
Hari hari dilalui. Aeera memberikan kesaksian palsu tentang dalang di balik semua ini. Hatinya tidak tenang, mengingat seorang pemuda yang harus di penjara selama dua tahun.
Bahkan, aslinya pemuda bernama Zulfikar itu, di penjara lebih dari tiga tahun. Namun, karna Aeera meminta agar di peringan, maka Zulfikar pun hanya di penjara selama dua tahun saja.
Sementara keluarga pak Tono dan bu Ratih, telah hidup nyaman dan kaya sekarang. Hutang lunas, rumah telah di renovasi, dan semua kebutuhan telah terpenuhi.
Namun, mereka juga terkadang sedih, mengingat kembali bagaimana Zulfikar harus hidup berdiam diri di balik jeruji besi selama dua tahun.
Athifah, sekarang tentu saja sangat bahagia. Rencana berhasil, dan ia tak jadi terpenjara. Namun, ia masih harus bisa berpikir tentang uang perusahaan yang selama ini ia gunakan untuk menjalankan rencana.
Tentu saja, itu uang dari perusahaan ayahnya yang suatu saat akan menjadi miliknya, yaitu perusahaan AET. Singkatan dari Aeera dan Athifah.
Dewa, sekarang menjadi lebih dekat pada Ariri. Ia bahkan bertemu setiap hari setelah pulang kerja, lalu berpergian, sebatas jalan jalan menikmati suasana sore ataupun malam bersama Ariri. Bahkan tampak sudah seperti sepasang kekasih saja.
Jonathan, sedikit kesal memang karna rencana menculik Aeera, beberapa orang yang ia tahan harus bisa bebas. Ya walaupun beberapa orang yang di culik, setelah pulang mati juga. Namun tetap saja, ia jadi tak bisa melihat mereka tersiksa.
Papa dan mama Bavendra dan Aeera, sudah lebih tenang. Karna sekarang semua telah berkumpul dengan selamat walau harus mendapat luka luka.
Hingga akhirnya, satu minggu setelahnya, ini lah saat yang di tunggu tunggu.
Pernikahan Aeera dan Bavendra terjadi. Dengan khidmat, Bavendra melaksanakan akad nikah. Hingga acara berlalu di rumah Aeera, mereka langsung pergi ke ballroom hotel.
Disana semuanya berbahagia. Kecuali, ya pastilah sudah mengetahui siapa yang tak bahagia melihat pernikahan antara Aeera dan Bavendra. Athifah dan Asfar, yang paling marah dan kesal. Namun, mereka berusaha menampilkan topeng tersenyum di hadapan semua orang.
"Selamat ya Raaa, semoga pernikahannya langgeng, bahagia dan segera di beri momongan" kata Asfar sembari berjabat tangan dengan Aeera.
"Iya As. Makasih ya! Semoga kamu juga cepet di kasih jodoh biar bisa nyusul hehe" jawab Aeera sambil tersenyum bahagia.
__ADS_1
"Biar gak jomlo lagi, iya gak sayang? " kata Bavendra sembari merangkul pundak Aeera mesra.
Aeera mengangguk lalu terkekeh.
Hingga saat keesokan harinya, tepatnya pukul enam pagi. Aeera terlihat sedang menyisiri rambutnya dan Bavendra yang menggunakan baju berwarna biru tua.
Di saat itu, Bavendra membawa tas kecil sedangkan Aeera menuruni tangga dengan sedikit susah. Namun, Bavendra selalu di sampingnya dan menjaga Aeera.
Saat sampai di dekat mobil, Aeera langsung memasuki mobil di bagian depan, sementara Bavendra sendiri juga memasuki mobil di bagian kemudi, lebih tepatnya di sebelah kanan.
Mereka berdua pun, melakukan perjalanan menuju mansion Putra.
"Sayang, kita jadi mau bulan madu gak? " Tanya Bavendra sembari mengusap usap punggung tangan Aeera.
Aeera menoleh, "emm.. sebenarnya males pergi pergi gitu. Tapi aku juga pengin liburan, biar bisa nge refresh pikiran hehe"
"Eits.. di sana kamu bakal kerja terus loh, yakin namanya nge refresh pikiran?? " Bavendra mengatakannya sambil menyeringai.
Mereka pun tertawa bersama hingga beberapa obrolan berlalu, tibalah mereka di mansion Putra.
Ajeng dan Putra menyambut Bavendra dan Aeera dengan sumringah. Putra dan Bavendra, langsung duduk di kursi ruang tamu. Sedangkan Ajeng dan Aeera, membuatkan minuman untuk suami masing masing.
Di sela sela kegiatan itu, Ajeng tiba tiba nyeletuk. .
"Capek gak semalem? "
"Capek.. apa ma? " Jawab Aeera dengan kening berkerut.
__ADS_1
"Kamu pasti tau apa yang mama omongin"
Seketika, Aeera teringat semalam. Dan itu, membuat wajahnya langsung bersemu merah.
"Eee.. i-itu"
"Ck.. kamu itu ya, jawabannya privasi gitu jangan di buka buka ke orang lain dong. Walaupun itu mama sekalipun" protes Ajeng dengan alis naik turun menatap Aeera.
Aeera tambah malu. Ia langsung menambahkan gula ke wedang teh yang masih panas. Gula yang di tuang masih berada di kemasan yang tak terlalu besar.
Namun, tetiba Aeera yang memikirkan perkataan Ajeng membuat ia terus saja menambahkan gula. Hingga..
"Aeera! Itu air nya tumpah tumpah! " pekik Ajeng sambil menarik lembut tangan Aeera.
Aeera bingung, "eh"
"Ya ampun Ra.. kalau mama ngomong itu jangan di pikirin, jadi kelebihan kan tu gulanya" dumel Ajeng sembari mengambil lap dan mengelap meja.
"Eh gausah ma, Aeera aja. Maaf ma, ga kosentrasi" kata Aeera merebut lap di tangan Ajeng.
"Yaudah gapapa, mama duluan ya, kopi buat papa udah siap soalnya" pamit Ajeng lalu langsung berjalan meninggalkan Aeera.
Aeera mempercepat mengaduk air teh manis di dalam gelas dengan sendok. Lalu, mengambil nampan kecil dan membawanya.
Di ruang tamu, Aeera langsung memberikan teh manis itu ke Bavendra sambil tersenyum manis.
"Aduh senyumnyaa.. kalau liat senyum kamu, nanti teh ini jadi tambah manis sampe bisa bikin diabetes hahaha" ucap Bavendra lalu meminum teh manis hangat itu.
__ADS_1
Namun..
Byur!