
Sontak saja, setelah mendengar pernyataan Zelda, Danu dan pemuda yang bernama Dewa itu langsung gelagapan. Mereka tampak sedang gelisah. Aeera mengernyit, merasa ada suatu hubungan antara Danu dan Dewa.
"Ah.. i-iya. Ini adalah anak dari sahabatku yang sudah meninggal, dan aku ini mirip dengan sahabatku itu. Jadi Dewa sering salah memanggilku. Benarkan nak Dewa? " jawab Danu grogi sambil menatap Dewa.
"Benar pak. A-ayah saya sudah m-meninggal, dan pak Danu ini mirip dengannya. Jadi saya sering salah sebut" jawab Dewa sambil mengusap matanya yang tampak berkaca kaca. Melihat itu, hati Danu langsung sesak, tatapan matanya ke Dewa terlihat sendu. Dewa pun bangkit, di bantu oleh Danu.
Zelda dan Athifah pun terlihat mengangguk anggukkan kepalanya. Sedangkan Aeera merasa ada yang di sembunyikan oleh papa dan pemuda itu. Dilihat dari tubuhnya, mengapa Danu seperti sedang sedih dan gelisah? Apa ada yang di sembunyikan Danu dari keluarga nya?
"Nak Dewa.. kamu yang sabar ya. Saya yakin, ayah kamu pasti sudah tenang di sana. Kamu sebagai anaknya harus selalu mendoakan dan harus menjadi anak yang berbakti pada ibu mu yang masih hidup, ya? " ujar Zelda sambil mengusap pelan bahu Dewa. Dewa terkesiap, lalu tersenyum getir.
"Ibu saya sudah meninggal beberapa minggu yang lalu terkena serangan jantung, tepat saat rumah kami di rampok" jawab Dewa dengan suara bergetar. Danu terhenyak, hampir saja mulutnya memekik keras, tetapi di urungkannya saat menyadari ada keluarga kecilnya di sini. Aeera yang melihat Dewa, merasa iba juga pada pemuda tampan tersebut yang umurnya terlihat sepantaran? Atau ah.. mungkin lebih tua satu tahun?
"Ya ampun, kasihan sekali. Jadi kamu tinggal di rumah sendirian nak? " Tanya Zelda merasa iba.
"Saya tidak punya tempat tinggal. Baru saja saya di usir dari rumah karna rumah saya jadi jaminan hutang hutang ibu saya. Saya sudah cari kerja, tetapi tak ada yang membutuhkannya" jawab Dewa sambil menatap jalan raya yang terlihat sepi, matanya seperti sedang menerawang jauh.
"N-nak Dewa, tinggallah di rumah kami. Bagaimana pun juga, kamu adalah anak dari sahabat terbaikku. Dia selalu menolongku saat aku susah" ujar Danu sambil menatap intens ke arah Dewa. Dewa yang di lihat seperti itu pun, hanya bisa menundukkan kepalanya.
"Apakah tidak merepotkan? Saya bisa jadi pelayan di sana pak. Apapun pekerjaannya, akan saya terima" ucap Dewa sambil mendongak, menatap Danu dengan sendu.
"Tidak perlu, saya sudah menganggapmu sebagai anak ku. Tinggallah di rumah kami. Boleh kan ma? " ujar Danu lalu di akhir kata ia bertanya pada istrinya, Zelda.
Zelda mengangguk cepat, "ayo nak.. Kamu tinggallah bersama kami" jawab Zelda sambil tersenyum hangat.
"Baik, tapi kalau memang di perlu untuk mengerjakan sesuatu, perintah saja saya. Tidak perlu di bayar" ucap Dewa sambil tersenyum tipis, namun dengan mata yang terlihat menanggung banyak beban.
"Oh ya, kenalkan ini Aeera dan adiknya Athifah" ujar Zelda mengenalkan Aeera dan Athifah.
__ADS_1
Aeera bersalaman dengan Dewa.
"Aeera" ucap Aeera tersenyum tipis.
"Dewa" ujar Dewa dengan senyum simpul, melihat Aeera berpenampilan serba gelap, yang menjadikan gadis itu terlihat elegan dan dewasa. Tiba tiba, Athifah langsung merebut jabatan tangan dari Aeera. Athifah menjabat tangan Dewa, lalu menyentaknya.
"Kak! Aku Athifah, salam kenal ya! " ujar Athifah sambil tersenyum manis.
Dewa terkekeh, "iya, aku Dewa. Salam kenal juga! " jawab Dewa dengan tersenyum tak kalah manisnya. Memperlihatkan lesung pipi kecil di kedua pipinya. Terlihat sangat manis dan lucu. Dewa memperhatikan Athifah, penampilannya terlihat lebih lucu dan imut, karna mengenakan pakaian warna cerah. Sementara Athifah, ia terlihat terpesona dengan Dewa, Athifah melihatnya dengan mata berbinar, namun dengan jantung yang berdegup kencang.
"Yasudah. Dewa, mana tas berisi pakaian kamu? " sela Danu sedikit panik, saat melihat raut wajah Athifah yang terlihat terpesona oleh Dewa.
"Itu, di halte bus" jawab Dewa lalu melangkah, menuju halte bus yang berada beberapa meter dari mobil Danu. Benar saja, Dewa terlihat mengambil sebuah tas ransel besar berwarna hitam.
"Baik, sekarang masuk ya? Hari sudah mulai malam. Kita harus cepat sampai ke rumah " ucap Danu lalu merangkul bahu Dewa, mengajak nya memasuki mobil bagian depan. Sementara Zelda, duduk di belakang bersama Aeera dan Athifah.
Kediaman Danu
Akhirnya setelah kurang lebih lima belas menit, mobil milik Danu itupun memasuki area rumah. Tampak Danu memanggil satpam untuk memasukkan mobilnya ke dalam garasi.
Setelah itu, mereka pun memasuki kamar masing masing. Termasuk Dewa. Ia akan menggunakan kamar tamu yang telah di bersihkan oleh pelayan beberapa menit yang lalu di rumah itu.
Brukk..
Dewa membanting tubuhnya ke atas kasur, lalu langsung tertidur. Ia sepertinya sangat kelelahan sekali. Dewa tak mengunci pintu, namun tetap menutup nya rapat. Tiba tiba, pintu kamar pun terbuka. Memperlihatkan Danu yang sedang menatap Dewa dengan intens, tanpa di sadari oleh Dewa. Danu sedang menatapnya dengan sedih dan kegelisahan. Perasaan campur aduk antara bahagia, sedih, dan gelisah dalam satu waktu yang bersamaan. Danu menghela nafasnya, lalu berjalan keluar dari kamar tamu Dewa, dan berjalan menuju ke kamarnya.
'Maaf' batin Danu sembari terus melangkah.
__ADS_1
__♡ ♡ ♡ ♡ ♡__
"Apa?! " pekik Bavendra setelah mendengar cerita panjang dari gadisnya.
"Ih! Bavendra kok teriak teriak gak jelas aihh" ucap Aeera dari ujung telpon.
"Ya ya maaf. Tadi apa kamu bilang? Pemuda itu tinggal di rumahmu? Apa dia tampan? Apa kau menyukainya?! " Bavendra mencecar Aeera dengan pertanyaannya.
"Ih ini malah aku di cecar, aku bingung jawab yang mana dulu " pekik Aeera kesal.
" Apa dia tampan, dan apa kau menyukainya?" Tanya Bavendra dengan suara yang lebih di pelankan.
"Dia tampan, mirip papa Danu. Dan aku tentu menyukainya? " Jawab Aeera enteng.
"Apaa?! Apa kau sudah tak mencintaiku? Dan kau sekarang malah menyukai pria lain?! " pekik Bavendra dengan wajah frustasi nya.
"Engga gitu. Aku memang suka kak Dewa karna dia itu tampan. Tapi sama kamu tampan kamu kok. Aku gak cinta dia, cintanya kamu!! " jawab Aeera dengan manja.
Bavendra tersenyum tipis, "benarkah? "
"Ya, tentu saja. Sudah dulu ya, aku mau tidur. Ngantuk, nih! " cetus Aeera.
"Jangan dimatiin, tidur aja sana" jawab Bavendra.
Tetapi, Aeera tidak merespons perkataan Bavendra. Dan Bavendra pun tersenyum simpul saat mendengar dengkuran halus dari ujung telpon sana. Bavendra merebahkan tubuhnya di atas kasur, lalu menaruh ponselnya di samping kepalanya. Menikmati dengkuran halus dari gadis kesayangannya. Lama sekali Bavendra terjaga. Namun, mata nya perlahan lahan mulai tertutup, saat jam menunjukkan hampir waktu tengah malam.
Bersambung...
__ADS_1
Gtw knp, ak up bab ini tuh susahh. Udah up kemaren kemarenn, berhasil di review. Tapi, gak masuk di nt nya :(