
"Baik baiklah. Ku mohon, agar tuan tampan yang galak ini dapat memahami penjelasanku" ucap Athifah sedikit meledek. Asfar cuek, ia hanya mengangguk angguk dengan wajah kebosanan.
"Kita akan mencari orang yang miskin dan membutuhkan uang. Tak jarang banyak orang yang rela menjual dan menyerahkan diri hanya untuk mendapat uang. Entah itu untuk biaya sakit keluarga, hutang ataupun kebutuhan hidup keluarga orang itu sendiri.
Orang yang kita beli, haruslah berpura pura menjadi dalang di balik penculikan kakakku. Lalu, ia akan menyerahkan diri di kantor polisi, mengaku telah menyesal melakukan ini pada Aeera.
Namun, polisi tentu saja akan menghukum berat orang itu. Jadi, orang itu akan di penjara. Sedangkan kita akan hidup bebas, tetapi juga harus menghidupi keluarga orang yang telah menjadi kambing hitam itu. Bagimana, bukankah ideku lebih baik? " terang Athifah panjang kali lebar.
"Siapa yang akan menjadi kambing hitam itu? " Tanya Asfar lirih dengan gurat kebingungan di wajah mudanya. Athifah yang mendengar lirihan Asfar, tertawa kecil.
"Hahaha! Tentu saja aku sudah menyiapkannya. Namun, aku belum meminta persetujuan atau tidaknya pada orang itu" ucap Athifah sembari menyeringai jahat.
"Wah, kau sudah menyiapkannya? Bagus sekali. Siapa dia? " tanya Asfar bingung.
Athifah segera memberitahu Asfar, dengan tubuh sedikit maju, Asfar juga memajukan tubuhnya. Athifah dan Asfar saling menatap satu sama lain. Lalu, Athifah mulai menjelaskan secara lengkap dengan suara lirih. Jadi, para pengunjung dan pelanggan tidak dapat mendengarnya.
"Oh.. baiklah. Kapan kita akan menemuinya? Bagaimana kalau sekarang? " usul Asfar setelah mendengar penjelasan dari Athifah.
"Ide bagus, itu yang akan ku katakan tadi. Jadi, bayarlah dulu. Aku akan menunggu di dalam mobil. Pakai mobil sendiri sendiri saja, agar tidak menampilkan desas desus yang mungkin akan mengira kita ada hubungan lebih. Walaupun, desas desus itu juga akan bisa memberikan dampak baik di masa mendatang. " ujar Athifah menutup katanya.
Athifah segera melenggang pergi menuju mobil, sementara Asfar membayar terlebih dahulu ke meja kasir. Setelah membayar semuanya, Asfar langsung mengikuti perintah Athifah, menggunakan mobil sendiri sendiri.
Athifah pun melajukan mobilnya, dengan Asfar yang membuntuti di belakang. Mobil mereka menembus sinar matahari yang nampak mulai muncul sejak hujan beberapa menit yang lalu hilang. Menyisakan jalanan yang sedikit licin karna guyurannya.
__ADS_1
Udara di perjalanan itu tampak tidak terlalu segar, walaupun tidak terlalu banyak, namun polusi masih ada disana. Itu terjadi, tak telepas karna banyak kendaraan beroda dua, tiga dan empat, tidak henti henti berlalu lalang.
Matahari di sini sedikit malu malu menunjukkan sinar hangatnya, sebagian tubuhnya di tutupi selimut putih yang bergumpal. Namun, sepertinya dalam beberapa waktu ke depan, ia akan memunculkan diri sepenuhnya.
Aeera sedikit membuka kaca mobil bagian kemudinya. Sedikit menikmati terikan panas mentari yang baru terlihat sedikit. Namun, sudah terasa hangatnya. Tentu saja, itu karna matahari memang sangat panas.
Untunglah ada ozon yang melindungi bumi tercinta kita ini. Jadi, rasanya tak akan se panas itu. Entahlah, author juga tidak mengetahui kebenarannya, readers bisa langsung pencarian di mbah Goo.
Kita intip Aeera dan Asfar yang masih berkutat dengan kemudinya. Mereka sangat nyaman duduk di dalamnya, sambil sesekali melihat lihat keadaan jalanan yang kembali sangat ramai.
Setelah kurang lebih satu jam lamanya mereka melaju dengan kendaraan besi masing masing, akhirnya mereka sampai di depan sebuah warnet (warung internet). Warnet itu, terletak pas di depan jalan raya yang sudah sangat ramai. Saking ramainya, kendaran parkir berjejer di bibir jalan.
Athifah memarkirkan mobilnya ke sebuah halaman toko pakaian yang sudah tutup selama berhari hari atau bahkan lebih dari itu. Terlihat dari debu dan sawang yang berada di langit langit halaman toko.
Asfar tampak bingung. Di sini hanya terdapat toko toko dan juga pedagang kaki lima yang berjejer di pinggir jalan raya. Bahkan, mungkin bisa di katakan sebuah pasar kecil. Langsung saja Asfar menanyakan apa yang mengganjal hatinya pada Athifah.
"Udahlah As, ikutin aja. Liat kan ada gang di situ? " tunjuk Athifah pada gang yang tertutup tembok halaman depan toko pakaian ini.
Itu tepat di sebelah kiri mobil Asfar. Saat mendekat lebih dekat, Asfar dapat melihat jelas sebuah yang yang udaranya terasa sejuk. Mungkin karna banyak pepohonan di sana?
Athifah segera mengambil bagian depan. Ia berjalan, menuntun Asfar agar mengikutinya memasuki gang. Asfar hanya menganggukkan kepala saja, lalu dengan patuh mengikuti Athifah seperti buntut. Apalagi posisi Asfar ada di belakang Athifah.
Setelah memasuki gang yang mungkin itu sebuah komplek rumah? Dan benar saja. Di dalam gang terdapat rumah rumah berukuran kecil, sampai yang besar.
__ADS_1
Uniknya, rumah kecil, sedang ataupun besar, memikiki halaman yang cukup luas. Dan lagi, di depan setiap rumah pastinya ada sebuah pohon. Entah itu pohon jambu, rambutan, dan yang paling sering adalah pohon mangga. Pantas saja udaranya begitu sejuk dan menyegarkan.
Setelah diam dan berjalan puluhan meter, mereka sampai di sebuah rumah kecil dengan pohon mangga di depan rumah itu. Memang tidak besar, namun rumah itu sangat asri dan rapi. Juga bersih. Bunga bunga menghiasi halaman rumah itu. Pagar juga nampak mengitari rumah kecil ini.
Athifah mengisyaratkan agar Asfar mengikutinya. Asfar pun hanya diam dan mengikuti ke arah mana Athifah pergi. Ternyata, ia pergi ke rumah itu. Lalu, mengetuk pintunya. Tidak terlalu keras, juga tidak terlalu pelan.
Tok! Tok! Tok!
"Permisi! " teriak Athifah sambil terus mengetuk pintu.
Tetangga rumah kecil yang melihat Athifah, langsung berbisik bisik. Melihat tampilan dan gaya Athifah dan Asfar yang modern dan terlihat seperti orang kaya, mereka beranggapan bahwa Athifah dan Asfar adalah orang yang akan menagih hutang pada keluarga yang menempati rumah kecil itu.
"Eh lihat itu! Ada bank yang mau nagih hutang gunungnya si Tono sama si Ratih! " pekik salah satu emak emak dengan suara yang keras.
Sehingga, membawa banyak emak emak lain yang mendekat dan menonton. Entahlah, hanya ketukan pintu, kok di pertontonkan. Semua bisak bisik makin terdengar jelas. Athifah dan Asfar tak peduli, mereka hanya ingin bertemu dengan orang pemilik rumah kecil itu.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan dari kepalan tangan Athifah yang mengetuk pintu rumah kecil itu kembali terdengar. Kali ini, suara ketukan itu sedikit lebih keras dari sebelumnya. Athifah mulai sedikit kesal. Lalu tiba tiba,
"Woi pak Tono, kalo ada bank di hadepin dong! Masa sembunyi mulu kayak kucing garong yang ketahuan lagi nyuri ikan! " ujar salah satu emak emak berbadan gemuk.
Bersambung...
__ADS_1