
...----------------...
Reyvan adalah cucu yang berbakti, meskipun nenek Daguezze sering mengkritik nya dan mengatakan dirinya tidak becus mencari pasangan hidup, namun dia tetap berbakti dengan menemani nenek Daguezze yang terbaring di rumah sakit.
Pekerjaan kantornya dia bawa dan di kerjakan di sana, sesekali dia mengecek apakah neneknya butuh sesuatu sehingga nenek Daguezze terbangun karena pergerakan nya yang cukup keras untuknya.
"Reyvan."
Reyvan mendongak.
"Kenapa tidak pulang, kasihan istrimu di tinggalkan terus." ujar Nenek Daguezze dengan suara parau.
Reyvan tetap diam dan hanya duduk di samping nenek Daguezze sambil memperbaiki selimut.
"Reyvan, pulang lah dan biarkan Reynold yang menjagaku, pulang dan temani istrimu."
"Nek, Kak Reynold sedang merawat kak Anggun dan Fridha, mereka baru saja bertemu setelah sekian lama. Aku tidak enak untuk mengganggu mereka." Jawab Reyvan.
Nenek Daguezze mulai menangis. "Maafkan aku, ini semua salahku, kalian menjadi seperti ini gara gara aku."
"Nenek, jangan seperti ini, itu semua di masa lalu kami sudah memaafkan nenek." Reyvan berusaha menenangkan nenek Daguezze, dia tidak ingin neneknya kembali pingsan lagi.
Drrrtttt....Drrtttt.... Drrrttttt....
Reyvan melirik ponselnya yang menyala, dari jaraknya dia bisa melihat sederet nomor baru, mungkin nomor yang tidak dia simpan.
ponsel Reyvan mati kembali, selang beberapa saat layarnya menyala lagi nomor yang sama kembali menghubunginya.
Jengkel dengan hal itu, Reyvan berdiri dan mengambil ponselnya tadinya Reyvan ingin mematikan ponselnya tetapi akhirnya jarinya menggeser tombol hijau.
Reyvan diam tetapi ponsel itu berada di telinganya.
(Ini aku, Daren)
Mendengar suara yang amat di kenalnya, Reyvan merasa kesal, dia mengepalkan tangannya menjadi tinju dan menggenggamnya erat.
" Ada apa kau menelfonku?"
(Aku ingin mengatakan sesuatu yang penting tentang perasaan kita semua, aku rasa kamu perlu tahu karena ini untuk hubungan kita. Aku memang menyukai Mahira, tetapi bukan Mahira yang bersamaku saat ini, dan Mahira memang menyukiku, tetapi bukan Mahira yang sama yang bersamaku saat ini. Mahiraku sudah tidak ada bersamaku lagi, dan hanya tinggal raganya saja. Kau tahu aku sangat iri padamu, setidaknya kau masih bisa mencintai orang yang bisa kamu peluk dan lihat, sedangkan aku hanya mencintai tanpa ada wujud, yang tetap ada hanya namanya saja. Reyvan, mungkin Mahira tidak mengatakannya dengan jelas, tetapi kamu perlu mengerti. Mahira memang bersikeras ingin ikut bersamaku, karena dia ingin membalas budi atas apa yang aku lakukan. Kau tahu dari mana Mahira mendapatkan bukti kejahatan Karina? Aku harap kamu bisa memahaminya tanpa aku myebutkannya.)
Reyvan belum mengatakan apapun, dia tetap diam sembari memikirkan perkataan Daren.
__ADS_1
(Aku beri waktu agar kau datang ke Singapore, dan menemaninya alih alih mendaftarkan perceraian, jika sampe besok kau tidak datang. Jangan harap aku akan mempertemukan kalian kembali.)
(Ingat Singapore Hospital) ujar Daren di tekan di setiap katanya.
Tut....
Reyvan masih berdiri memegang ponselnya yang masih ada di telinga, walaupun Daren sudah memutuskan sambungan telfonnya.
"Reyvan," Nenek Daguezze memanggil Reyvan karena cucunya terus berdiri tanpa bergerak sedikitpun.
"Nenek, Mahira berada di Singapore bersama ibu mertuaku dan Daren. Jadi nenek tidak perlu khawatir Mahira akan sendirian di rumah." Jawab Reyvan.
Nenek Daguezze merasa ada yang tidak beres dengn hubungan keduanya, mungkin jika ini terjadi pada saat dulu, nenek Daguezze akan merasa senang. Sekarang orang pertama yang paling peduli dengan hubungan Mahira dan Reyvan adalah dirinya.
"Lalu jika istrimu di Singapore kamu berhak santai santai di sini. Pergi cari istrimu dan temani dia, jangan salahkan aku jika istrimu lari ke pelukan pria lain." Nenek Daguezze mengejek menujuk pintu keluar menyuruh Reyvan pergi.
Melihat perubahan nenek Daguezze, Reyvan sedikit bingung.
"Kenapa masih di sini? Kau pergi atau tidak?"
Reyvan melongo tampak bodoh.
Meskipun kata kata nenek Daguezze kasar, tetapi itu bentuk perhatian nya.
Reyvan masih berfikir lama dan untuk kesekian kalinya nenek Daguezze menegurnya.
"Reyvan, cepat pergi...."
Reyvan mengangguk, dia keluar dari ruang rawat nenek Daguezze dan meminta suster menjaga neneknya sebelum ibunya datang.
Reyvan setengah berlari, matanya tertuju pada layar ponsel mencari nomor Mahira lalu Menghubunginya, sialnya nomor Mahira tidak dapat di hubungi.
"Sial... Kenapa nomornya tidak aktif." umpat Reyvan.
Reyvan mempercepat langkahnya, dia menghubungi Sakian dan meminta asisten sekaligus temannya ini untuk menyiapkan pesawat pribadinya.
Reyvan tidak mengambil banyak barang seperti kebanyakan orang, dia hanya membawa dompet dan ponselnya.
Mengemudi di malam hari tidak membuat Reyvan memperlambat kecepatannya, dia tetap mengendarai lebih cepat dari biasanya, pikirannya penuh dengan Mahira yang berada di Singapore.
Reyvan mahir dalam mengemudi, meskipun pengendara lainnya beberapa kali menyalipnya dan seolah mengejeknya, tetapi Reyvan berhasil kembali mendahui mereka dan meninggalkan pengendari itu jauh di belakang nya.
__ADS_1
"Mahira, tunggu aku."
...****************...
Hospital Singapore.
Bu Nera menghampiri Mahira yang sedang duduk sendirian di bangku taman, beliau menepuk pundak Mahira lalu duduk sejajar bersamanya.
"Malam malam seperti ini berada di luar ruangan dalam cuaca yang dingin tidak baik bagimu." Ujar Bu Nera perhatian.
Mahira hanya tersenyum dan menggser lebih dekat dengan Bu Nera.
"Cuaca dingin lebih baik dari pada cuaca panas." Balas Mahira.
Untuk beberapa saat keduanya tidak berbicara, hanya nafas mereka yang saling bersahutan seolah mengikuti irama angin yang berhembus.
"Daren begitu mempercayai kamu, mama tidak tahu kasih sayang kalian lebih dari saudara. Seandainya mama tahu persaan kalian sejak awal mama dan papamu tidak akan menikah." Bu Nera memecah keheningan.
Mahira tersenyum, matanya ikut membentuk bulan sabit karena senyumnya yang lebar menyembunyikan luka di dalam hatinya, karena perasaan pemilik asli yang masih tertinggal.
"Semunya sudah takdir Mama, aku dan kak Daren hanya berjodong sebatas adik dan kaka."
Yahh.... Hanya itu yang bisa Mahira katakan untuk mewakili perasaan Mahira asli.
Keesokan paginya Mahira bersama dokter yang lainnya bersiap untuk operasi yang telah di jadwalkan, meskipun sedikit gugup Mahira tetap percaya diri dan bersiap untuk operasi.
"Nona Mahira, saya harap anda benar benarampu untuk kali ini, karena nasib profesi kami berasa di tanganmu." Ujar salah satu Dokter Sepuh yang di seharusnya menjadi Dokter utama.
Mahira menatap Dokter itu tanpa mengatakan apapun, tetapi tatapannya yang tajam seolah menembus bagian jantung Dokter yang meremehkannya.
"Kami memiliki banyak pengalaman dan penghargaan, saya tidak ingin kerja keras kami sia sia hanya karena bocah muda yang sok pintar."
Mahira melepas maskernya, dia tersenyum.
"Kalau begitu, kalian saja lebih dlu mengoperasi kak Daren. Aku akan melihat dari samping cara kerja kalian sembari belajar."
Melihat keberanian Mahira yang menantang, para Dokter menyimpan kebencian tersendiri.
"Baik, biarkan Dokter Jame yang memimpin operasi sesuai prosedur, dan untuk nona Mahira kamu sebaiknya tetap berada di ruang operasi."
Mahira mengangguk tanda dia tidak keberatan.
__ADS_1