Kembaranku Perusak Rumah Tanggaku

Kembaranku Perusak Rumah Tanggaku
Bab 38


__ADS_3

"Ta-tapi.. s-saya-" ucapan Tono yang terbata bata, di potong oleh sebuah suara lantang seorang pemuda.


"Saya bersedia! " teriak lantang pemuda itu. Suara pemuda gagah yang akan menginjak masa dewasa bergema di ruang tamu. Itu adalah anak sulung dari Tono Akbar dan Ratih Naeni, Zulfikar Pratama Akbar.


Sontak saja, Ratih dan Tono yang mendengar suara lantang putra mereka, langsung berdiri. Mereka hendak protes, namun gerakan dan tatapan mata dari Zulfikar melarang keduanya. Hingga akhirnya, pasangan suami istri itu hanya bisa menghela nafas dan kembali duduk, di ikuti oleh pemuda bernama Zulfikar itu.


"Ohh, seorang pemuda yang cukup tampan, kau mau berbisnis dan menerima tawaran saya? Itu sangat bagus" ujar Athifah tersenyum cerah.


Mereka pun melanjutkan obrolan obrolan. Hingga kurang lebih setengah jam mereka asik mengobrol, harus terhenti karna Athifah yang akan segera pergi. Sebelum itu, sesuai janji, Athifah memberikan uang yang berjumlah sesuai dengan hutang yang di miliki, berikut beserta bunganya. Ia juga memfoto Tono dan di kirimkan ke Jennie langsung.


Athifah dan Asfar pun pergi dengan wajah berseri seri dan mata yang berbinar binar. Keluarga yang baru di singgahi rumahnya oleh Athifah dan Asfar pun, hanya bisa menghela nafas sambil berdiri di ambang pintu. Menatap kepergian keduanya dengan wajah misteri dan penuh arti.


Tiba tiba pak Tono berkata, "sepertinya aku pernah melihat gadis itu.. sangat mirip dengan gadis yang bernama Aeera. " lirihnya dengan mata mengisyaratkan kesedihan akan anak sulungnya yang akan menetap beberapa bulan atau bahkan tahun di penjara.


"Sudahlah pak, mungkin cuma kebetulan" ucap Ratih sambil mengelus pundak sang suami. Sedangkan Zulfikar hanya bisa tersenyum masam, dengan mata yang terlihat sendu.


...*********...


Pukul 11.30


Entah kenapa, Aeera saat ini terlihat sedang memperlihatkan raut wajah cemas. Ia seperti sedang memikirkan sesuatu yang dia sendiri tidak tahu itu apa.


Namun, gadis cantik itu terus berjalan mondar mandir di dalam kamar. Hingga ia merasa kelelahan, dan memutuskan untuk tertidur di ranjang.

__ADS_1


Baru saja akan tertidur di siang bolong seperti ini, tiba tiba Aeera di kejutkan dengan suara gebrakan pintu yang memekakkan telinga. Terlihat seorang wanita paruh baya dengan baju pelayannya memasuki kamar Aeera.


"Ada apa bibi Jen? " Tanya Aeera cemas. Benar! Itu adalah Jennie, pelayan di markas milik Jonathan.


"N-nona, saya akan memberitahu sesuatu lagi. Ini tentang nona akan segera pergi bebas dari sini" ujar Jennie sembari memegang dua lututnya, tubuhnya gemetaran, dan nafasnya berasa ngos ngosan.


"Bibi Jen, duduklah dan berbicara yang teratur! " perintah Aeera sembari menepuk sisi kosong di sampingnya.


Jennie dengan patuh duduk di samping Aeera. Ia lalu menenangkan diri sejenak. Setelah lebih tenang, Jennie mulai menjelaskan.


"Para polisi akan segera datang kemari, mereka sudah berada di tengah perjalanan dan akan segera sampai! Tolong nona dengarkan dan jangan di potong terlebih dahulu" Jennie memperingati Aeera, dan hanya di jawab dengan anggukkan cepat.


"Saya mohon, jangan beri tahu bahwa markas ini milik tuan Jonathan. Kalo tidak, nyawa kami akan jadi taruhannya. Nona jika di interogasi, jangan pernah memberitahu tentang dalang di balik semua ini yang berkaitan erat dengan tuan Jonathan.


"Kenapa bibi? " Tanya Aeera penasaran dan bahagia di waktu yang bersamaan.


"Nona, jika di tanya siapa yang nona lihat, nona harus menunjuk orang ini.. " ujar Jennie sembari menunjukkan sebuah foto dari dalam album ponselnya. Itu adalah foto pak Tono!


"Siapa dia? " Tanya Aeera makin penasaran. Namun, Jennie hanya menggeleng cepat dan berkata ia tak boleh memberitakan pada Aeera. Dan Aeera hanya mengangguk saja.


Tiba tiba.. ada sirine mobil polisi, Jennie langsung duduk lebih dekat dengan Aeera. Aeera pikir, Jennie takut. Tapi nyatanya, pelayan paruh baya itu mengobrak abrik drees selutut Aeera, lalu mengacak acak rambutnya.


"Aww.. bibi Jen lepaskan! " teriak Aeera secara reflek.

__ADS_1


"Maaf, ini harus bibi lakukan" ucap Jennie di sela sela tangannya yang terus membuat penampilan Aeera menjadi berantakan.


Aeera mulai mengeluarkan buliran bening di kedua sudut matanya, dan perlahan terjun sangat deras seperti air mengalir di sebuah sungai. Rasanya sangat sakit, kuku kuku di jari Jennie ternyata panjang dan tajam, itu menggores kulit yang terkena kuku Jennie.


Kepalanya juga sakit, saat Jennie dengan sengaja menjambak dan memberantaki rambut Aeera dengan brutal. Aeera meraung raung, ia terlihat sangat kesakitan, tangannya bergerak mencoba melepaskan tangan Jennie dari kepalanya, namun percuma.


Ia malah merasakan Jennie tambah brutal. Bahkan Aeera merasa ada cairan yang meleleh di kepalanya. Itu jelas sangat sakit. Aeera berteriak meminta tolong sambil merusaha lari. Namun, Jennie menghempaskan Aeera dan membuatnya terbaring. Jennie segera duduk di perut Aeera, dan kembali mencakar Aeera tepat di wajahnya yang penuh air mata.


Aeera sontak saja lebih keras menangis dan berteriak. Hingga tiba tiba Jennie membentaknya dan menampar Aeera dengan keras, pipinya terasa sangat panas. Jennie terlihat menangis sambil terus membentak Aeera. Aeera yang melihatnya, langsung mengerti akan permainan yang Jennie jalankan.


Dug! Dug! Dug!


Suara langkah kaki banyak orang terdengar, Jennie menghapus air matanya dan memasang wajah penuh emosi dan amarah. Lalu kembali menyakiti Aeera dengan brutal. Aeera tentu saja langsung berteriak meminta tolong. Walau tahu inj sandiwara Jennie, tentu saja rasa sakitnya nyata.


Suara langkah kaki terdengar lebih keras, sepertinya orang orang itu berlari. Dan beberapa detik, masuklah bergerombol polisi dengan pistol di tangan kanan mereka, menodong Jennie.


"Angkat tangan, dan berpindahlah dari tubuh nona Aeera! " pekik salah satu polisi yang memimpin.


Dengan patuh Jennie menjauhi Aeera sambil menganggkat kedua tangan. Beberapa polisi wanita dengan rambut se pundak mendekati Aeera, lalu membantunya untuk keluar dari kamar dan pergi dari sana. Polisi wanita itu akan membawa Aeera ke rumah sakit, karna melihat lecet lecet di tubuh Aeera terlihat banyak dan nyata.


Benar saja, para polisi wanita itu membawa Aeera masuk ke dalam mobil polisi untuk membawanya ke rumah sakit. Di perjalanan, Aeera di berikan kata kata yang membuatnya tenang. Itu sebuah motivasi dan kata penyemangat dari tiga polisi wanita dan satu polisi pria. Mendengarnya, Aeera menarik sudut bibirnya ke atas, tersenyum simpul.


Para polisi itu juga mengajak obrol Aeera dan bercanda tawa. Membuat Aeera sangat salut dengan sikap para polisi yang membuatnya bisa tertawa untuk menghilangkan rasa sakit yang menghinggapi seluruh tubuh. Tentu saja, dengan kuku tajam di jari Jennie, kulit Aeera pastinya akan lecet dan mengeluarkan darah bukan?

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2