
"Aaaaaa" teriak Ariri kaget.
Ia secara reflek menutup matanya degan kedua tangannya, lalu membalikkan badan. Dewa yang kaget melihat ternyata Ariri yang datang, langsung memasuki kamar dan hanya menongolkan kepalanya saja.
"Ada apa? " tanya Dewa sedikit malu.
"Ini, buat kak Dewaa! " ucap Ariri menyodorkan plastik kresek berwarna putih.
"Apa? " Tanya Dewa sembari menerima plastik kresek itu.
Lalu, tanpa berbicara lagi, Ariri langsung pergi berlari, menuju kamar kos nya yang berada di bagian sedikit pojok.
"Aneh" gumam Dewa, sambil tertawa kecil.
Ia pun masuk sambil membawa plastik kresek, atau yang lebih tepat adalah tas kresek.
-----***-----
Danu kembali memasuki ruang rawat Bavendra. Lalu, berbagai obrolan dan candaan ringan mengaliri mereka. Bahkan Bavendra sendiri, juga sudah sedikit melupakan rasa sedihnya. Ia sangat yakin pujaan hatinya yang tak lain tak bukan ialah Aeera, pasti akan ketemu.
Athifah yang mendengar semuanya sedari tadi, mendadak mendiamkan diri sendiri sambil duduk di sofa. Ia berpikir keras. Mengingat ucapan Ajeng bahwa polisi sudah siap berpencar siang hari, akan membuat keberadaan markas tempat di mana orang orang yang akan di culik di taruh di sana di temukan, dan Jonathan bersama antek anteknya termasuk Athifah juga pasti akan ketahuan.
Salah satu korban penculikan, termasuk Aeera tentunya. Namun, bedanya Aeera adalah korban yang tidak akan di sakiti, Aeera juga di berikan fasilitas penuh karna suatu kekuatan lain, yaitu Asfar. Tanpa Asfar, Aeera sudah akan sangat tersiksa seperti para korban penculikan lainnya.
Semua korban lain, di tampung di sebuah ruangan kotor, bau, sempit, dan tanpa penerangan. Hanya ada sebuah ventilasi di dinding yang sangat kecil. Setiap hari, mereka akan di siksa dengan cambuk atau pukulan. Setelahnya, baru mereka akan di beri makan.
Sudah banyak sekali mayat yang harus di buang oleh pelayan juga pengawal setiap ada korban. Mereka sudah sangat terbiasa akan hal itu. Bahkan, para pelayan dan pengawal inilah yang kadang ikut menyiksa korban.
__ADS_1
Sejauh ini, korban dari siksaan brutal Jonathan dan Athifah hanya di berikan pada musuh perbisnisan dan juga dendam pribadi.
Saat bisnis Jonathan sedang terpuruk karna kalah saing dari perusahaan lain, maka tak lama dari itu, orang yang telah menyaingi Jonathan akan di kabarkan hilang, tentu saja Jonathan yang menyiksa sampai ajal orang itu menjemput.
Sedangkan Athifah, lebih ke dendam pribadi. Orang orang yang ia culik dan bunuh diantaranya seperti, pembully Athifah saat kecil, orang orang yang menyinggung Athifah, dan kali ini untuk kasus Aeera, ia melakukannya karna sebuah keinginan khusus.
Sekarang, selain memiliki hati Bavendra, Athifah juga ingin memiliki semua hartanya. Ia tergiur karna keluarga Putra memiliki bejibun perusahaan terkenal di mana mana. Apalagi, semuanya adalah perusahaan besar. Tentu saja Athifah akan sangat tertarik.
Nah kembali ke awal, kalau semuanya ketahuan, Athifah bisa mati, mampus, dan tak akan ada yang menolong, termasuk keluarga Danu sendiri. Pastinya Athifah akan di benci seluruh keluarga besar Danu juga.
Akhirnya, dengan memikirkan itu semua, Athifah mengambil ponselnya. Mengetikkan sesuatu di sana.
Athifah: As, aku mau ketemu. Di cafe biasa. Ada hal pntng! Ini tentang Aeera, kita harus bikin rencana lagi. Ku tunggu di sana. Jangan lupa datang, sekarang!
Sesaat setelah Athifah mengirimkan pesan, ia langsung berdiri. Lalu, izin juga pamit untuk undur diri. Ia berujar akan ke cafe, untuk bertemu temannya. Mereka semua hanya mengiyakan ujaran Athifah, dan lanjut mengobrol lagi.
Asfar: ok.
"Cih, sok cuek amat si Asfar. " decih Athifah lalu segera melempar ponselnya ke kursi sampingnya.
Athifah pun segera menyalakan mobilnya, lalu melajukan mobil menuju cafe yang telah di sepakati.
Setelah kurang lebih dua puluh menit mobil putih milik Athifah melaju, sekarang ia telah berada di depan cafe yang telah ia beri tahukan kepada Asfar.
Tembok di cafe itu, hanya ada balok memanjang ke atas di keempat sudut cafe, dan di sekitarnya hanya memakai kaca tebal mengelilingi. Terlihat dari luar, Asfar duduk di nomor meja yang sedikit memojok.
Athifah tersenyum senang, Asfar memang bisa di percaya. Ia segera saja memasuki cafe dan duduk di kursi, berhadapan dengan Asfar.
__ADS_1
"Hey As. Udah lama nunggu? Maaf ya, jarak rumah sakit dari sini sedikit jauh. " tanpa di tanya, Athifah sudah mencerocos sendiri.
"Ya, apa yang ingin kau katakan? Aku juga ada yang ingin di sampaikan. " kata Asfar sembari memandang sedikit sinis pada Athifah.
Entahlah, setelah mengetahui perlakuan asli Athifah pada kakaknya, Asfar menjadi sedikit tak nyaman berada di dekat Athifah. Walau begitu, Athifah tak menghiraukannya, ia sepeti masa bodo tentang pandangan Asfar terhadap dirinya.
"Em, kau saja yang memulai duluan. Pastinya, tidak jauh jauh dari yang akan ku sampaikan." Ujar Athifah sembari melambai lambai pada karyawan cafe, mengisyarat agar karyawan itu datang.
Dan benar saja, karyawan wanita yang memeluk sebuah note book (buku catatan) kecil menggunakan tangan kirinya dan membawa bolpoin di tangan kanannya datang menghampiri meja Athifah dan Asfar, yaitu nomor enam.
"Silahkan tuan dan nona memilih milih menu di sini. Kami akan membuat menu lebih cepat sampai di meja tuan dan nona" ucap karyawan wanita tersebut dengan ramah dan lembut.
Athifah mengangguk, lalu dia mengambil sebuah buku menu yang memang sudah tersedia di atas masing masing meja. Dengan membalikkan lembaran kertas beberapa kali, akhirnya pilihan Athifah jatuh pada jus alpukat yang di mix dengan kental manis rasa coklat.
Setelah itu, Asfar merebut buku menu dari tangan Athifah dan pilihannya jatuh pada kopi panas. Dua pesanan yaitu milik Athifah dan Asfar, tidak lupa di tulis oleh sang karyawan di note book kecilnya.
Lalu, setelah selesai mencatat, keryawan itu pun mohon pamit, dan melenggang pergi, memasuki tempat pembuatan menu. Setelah karyawan tadi pergi mengurusi pesanan, Athifah segera berkata pada Asfar.
"Kita bicarakan nanti dulu. Setelah karyawan itu mengantar pesanan dan pergi, oke? " Ucap Athifah sembari sedikit memajukan tubuhnya.
Asfar mengangkat bahu, "oke"
"Good boy" kata Athifah sembari terkekeh.
Sementara Asfar? Dia hanya diam dengan raut wajah tak bersahabat sama sekali. Melihat perubahan di wajah Asfar, tak heran membuat tawa Athifah pecah. Namun, tas itu di tahannya karena tak ingin membuat dirinya menjadi pusat perhatian.
Bersambung...
__ADS_1