
Athifah berdendang ria, sambil menyusuri koridor rumah sakit, dengan membawa aneka macam kue dan roti. Ia berjalan menuju ruangan yang tadi di berikan oleh suster rumah sakit, yaitu nomor lima puluh tiga.
Athifah melihat seorang dokter dari arah berlawanan, sedang berjalan ke arahnya. Ia mengira dokter itu akan melewatinya, sehingga ia pun tersenyum. Eh tapi ternyata, saat Athifah berbelok ke arah ruangan pun, dokter itu juga berbelok.
Mereka saling memandang, lalu Athifah dengan sopan bertanya.
"Dokter, ingin mengecek keadaan Bavendra?" Tanya Athifah dengan terus memperlihatkan senyuman ter manis yang ia punya.
Dokter itu dengan gugup menjawab, "iya nona, saya akan masuk ke dalam. Nona..? "
"Saya Athifah, dokter sendiri? "
"Devan, mari nona" ucap Devan sambil memutar gagang pintu, lalu membukannya.
Athifah mengangguk saja, dan memasuki ruangan. Terlihat Bavendra sedang duduk bersender, termenung dengan pandangan mata kosong.
"Selamat pagi tuan. Hujan sangat deras pagi ini, apa tuan tidak kedinginan? " sapa Devan ramah sambil mendekati Bavendra.
Bavendra hanya menggeleng saja, melihat sekilas ke arah Athifah. Walau pun kembar, rasanya membedakan antara Athifah dan Aeera adalah hal yang sangat mudah menurut Bavendra.
"Baiklah, mari kita periksa keadaan anda, tuan" ujar Devan sambil memeriksa Bavendra.
Athifah duduk di kursi samping Bavendra. Dengan lekat, Athifah melihat bagaimana tangan Devan memeriksa beberapa bagian tubuh Bavendra.
Bavendra yang di tatap se lekat itu merasa risih juga. Namun, mau bagimana lagi? Athifah adalah calon adiknya, tak mungkin ia mengusir saudara sendiri?
Setelah beberapa menit terlewati, Devan akhirnya dapat menyelesaikan pemeriksaan pada Bavendra. Ia pun memberikan beberapa nasihat dan saran pada Bavendra.
"Tuan, kondisi anda sudah cukup baik. Tapi, luka di kepala anda belum terlalu kering. Saya memberi saran dan nasehat, agar anda jangan terlalu banyak pikiran. Itu sangat membebankan mental anda" terang Devan sambil memberikan senyum yang ramah dan lebar, bahkan matanya menjadi sipit saat tersenyum.
Bavendra mengangguk. Devan pun berpamitan dan pergi meninggalkan ruangan. Athifah lantas menaruh plastik berisi roti di atas meja. Ia lalu dengan berani nya sedikit maju ke arah Bavendra.
__ADS_1
Tentu saja Bavendra risih. Sangat sangat risih sekali. Namun, mau bagaimana lagi? Athifah menceritakan bahwa roti roti ini beraneka rasa, seperti keju, coklat, kacang, durian, nanas, dan berbagai rasa yang rata rata manis.
Bavendra mengerutkan kening, "aku tidak menyukai makanan manis"
Athifah menunjukkan wajah sendunya. Ia lalu menunduk, berpura pura sedih. Bavendra menghela nafas panjang, lalu mau menerima roti tersebut. Athifah merasa sangat senang. Ia hampir saja memeluk Bavendra ketika suara deheman keras terdengar.
"Athifah? Sejak kapan kau di sini? " Tanya Zelda sinis.
"M-mama?! " pekik Athifah kaget.
Bavendra menghela nafas lega, ia lalu melihat Zelda yang datang juga bersama Danu, Putra dan tak ketinggalan juga Ajeng, mama kesayangannya.
Mereka melingkari Bavendra, sambil mengucapkan kata semangat dan motivasi. Mereka juga memberikan beberapa candaan yang membuat Bavendra tertawa pelan.
Ajeng semakin mendekat ke putranya, lalu mengusap kepala Bavendra yang di perban. Memang, di sana terdapat beberapa luka sedikit dalam. Mengingat waktu itu Bavendra tertancap kaca, dan menubruk setir mobil. Badannya juga waktu itu di penuhi lecet lecet.
"Bavendra.. kamu jangan gini, ya? Berubah nak. Nanti kalau Aeera pulang, liat kamu gini, apa dia akan bahagia? Enggak sayang. Dia bakal sedih, dan nyalahin diri sendiri. Apa kamu mau, Aeera juga sedih saat melihat kamu seperti ini, nanti? "
"Maaf ma, Bavendra udah bersikap berlebihan. Bavendra cuma merasa kehilangan Aeera aja ma. Maaf.. " kata itu di lontarkan begitu saja oleh Bavendra.
Dengan lembut, Ajeng mengusap pundak Bavendra, "Aeera bakal di temukan. Cctv jalanan yang di tonton polisi, menunjukkan sebuah mobil hitam besar, keluar dari hutan yang waktu itu kamu mau pergi ke hotel.
Nah di bagian kaca yang kebetulan terbuka, tampak ada wanita yang bajunya tampak mirip sekali dengan Aeera. Polisi pun mengikuti terus cctv yang ada, lalu, ternyata mobil itu memasuki hutan terlarang, hutan berbahaya itu.
Kabarnya, siang nanti, polisi akan ke sana. Sekarang mereka sedang mengatur rencana untuk menyusuri hutan itu. Karna luas, polisi yang di gunakan pun sangatlah banyak. Mereka juga menggunakan bantuan dari kantor polisi lain, agar pencarian menjadi mudah dan cepat selesai.
Bagimana? Apakah kalau benar Aeera berada di sana, dan polisi membawanya kemari, kamu aka seperti ini? Apakah kamu akan membuat harapan cerah itu pupus? Berdoalah Ndra, agar Aeera benar benar ada di sana"
Penjelasan panjang kali lebar yang di terangkan oleh Ajeng membuat Bavendra termotivasi dan membuat semangatnya terbakar, dan menyala nyala. Ia pun dengan senyumannya yang tak terlihat beberapa hari ini, memeluk erat Ajeng.
"Terimakasih ma, Bavendra gak akan larut dalam kesedihan lagi, Aeera pasti akan di temukan" ucap Bavendra optimis.
__ADS_1
"Bagus. Sekarang, aku akan mengabari Dewa dulu. Dia belum di beri kabar akan hal ini" ucap Danu merogoh sakunya.
Semua orang mengiyakan ucapan Danu. Lalu, Danu pun segera keluar dari ruangan dan duduk di kursi tunggu di depan ruangan. Jari jari tangannya bergerak lincah, menggulir dan menekan tombol yang tersedia.
Danu berhasil menelepon Dewa. Sedikit lama, namun Danu masih semangat. Ia menelepon Dewa lagi, dan beberapa saat panggilan pun terhubung.
"Halo dewa? " sapa Danu ramah dan hangat.
Dewa yang masih menggunakan handuk saja, duduk di atas ranjang sambil menjawab sapaan Danu.
"Iya ayah, uhm.. " jawab Dewa sedikit ragu dengan panggilan pada Danu.
"Tidak apa apa, panggil saja ayah nak. Begini, ayah akan menyampaikan kabar disini" potong Danu cepat.
"Baik ayah" ucap Dewa patuh.
Dewa pun mendengar setiap kata dari Danu. Ia merasa sedih mendengar kabar buruk dari Danu mengenai Aeera dan Bavendra.
"Ayah.. maafkan aku. Aku.. tidak bisa ke sana dulu. Aku sudah bekerja di pabrik sini" jawab Dewa di ujung telpon sana.
"Tidak apa apa. Ayah cuma ingin menyampaikan kabar saja. Ya sudah, papa tutup telponnya ya? "
"Iya ayah"
Tak lama kemudian, panggilan pun terputus. Dewa berdiri, lalu mendengar suara ketukan di pintu kamar kos nya. Ia berpikir, ini pasti teman prianya yang sama sama bekerja di pabrik. Tanpa pikir panjang, Dewa membuka pintu.
"Iya ada apa? " Tanya Dewa membuka pintu secara lebar.
Sehingga, tubuhnya dari atas sampai bawah terlihat. Handuk hanya menutup pinggang sampai lututnya saja. Otot otot yang kekar, dan perutnya six pack. Apalagi, dengan rambut basah, membuat Dewa terlihat sangat seksi.
Bersambung...
__ADS_1