
Aeera dan Athifah beserta ibu dan ayahnya pergi ke kepolisian terdekat malam itu juga. Bagaimana bisa, ada orang yang berani beraninya mengirim kotak si*alan itu. Apa dia tidak tahu, siapa yang berani dia kirimi?
Kalau tidak tahu, biar author jelaskan. Aeera, anak perusahan terbesar dan terkaya di negara itu. Dan kalau berurusan dengan mereka, harus siap untuk mendekam dipenjara.
Saat Aeera beserta keluarga sudah sampai dan sedang berjalan kearah pintu kepolisian, pas sekali Bavendra juga sudah sampai disana. Bavendra membuka pintu lalu menutupnya dengan kencang. Semua orang lantas mengalihkan pandangan dan memperhatikan Bavendra, Aeera beserta keluarganya pun sama.
Bavendra yang melihat Aeera dan keluarganya pun segera berjalan cepat menuju kearah mereka. Melihat Bavendra berjalan kearahnya, Aeera langsung tersenyum. Se-cemas dan se-khawatir itukah Bavendra padanya?
"Ayang.. "rengek Aeera.
"Kamu kenapa sayang? Apa ada yang sakit? Hah? Kamu tau, siapa yang bikin gitu sama kamu? Siapapun itu, nanti ku masukin ke jeruji besi dan ku tonjok mukanya sampe bonyok! "Bavendra membolak balikkan tubuh Aeera, memastikan tidak ada luka sedikitpun, atau bahkan seujung kukupun.
Susah payah Athifah menelan ludahnya. Ia ketakutan, dan cemas saat Bavendra membicarakan dirinya. Sepertinya, Athifah merasa kesindir atas ucapan Bavendra barusan.
"Aku.. gapapa, cuma takut doang. Peluukk.. " pinta Aeera.
"Iya sini peluk"Bavendra merentangkan tangannya.
Melihat itu, Aeera langsung menubruk dada bidang Bavendra yang tertutup oleh kaus hitam tipisnya. Pasti Bavendra lagi tidur dan langsung kesini tadi hihi. Pikir Aeera membatin. Aroma khas dari tubuh Bavendra tercium, membuat Aeera merasa nyaman dan betah peluk peluk seperti ini dengan Bavendra.
"Aku takut, gimana kalo nanti ada kiriman kayak gitu lagi? "Tanya Aeera sambil mendusel duselkan kepalanya di dada bidang milik Bavendra.
Bavendra terkekeh kecil, lalu mengecupi puncak kepala Aeera dan mengusap usap punggung Aeera pelan.
"Udah, gaada. Kamu sekarang tenang, ya? Nanti polisi juga bakalan nemu orang itu, dan bakal dijeblosin kepenjara"jelas Bavendra.
"Hmm.. tapi kan takut, orang itu kenapa gabolehin aku sama kamu tunangan dan nikah, yang? Kamu punya mantan yang gaterima kamu putusin ya? "
"Udahlah, bahas nanti aja. Sekarang kita harus lapor kepolisi"
"Hm"
Bavendra pun melepas pelukannya, lalu menangkup wajah Aeera dengan tangannya. Ia tersenyum, membuat Aeera juga ikut tersenyum.
"Kita masuk ya, cantik? "Tanya Bavendra.
Aeera pun mengangguk, lalu mereka berdua pun memasuki kantor polisi. Ayah dan ibu Aeera yang melihatnya pun tersenyum.
__ADS_1
"Mereka udah cinta dan sayang banget keknya deh pah"ujar Zelda sambil memeluk lengan kekar suaminya dan terus memperhatikan Aeera dan Bavendra yang sedang berjalan memasuki kantor polisi. Posisinya, Aeera memeluk pinggang Bavendra dari samping dan Bavendra merangkul pundak Aeera.
Danu mengangguk, "Iya, terlihat dari tatapan dan perlakuan mereka mah"jawab Danu menoleh kearah istrinya yang sekarang sudah menempatkan kepalanya dengan nyaman di pundaknya.
"Ayo pah masuk"ajak Zelda.
Zelda pun menarik lengan Danu agar segera memasuki kantor polisi dan menyusul Aeera dan Bavendra. Mereka berdua pun memasuki kantor polisi.
Athifah yang melihat semua yang terjadi pun sangat marah dan emosi. Ia menghentak hentakkan kakinya kesal, lalu ia pun segera memasuki kantor polisi menyusul kedua pasangan serasi yang sudah memasuki kantor polisi terlebih dulu.
"Anj*ng! Apa apaan mereka! Lakuin hal tadi yang bikin gue pengin cakar cakar muka Aeera si*lan itu. Dasar b*bi\, anj*ng lah!" Batin Athifah mengamuk sambil terus berjalan.
***
Pihak polisi menyatakan akan mencari siapa orang dibalik semua ini dengan cara memeriksa TKP. Tapi, keluarga kecil Aeera harus meninggalkan sementara rumah itu, demi kebebasan polisi untuk menemukan bukti guna mencari sang pembuat masalah. Mereka pun mengerti dan menurut.
"Om, tante, kalian semua mendingan menginap di rumah mama dan papa saya. Mereka membolehkan kok, saya sudah menghubungi mereka tadi "usul Bavendra.
"Tidak usah, nanti merepotkan, nak Bavendra"jelas Danu dan diangguki kepala oleh Zelda.
"Tidak kok, kami malah bahagia dan senang jika om sekeluarga menginap. Lagian kan, hanya untuk sementara. Jadi ap-"
"Iya, yuk. Om tante, Aeera biar sama saya saja. Nanti kalian bisa menyusul kerumah papa saya nanti"
"Baiklah" jawab Danu tersenyum tipis. Ia tak enak jika harus merepotkan keluarga sahabat baiknya itu.
Aeera dan Bavendra pun meninggalkan Danu, Zelda dan Athifah menggunakan mobil hitam Bavendra. Mereka berdua menuju ke rumah Danu guna mengambil baju ganti, karna mereka menginap disana sekitar dua hari-an.
Danu dan keluarga pun juga menuju kearah yang sama dan dengan tujuan yang sama. Mereka bertiga menggunakan mobil silver milik Danu.
***
Sedangkan di kediaman Putra yang tak lain tak bukan ialah ayah Bavendra, Ajeng mengurus kamar untuk keluarga calon menantunya.Ia menyuruh pembantu untuk menyiapkan dua kamar tamu dirumah itu.
Ajeng sebenarnya ingin memasak untuk mereka, tapi itu sepertinya tak mungkin. Mengingat mereka pasti sudah mengantuk dan ingin pergi beristirahat saat mereka sampai.
***
__ADS_1
Di dalam mobil hitam Bavendra..
Aeera dan Bavendra yang sedang berada didalam mobil yang sama, tengah membicarakan apa yang tengah terjadi beberapa menit lalu. Mereka tampak asyik dengan obrolan mereka dengan tangan mereka yang bertaut, Aeera bercerita tentang detail kejadian yang dialaminya.
"Huft.. tapi ternyata bukan beneran tengkorak kepala asli, cuma palsu. Aku takut banget padahal pas itu, eh ujung ujungnya cuma palsu. Emang kampret banget tuh orang" cemberut Aeera mengakhiri ceritanya.
Bavendra terkekeh, "lagian tu orang sirik amat sama hubungan kita yang, kok bisa gitu ya? "
"Gatau, kamu pernah punya mantan, yang? "
"Ya, pernah"
Aeera membelalak, lalu langsung menatap Bavendra dengan tatapan mengintimidasi. Seakan Aeera adalah guru yang sedang meminta tugas dari sang murid, yang ternyata murid itu tak mengerjakan tugasnya. Ckckck
"Apaan sih yang, aku udah move on kok" jawab Bavendra yang merasa tatapan Aeera sedang menuntut jawaban darinya.
"Apa iya? "Tanya Aeera lagi sembari mengalihkan pandangannya ke depan, memandang jalanan sepi yang cukup terang karna silauan lampu jalan.
"Hm"
"Aku punya mantan satu doang tapi yang"
Aeera pun menoleh kearah Bavendra, lalu bertopang dagu menggunakan tangannya yang satunya.
"Aku dulu cinta sama dia. Dulu kita pacaran, tapi aku baru tau kalo dia cuma mau hartaku doang yang, bukan mau serius. Akhirnya aku putus.
Selain karna sifat aslinya, aku juga putus mengingat aku mau tunangan sama kamu. Aku putusin dia pas kamu pulang dari rumahku itu loh, aku langsung ketemuan dan ngomong kalo aku sama dia udah putus, gitu. Tapi dia marah dan gak terima, terus dia pulang"
"Hm oke, alasan diterima. Jadi, sekarang kamu cintanya buat siapa? "
"Kamulah baby, kamu itu cinta terakhirku, tanpamu aku gak bisa hidup. Hihi"
"Dih gombal banget kamu yang"
"Gak gombal sayang, aku bener bener cinta mati sama kamu"
"Dahlah"
__ADS_1
Bavendra pun memutuskan untuk memfokuskan diri dalam menyetir. Sedangkan Aeera memandangi jalanan diluar jendelanya. Tampak gelap, namun masih bisa terlihat jelas. Beberapa menit setelahnya, mereka pun telah sampai kerumah besar milik Danu.
Bersambung...