
Sakian yang mengemudikan mobil merasa tidak berguna karena Boss dan istrinya berjalan kaki menikmati kencan malam, dia hanya bertugas mengemudikan mobil secara perlahan mengikuti boss dan istrinya.
Tidak tahu apa yang di pikiran Nyonya Bossnya sehingga ingin kencang hanya berjalan kaki menikmati udara malam. Sakian tanpa protes mengikuti mereka meskipun matanya sudah sedikit rapat karena ngantuk.
Mahira memegang tangan Reyvan erat erat, banyak hal yang dia ceritakan saat di dunia nyata tetapi tidak di sebut bahwa kejadian itu terjadi di sana. Reyvan yang sabar mendengarkan tanpa menyela, tetapi kadang kadang Reyvan menyahuti nya.
"Lihat bintang itu, sangat besar kan?" Tunjuk Mahira pada benda langit yang bercahaya lebih besar dari yang lainnya.
"Yah... Itu sangat besar."
Mahira tersenyum. "Kakekku pernah bilang, aku tidak boleh sedih dengan kepergian orangtuaku, karena mereka tidak benar benar pergi, mereka menjadi bintang dan melihatku dari atas sana."
Mengingat kembali orangtuanya mata Mahira berkaca kaca. Reyvan merasakan suasana hati Mahira yang tiba tiba berubah, dia menoleh lalu menangkup kedua pipinya.
"Bukankah kakekmu mengatakan tidak boleh bersedih atas kepergian mereka, aku melihat kamu menangis, itu artinya kamu tidak mempercayain apa yang di katakan kakekmu."
Mahira memegang tangan Reyvan di pipinya, dia ingin sekali mengatakan langit ini bukan miliknya, langit di sini bukan langit yang sama yang di tunjukan kakeknya.
Aku sangat merindukan orangtuaku, juga kakekku. Batin Mahira.
"Ayo kita pulang, sudah sangat larut kulitmu juga dingin."
Mahira tidak menolak ajakan Reyvan, dia mengangguk dan mengikuti Reyvan yang berjalan ke arah mobil.
Tiba tiba kaki Mahira terasa keram akibat terlalu lama menggunakan heels apalagi mereka berjalan kaki cukup lama.
"Kakimu sakit?" Reyvan bertanya setelah melihat kerutan di kening Mahira.
Mahira mengangguk. "Ini benar benar sakit,"
Sakian segera mengemudi dan berhenti tepat di depan Reyvan dan Mahira. Reyvan membantu Mahira masuk ke mobil, setelah mereka duduk Reyvan menyuruh Mahira mengangkat kakinya dan menaruhnya di pangkuan pria itu.
Mahira tidak mau karena tidak enak dengan Reyvan, tetapi pria itu memaksa dan menarik kaki Mahira ke pangkuannya.
"Reyvan in~"
"Aku akan melepaskan heels nya, dan memijatnya sebentar." potong Reyvan.
"Reyvan tidak perlu aku~"
"Mahira, menurut saja."
Dua kali kata katanya di potong, Mahira tidak berniat melawan Reyvan lagi, karena apa yang ingin Reyvan lakukan tidak akan bisa di cegah.
Kaki Mahira sedikit bengkak, dan Reyvan yang melihatnya seakan merasakan sakit yang sama yang di rasakan Mahira.
"Lain kali aku akan menyiapkan sandal flat di mobil, jika suatu hari kita berjalan jalan kamu tidak perlu menderita lagi."
Mahira merasakan kehangatan di hatinya, di perhatikan dan di cemaskan sedemikian rupa membuatnya merasa sangat di cintai dan di lindungi.
"Apa kamu mendengarkan aku?" Tiba tiba Reyvan bertanya.
Mahira tidak tahu omelan apa yang di katakan Reyvan, dia tidak mendengarkan segalanya karena terlena dengan rasa manis dari perlakuan Reyvan.
"Apa kamu mendengarkan apa yang aku katakan?" sekali lgi Reyvan mengulang.
Mahira mengerjap polos. "Yah,,, aku mendengarnya."
Reyvan menepuk kepala Mahira. "Gadis baik."
...----------------...
Sesampainya di rumah Mahira seperti biasa tertidur saat dalam perjalanan pulang, Reyvan sebagai suami yang baik tidak tega membangunkannya dan lebih memilih menggendong Mahira, tetapi yang tidak di ketahui Reyvan, Mahira sebenarnya sudah bangun saat Reyvan akan menggendongnya tetapi gadis itu berpura pura tidur karena ingin Reyvan terus menggendongnya.
Reyvan memasuki Rumah dan di sambut ibunya yang kebetulan terbangun karena ingin segelas air.
__ADS_1
"Reyvan.."
"Sshhttt..."
Ibu Reyvan langsung menutup mulutnya. "Mahira tertidur, dia pasti lelah, ibu fikir kalian akan menginap di hotel." Ibu Reyvan berbisik .
"Mahira merasa lebih nyaman tinggal di rumah," jawab Reyvan berbisik juga.
Ibu Reyvan menatap Mahira. "Pasti gadis ini tidak tegak meninggalkan kami di rumah."
Reyvan mengangguk setuju.
"Mom, dimana ayah?"
Ibu Reyvan menunjuk pintu kamar tamu yang di tempatinya. "Dia tidur setelah di pijit."
"Punggung ayah sakit lagi?"
"Yah... dia terlalu keras bekerja, hah... aku sudah bilang padanya untuk mengurangi beban kerjanya tetapi ayahmu sangat keras kepala."
Reyvan juga sudah mengingatkan ayahnya untuk jangan terlalu banyak beban, tetapi ayah Reyvan seorang yang keras kepala dan tidak mau hanya diam saja.
"Nanti aku kan bicara lagi dengan ayah, sekarang aku akan membawa Mahira ke kamar." Ujar Reyvan.
"Nak,." Panggil Ibu Reyvan.
Reyvan menghentikan langkahnya.
"Mom tahu cara agar ayahmu bisa berhenti bekerja." ucap Ibu Reyvan.
"Apa?" Reyvan penasaran.
Tiba tiba ibu Reyvan tersenyum lalu menatap wajah cantik Mahira. "Berikan kami cucu."
"Ukhukh...ukhuk....ukhukk..." Tiba tiba Mahira batuk setelah mendengar ibu Reyvan menyebutkan seorang cucu.
"Yah mom, kami akan berusaha." ujar Reyvan lalu kembali berjalan menuju kamarnya.
Di belakang Reyvan, ibunya sangat bahagia dia buru buru kembali ke kamar dan membangunkan suaminya.
"Sayang, bangun..."
"Urrmmhh..."
"Sayang kita akan segera punya cucu."
Ayah Reyvan segera membuka matanya, dia menatap istrinya serius.
"Mahira hamil?"
Ibu Reyvan menggeleng. "Belum, tetapi Reyvan sudah berjanji akan memberi kita cucu."
Semangat ayah Reyvan kembali memudar, dia memejamkan matanya berniat kembali tidur.
"Beritahu aku kalau Mahira sudah hamil."
"Kau ini ayah macam apa... Huhh, awas saja kalau cucuku sudah lahir aku tidak akan membiarkan mu menggendongnya."
Ibu Reyvan kesal dengan reaksi suaminya, dia berbaring memunggungi Ayah Reyvan sambil menggerutu tak jelas.
Ayah Reyvan sangat lelah dia tidak peduli dengan kebiasaan istrinya saat sedang marah, dan kembali tidur.
...----------------...
Di kamar atas Mahira menghentikan kepura-puraan nya, dia duduk di tempat tidur sambil melihat Reyvan yang sedang melepaskan kemejanya.
__ADS_1
Tubuh Reyvan sehat dan atletis, memiliki delapan bentuk kotak di perutnya yang seperti roti sobek, juga ada garis V dari perut hingga.......
"Ingin menyentuhnya?" Tanya Reyvan dengan suara menggoda yang di buat buat.
Mahira sangat malu karena tertangkap basah sedang ngiler dengan tubuh suaminya, tubuh Reyvan terlihat biasa saja saat di balut setelan jas, tetapi saat hanya menggunakan kemeja atau kaos tubunya terlihat menonjol dan setelah pakaiannya di lepas itu lebih menggoda. Kencang, berorot dan... Entahlah Mahira tidak bisa lgi menyebutkannya.
Sebagai mahluk pecinta ketampanan, Mahira akan mudah tergoda dan ngiler.
"Semuanya milikmu jika kamu menginginkannya, bahkan jika kamu tidak menginginkannya semuanya akan tetap menjadi milikmu." Reyvan menarik tangan Mahira dan menaruhnya di perutnya yang seperti roti sobek.
Karena godaan yang luar biasa kewarasan Mahira entah menghilang kemana, dia tidak menarik tangannya dari perut Reyvan, dia menyentuhnya bahkan menyentuh mengikuti garis garis yang terbentuk.
Tuhan Tahu betapa suami di novel ini sangat menggoda dan sulit di tolak.
"Menginginkannya?" Tanya Reyvan berbisik.
Tanpa sadar Mahira mengangguk. "Umh.."
Reyvan tersenyum lembut. "Aku juga menginginkanmu."
Reyvan mendorong perlahan tubuh Mahira menjadi berbaring, dia membelenggu Mahira di bawah tubuhnya.
...----------------...
Morning Day.
Reyvan terlebih dahulu bangun dan bersiap ke kantor, ada rapat di pagi hari dan dirinya harus berada di kantor lebih awal.
Melihat Mahira yang masih tidur lelap Reyvan tidak tega membangunkannya, apalagi Mahira seperti ini karena ulahnya.
Reyvan mengenakan dasinya lalu mengecup kening Mahira. "Aku berangkat sayang."
...----------------...
Daguezze Mansion.
Pagi pagi Nenek Reyvan semangat melakukan joging berkeliling Mansion bersama dengan Karina, Nenek Reyvan begitu antusias bahkan dengan senang hati menerima ajaran pola hidup sehat yang di anjurkan oleh Karina.
Sebagai ahli gizi Karina tentu tidak menyia nyiakan bakatnya ini untuk menunjukan betapa luar biasa dirinya ini.
"Andai saja Reyvan menikah denganmu, aku tidak perlu menghawatirkan kesehatan diriku karena sudah memiliki cucu menantu sepertimu." Suara Nenek Reyvwn sedikit berat karena penyesalan.
"Nenek bisa menganggapku begitu, aku akan dengan senang hati mengurus pemerhatikan nenek agar tetap sehat."
"Yah... aku hanya bisa melakukan itu,"
Karina seperti wanita polos dan baik yang memiliki etika luar biasa, menunjukkan dirinya adalah seorang sosialita, membuat nenek Reyvan terus menyesali ketidak beruntungan yang di sebabkan Reyvan.
"Nenek."
Entah sejak kapan Vanilla tiba di kediaman Daguezze tetapi dengan kehadiran Vanilla setidaknya sedikit menghambat pergerakan Karina untuk membuat nenek Reyvan lebih memihak Karina.
"Nenek aku merindukanmu."
"Akhirnya kamu ingat nenekmu yang tua ini, huhh... dari kemarin tidak ada satupun cucu yang peduli dengan neneknya ini." Ucap Nenek Menyindir.
Vanilla tidak terganggu dengan sendirian nenek Reyvan, dia dengan sengaja mendorong Karina agar menjauh dari neneknya.
"Nenek, kemarin aku baru kembali dari Spanyol aku membawakan hadiah, Apa nenek ingin tahu?"
Mendengar kata hadiah, ekspresi nenek Reyvan lebih baik. "Aku ingin melihatnya." Nenek Reyvan berjalan sombong.
Vanilla tahu benar neneknya sangat tertarik dengan hadiah yang dia bawa, dia tersenyum penuh kemenangan.
"Nenek tunggu!!!" Vanilla berlari mengikuti neneknya.
__ADS_1
Karina yang di tinggalkan tidak luput dari perasaan dongkol, baginya kedatangan Vanilla membuat rencananya gagal.
"Sial!!! Kenapa gadis itu datang sekarang." Ucap Karina.