Kembaranku Perusak Rumah Tanggaku

Kembaranku Perusak Rumah Tanggaku
Bab 39


__ADS_3

Saat ini, terlihat Aeera sedang berbaring sambil mengedarkan pandangannya. Ruangan dengan bau obat menyengat, dan juga warna temboknya yang putih mengkilap.


Dokter dan suster baru saja keluar, setelah mengecek dan mengobati luka di sekujur tubuh Aeera. Dengan luka seperti ini, Aeera berusaha untuk mengambil posisi duduk.


Setelah berhasil duduk dan bersandar, Aeera menghela nafas panjang. Masih teringat dengan jelas saat Jennie menyuruhnya untuk memutar balikkan fakta pada polisi.


"Ini demi kami, nona! Kami hanya pesuruh yang tak punya keberanian untuk pergi dan melawan. Tolong kami.. " begitulah bisikan terakhir saat polisi berhasil menemukan Aeera dan Jennie.


Berpikir, karna Aeera merasa iba juga kasihan pada Jennie, dan para penjaga yang ada di markas itu, Aeera haruslah berbohong. Tetapi, ia juga merenung, kalau ia tak memberitahukan yang sebenarnya pada polisi, maka ia juga tak akan mengetahui dalang di balik semua ini.


'Sudahlah, kalau Tuhan mengkehendaki, maka aku akan mengetahui siapa dia' batin Aeera dengan mata memejam.


Ceklek.. drrrttttt..


Suara pintu yang terbuka membuyarkan lamunan dan renungan Aeera. Dengan cepat gadis cantik itu menoleh, melihat ke arah orang yang membuka pintu. Saat saling bertatap mata, keduanya terdiam.


Dug.. Dug.. Dug..


Jantung keduanya memompa darah lebih cepat. Lalu, buliran bening keluar dari sudut mata keduanya. Badan terasa tak bisa di gerakkan, dan mulut yang ingin mengucapkan kata tidak bisa membuka.


Sesaat, keadaan pun hening.. lalu,


"A-Aeera.. " lirih orang itu. Tak salah lagi, itu adalah Bavendra.


Dengan langkah cepat, Bavendra mendekati Aeera. Tangis keduanya akhirnya pecah, saat Bavendra berhasil meraih tubuh Aeera dan memeluknya erat, sangat erat. Pelukan itu terasa seperti puncak kerinduan yang telah di salurkan.


Bibir keduanya bergetar, saling mengutarakan cinta dengan lautan kebahagiaan. Setelah baru beberapa hari, bahkan itu mungkin hanya dua hari, rindu yang mereka tampung sangat besar dan penuh seperti ini.

__ADS_1


Bagaimana nanti jikalau salah satu dari keduanya meninggal atau pergi dalam jangka waktu lama? Apakah mereka akan kuat menghadapi hidup? Huftt.. membayangkannya saja sudah sangat menyedihkan.


Setelah keduanya diam dalam pelukan yang cukup lama, akhirnya Bavendra melepas pelukan yang menyesakkan itu. Lalu, tangan penuh dengan bekas luka yang mengering, dengan lembut menghapus air mata yang terus menetes di wajah tunangannya.


Mereka saling tersenyum, dengan tangan yang saling bertaut. Hingga, Bavendra kembali mengucap kalimat syukur juga rasa cintanya pada Aeera. Dan di jawab dengan anggukkan cepat dari Aeera. Ia tak sanggup berbicara saat ini, lidahnya terasa kelu.


Lalu, tiba tiba muncul suara dua pasangan suami istri yang sangat Aeera dan Bavendra kenali. Ya! Itu adalah Danu, Zelda, Putra dan juga Ajeng. Sedangkan Athifah, tak kelihatan batang hidungnya sama sekali.


"Aeera! Mama kangen sama kamu.. " pekik Zelda sembari memeluk Aeera dengan erat, air mata mengalir sangat deras dari dua sudut matanya.


Dengan sedikit tenaga, Aeera akhirnya bisa mengeluarkan suaranya. Ia akhirnya menemukan tenaganya kembali.


"Iyaa, Aeera juga kangen sama mama. Udah mah, jangan nangis, malu sama mama Ajeng" ucap Aeera menenangkan serta mengusap kepala Zelda dengan lembut.


"Ihh! Kamu ini, mama lagi terharu jadi kesel nih gara gara kamu. " gerutu Zelda sambil melepas pelukannya.


Aeera hanya terkekeh, lalu menghapus air mata di pipi sang mama, dengan lembut juga sangat hati hati. Ia juga memberi kalimat agar menenangkan sang mama, Zelda.


Keadaan Zelda, sedikit berantakan memang. Itu terlihat dari rambutnya yang berantakan serta mencuat di mana mana. Sehingga, Aeera dapat mengetahui kalau mamanya pasti berlari tadi.


"Aeera.. " panggil Ajeng lembut, lalu menarik Zelda, dan memeluk Aeera dengan erat.


Ia juga memberi beberapa kecupan di dahi dan kepala Aeera. Tentu saja Putra yang melihatnya sedikit cemburu.


"Maa udah dong, jangan cium mulu. Punya papa itu. " perkataan Putra, berhasil membuat semua orang terkaget, dan memandang Putra dengan raut tak percaya.


Putra yang biasanya malas mengobrol ataupun berkelakar, sekarang malah membuat lelucon lucu. Dengan serentak, mereka tertawa bersama. Putra hanya memperlihatkan wajah polosnya, membuat Ajeng menjadi sangat gemas.

__ADS_1


"Papa tenang aja, kan tiap hari juga dapet jatah banyak kok" Dengan jawaban itu, Ajeng juga membuat mereka semakin terpingkal pingkal dalam tertawa.


Sedangkan Putra, wajahnya berubah menjadi merah padam. Ajeng benar benar membuatnya seperti anak gadis yang sedang di lamar oleh pujaan hati.


"Sudahlah, bagimana kabar mu nak? " sapa Danu mendekat.


Ajeng dan Zelda memberi jalan. Dengan begitu, Danu begitu mudah memasukkan Aeera dalam pelukan hangatnya. Pelukan dari seorang papa yang menenangkan juga menentramkan hati.


Memanglah. Papa, ayah, daddy, abi, maupun bapak adalah cinta pertama dari anak gadis mereka. Dan bisa juga, mereka menjadi alasan terlukanya hati anak gadis mereka sendiri. Itu real, menurut author.


"Baik papa" jawab Aeera dengan suara sedikit samar.


Tentu saja, berada di pelukan erat Danu, suara Aeera seperti tertelan oleh tubuh besar Danu, walau tubuh papa Aeera itu, sudah tak se-kekar dulu. Karna usianya yang sudah hampir lima puluh tahun.


"Nak, bagaimana kamu di perlakukan di sana? " Tanya Zelda sambil merapihkan rambutnya yang sudah awut awutan.


Aeera teringat perkataan Jennie. Sehingga, dia pun memilih untuk bersandiwara saat ini. Aeera hanya berdiam di dalam pelukan Danu, dengan wajah di buat buat terlihat sendu. Bavendra yang menyadari keterdiaman Aeera, langsung menatap Zelda dengan gelengan kepala.


"Ma, jangan bahas ini dulu ya? Kasihan Aeera" ujar Bavendra sembari menggenggam erat tangan Aeera dan mengecupnya. Tidak terlalu lama, hanya sebentar saja.


"Maaf nak, mama gak bermaksud bikin kamu teringat di sana lagi, maaf ya? " mohon Zelda dengan raut wajah penuh penyesalan. Aeera hanya mengangguk samar.


Lalu, mereka pun kembali mengobrol. Semakin lama mengobrol, candaan dan kelakar pun dapat keluar lagi. Suara tawa semua orang pun terdengar menggema di ruangan itu. Mereka saling tersenyum, raut wajah penuh kelegaan.


Aeera ingat sesuatu, ia langsung saja bertanya. "Mama, papa.. kenapa kalian bisa cepat sampai? Terlebih Bavendra.. "


"Ah.. Itu ya, hem Bavendra di rawat di sini. Ia yang mendengar kabar kamu berhasil di temukan, langsung mencopot jarum di tangannya dan berlari menuju ruangan mu yang ia tahu dari percakapan papa Danu dengan polisi. Lalu, kami pun mengejar. Namun, agak lambat memang. Biasalah, kami sudah tua" jelas Zelda santai dengan senyum simpul.

__ADS_1


"Apa?! " pekik Aeera sambil menoleh ke arah Bavendra dengan wajah garang yang meminta penjelasan.


Bersambung...


__ADS_2