghentikan mobil secara mendadak.
Cittttt.. bruk..
"Aw.. ish yang.. kamu ini kenapa sih?! Liat ni, aku kejedod! (Kebentur)" pekik Aeera marah.
"Tadi ada kucing hitam" ujar Bavendra.
Ia lalu langsung turun untuk melihat kucing tersebut, di susul oleh Aeera. Namun, saat di depan sana, tidak ada kucing atau pun hewan lain. Hanya ada semilir angin dingin yang membuat bulu kuduk merinding. Kendaraan pun hanya beberapa saja yang lewat.
Tiba tiba, Bavendra merasakan pundak kanannya di pegang oleh sebuah tangan. Dengan perasaan was was dan penuh ketakutan, ia mengok ke belakang. Ternyata, di belakang Bavendra berdiri sesosok gadis dengan drees panjang hitamnya sedang berdiri. Matanya memicing, dan mulutnya di majukan.
"Hish yang, kamu bikin kaget aja tau gak" omel Bavendra seraya menggandeng tangan Aeera dan membawanya masuk ke dalam mobil.
Bavendra pun juga ikut masuk ke mobil bagian kemudi. Saat melihat keadaan sekitar lagi, memang benar tidak ada kucing atau hewan berwarna hitam apapun yang berkeliaran. Semuanya tampak sepi dengan pohon pohon menjulang tinggi.
"Mungkin cuma perasaanku saja" gumam Bavendra seraya menyalakan mobilnya kembali.
"Kamu lihat kucing hitam? " Tanya Aeera menatap lekat mata Bavendra.
"Iya" jawab Bavendra santai.
"Katanya kalau habis ketemu sama kucing hitam, akan ada bahaya muncul" ucap Aeera dengan mimik wajah takut dan cemas.
"Ngada ngada aja kamu ini. Di zaman begini, mana ada orang yang mau percaya akan hal hal mitos" ujar Bavendra sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
"Ck yasudah kalau tidak mau percaya" dengusan Aeera keluarkan. Ia lalu memainkan ponselnya untuk mengusir rasa jenuh dan bosan.
Beberapa menit berlalu, kini mobil Bavendra sudah memasuki jalanan yang tambah sepi. Tidak ada lagi mobil ataupun motor yang berlalu lalang. Aeera sibuk dengan ponselnya. Namun tiba tiba, ada sebuah motor dengan pengendara dan juga pembonceng yang melaju di samping mobil bagian kanan, tepatnya di samping kaca mobil bagian kemudi.
Bavendra mengernyit heran. Tapi, ia tak menghiraukannya. Bavendra menengok ke arah Aeera. Tampak masih santai dengan tangan yang menari nari di atas ponsel. Lalu, pria dua puluh empat tahun itu pun menoleh lagi ke arah kanan. Tepat di mana motor misterius berwarna merah berada.
Dari yang Bavendra lihat, kedua orang ini adalah seorang pria. Terlihat dari gaya rambut dan perawakannya. Namun, wajah kedua pria itu tak terlihat sebab mereka menggunakan masker. Hanya mata mereka saja yang terlihat.
__ADS_1
Tok tok tok..
Sang pembonceng mengetuk kaca mobil dengan sedikit keras. Bavendra mulai was was. Ia menduga kalau pria di samping mobilnya saat ini adalah seorang penjahat. Dan bukti itu menjadi lebih kuat saat Bavendra tak sengaja melihat sang pembonceng membawa sebuah celurit yang berada di tangan kanan.
"****! " umpat Bavendra.
"Kenapa? " Tanya Aeera bingung.
"Sudahlah, cepat pegangan dan pakai sabuk pengaman mu! " ujar Bavendra seraya membenarkan letak sabuk pengamannya.
"Ada apa sih? " Tanya Aeera penasaran.
"Cepat lakukan sekarang! Ini menyangkut hidup dan mati kita berdua! " teriak Bavendra tertahan.
"Uhm.. oke oke"
Aeera dengan ragu pun segera memakai sabuk pengamannya dan memegang tempat duduk mobil dengan erat. Bavendra mengangguk dengan wajah seriusnya. Aeera yang melihat wajah serius Bavendra, langsung mengalihkan pandangan matanya. Wajah Bavendra terlihat bertambah tampan saat di mode serius seperti itu.
'**** ganteng banget' umpat Aeera dalam hati.
"One" ucap Bavendra menghitung mundur.
"Eh ini maksudnya apa? " Tanya Aeera panik.
"Woy lah plis"
"Tree!" Pekik Bavendra dan langsung menginjak pedal gas kuat kuat. Kemudinya ia miringkan ke kanan dan ke kiri mengikuti jalanan yang berbelak belok.
Bavendra menyetir dengan sangat gila. Aeera sampai menahan nafas melihat jalanan yang sangat cepat berganti. Mobil berbelok ke kanan dan ke kiri. Tubuhnya ikut bergoyang searah kemudi yang di kendalikan oleh Bavendra.
"Aaaa" pekik Aeera tiba tiba, saat di depan sana terlihat sebuah mobil besar berwarna hitam sedang berada di tengah tengah jalan.
Dan itu membuat Bavendra harus dengan terpaksa membanting setir ke arah kiri. Karna, akan sulit untuk mengerem mendadak. Bisa bisa mobilnya terjungkir balik. Mobil akhirnya membelok ke kiri dan menabrak sebuah pohon berukuran cukup besar dengan kencang.
Braakk.. prang..
Suara mobil yang menabrak pohon, di ikuti oleh suara kacahan kaca mobil yang pecah terdengar. Aeera membentur dashboard mobil dengan keras dan membuatnya pingsan, tak sadarkan diri. Sedangkan Bavendra, ia berusaha untuk menjaga kesadarannya.
Ia tak mungkin membiarkan dirinya tak sadarkan diri saat melihat orang orang berpakaian hitam keluar dari mobil besar berwarna hitam yang berada di tengah jalan tadi. Dan orang yang berjumlah empat itu berjalan ke arah mobil Bavendra. Namun, rasanya kepala Bavendra berputar putar. Penglihatannya kabur.
Kepalanya ia sandarkan di kemudi mobil. Di detik detik terakhir sebelum Bavendra menutup mata tak sadarkan diri, orang orang berpakaian hitam itu membuka pintu mobil di sebelah kiri. Mereka lalu mengangkat tubuh Aeera dan menggotongnya memasuki mobil mereka.
__ADS_1
"Aeera.. " lirih Bavendra lalu ia pun pingsan.
...**********...
Tut.. tutt.. tut..
Zelda berkali kali menelepon nomor anaknya, Bavendra. Ia sangatlah cemas dan khawatir. Perasaannya sangat cemas dari awal saat Aeera dan Bavendra pergi menggunakan mobil hitam Bavendra.
Dan terbukti saat ini sudah lebih dari satu jam Bavendra dan Aeera tak kunjung sampai di hotel. Padahal semua tamu undangan sudah hadir, dan acaranya bahkan seharusnya sudah harus di mulai.
"Papa.. bagaimana ini? Apa yang terjadi dengan mereka pa? " rengek Zelda pada Danu.
"Tenang ma, biar papa telpon anak buah papa buat cari keberadaan mereka berdua, ya? " ujar Danu mencoba membuat Zelda tenang. Zelda mengangguk, lalu duduk di salah satu kursi di ballroom hotel.
'Hem, apakah rencanaku berhasil? ' batin Athifah tersenyum senang.
Athifah lantas berjalan dan menghampiri Asfar.
"Ayo ikut denganku. Ada hal penting yang akan ku beritahukan" ucap Athifah berbisik di telinga Asfar.
Asfar mengangguk, lalu berpamitan pada kolega kolega bisnisnya. Ia lantas mengikuti ke mana Athifah akan membawanya. Dan beberapa langkah, mereka berdua sampai di meja paling ujung dan paling pojok. Kebetulan sedang sepi dan kosong.
Athifah mempersilahkan Asfar untuk duduk, di susul oleh Athifah sendiri. Ia lalu mengambil ponselnya dan menelepon seseorang.
"Halo.. bagaimana? " Tanya Athifah seraya mengaktifkan tombol loundspeaker atau pengeras suara, hingga Asfar dapat mendengarnya.
"Iya nona, kami sudah mengatur semuanya. Dan saat ini semua berjalan dengan lancar" lapor suara pria di ujung telpon.
"Bagus. Kalau ketahuan, carilah orang yang mau menjadi pelaku palsu. Namun, kalau tak ketahuan, kalian akan ku bayar tiga kali lipat, bagaimana? " ujar Athifah menyeringai.
"Siap nona, kami akan berhati hati agar tidak ketahuan. Asal ada uang, pekerjaan bisa beres"
"Bagus. Baiklah, apakah kau mau mengatakan sesuatu, As? " tawar Athifah sambil menyodorkan ponselnya.
"Jangan sakiti dia. Atau, kalian akan saya laporkan ke polisi" acam Asfar dengan nada suara dingin.
"Baik, tuan Asfar" jawab pria di ujung telpon dengan nada bicara ketakutan.
Athifah pun mematikan telpon. Setelah itu, ia menyeringai. Asfar memperlihatkan wajah cemasnya.
"Tenanglah. Paling hanya luka luka kecil" ujar Athifah diiringi tawa kecilnya. Asfar tak menjawab, ia langsung pergi dan berkumpul lagi bersama kolega bisnis perusahaan Bavendra dan juga teman temannya.
__ADS_1
Bersambung...