
"I-iya? Lalu aku harus memanggilmu apa? " Tanya si gadis bingung.
"Panggil dengan 'kak'. Aku kan masih sekitar dua puluh tiga tahun, akan memasuki dua puluh empat tahun, beberapa bulan lagi" jawab Dewa santai.
"Emm.. iya kak. Aku Ariri Putri, panggil Riri saja. Kakak? " Ucap si gadis yang bernama Ariri sambil menjulurkan tangan.
Dewa menerima uluran tangan itu, "Dewangga, panggil saja Dewa"
"Ohh kak Dewa! Keren, namanya hehe" puji Ariri melepas jabatan tangan dan memberikan dua jempol pada Dewa.
"Terimakasih" memang, dasarnya Dewa ini orangnya tidak terlalu bisa mencari topik.
"Sama sama. Kak, kok kakak sudah hampir dua puluh empat tahun, gak kerja? " tanya Ariri polos.
"Yaampun Riri, ini tanggal merah, plis" decak Dewa sambil menggelengkan kepalanya.
Ariri nyengir, "Ah iya! Pantas saja sekolahku libur, hehe"
"Masih sekolah? " tanya Dewa mulai sedikit tertarik pada pribadi Ariri yang memiliki banyak topik dan pertanyaan.
"Ya, kelas tiga SMA! Beberapa minggu lagi, bakal kelulusan kak" jawab Ariri sambil tersenyum manis.
Senyuman Ariri, sempat membuat Dewa terpesona sesaat.
"Ohh gitu"
"Kak Dew, kaka itu tinggal di Kosan bu Siti? " Tanya Ariri memastikan.
"Iya, kok bisa tahu? " Jawab Dewa dengan pertanyaan. Terlihat gurat kebingungan tertera di wajah tampannya.
"Ya kak. Aku lihat kakak kemarin, pas aku mau beli bubur ayam mang soleh" jawab Ariri sambil menunjuk sebuah gerobak bertuliskan 'bubur ayam mang soleh', yang tak terlalu jauh dari pandangan mata.
"Oh.. gitu ya? Aku kok gak liat kamu? "
__ADS_1
"Lah, kan ini sekarang sedang melihat kak" tanya Ariri bingung seraya menggaruk garukkan kepalanya yang tidak gatal.
"Arg- bukan gitu Ri maksudku. Maksudnya tuh, ck udah deh, aku mau pulang" putus Dewa mengalihkan pandangan matanya.
"Marah kak? Jangan kak, Riri cuma bercanda kok iya iya maaf" mohon Ariri. Padahal di dalam lubuk hati yang terdalam, ia masih terbingung bingung.
"Good. Oh ya, kenapa kamu tinggal di Kosan, padahal baru kelas tiga SMA? " Tanya Dewa penasaran.
"Oh~ iya kak, kedua orang tua ku meninggal. Terus, aku jadi hidup sendiri deh di kosannya bu Siti " terang Ariri sembari melihat lihat kondisi langit yang cukup mendung.
Sepertinya akan turun hujan.
"Bayar kosan dan sekolah? "
"Emm aku kerja di salah satu restoran makanan kalo malem. Jadi pengantar makanan gitu, kalo kaka? "
"Kerja di pabrik Fushi Food, tau kan? Gak jauh kok dari sini"
Dewa menggelengkan kepalanya, lalu beranjak dari duduknya. Ia pun mulai berjalan. Namun, gerimis tambah besar. Akan menjadi sebuah hujan lebat. Dewa melirik ke arah Ariri, tampak ia sedang bermain dan melompat lompat, seakan sangat menyukai hujan.
Dewa mau tak mau, menghampiri Ariri. Ia lantas menarik tangannya untuk segera pulang ke kosan. Namun, Ariri menyentak tangan Dewa dan terus saja melompat sambil tertawa.
Hujan sudah sangat lebat, Dewa sudah basah kuyup, dengan rambut acak acakan. Sama seperti Dewa, penampakan Ariri pun tak kalah bedanya. Rambutnya yang tergerai panjang, harus basah.
Di lihat lihat, Ariri adalah seorang gadis polos, dengan wajah cantik. Sangat imut sekali. Wajahnya bulat, dengan mata sedikit sipit. Bibir tipisnyanya berwarna merah ceri. Sangat menggoda sekali.
Dewa mendekati Ariri. Semakin dekat. Ariri yang menyadari, hanya bisa menahan nafas, melihat jarak antara keduanya tinggal beberapa centi lagi. Dewa dengan raut wajah dingin dan datar, menatap lekat lekat mata Ariri.
"Riri, pulang.. " lirih Dewa di depan wajah Ariri.
Wangi mint yang segar tercium oleh Ariri. Ia langsung memalingkan wajah. Sedangkan Dewa, sedikit puas bisa mengerjai remaja polos seperti Ariri. Ariri melihat sekilas ke arah Dewa, setelah itu ia langsung berlari ke arah kosan.
Dewa di tinggal sendiri, hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil mesam mesem sendiri. Ia juga segera berjalan santai ke arah kosan.
__ADS_1
...**********...
"Aeera.. " lirih Bavendra mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling ruangan. Hampa, kosong, sepi. Bavendra dengan perlahan mendudukkan tubuhnya, lalu melihat ke arah jendela yang tertutup tirai.
Hujan. Deras. Sangat deras. Ia tiba tiba menjadi mengingat Aeera. Bagaimana kabarnya sekarang? Apakah ia tak kedinginan?
Di pojok hutan sana, terlihat gadis di dalam kamarnya sedang gelisah. Ia ingin mandi, namun ia tak memiliki pakaian. Dengan pelan, gadis yang tak lain tak bukan adalah Aeera itu, menuruni tangga dan menemui Jennie.
"Ada apa nona? " Tanya Jennie penasaran.
"Eh, itu bibi Jen. A-aku ingin mandi, namun aku tak membawa pakaian" jawab Aeera malu.
"Ohh.. pantas saja tidak berganti pakaian, ternyata tidak tahu letak pakaian nona ya? Ayo bibi beri tahu" ajak Jennie sambil meninggalkan beberapa siung bawang yang telah di cuci.
Dengan malu, Aeera mengikuti Jennie dan mereka pun memasuki kamar Aeera. Setelah itu, Jennie menuntun Aeera memasuki sebuah pintu lain di dalam kamar Aeera. Saat di buka, wow.
Ada beberapa almari pakaian yang terdapat di sana. Dan sebuah pintu lain juga terdapat di pojok ruangan itu. Jennie menggandeng Aeera untuk masuk, lalu mulai menjelaskan di mana mereka sekarang.
"Nona, ini adalah tempat anda untuk berganti pakaian. Disini, sudah terdapat banyak pakaian yang dapat anda gunakan, kapanpun. Nah, pintu yang di pojok sana, adalah pintu kamar mandi" terang Jennie sambil menunjuk ini dan itu.
Aeera hanya mengangguk angguk saja mendengar penjelasan dari Jennie. Lalu, ia pun segera memasuki kamar mandi saat Jennie pamit pergi. Akhirnya, Aeera dapat mandi setelah ia sangat merasakan lengket di badannya.
Mengingat ia belum mandi, pakaian gaunnya pun belum ia ganti. Gaun hitam yang sedari kemarin ia gunakan, sangat membuatnya susah untuk bergerak. Setelah kurang lebih Aeera mandi, ia pun keluar dengan handuk polos berwarna putih.
Dengan santai Aeera membuka lemari, terlihat berbagai jenis pakaian berwarna gelap-warna kesukaan Aeera terlihat. Raut kebingungan dan penasaran pun tercetak dk wajahnya. Namun, ia tak mempedulikannya.
Aeera memilih salah satu drees. Drees selutut dengan warna hitam, tanpa lengan. Kulit mulus dan seputih susu terpampang nyata. Aeera menyisiri rambutnya, sambil memandang diam ke arah cermin.
Bayangan ia dan Bavendra yang berjalan di mal, menonton bioskop, membaca buku bersama, makan bareng, dan berbagai bayangan kenangan indahnya terlintas. Aeera hanya menampilkan senyum kecutnya sambil terus menyisiri rambut.
Setelah selesai, ia memilih untuk membaca buku. Ia tak ingin terlalu larut dalam kesedihannya. Ia juga berharap, semoga Bavendra dapat menunggunya. Hanya tinggal beberapa hari lagi..
Bersambung...
__ADS_1