
"Semuanya bohong!!!!!" Tiba tiba Karina berteriak histeris.
Fridha yang mendengar teriakan Karina yang menyeramkan langsung memeluk pelayanan yang berada dekat dengannya.
"Reyvan, hiks...hiks... semua itu editan." Karina menangis dan bersujud di kaki Reyvan. Reyvan yang sejak awal merasa jijik menarik kakinya dan menjauhkan diri dari Karina.
"Reyvan.. hiks.. hiks..." lirih Karina.
Mahira menatap Karina penuh kebencian, kebencian yang mendalam, karena Karina adalah penyebab Mahira dalam novel meninggal dan membuat dirinya terjebak di dunia novel ini.
Karina tiba tiba berdiri dan berteriak. "Ini semua kau yang membuatnya. Kau ingin menjebaku." Karina menarik rambut Mahira.
Mahira tidak tinggal diam, sebagai wanita keturunan tentara dia tidak sudi berada dalam ketidak berdayaan dan di tindas, Mahira mencekal pergelangan Karina dan memutarnya hingga menimbulkan suara kretekk...yang cukup mengerikan.
"Jangan berfikir aku akan tinggal diam, aku akan membalsmu berkali kali lipat jika kau berani menyentuhku dan orang orang yang aku sayangi." Bentak Mahira.
Mahira mendorong Karina hingga jatuh tersungkur. Reyvan yang melihat istrinya dengan cahaya berbeda memujinya dan menyukai karakter Mahira yang seperti ini.
Reyvan berbisik di telinga Mahira. "Aku suka kamu yang seperti ini terlihat ganas. "
Mahira hanya melirik Reyvan yang sedang menggodanya dengan kata kata, padahal mereka sedang dalam kondisi genting.
"Nenek, kenapa kamu membiarkan hal ini terjadi di rumahmu?" Sembari menangis Karina memohon di kaki nenek Daguezze.
Nenek Daguezze menarik kakinya menghindari sentuhan Karina.
"Nenek.Daguezze..."
"Menyingkir!!!" Karina sudah terpental karena tendangan kaki dari nenek Daguezze yang tak sudi di sentuh Karina.
"Nenek dengarkan aku, nenek Daguezze selama ini nenek yang selalu menyayangiku, untuk sekali ini dengarkan penjelasanku. hiks... hiks... hiks..."
Karina yang biasa sombong terlihat berantakan dengan riasan yang mulai kemana mana, bahkan maskara yang biasanya stay menampilkan bulu matanya yang panjang mulai meleber ke area bawah mata membuat penampilan Karina seperti hantu yang baru saja keluar dari Liang lahat.
"Reyvan, Fridha memang bukan anak kita, tapi aku pernah mengandung anakmu hanya saja anak itu meninggal saat masih dalam kandungan."
Reyvan yang sudah muak dengan sandiwara Karina, mencekal pergelangan Karina menariknya keluar dari rumah lalu menutup pintu sekencang mungkin hingga debamannya membuat nenek Daguezze kaget dan tiba tiba mengalami sesak nafas dan sakit di dadanya.
"Ibu....." Teriak ibu Vanilla sembari berlari ke arah ibunya.
"Ibu.." Ibu Reyvan juga melakukan hal yang sama dengan ibu Vanilla.
"Arrkkhh....ssh"
"Reynold cepat panggil ambulan, nenek sepertinya kesakitan."
Reyvan dan Reynold ikut panik melihat Nenek Daguezze yang seperti ini, mereka sama sama membagi tugas untuk membawa nenek mereka ke rumah sakit.
"Kak Reynold, aku sudah menelpon dokter, dan nenek bisa cepat di tangani, pihak rumah sakit menunggu kita."
Reynold yang masih dalam keadaan bingung mengangguk. "Baiklah, kamu pergi urus semua kebutuhan nenek, aku akan berbicara dengan Fridha terlebih dahulu."
Reyvan melirik Fridha yang masih memeluk pelayan. "Oke,"
Reynold menepuk pundak Reyvan sebagai ucapan terimakasih lalu melirik Mahira dan mengangguk sebagai salam pertemuan.
Mahira balas tersenyum lalu mengikuti Reyvan membantu nenek Daguezze yang mulai bernapas tersengal sengal.
__ADS_1
Mahira berlutut di samping Nenek Daguezze sembari mengecek keadaannya.
"Reyvan, pindahkan nenek ke sofa dan tolong beri nenek ruang untuk bernafas jangan mengelilinginya agar udara lebih mudah nenek hirup." Ujar Mahira memberi arahan.
Reyvan yang sejatinya sudah mengetahui identitas Mahira percaya dan mengikuti araahannya.
Reyvan menggendong nenek Daguezze lalu Mahira melepas satu persatu kancing baju nenek. "Nenek tenangkan dirimu, jangan panik berfikir positif dan jangan terlalu cemas, perlahan tarik nafas lalu keluarkan..
Tiba tiba tangan nenek Daguezze yang terasa semakin dingin mencengkram tangan Mahira.
" Nenek, tolong percaya padaku lakukan apa yang aku minta, tenang dan jangan panik perlahan tarik nafas biarkan udara mengisi dan keluarkan secara perlahan."
"Mahira apa ibu akan baik baik saja?" Ibu Vanilla sangat ketakutan, air mata sudah membanjiri pipinya.
"Tante tenang saja nenek pasti akan baik baik saja." balas Mahira.
Nenek Daguezze mengikuti arahan Mahira meskipun enggan, dan perlahan Pernafasannya kembali normal, tetapi wajahnya yang tua terlihat lebih pucat dan matanya merah.
Butuh hampir dua puluh menit untuk nenek bisa kembali tenang, dan bersamaan dengan itu ambulan datang.
"Meskipun nenek sekarang lebih baik, tetap saja perlu penanganan khusus dari dokter spesialis jantung." ucap Mahira.
"Terimakasih.." ucap nenek Daguezze pelan.
Mahira tersenyum mengangguk. "Sudah tugasku." jawab Mahira.
Reyvan kembali melihat Mahira dalam cahaya baru, hatinya semakin membucah dan jatuh cinta pada wanita itu.
"Kak Reyvan..." Vanila yang baru saja datang tertinggal beberapa sin drama dan hanya menyaksikan bagian akhir dari drama pengusiran Karina.
"Kamu dari mana saja ibu sejak tadi mencarimu..." Ibu Vanilla memarahi anak gadisnya.
"Aku di culik monster mom.." Jawab Vanilla masih dengan emosi yang sama.
"Monster monster, tidak usah berbohong, seharian ini kau terus saja keluyuran." Ibu Vanilla tidak percaya dengan ucapan putrinya.
"Cepat bantu bereskan barang yang di butuhkan nenek selama di rumah sakit, kami akan pergi sekarang."
"Tapi Mom, aku-"
"Cepat."
Vanilla menghela nafas anatara kesal dan lelah, padahal dirinya pulang ingin melihat kakaknya tetapi di rumah pun di persulit.
Vanilla yang semula kuyu dan berantakan dengan ekspresi tanpa semangat tiba tiba berteriak memanggil nama Mahira.
"Mahira!!!"
Suara Vanilla yang cenderung cempreng membuat Mahira merinding.
"Kemana saja kamu?" Mahira mengerutkan keningnya.
"(tech)....bisakah kamu juga tidak menanyakan hal yang sama yang seperti ibuku tanyakan?" Vanilla berdecak kesal.
"Tentu saja aku menanyakan hal yang sama, karena kami gelisah dengan hal yang sama tentang mu." Mahira melengos begitu saja setelah menjawab pertanyaan Vanilla.
"Ehh.... tunggu!!"
__ADS_1
Vanilla ingin mengejar Mahira tetapi tiba tiba Reynold memanggilnya sembari menggandeng Fridha.
"Vanil."
Vanilla menoleh dan betapa terkejutnya dia melihat Reynold.
"Kak Reynold...." Vanilla yang tadinya ingin mengikuti Mahira malah berbalik arah berlari ke Reynold dan memeluk kakaknya.
"Kak Reynold, aku sangat merindukanmu hiks..hiks.."
Reynold memutar bola matanya agak skeptis dengan ucapan adiknya.
tetapi tiba tiba Vanilla melepaskan Reynold lalu menatap Fridha yang menggengam erat tangan Reynold. "Kenapa kau menempel pada kakaku?" kekesalan dalam ekspresi Vanilla jelas menunjukan betapa dia membenci anak kecil ini.
Reynold menoyor kepala Vanilla dan menegurnya. "Bicara yang baik, tidak ada dari mom dan ayah yang mengajarimu bertingkah seperti itu."
"Kak dia anak Karina dia--"
"Dia anakku, Vanill" potong Reynold.
Vanilla memegang pelipisnya dan bertingkah seolah dia ingin meledak dan pingsan.
"Kak jangan bilang kau menghamili Karina dan memeiliki Fridha. Astanga.... Itu lebih menakutkan dari pada Kak Reyvan yang menghamili wanita ular itu." ujar Vanilla merasa tak habis pikir.
Reynold menghela nafas. Adiknya masih sama seperti yang dulu suka sekali mengambil penilaian dalam sekali lihat.
"Dia Anakku dan Anggun."
"Apa!!!"
Reynold agak kesal dengan tingkah Vanilla.
"Iya dia anakku dan Anggun yang di peralat oleh iblis Karina, jadi berhenti mengintimidasinya seolah dia anak yang salah."
Vanilla mengerucutkan bibirnya mendapatkan amukan dari kakaknya, padahal mereka baru saja bertemu setelah sekian lama.
"Maaf, aku tidak menyukainya karena aku fikir dia anak Karina yang menyebalkan itu."
Reynold tidak lagi mengambil pusing dia perlahan menepuk kepala Fridha penuh kasih sayang. "Tante mu memang agak lain, jadi harap di maklum. Tapi sejujurnya dia baik, papa rasa kalian akan menjadi teman."
"Kak Reynold. Apa maksud dengan kata agak lain, Kau benar benar suka menjatuhkan harga diriku." Vanilla kesal.
"Pergi ke kamar nenek dan bereskan barangnya sebelum mom memanggilmu lagi." Reynold menunjuk kamar nenek Daguezze dengan dagunya memperlihatkan kesombongan nya yang biasa.
"Urusan kita belum selesai." Vanilla menatap Reynold sembari menunjuk dua bola mata mereka bergantian.
"Aku tidak suka berurusan dengan wanita tidak waras seperti mu."
Reynold yang kata katanya sering tanpa rem selalu saja memuntahkan hal hal menyakitkan, tetapi bagi Vanilla itu adalah kebiasaan kakaknya jika bercanda.
"Jika aku tidak waras maka kau, mom dan ayah adalah Ratu, Raja dan Pangeran tidak waras."
Vanilla berlalu dengan bibir berkomat kamit mengeluh betapa kakaknya belum berubah sama sekali.
Reynold menatap punggung adik tersayangnya, meskipun perkataan nya tajam dia sangat mencintai adik perempuannya ini. Saat dia di usir oleh ibu dan ayahnya karena diam diam menikah dengan Anggun. Vanilla bersama Mahira diam diam membantu mereka dengan memberi uang tabungan Vanilla untuk biaya dirinya dan Anngun.
"Fridha. Tante Vanilla adalah gadis yang baik, dia hanya telihat manja tapi dia adalah gadis yang sangat baik, papa hanya memiliki adik perempuan satu satunya dan itu adalah Tante Vanilla. Maaf yah jika dulu dia sering membuat Fridha sedih."
__ADS_1
Fridha mengangguk mengerti dengan apa yang di maksud Reynold.
"Baik Papa."