Kembaranku Perusak Rumah Tanggaku

Kembaranku Perusak Rumah Tanggaku
Bab 17


__ADS_3

Saat ini, Putra, Ajeng, Bavendra, dan Aeera sedang duduk di kursi, di ruang makan. Mereka tampak diam, dan tidak bersuara sama sekali. Hanya ada suara para pelayan yang sedang memindahkan makanan dari dapur, ke atas meja makan. Dan setelah semuanya siap, para pelayan segera pergi. Putra yang bingung kenapa mereka diam tak mengobrol pun mengerutkan keningnya, merasa ada masalah. Dari wajah Ajeng yang terlihat sedikit kesal, dan wajah Aeera serta Bavendra yang gugup plus sedikit ketakutan. Putra yang penasaran pun, langsung membuka suara.


"Ada apa ini ma? " Tanya Putra pada Ajeng, di sela sela kegiatan istrinya itu yang sedang menyiduk nasi lalu menempatkannya di atas piring. Ajeng menghela nafasnya, lalu menyodorkan piring berisi nasi itu kepada Putra. Dan mau tidak mau, Putra menerimanya.


"Bahas setelah makan saja pa" jawab Ajeng lalu mengambil piring untukmu sendiri.


Setelah semua orang telah mengambil nasi, mereka pun memilih milih lauk mana yang cocok untuk mereka santap di siang bolong seperti ini. Aeera dan Bavendra, sesekali menatap Ajeng yang terlihat masih mengambek. Dan beralih menatap Putra, yang tampak memulai memakan makanannya dengan lahap, namun dengan raut wajah yang masih penasaran, membuat Aeera tersenyum tipis.


Setelah mereka berhasil menghabiskan makanan, Ajeng segera memanggil pelayan untuk membersihkannya. Setelah itu, Putra, Ajeng, Bavendra dan juga Aeera melenggang pergi, menuju ruang keluarga. Beberapa saat kemudian, mereka telah sampai dan langsung menghempaskan badan mereka sendiri di sofa ruang keluarga. Aeera duduk dengan Bavendra, dan di hadapannya ada Ajeng yang duduk dengan Putra. Mata Ajeng menatap tajam setajam silet pada Bavendra. Dan yang di tatap pun, hanya bisa mengalihkan pandangan matanya, melihat lihat keadaan mansion yang sepi.


"Jadi, ada apa dengan kalian sebenarnya? " Tanya Putra to the point, menatap Ajeng, Aeera, dan Bavendra secara bergantian.


"Mama mau, pernikahan Bavendra sama Aeera di laksanakan minggu depan! Dan, libur Aeera sama Bavendra setelah menikah hanya satu bulan saja! " Ujar Ajeng sedikit ketua.


"Hah?! " pekik Putra, Bavendra, dan Aeera secara bersamaan.


"Loh kenapa ma? " Tanya Putra penasaran.


"Iya ma, mama gak salah? bukannya satu bulan lagi? " tanya Bavendra dengan raut wajah tak percaya pada apa yang telah di putuskan oleh mamanya.


"Gak. Lagian, Aeera emang kurang apa? " tanya Ajeng balik. Bavendra menautkan alis tebalnya, lalu mengangkat bahunya.


"Gak kurang kok mah, malah kelebihan. Terlalu manis soalnya" ujar Bavendra yang langsung dihadiahi tatapan tajam oleh semua orang. Aeera mencubit dengan gemas pinggang Bavendra.


"Stt jangan gombal di saat seperti ini" bisik Aeera di telinga Bavendra sambil terus mencubit pinggang Bavendra dengan keras.


"Aww.. " lirih Bavendra. Ajeng mengernyit, melihat Bavendra yang merintih kesakitan.

__ADS_1


"Kenapa? " Tanya Ajeng.


"Gak papa kok ma! " Jawab Aeera cepat, lalu melotot ke arah Bavendra, mengisyaratkan agar tunangannya itu diam. Dan mau tidak mau, Bavendra pun hanya diam dengan pandangan mata ke bawah. Ajeng dan Putra yang melihat putranya yang sangat nurut dengan Aeera pun otomatis langsung tersenyum tipis.


"Iya tadi kenapa mama tanya begitu? " tanya Aeera penasaran.


"Lah iya tadi Bavendra kan tanya, gak salah ma? Gitu kann, makannya mama tanya kurangnya kamu di mana, sampe Bavendra nganggep bahwa mama memutuskan pernikahan kalian di cepatin itu salah" jelas Ajeng sambil menyeringai, melihat raut kegelisahan di wajah tampan milik Bavendra.


"Ma! Bukan gitu maksudnya Bavendra! " ujar Bavendra panik, melihat perubahan di wajah Aeera, yang tampak sendu plus marah. Bavendra menelan salivanya dengan susah payah.


"Terus? " Tanya Ajeng sambil berusaha menahan tawanya.


"Itu, maksud Bav-" ucapan Bavendra harus terhenti saat suara deheman keras dari Putra terdengar.


"Sudah sudah! Apa alasanmu untuk mempercepat acara pernikahan Aeera dan Bavendra ma? " Tanya Putra pada Ajeng.


"Begitu pa! " ujar Ajeng lalu menyeringai, bersiap melihat pertempuran antara suami dan anaknya itu.


Sementara Putra yang telah mendengar semua yang di ceritakan oleh Ajeng pun, langsung menatap tajam ke arah Bavendra. Bavendra yang di tatap seperti itu oleh papanya pun, langsung menunduk. Ia tak berani jika harus melihat tatapan tajam Putra yang seperti ingin menelannya hidup hidup.


"Bavendra! Apa yang di katakan oleh mama mu itu benar? " Tanya Putra mulai menginterogasi Bavendra. Bavendra mengangguk, tanpa berani mengeluarkan sepatah kata pun. Aeera yang melihat hal itu, menjadi sangat gemas. Langsung saja, ia menginjak kaki Bavendra di bawah sana dengan sangat keras. Hingga membuat Bavendra memekik dengan keras pula.


"Kau itu kenapa berteriak? " tanya Putra pada putranya dengan wajah datarnya. Bavendra hanya menggeleng. Putra berfikir, mengapa Bavendra memekik keras saat dirinya itu belum melakukan apa apa? Apakah Bavendra merasa takut? Haha.. lucu sekali, lihatlah wajahnya. Sepeti orang menahan bab nya.


"Baiklah, papa menyetujui usul mama Ajeng untuk menikahkan kalian minggu depan! Mengingat bahwa kalian itu tidak bisa terus main ke mansion ini, pasti keluar keluar. Dan, papa gak mau kalau sampe Bavendra khilaf lagi! " ujar Putra dengan tegas. Bavendra menautkan alisnya, tampak berfikir keras.


"Tapi pa, aku belum sampe khilaf. Kan di batalin sama mama" ujar Bavendra sambil memegang dagunya, seperti tengah berfikir.

__ADS_1


"Berani kamu! Intinya kalian menikah minggu depan! " Ucap Putra dengan suara setengah berteriak, membuat semua orang kaget.


"Mengerti tidak?! " tanya Putra dengan intonasi tinggi sambil membusungkan dadanya.


Mendengar itu, membuat Ajeng, Bavendra, dan Aeera langsung mengangguk anggukkan kepalanya dengan cepat. Dan Putra yang melihat itu, hanya bisa tersenyum penuh kemenangan. Lalu, Putra pun segera menelepon Danu, papa Aeera. Putra mengatakan, jika nanti malam ia mengundang keluarga Danu untuk ke rumahnya malam ini, untuk makan malam bersama. Dan Danu pun menyanggupinya. Danu juga berkata, akan menjemput Aeera.


- - - ⛅ ⛅ ⛅ - - -


Di dalam kamar Danu dan Zelda- kediaman Danu.


"Oke, terimakasih Put" ujar Danu sambil menutup sambungan telponnya dengan Putra.


"Ada apa pa? " Tanya Zelda seraya kembali mengusap usap pipi Danu yang kepalnya sedang menyender di bahunya lagi.


"Itu, Putra. Dia undang makan malam, buat keluarga kita ma" jawab Danu, lalu menenggelamkan wajahnya di ceruk leher milik istrinya.


"Ohh.. " jawab Zelda, lalu kembali memainkan ponselnya.


Sementara itu, Athifah yang baru pulang dari rumahnya, langsung memasuki kamarnya. Ia baru saja menyelesaikan makan siangnya bersama Natasya. Ya, Natasya Madelia. Wanita yang dulu menjadi kekasih Bavendra. Beberapa hari ini, ia sibuk di luar negeri. Karna ada urusan perusahaan yang mengharuskannya pergi ke luar negeri. Natasya kini menjadi penerus perusahaan dari keluarga Madelia, karna kedua orang tuanya memilih pensiun dengan alasan sudah tua. Karna, memang sudah tua sebenarnya.


Dan kini, Athifah tengah membaringkan tubuhnya. Merasa lelah. Sangat lelah. Akhirnya, kedua kelopak mata itupun secara tidak sadar mulai tertutup. Saat sudah tidur, Athifah langsung menyelami alam mimpinya. Ia bermimpi, tentang kebaikan Aeera selama ini padanya. Bahkan, kedua orang tuanya yang selalu tidak memperhatikannya, seperti tergantikan oleh kasih sayang Aeera padanya. Aeera bagikan ayah, ibu, kakak, sekaligus sahabat terbaik yang Athifah punya. Dan di dalam mimpinya, Aeera menangis sambil berteriak.


"Kenapa Fah?! Kenapa kamu lakukan ini sama kakak! Apa kakak kurang kasih kamu kasih sayang? Kakak benar benar kecewa. Mana adik kakak yang dulu? Dimana Athifah? Mengapa dia menghilang? Aku sangat merindukannya, dan saat ini. Kau! Kau bukanlah Athifah, kau bukanlah adikku. Menjauhlah! " pekik Aeera dalam mimpi Athifah. Dan, perlahan lahan Aeera menghilang, lalu mulai membaur dengan tampat di sekitarnya.


"Kak! Aku minta maaf! Kak, kakak!!! " teriak Athifah sambil menangis tersedu sedu.


"Kakakkk!! " teriak Athifah yang kini sudah terbangun dari tidurnya. Jantungnya berdegup kencang, lalu mulai menangis, membayangkan kakaknya yang akan pergi, entah mengapa hati Athifah merasakan sakit. Saat melihat di dalam mimpinya Aeera tak menganggapnya adik. Dan malah menganggap adiknya telah hilang.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2