Kembaranku Perusak Rumah Tanggaku

Kembaranku Perusak Rumah Tanggaku
Bab 28


__ADS_3

Di rumah sakit.


Zelda dan Ajeng, sedikit berlari memasuki koridor rumah sakit. Saat melihat suster sedang berjalan di depan mereka, Ajeng segera mencegat suster itu dan menanyakan di mana ruangan Bavendra berada.


"Sus, apakah di sini ada pasien korban kecelakaan beberapa waktu lalu? " Tanya Ajeng memegang lengan suster itu.


"Oh ada beberapa bu. Siapa nama korbannya bu? " Jawab dan tanya suster sambil membenarkan letak beberapa buah berkas berkas yang ia bawa di tangan kiri.


"Namanya Bavendra sus, laki laki" jawab Zelda cepat.


"Oh beberapa waktu lalu ada bu. Silahkan ke ruang rawat di nomor lima puluh tiga. Masuk lurus, belok kanan, dan lurus terus, nanti kelihatan nomor ruangannya" jelas suster sambil menunjuk lorong panjang yang di isi dengan puluhan ruangan tempat pasien di rawat inap.


"Oh terimakasih ya sus, saya permisi" pamit Ajeng sambil tersenyum dan melangkahkan kakinya, menuju arahan yang di berikan suster cantik tadi.


"Permisi sus" pamit Zelda menyusul Ajeng. Suster hanya tersenyum, mengangguk, lalu kembali melangkahkan kaki menuju meja represionis.


Seperti yang di arahkan oleh suster tadi, akhirnya beberapa saat mencari, Zelda dan Ajeng pun berhasil menemukan kamar dengan nomor lima puluh tiga. Kamar VVIP yang di pesankan oleh para anak buah Putra.


Ceklek..


Pintu ruangan di buka. Terlihat sebuah ruang rawat yang berisi tempat tidur untuk pasien, sofa beserta meja, juga kamar mandi. Di dalamnya juga terdapat jendela besar yang di tutupi oleh tirai. Di ruang rawat juga terdapat ac dan televisi, sehingga dapat mengurangi rasa bosan di dalam ruangan.


Zelda dan Ajeng yang berhasil menenemukan ruangan pun, langsung memasukinya, karna para anak buah Putra memberi tahu jika Bavendra sudah boleh di jenguk. Walau begitu, di sarankan agar tidak terlalu banyak orang, juga jangan terlalu berisik, agar tidak dapat menganggu pasien.


Ajeng mendekati Bavendra, lalu duduk di kursi di sebelahnya. Sedangkan Zelda, menengok beberapa saat, memberikan usapan lembut di kepala, dan langsung pamit duduk di sofa. Ia ingin memberikan ruang untuk Ajeng, agar dapat leluasa di sebelah putranya.


"Ndra.. apa yang terjadi sama kamu dan Aeera nak? Apa ada yang merencanakannya? Karna, Aeera tidak berada di dalam mobil. Mama sangat khawatir sama kamu, terlebih sama Aeera" isak tangis Ajeng mulai terdengar.


Setelahnya, berbagai keluh kesah dan juga ungkapan ungkapan terlontar begitu saja dari mulut Ajeng. Dari mulai permintaan maaf, dan juga ungkapan rasa bersalah terdengar menyayat hati bagi orang yang mendengarnya.

__ADS_1


Tiba tiba, Ajeng merasakan tangannya di colek colek sesuatu. Ia lantas diam, berusaha menajamkan pendengarannya. Dilihatnya wajah Bavendra, matanya perlahan sedikit demi sedikit terbuka. Ajeng memicingkan matanya, melihat lebih jelas lagi.


Memang benar, Bavendra telah terbangun dari pingsannya. Matanya mengerjap ngerjap, lalu terbuka. Namun, tidak terbuka lebar, Bavendra masih merasa lemas. Ajeng yang melihatnya langsung bersorak dan memeluk Bavendra erat.


"Putraku... hiks. Mama khawatir banget sama kamuu" isak Ajeng terus mengeratkan pelukannya.


Zelda yang menyadari Bavendra telah sadar dan sekarang sedang di peluk erat oleh Ajeng, langsung bergegas berjalan menghampiri mereka berdua.


"M-maa.. " lirih Bavendra dengan suara kecil. Ia merasa sesak, mamanya, Ajeng, memeluknya sangat erat sekali.


"Jeng, lepasin itu Bavendranya. Kasihan tuh. Sesek" ujar Zelda sambil memegang pundak Ajeng.


Ajeng yang baru menyadari kalau ia telah memeluk Bavendra terlalu kencang, langsung melepas pelukannya. Ia lantas hanya tertawa kecil melihat wajah Bavendra yang kesal.


"Maaf maaf Ndra, mama terlalu bahagia tadi" ucap Ajeng sambil memegang tangan Bavendra dan mengelusnya berulang ulang.


"Ck. Ma, Aeera mana.. " cicit Bavendra sambil mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling ruangan. Sebuah ruangan dengan tembok berwarna putih. Dan sedikit berbau obat.


"Dia ada di ruangan lain"


Ucapan Ajeng yang tadi terbata bata, terpotong oleh suara berat dengan langkah kaki dua orang. Itu adalah Putra dan Danu. Mereka memasuki ruangan sambil menatap tajam ke arah istri masing masing. Zelda dan Ajeng, hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"How are you, Bav? " tanya Putra basa basi. Ya, beginilah Putra. Ia lebih suka memanggil Bavendra dengan sebutan 'Bav', ketimbang 'Ndra' yang sering di sebutkan oleh Ajeng.


" I'm fine, thank you" jawab Bavendra sambil berusaha duduk, di bantu oleh Ajeng.


Bavendra membenarkan letak duduknya yang sedikit kurang nyaman, lalu bersandar saat merasa sudah pas. Untuk sesaat, keadaan menjadi hening. Sunyi, dan sepi. Mereka saling diam dengan wajah sedikit cemas. Bavendra yang melihat kecemasan di wajah semua orang, langsung bertanya.


"Hey? Kenapa terlihat cemas sekali? Aku sudah baik baik saja kok" ujar Bavendra sambil menatap Ajeng, Putra, Zelda dan Danu secara bergantian.

__ADS_1


"T-tidak Ndra, c-cuma itu, gitu lah" ucap Ajeng sambil mengalihkan pandangan matanya ke sekeliling ruangan.


"Ada apa sih? Apa jangan jangan.. "


"Aeera gak apa apa kok! " pekik Ajeng, yang langsung di sambut tepukan jidat dari Zelda, Putra dan Danu. Ajeng yang menyadarinya, menutup mulut dengan mata yang memebelalak lebar.


"Aeera? Kenapa sama dia ma? Apa yang terjadi dengannya?! Aeera!! " Bavendra berteriak dengan tingkat kecemasan tinggi.


Ia sangat sangat mencemaskan Aeera. Putra yang melihat putranya kini cemas berlebihan, mau tak mau harus mengungkap semuanya. Putra mendekat, memegang pundak Bavendra dan menceritakan segala galanya.


Bavendra shok, "a-apa?! Jangan jangan, apa yang aku lihat waktu itu.. benar adanya?!" Pekik Bavendra sembari memegang kepalanya yang tambah sakit.


"Apa maksudmu Ndra? Apa yang kau lihat?" Tanya Zelda penasaran.


Sudah pasti seorang ibu akan sangat mencemaskan putrinya yang telah hilang. Namun, sepertinya Zelda lebih kuat sedikit. Ia mampu menyembunyikan dan memendam kecemasan dan ketakutannya.


"Begini, saat aku sedang menuju ke arah hotel menggunakan mobil bersama Aeera, kami sedang melewati tempat yang sepi, semacam hutan? Saat itu, aku sempat berhenti sebentar karna melihat kucing hitam di tengah jalan. Tapi, kucing itu menghilang. Kami pun melanjutkan perjalanan.


Saat sedang asik melaju, ada dua orang yang menggunakan sepeda motor berwarna merah mengikuti kami dan mengetuk jendela bagian kemudi. Aku berpikir, mungkin cuma orang iseng. Namun, saat aku melihat sebuah celurit di tangan kanannya yang tertutup, ku perintah Aeera untuk segera mengencangkan sabuk pengamannya.


Lalu, aku langsung mengebut. Dan saat tengah mengebut, tiba tiba di tengah tengah jalan ada sebuah mobil besar berwarna hitam. Karna kondisi tidak memungkinkan untuk mengerem, aku banting setir ke arah kiri. Dan akhirnya, mobil menabrak sebuah pohon.


Entah seberapa besar pohon itu.


Aeera langsung pingsan. Tapi, aku masih terjaga. Namun, kepalaku sakit. Sebelum detik detik aku pingsan, aku melihat empat pria keluar dari mobil hitam itu dan membawa Aeera. Setelah itu, semuanya gelap. Dan aku baru siuman sekarang" jelas Bavendra sambil menerawang jauh, membayangkan lagi bagaimana pria itu membawa Aeera yang tengah pingsan.


Bavendra menyalahkan dirinya sendiri. Ia sangat menyesal. Mengapa ia lemah, dan pingsan? Sehingga Aeera berhasil di bawa oleh orang orang misterius.


"Kamu tidak boleh seperti itu, nak. Aeera pasti akan di temukan oleh polisi. Tenang, ya? " Ucap Zelda menghapus air matanya sambil menghampiri Bavendra.

__ADS_1


"Maaf.. " lirih Bavendra sambil menunduk.


Bersambung...


__ADS_2