
Ibu Reyvan bersama pelayan menunggu Mahira yang sedang mandi. Gaun malam yang di berikan Reyvan sangat cocok untuk Mahira, ibu Reyvan sangat puas dengan pilihan putranya, baik menantu maupun pakaian sama sama indah.
Ibu Reyvan mengangkat gaun merah marun, dan melihatnya dengan teliti, membayangkan Mahira mengenakannya membuat ibu Reyvan tidak sabar.
"Akhh... aku benar benar tidak sabar ingin melihat Mahira memakainya." Ucap Ibu Reyvan.
Ibu Reyvan menyimpan kembali gaun malam itu dan berjalan menuju pintu kamar mandi.
Tokk...tok...tokk....
"Mahira, apa kamu masih lama di dalam sana?" tanya ibu Reyvan.
"Sebentar lagi Mom..." Mahira berteriak dari dalam
"Cepat nak, takut terlambat."
"Ya, mom."
Mahira buru buru membersihkan tubuhnya dari busa sabun, dia cepat cepat mengeringkan nya dengan handuk lalu keluar dari kamar.
"Hufhhh~ untung kamu keluar, jika dalam lima menit kamu tidak keluar, ibu akan berpikir kamu tidur di sana."
Mahira tersenyum. "Maafkan aku mom,"
"Oke, tidak masalah."
Ibu Reyvan langsung menarik Mahira duduk di depan meja rias di bantu oleh pelayan ahli make-up yang di pekerjakan oleh Reyvan langsung.
Ibu Reyvan juga dulu seorang ahli make-up, dia seorang profesional yang terkenal beberapa tahun lalu, tetapi setelah menikah beliau berhenti dari pekerjaannya. Tangannya begitu cekatan mengoles dan mengaplikasikan warna di wajah Mahira.
...----------------...
Setengah jam kemudian.
"Kulitmu benar benar bagus, seumur hidup Mom baru pertama kali merias kulit sebagus milikmu."
Mahira tersenyum, Skincare yang di berikan Reyvan benar benar luar biasa, Mahira juga berfikir produk yang di beli Reyvan sangat cocok dengan kulitnya.
"Di mana kamu membeli produk ini?" Tanya ibu Reyvan sambil mengaplikasikan Eyeshadow di kelopak mata Mahira.
"Reyvan membelikannya, aku tidak tahu dimana dia membeli."
Ibu Reyvan mengangguk mengerti. "Itu bagus Reyvan sangat peduli padamu... Cah!! sebentar lagi selesai."
Mahira membuka matanya, dia melihat pantulan dirinya di cermin dengan riasan halus namun elegant, sangat cocok dengan gayanya. Mahira sangat puas.
"Bagaimana?" Tanya ibu Reyvan.
"Mom, ini sangat luar biasa...Aku baru pertama kali melihat diriku begitu cantik." Mahira menyentuh wajahnya.
Ibu Reyvan sangat bangga pada dirinya, keahlian merias nya teryata masih cukup bagus.
"Ayo...Ayo...berhenti mengagumimu, atau kamu akan terlambat." Ibu Reyvan mengingatkan.
Mahira juga hampir lupa, dia buru buru berhenti mengagumi dirinya dan memakai heels merah marun yang senada dengan gaun malamnya.
"Woww!!! Reyvan pasti akan berubah posesif melihatmu seperti ini." Ibu Reyvan memuji.
Mahira tersipu, dia juga tidak sabar untuk bertemu Reyvan dan melihat penampilannya. Apakah Reyvan akan memujinya cantik, atau Reyvan akan mengira dirinya orang lain...
Mahira menggelengkan kepalanya menyingkirkan fikiran konyol dalam benaknya.
...----------------...
Reyvan duduk gagah menunggu sang kekasih tiba, lilin aroma romansa telah di nyalakan dan hidangan pun telah tersedia, hanya kurang satu orang.
Reyvan sedikit gugup, sepertinya waktu berjalan begitu lambat rasanya sudah lama. dia duduk dan hampir berakar, tetapi yang di tunggu masih belum muncul.
Reyvan beranjak dari tempat duduknya, berdiri di dekat jendela yang menghadap langsung ke halaman restauran. Reyvan bisa melihat siapa saja yang melewati tempat itu, untungnya Restauran ini milik sahabatnya, dengan otoritasnya sebagai teman, Reyvan berhasil mengosongkan restauran untuk berkencan gratis bersama Mahira.
Tidak lama kemudian mobil hitam Berhenti tepat di depan Restauran, tanpa perlu di tanya siapa yang ada di dalamnya Reyvan sudah mengetahuinya.
Sosok cantik keluar dari mobil, gaun merah marunnya sangat cocok dan tanpak lebih baik di kenakan Mahira daripada model model asli yang memperagakan nya.
__ADS_1
Bibir Reyvan melengkung seperti kurva, matanya yang biasanya tajam menatap lembut sosok cantik yang berjalan ke dalam restauran.
Mahira yang baru saja tiba di sambut hangat dan di beri buket bunga yang cantik. Mahira menerimanya, dia menghirup aroma bunga yang segar.
"Terimakasih." Ujar Mahira.
"Ini hadiah penyambutan dari Tuan Reyvan." Ujar manager restauran.
Mahira celingak celinguk mencari Reyvan, tetapi restauran tampak kosong tidak ada Reyvan.
"Nyonya silahkan, Tuan sedang menunggu anda."
Mahira di pimpin menuju ruang pribadi yang dimana Reyvan sudah menunggu dengan segala persiapannya.
Mahira tidak banyak bicara dia mengikuti kemana manager itu membawanya, meskipun dalam hatinya Mahira bertanya tanya apa yang di rencanakan Reyvan.
"Nyonya Mahira silahkan masuk."
Mereka berdiri di depan pintu jati yang di ukir indah, dari yang terlihat sepertinya pintu ini di pesan khusus untuk ruang VIP.
"Jangan takut Nyonya, Tuan Reyvan ada di dalam."
Seperti mengerti keraguannya, manager itu berusaha meyakinkan Mahira.
"Terimakasih, aku akan masuk."
"Umhhh... Tentu Nyonya, silahkan." Dengan senyumnya yang profesional Manager itu mundur.
Mahira menarik nafasnya sebelum dia memasuki ruang makan pribadi.
(Clekk.....)
Mahira perlahan mendorong pintu terbuka dan masuk, begitu Mahira masuk hal pertama yang dia lihat adalah Reyvan sedang berdiri menyambutnya.
"Rey~"
Tiba tiba Reyvan memeluknya dan memotong kata kata Mahira.
"Terimakasih sudah datang, kamu sangat cantik hingga membuatku ingin menyimpanmu di rumah saja." puji Reyvan dengan lelucon.
"Aku bukan boneka yang harus di simpan di rumah Tuan Reyvan Daguezze." balas Mahira.
Reyvan tertawa, tawanya terdengar menyenangkan membuat Mahira meumerah karena malu.
"Ayo kita nikmati makan malam kita, setelah itu aku akan memberimu kejutan." ujar Reyvan sambil menarik Mahira membantunya duduk.
"Kejutan. Kejutan dalam rangka apa?"
Reyvan menegetuk pelan kening Mahira. "Ulangtahun mu."
Mahira syok, entah kebetulan atau tidak Reyvan memberinya kejutan tepat di hari ulang tahun aslinya.
"Ada apa? Kamu tidak suka kejutan ini?" Tanya Reyvan.
Mahira menggeleng. "Tidak. Aku hanya memikirkan sesuatu,"
Reyvan menatap Mahira lekat lekat.
"Apa yang kamu pikirkan?"
Aku tidak bisa memberitahunya. Batin Mahira.
Reyvan tiba tiba tersenyum. "Kita sama sama terjebak Mahira,"
"Humhh..." Mahira mendongak, dia bingung dengan kata kata Reyvan.
"Kita sama sama terjebak dalam cinta." Lanjut Reyvan.
Mahira kesal dia mengerucutkan bibirnya sebagai protes.
"Berhenti melakukan itu, aku bisa salah paham dan mengira kamu sedang menggoda ku."
Mahira sangat jengkel, dalam keadaan seperti ini Reyvan malah menggodanya, padahal tadi dia sempat berfikir Reyvan juga seseorang yang terjebak, saat itu Mahira ingat Reyvan pernah mengatakan jika Reyvan tahu dirinya bukan Mahira asli. Mahira ingin menanyakan apakah Reyvan mengatakan hal yang sebenarnya.
__ADS_1
"Makan Mahira, atau kejutan tidak akan ada."
"Baik Tuan Suami..."
Pada akhirnya Mahira tidak mengatakan apa yang ingin dia tanyakan, tidak ingin merusak momentum yang sudah Reyvan rencanakan lebih baik Mahira menanyakannya di lain waktu.
Selesai makan Reyvan dan Mahira minum anggur terbaik yang di impor dari Perancis.
(Château Duhart-Milon)
Wine yang asalnya dari distrik Pauillac di daerah Provinsi Bordeaux ini Bernama Château Duhart-Milon. Wine Prancis ini memiliki reputasi sebagai merek anggur Prancis terbaik. (Sumber dari Google)
Mahira dan Reyvan tidak minum banyak, hanya satu gelas wine untuk Mahira dan dua gelas untuk Reyvan.
Mahira tidak ahli minum wine sedikit saja yang dia konsumsi kepalanya akan terasa berat, sedangkan Reyvan sudah terbiasa dua gelas saja tidak berdampak buruk.
"Kenapa?" Tanya Reyvan melihat wajah Mahira meumerah.
Mahira menggeleng, ekspresi nya sangat lucu.
"Haha... Reyvan kepalamu ada dua." Mahira tertawa menunjuk Reyvan lalu ke udara kosong.
"Mahira kamu tidak bisa minum?"
Mahira hanya merasa pusing, dia menggelengkan kepalanya lalu kesadaran nya perlahan membaik.
"Hanya sedikit pusing. hehe,,, anggur ini hangat aku merasa pipiku panas." Mahira menyentuh kedua pipinya.
Reyvan melepas jasnya lalu memakaikannya pada Mahira. "Ayo... aku akan tunjukan sesuatu."
Mahira mengerutkan keningnya. "Kemana kita pergi?"
"Aku ingin membawa ke kamar, tetapi kita harus melewatkan kejutannya."
Mahira memeluk Reyvan. "Aku ingin kejutan oke."
Bertingkah genit adalah cara terbaik untuk membujuk Reyvan, dengan begitu Mahira akan mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Ayo pergi."
Keduanya berjalan keluar meninggalkan ruang makan, lalu pergi ke arah taman yang ada di belakang restauran.
Mahira terkejut begitu mereka berdua sampai di sana lampu kerlap kerlip di nyalakan, taman itu sudah di dekor sebaik mungkin, ada tulisan Happy Birthday menggunakan lampu lampu kecil warna kuning seperti kunang kunang.
Nama Mahira tertulis jelas beserta foto selfie nya saat di Spanyol.
"Woahh....Ini sangat indah.." ucap Mahira takjub.
Dorrr....Dorrr.....Dorrr.... Dorrr.....
Kembang api meledak di udara, ada huruf R untuk kembang api pertama, lalu bentuk hati yang ke dua dan M yang ke tiga, sisanya kembang api biasa meledak seperti bunga dengan warna yang berbeda beda.
Tiba tiba Mahira merasakan sesuatu yang dingin berasa di lehernya. Mahira menunduk dan melihat kalung dengan liontin berlian hati dengan inisial nama Reyvan dan Mahira, sangat indah dan tanpa sadar Mahira menyentuhnya.
"Selamat ulang tahun Mahira, Istriku."
Mahira sangat terharu, dia berjinjit dan memeluk Reyvan menciumnya di pipi kiri dan kanan.
"Terimakasih..."
"Sama sama sayangku..."
Setelah mendapat ciuman di kedua pipinya, Reyvan tida menyadari ada bekas lipstik yang tertinggal.
Tiba tiba Mahira limbung dia hampir jatuh karena kakinya lemas, namun untungnya Reyvan memeluk pinggang Mahira dan menahannya tetap stabil.
"Apa kepalamu masih pusing?" Tanya Reyvan.
"Umh..." Mahira mengangguk.
"Ayo kita pulang." Reyvan merapikan anak rambut Mahira yang berantakan akibat tertiup angin.
"Aku ingin berkeliling kota." bisik Mahira.
__ADS_1
Reyvan menatap Mahira. "Apapun yang kamu minta akan aku kabulkan."