
Keesokan harinya setelah pertunangan Aeera dan Bavendra.
Pukul dua belas siang, Athifah sedang duduk berhadapan dengan Asfar. Hanya mejalah yang menjadi penghalang. Keduanya sedang berada di Cafe Violet, tampak sedang mendiskusikan sesuatu. Wajah Asfar disini ada sedikit kecemasan dan kegelisahan, sepertinya ia merasa ragu. Sedangkan Athifah, ia sangat lah santai dan wajahnya tak menampakkan raut kegelisahan ataupun ketakutan. Sesekali, Asfar akan menghela nafas dengan berat.
Flashback on
Malam hari, setelah acara pertunangan Aeera dan Bavendra.
Athifah terlihat sedang duduk di sofa kamarnya. Sesekali menyesap coklat panas kesukaannya. Lalu melirik ponselnya yang berada di atas meja. Sepertinya, Athifah sedang menunggu seseorang. Ntah siapa itu, yang jelas Athifah menunggu dengan raut wajah yang sedikit gelisah. Saat sedang menyesap coklat panasnya lagi, nada dering panggilan telpon berbunyi. Dan itu berasal dari ponsel Athifah. Langsung saja, Athifah meletakkan cangkir berisi coklat panasnya ke atas meja. Setelah itu ia mengambil ponselnya dan langsung mengangkat panggilan itu saat mengetahui bahwa yang sedang meneleponnya adalah Asfar.
"Hai, apa kau setuju untuk berkerja sama menghancurkan hubungan kak Aeera dan kak Bavendra? " Tanya Athifah to the point saat panggilan sudah berhasil terhubung.
(Ish, kau ini. Aku akan mengatakannya nanti besok. Temui aku di Cafe Violet pukul dua belas siang) jawab Asfar lalu segera memutuskan panggilan telponnya dengan Athifah.
"**. Dia memutuskan panggilannya begitu saja, huh" umpat Athifah. Athifah tentu saja marah, namun ia tahan karna sebentar lagi Asfar akan menjadi teman nya untuk menghancurkan hubungan Aeera dan Bavendra. Gadis dua puluh dua tahun itupun berjalan, dan menempatkan ponselnya di atas nakas. Setelah itu, barulah ia pergi ke kamar mandi untuk bersih bersih badan sebelum tidur.
Flashback off
Setelah beberapa menit berbincang. Tentang konsekuensi, keuntungan, dan kerugian yang akan mereka dapat dalam menjalankan rencana. Asfar akhirnya menyetujui dengan satu syarat.
"Baiklah,ย aku setuju! Tapi aku ada satu syarat yang harus kau penuhi " ucap Asfar dengan wajah datarnya.
"Syarat apa yang akan kau ajukan? " Tanya Athifah tak sabaran.
"Hm, aku ingin.. di rencana kita, Aeera jangan sampai terluka sedikit pun! " Jawab Asfar sambil meraih gelas berisi ice cappucino nya, lalu menyedotnya dari sedotan.
"Tentu saja tidak. Kak Aeera tak akan terluka, As! Aku janji! " Jawab Athifah mantap, lalu tersenyum licik.
__ADS_1
'Enak saja tak terluka, akan kubuat dia mati sekalian' batin Athifah sambil menyesap coffee dinginnya.
"Baiklah, cukup sampai disini saja. Aku akan pergi, para klien ku sedang menungguku" ujar Asfar lalu segera bangkit dari duduknya. Athifah pun ikut bangkit, lalu mereka pun bersalaman.
"Senang dapat bekerjasama dengan mu tuan Asfar Gun Zayn, aku yakin kau akan mendapatkan kak Aeera" ujar Athifah sambil melepaskan jabatan tangan mereka.
"Tentu saja" jawab Asfar lalu pergi meninggalkan Athifah untuk menuju ke tempat meeting nya.
- - - ๐ฟ ๐ฟ ๐ฟ- - -
Aeera tampak sedang duduk di gazebo belakang mansion kediaman Putra. Dan Bavendra yang berbaring dengan kepalanya yang berada di paha Aeera, juga mata yang tertutup. Tangan Aeera mengelus elus kepala Bavendra dengan lembut, sesekali memencet mencet wajah Bavendra dengan gemas. Bavendra yang merasa nyaman tidur di paha empuk milik Aeera, apalagi dilengkapi silir silir angin yang menyejukkan. Aeera yang merasa capek mengelus elus kepala Bavendra pun, menghentikan aktivitasnya.
"Hmm, usapin lagi kepalanya, sayang! " rengek Bavendra sambil menarik narik tangan Aeera. Aeera yang merasa gemas, mendekatkan wajahnya ke arah wajah Bavendra. Lalu, Aeera mencium pipi Bavendra dengan kilat.
Cup!
Sontak, Bavendra terdiam mematung. Lalu, wajahnya pun mulai memerah. Aeera yang melihat wajah Bavendra yang merah merona, dengan mulut menganga dan mata yang melotot, pun langsung tertawa dengan kencang. Bavendra yang melihat Aeera tertawa dengan keras pun, lalu langsung memeluk perut Aeera dengan kencang. Dan, menggigit kecil perut Aeera yang tertutup oleh kaos berlengan pendek berwarna biru kehitaman.
"Hem, kamu nya udah berani beraninya ya, cium aku! " Ujar Bavendra sambil mendusel duselkan kepalanya ke perut rata milik Aeera.
"Hii, geli yang! " pekik Aeera sambil menarik narik rambut Bavendra, agar menjauh dari perutnya.
"Aw.. aduh yang! kok di jambak jambak sih" protes Bavendra sambil menjauhkan kepalanya dari perut Aeera.
"Ish, kau ini! Geli tauk! " sungut Aeera sambil berkacak pinggang.
"Iya, iya maaf" ucap Bavendra sambil menagkup wajah mungil milik Aeera, di tatap nya mata coklat kehitaman itu.
__ADS_1
Intens. Sangat Intens. Bavendra mendekatkan wajahnya, semakin dekat. Sekarang, keduanya dapat merasakan hembusan nafas masing masing. Bavendra memiringkan wajahnya, dan Aeera secara reflek menutup matanya. Sangat rapat. Dan saat sedikit lagi bibir keduanya berjumpa..
"Bavendra!!! " teriak Ajeng di belakang tubuh Bavendra dan langsung menarik telinga Bavendra dengan keras.
"M-mama! Aw.. " pekik Bavendra kaget sekaligus merasakan sakit akibat Ajeng yang menarik telinganya dengan sangat keras.
"Mama.. " lirih Aeera merasa malu, ia langsung saja mengalihkan pandangan matanya ke arah bunga mawar yang tertanam rapi dan juga indah.
"Kamu ya! Berani beraninya mau merawanin bibir anak orang! Kalian itu belum halal, tau!" Omel Ajeng sambil terus menarik telinga Bavendra.
"Maaf ma, Bavendra khilaf! " Ucap Bavendra sambil memegang telinganya yang sudah memerah. Ajeng pun menghempaskan telinga Bavendra. Bavendra yang sudah lolos dari jeweran mamanya, langsung mengusap usap telinganya yang sakit. Ia berfikir, bagaimana kalau telinga nya seperti telinga gajah? Berubah lebar dan besar karna telah di jewer oleh Ajeng dengan sangat keras.
"Aeera.. " panggil Ajeng sedikit pelan, namun masih memiliki nada yang tegas.
Hingga membuat Aeera bergidik ngeri mendengarnya. Dengan hati hati dan juga perasaan yang campur aduk, Aeera memberanikan diri untuk mendongakkan kepalanya, melihat Ajeng yang tengah menatapnya dengan tajam. Bavendra yang melihat mamanya menatap tajam ke arah Aeera, membuat Bavendra langsung panik.
Ia takut Aeera akan di apa apakan oleh Ajeng. Dan melihat mamanya yang mulai berjalan ke arah Aeera, Bavendra makin takut. Ia harus bagaimana? Dan setelah Zelda sudah berada di depan Aeera dan hendak mengoceh, dengan sigap Bavendra langsung berada di depan tubuh Aeera, sebagai benteng perlindungan, hanya untuk Aeera seorang. Ekhem!
"Mama.. Aeera gak salah. Bavendra yang salah, jangan amukin Aeera ma.. " mohon Bavendra dengan raut wajah sedih plus takut. Ajeng yang mendengarnya pun, langsung tertawa dengan keras. Dan setelah tawanya mulai berhenti, Ajeng lantas langsung berdiri tegak lagi, setegak tiang bendera.
"Bavendra, mama itu cuma mau ngajak Aeera untuk masuk ke dalam rumah. Kenapa kamu ngira mama bakal amukin Aeera? " Tanya Ajeng sambil menahan tawanya.
"Eh? Mau ajakin masuk tah? Bavendra kira mama mau amukin Aeera" jawab Bavendra sambil menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Ah.. sudahlah. Ayo Aeera, masuk. Ini sudah waktunya makan siang" ujar Ajeng sambil menyingkirkan Bavendra dari jalannya. Lalu Ajeng pun menarik tangan Aeera agar dapat bangkit dari duduknya.
"B-baik ma" jawab Aeera gugup lalu segera bangkit dari duduknya. Ajeng pun membawa Aeera masuk ke dalam mansion, dan meninggalkan Bavendra dengan wajah frustasinya.
__ADS_1
"Kok aku ditinggal si? Woii tunggu!! " pekik Bavendra lalu segera berlari, mengejar Aeera dan Ajeng yang sekarang sudah memasuki mansion.
Bersambung...