
Vanilla menjulurkan lidahnya mengejek Karina yang di tinggalkan di taman dan di lupakan neneknya, tentu saja pribahasa darah lebih kental dari air itu memang benar, neneknya akan memilihnya dari pada Karina.
"Vanilla hadiah mana untukku?" Tanya nenek begitu melihat banyak tas kertas di atas meja.
"Semuanya untuk nenek."
Nenek Reyvan menyipitkan matanya. "Kamu mendapatkan uang dari mana?"
Vanilla duduk santai. "Bulan Oktober nanti, aku akan di undang kerajaan timur bermain biola untuk acara ulangtahun pernikahan Raja dan Ratu timur."
"Uang muka?"
"Yups,,, sebenarnya sebagai hadiah karena aku bersedia tampil, bukankah nenek tahu aku sudah tidak ingin lagi bermain biola."
Nenek Reyvan mengangguk. "Bagus kamu masih ingat nenekmu."
Vanilla berdiri dan merankul neneknya yang sedang memeriksa satu persatu hadiah dari Vanilla. "uhh... Nenek, kau adalah nenek terbaik yang pernah aku milikki."
Karina berdiri tidak Jauh dari Vanilla dan nenek Reyvan, dia memasang ekspresi tersenyum bahagia seolah kegembiraan yang di miliki Vanilla dan neneknya adalah kebahagiaannya juga.
"Vanilla, syukurlah kamu datang ke rumah ini, aku dan nenek akan pergi ke mall, kamu juga harus ikut oke." Karina duduk di samping Vanilla seperti mereka sahabat akrab.
Vanilla sedikit menggeser tubuhnya menjauh dari Karina,.
"Sungguh. Kalian akan pergi?" Tanya Vanilla seolah kaget dengan kabar itu.
"Yah, benarkan nenek kita akan pergi bersama hari ini."
Nenek duduk menatap Vanilla dan Karina. "Tentu saja kita akan pergi, aku bosan tinggal di rumah."
"Baiklah aku juga akan ikut bersama kalian."
Sebenarnya aku malas pergi bersama Karina, tetapi demi untuk mengetahui apa rencana wanita ini. Aku Vanilla rela melakukan apapun. Batin Vanilla.
Karina menyajikan teh untuk nenek Reyvan lalu untuk Vanilla.
Sejujurnya aku tidak suka pergi bersama dengan gadis barbar ini, tapi aku tidak bisa menendangnya jauh karena dia adalah keluarga Daguezze. Batin Karina.
Manusia memang mahluk dengan ragam karakter, kita tidak akan tahu apa yang ada dalam fikiran satu sama lain, karena ekspresi terkadang sebuah tipuan. Orang bisa tersenyum sambil membenci, dan orang bisa saja diam sambil mengutuk.
Vanilla beranjak dari sopa. "Nenek, aku ke kamar mandi sebentar." Pamitnya.
Karina tersenyum tipis. "Vanilla kamu bukan orang asing, kamu bebas pergi kemana saja di rumah ini." ujar Karina, dia berkata seperti dirinya seorang pemilik rumah.
"Tentu saja aku bebas pergi kemanapun di rumah ini semauku, tetapi sebagai junior aku harus meminta izin pada nenek karena itu sebuah kesopanan." Balas Vanilla.
Tidak ingin terus melihat wajah menyebalkan Karina yang penuh kepura-puraan, Vanilla langsung pergi.
Karina menatap tajam punggung Vanilla yang perlahan menjauh lalu menghilang di belokan.
Jika nenek tidak ada di sini, aku akan menampar wajahnya. Batin Karina.
...----------------...
Di dalam toilet Vanilla sedang mengirim pesan pada Mahira.
(Mahira, Karina mengajak nenek ke mall. Aku akan pergi bersamanya untuk menjadi mata mata.)
(Aku mengandalkan mu Vanilla.) Balas Mahira.
__ADS_1
(Aku tidak akan membiarkan wanita licik itu semakin memperdaya nenek. Kau tahu aku ingin sekali mengacak acak rambutnya dan mbuangnya dari Mansion Daguezze,)
(Kamu harus sabar Vanilla, jangan sampai dia berhasil membuat nenek marah padamu.)
(Aku tahu aku tahu, Ya sudah aku harus kembali untuk menjadi seorang mata mata.)
Vanilla menyimpan ponselnya lalu mencuci tangan dan keluar dari kamar mandi, tetapi saat Vanilla membuka pintu Karina sudah berdiri di depan sana dengan ekspresi datar, menatap Vanilla seolah Vanilla adalah musuhnya.
"Ouhhh rupanya seseorang sedang menungguku." Ujar Vanilla.
Karina melipat tangannya di depan dada dia maju satu langkah lebih dekat pada Vanilla, tatapannya semakin tajam.
"Kau pikir aku takut di tatap seperti itu olehmu, dengar. Percuma saja kau melakukan itu karena kenyataan nya aku tidak terintimidasi." Ucap Vanilla.
Karina tertawa. "Bagus. Aku tidak perlu berpura-pura di depanmu, karena kau sudah tahu diriku."
"Lalu." Vanilla menatap Karina dari atas ke bawah dan ke atas lagi, mengejeknya. "Tidak mungkin Nona Karina Wilson datang kemari hanya untuk berdiri menakutiku saja bukan?"
"Yah...Aku datang ke sini untuk memperingati mu."
Vanilla tertawa terbahak bahak merasa lucu dengan yang di katakan Karina.
"Apa katamu, memperingatkan aku. Lucu sekali, kau pikir aku anak kecil. Wanita tidak tahu malu seperti kamu beraninya ingin memperingatkan aku, di sini aku yang akan memperingatkan kamu." Vanilla menunjuk tepat di wajah Karina.
"Vanilla!!" Karina sangat kesal dia hampir saja menampar gadis itu namun untungnya Karina segera mengepalkan tangannya
"Hahaha... Karina kita tunjukan warna asli diri kita, tidak perlu kamu berpura pura polos di depanku karena aku tahu, kamu mengincar kakak sepupuku lagi untuk tujuan tertentu."
Karina dan Vanilla saling menatap sengit seperti keduanya memiliki dendam pribadi. Vanilla dengan santai merapikan baju Karina yang sedikit kusut di bagian bahunya.
"Entah itu uang yang kau incar, status atau nyawa kakak sepupuku. Tapi aku Vanilla Greesha tidak akan membiarkan mu berhasil merusak semuanya apalagi hubungan pernikahan sahabatku dan Kak Reyvan. Aku akan lebih dahulu mencabik cabikmu. Ingat itu,."
Setelah mengatakan apa yang ingin di katakan, Vanilla dengan sengaja menabrak Karinna, dan membuat Karina sedikit goyah.
"Hah... Aku akan membuatmu hidup seperti dineraka saat aku berhasil membuat Reyvan kembali bersamaku."
...----------------...
Vanilla sedang dalam suasana hati yang ceria, setelah membuat Karina kesal, suasana hatinya berkali lipat lebih menyenangkan.
"Dimana Karina?" Tanya nenek.
"Entahlah, mungkin sedang di kamar mandi." Jawab Vanilla acuh.
Nenek pergi untuk mencari Karina tetapi sebelum dirinya pergi jauh Karina datang.
"Nenek, maaf membuatmu menunggu." ucap Karina lembut.
"Tidak apa apa, ayo kita berangkat."
"Baik nenek."
...----------------...
Ibu Reyvan yang sejak pagi berada di dapur membantu koki memasak menyiapkan sarapan kini duduk santai bersama Mahira sambil menonton TV, keduanya begitu terhanyut dengan peran yang di bawakan oleh Katthy Rayn, berperan sebagai Nadel ibu tuna wicara yang mengalami gangguan mental karena anaknya di bawa pergi oleh seorang yang telah menodainya.
Nadel (Katthy Rayn) memiliki wajah yang cantik, tetapi dia juga memiliki kekurangan yaitu tidak bisa bicara. Katthy yang berperan sebagai Nadel memang memerankan nya dengan sangat sempurna, hingga membuat siapapun yang menontonnya akan menangis melihatnya dan terbawa suasana.
Ibu Reyvan diam diam meneteskan air matanya dan menghapusnya dengan punggung tangan, berbeda dengan Mahira yang sudah menghabiskan tisu hampir setengah pak.
__ADS_1
Melihat menantunya yang begitu emosional, ibuNyonya Daguezee menepuk bahu Mahira.
Mahira menoleh, matanya sembab dan hidungnya merah. ibu Daguezee kaget.
"Ya ampun Nak, kamu menangis begitu parah..."
Mahira berhambur ke pelukan ibu mertuanya. "Kenapa pria itu sangat jahat, dia mengambil anaknya Nadel tanpa memikirkan perasaan Nadel."
Nyonya Daguezee menghela nafas. "Ini hanya sebuah film, kenapa kamu begitu sedih untuk hal ini, sudah sudah jangan menangis."
Mahira masih belum bisa menghentikan isak tangisnya meskipun beberapa kali dia membuang ingus agar tangisannya berhenti, tapi rasa sedihnya masih terasa dan memancingnya kembali untuk terus menangis.
Nyonya Daguezee juga bingung, dia hanya bisa memeluknya sampai Mahira lebih tenang.
Sepuluh menit kemudian akhirnya Mahira berhenti menangis, matanya merah sama seperti hidungnya.
"Sudah cukup menangisnya?"
"Umh..." Mahira mengangguk.
"Ayo temani Mom pergi ke mall, ada keperluan yang ingin mom beli,."
"Baik, tapi aku harus bersiap dulu mom,"
"Ya, mom juga harus ganti baju."
Ibu Daguezee membutuhkan beberapa barang yang tertinggal di Daguezee Mansion, daripada dia harus kembali dan bertemu ibu mertuanya Ibu Daguezee lebih memilih membeli yang baru.
lima belas menit kemudia Mahira selesai, mereka keluar bersama dari rumah dan masuk mobil, Mahira mengemudi keluar dari gerbang tetapi sekilas Mahira melihat sosok wanita yang tiba tiba bersembunyi.
Mahira perlahan menghentikan mobilnya.
"Mahira ada apa?" tanya Ibu Daguezee.
Mahira keluar dari mobil lalu berjalan ke tempat dimana seorang wanita bersembunyi.
"Mama..."
Ibu Nera kaget Mahira menemukannya, dia ingin pergi tetapi di tahan Mahira.
"Mama kenapa tidak datang ke rumah Mahira, kenapa berdiri di sini?"
Ibu Nera gelagapan.
"Ma... " Mahira memegang tangan ibu tirinya yang terasa dingin.
"Mama sudah lama di sini?"
"Mama sangat merindukan Mahira, jadi mama datang ke sini."
Ibu Daguezee akhirnya memutuskan turun dari mobil dan menghampiri Mahira.
"Nyonya Nera, kebetulan sekali... Ayo ikut bersama kami,"
Nyonya Nera ingin sekali ikut tapi dia takut Mahira keberatan.
"Mama ikut saja, aku juga merindukan mama tapi aku belum sempat menemui mama di rumah. Maaf,"
Ibu Nera memeluk Mahira. "Mama ikut ya,"
__ADS_1
"Ayoo..."
Ketiganya pergi bersama dengan bahagia.