Kembaranku Perusak Rumah Tanggaku

Kembaranku Perusak Rumah Tanggaku
Bab 30


__ADS_3

Pagi hari yang sedikit mendung. Ya, tidak cerah btw. Mungkin alam pun ikut sedih atas hilangnya Aeera Zoya Kirana, sehingga para awan menutupi matahari yang hendak menumpahkan sinarnya ke bumi.


Sekarang, gantian awan lah yang akan menumpahkan air hujannya ke bumi kita tercinta yang sudah berumur jutaan tahun. Pagi hari ini, tidak ada suara burung burung yang berkicau. Hanya ada suara guntur dan petir yang saling bersahutan.


Athifah membuka matanya perlahan. Yang pertama kali ia lihat, ruang kamarnya yang berdominasi warna warna cerah. Athifah duduk perlahan, meregangkan otot ototnya. Lalu berdiri, berjalan ke kamar mandi. Sudah ia putuskan, esok hari ia akan berangkat ke kantor.


Walau papanya menyuruh Athifah untuk libur sampai pernikahan kakaknya, ia tak mungkin akan menunggunya. Mana mungkin Aeera dan Bavendra akan menikah? Kan Aeera telah di culik oleh Athifah itu sendiri. Ups.


Semalam, ia juga yang telah menelepon Ajeng dan Zelda. Menggunakan nomor baru. Lalu, untuk suara hembusan nafas berat itu, ia menggunakan suara anak buahnya, yaitu Al. Sedangkan untuk suara Aeera, menggunakan suara Athifah sendiri.


Yaa hasilnya bagus lah, mirip mirip.


Setelah beberapa saat mandi, Athifah berjalan keluar dengan setelan santai. Baju ungu pastel yang kedombrangan (kebesaran), dan celana setengah paha berwarna putih. Gadis cantik itu berjalan menuju dapur.


Terlihat di dapur, para pembantu tampak sedang membuat makanan pagi, atau sarapan yang tinggal menunggu matang. Athifah menyapa para pembantu dengan ramah. Tampak gurat kebahagiaan muncul di wajahnya. Hari baru tanpa kakaknya, sepertinya menyenangkan.


"Selamat pagi juga, nona" jawab para pembantu serempak. Athifah pun duduk, di kursi meja makan.


"Nona, apa ada yang bisa saya bantu? " Tanya salah satu pembantu bernama Ijah sambil mendekat di samping Athifah yang sedang duduk di kursi depan meja makan.


"Buatkan aku coklat panas! " perintah Athifah sembari memejamkan mata. Lalu, ia melanjutkan perkataannya, "dan pijitlah aku di dalam kamar sekarang. Kalau coklat sudah siap, tempatkan di meja sebelah tempat tidurku" ujar Athifah membuka mata.


Ia lalu berjalan menuju kamarnya, di ikuti dua pembantu yang lebih ke pembantu pribadi saja di sini. Setelah sampai, Athifah segera berbaring di atas kasurnya dan dua pembantu itu pun mulai memijat Athifah.


Pembantu satu memijat di bagian kaki dan tangan, sedangkan pembantu yang satunya lagi memijat di kepala. Beberapa menit berlalu, seorang pembantu datang membawa secangkir coklat panas.


"Taruh saja di atas meja itu. Dan pergilah, selesaikan pekerjaan mu" perintah Athifah dengan mata terpejam.


"Baik nona" jawab pembantu itu dan langsung keluar dari kamar Athifah.

__ADS_1


"Kalian pergilah dulu. Kerjakan tugas masing masing. Aku akan memanggil kalian lagi nanti" perintah Athifah sambil bangkit, duduk.


"Baik, nona" jawab kedua pembantu menundukkan kepala. Mereka lantas pergi, hendak menyelesaikan tugas mereka lagi.


Dengan santai Athifah mengambil cangkir berisi coklat hangat. Mengapa hangat? Karna sudah lewat beberapa menit yang lalu, minuman coklat panas ini di siapkan. Athifah berjalan ke arah balkon kamarnya.


Disana terdapat sebuah kursi dan juga meja di pojokan balkon. Athifah duduk di sana. Gadis itu dengan santai mulai meminum coklat panasnya, sambil menikmati suasana pagi yang menyegarkan dan menyenangkan.


"Hem, bagimana kabar kakakku tersayang ya? Apa dia baik baik saja? Hahaha tentu saja, selama ada Asfar yang selalu masuk dalam rencanaku, Aeera pastinya akan aman. Memang, cinta itu buta" ucap Athifah mengobrol sendiri.


Saat tak sengaja melihat mobil Danu keluar, Athifah tersenyum sinis. Wajahnya terlihat sendu, guratan kesedihan tercetak jelas di sana.


"Sampai seperti itukah mereka menyayangi Aeera dan calon menantu mereka? Apa aku tidak di anggap apa apa? Hm.. sudah biasa sih"


Athifah memutar mutar cangkirnya di atas meja, lalu memiring miringkan kepalanya, seperti sedang berpikir sesuatu. Lalu, ia mendapatkan ide cemerlang. Segera saja raut wajahnya langsung cerah dan ceria.


Setelah mendapat ide, Athifah kembali meminum coklat panasnya hingga habis. Ia lalu membawanya turun ke bawah, dan meletakkannya di atas tempat alat makan yang kotor.


Pembantu itu pun menjawab, kalau Zelda dan Danu sudah pergi ke rumah sakit. Mereka juga sudah sarapan dengan se tangkep (satu pasang) roti. Athifah mengangguk, lalu mulai duduk sambil tersenyum penuh arti. Ia lantas mulai memakan makanannya.


Beberapa menit Athifah bersarapan, makanan di atas piringnya pun habis. Ia lalu minum segelas air putih lalu langsung pergi begitu saja dan memasuki kamarnya di lantai dua.


...**********...


Di dalam ruang inap Bavendr-rumah sakit.


Ceklek..


"Selamat pagi" sapa Zelda ramah seraya membawa parcel buah. Sedangkan Danu, hanya diam dan mengikuti di belakang Zelda.

__ADS_1


"Pagi Zel! Bawa apa? " Tanya Ajeng basa basi saat Zelda sudah ada di hadapannya.


"Alahh basa basi mu basi banget Jeng, ini buah lah masa iya rujak. Ini tuh buat Bavendra, biar cepet sembuh. Iya kan, nak Bavendra? " jawab Zelda mengejek Ajeng.


Bavendra hanya mengangguk pelan.


"Hehe.. ya sudah, taruh saja di atas meja" ucap Ajeng sembari melirik ke arah meja. Zelda mengerti, dan menaruh parcel buah ke atas meja itu.


Sedangkan, pertemuan antar laki laki tidak lain dan tidak bukan adalah Putra dan Danu. Mereka hanya berjabat tangan, tersenyum, bertukar kabar, lalu sudah. Sudah duduk di atas sofa dan mengobrol ria maksudnya.


"Bagaimana Ndra, kabarnya? " tanya Zelda sambil mendekat ke Bavendra dan mengusap kepalanya perlahan.


Bavendra hanya menganggukkan kepalanya perlahan. Dan secara samar, mengucapkan kata 'baik'. Hati Zelda dan Ajeng teriris, melihat diamnya Bavendra karna Aeera yang menghilang.


Zelda dan Ajeng hanya berharap semoga Aeera baik baik saja, juga tidak terluka sedikitpun. Mereka pun mengobrol, dengan sesekali mengajak berbicara kepada Bavendra. Walaupun, jawabannya hanya anggukkan, gelengan ataupun lirihan yang samar samar.


-----***-----


Rumah/markas Jonathan-bagian paling ujung hutan berbahaya.


"Selamat pagi nona. Silahkan, sarapannya" ucap Jennie memasuki kamar Aeera.


Terlihat Aeera duduk, sambil memandang jendela. Ia memikirkan, bagaimana ia bisa kabur, dan pergi dari sini? Sedangkan hutan ini terlihat berbahaya, juga Aeera tak tahu jalan pulang yang mana. Hutan ini sepertinya begitu luas.


"Nona? " panggil Jennie lirih sambil menggoyang goyangkan bahu Aeera.


Aeera tersadar, lalu dengan cepat menghapus air matanya. "Iya, terimakasih bibi Jen. Nanti ku makan"


Jennie hanya bisa melihat prihatin ke arah Aeera, lalu langsung pergi dari kamar Aeera.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2