
"Kenapa di bawah begitu berisik?" Mahira menatap Reyvan.
"Kamu istirahat, aku akan melihat ada apa." ucap Reyvan sambil menyelimuti Mahira.
Mahira menolak, dia kembali bangun dan ingin melihat. Reyvan menatap Mahira kesal.
"Mahira, kamu sakit."
"Aku ingin melihat dulu, setelah itu aku akan istirahat."
Reyvan menghela nafas tak berdaya, pada akhirnya dia mengijinkan Mahira ikut bersamanya memeriksa keadaan di bawah.
...----------------...
Begitu sampai di bawah.
Reyvan dan Mahira kaget.
"Nak, Anak kepala koki terpeleset dan jatuh." Ibu Reyvan menjelaskan.
Reyvan melihat Rena yang terbaring tak sadarkan diri. Mahira melangkah maju dan memeriksa, insting Dokternya membuat dirinya maju dan memeriksa, dia memahami luka Rena.
"Luka di kepalanya tidak terlalu serius, namun untuk mengetahui apakah ada gegara otak atau tidak, kita harus membawanya ke rumah sakit segera."
Seketika Nela ketakutan, dia takut Rena bangun dan mengatakan pada Reyvan tentang dirinya.
Mahira melirik Nela yang wajahnya pucat lalu Mahira kembali melihat Rena, dia sudah menebak apa yang sebenarnya terjadi.
"Kau yakin Rena hanya tanpa sengaja jatuh dan terpeleset?" Mahira berdiri dan menatap tajam Nela.
Reyvan mengerutkan keningnya, dia memegang tangan Mahira.
"Sayang jangan memperkeruh suasana dengan bertanya seperti itu?" ucap Reyvan.
Mahira tersenyum menatap Reyvan, dia melepaskan tangan Reyvan yang memegangnya lalu mundur beberapa inci.
"Kita juga tidak bisa percaya begitu saja, tidak ada saksi atau bukti bahwa Rena jatuh terpleset."
"Tapi tidak ada saksi dan bukti juga Nela mencelakai Rena."
Mahira mengangkat alisnya, ekpresi nya dingin dan jauh menatap ke luar jendela.
"Tidak ada yang menuduh Nela mencelakai Rena, aku hanya bertanya apakah dia yakin dengan keterangannya itu?"
Reyvan terdiam.
Nela mulai berkeringat dingin karena rasa bersalah, dia maju mendekati Reyvan sambil menunduk. "Aku yakin, aku melihatnya sendiri."ucap Nela.
"Seperti apa kronologis jelasnya?" tanya Mahira.
Nela menatap Mahira dia menunduk lagi.
"Rena datang dan berteriak memanggilku, lalu dia terpeleset karena lantainya licin, kepalanya terkena sudut runcing mesin cuci."
Mahira mengangguk dengan ekspresi serius seolah dirinya percaya dengan cerita Nela.
"Pak Koki, sebaiknya panggil orang untuk membantumu membawa Rena ke rumah sakit, jika menunggu ambulan takutnya hanya akan membuang buang waktu," Ujar Mahira.
Kepala Koki mengangguk, dengan bantuan bodyguard, Rena segera di bawa pergi.
Nela ingin mengikuti Rena dan rombongan, tetapi Mahira memegang lengan Nela tidak membiarkannya pergi.
"Kau adalah saksi utama, tetap di sini sampai polisi datang."
Reyvan menatap Mahira. "Mahira jangan libatkan Polisi." ucap Reyvan.
"Ini rumahku, aku berhak mengatur semuanya." ucap Mahira.
__ADS_1
"Aku lebih berhak. Karena ini rumah atas namaku," Jawab Reyvan sambil menatap Mahira tajam.
Deg...
Seperti di siram air dingin Mahira tersadar setelah Reyvan mengatakan rumah yang di tempati mereka atas nama Reyvan dan Mahira tidak berhak mengambil keputusan di rumah ini.
Mahira tersenyum tapi senyum itu penuh luka dan ejekan.
"Yah, kau benar Tuan Reyvan Daguezze. Rumah ini milikmu, dan aku tidak berhak atasnya, namun izinkan aku menyelidiki tentang ini atas pri kemanusiaan yang bergejolak di hatiku, karena Nona Nela adalah saksi kunci jadi ku mohon biarkan aku melakukan tugasku."
"Mahira-" Reyvan ingin mengatakan sesuatu, dia menyadari telah mengatakan hal yang salah.
"Sshhttt...." Mahira menaruh jari telunjuknya di bibir Reyvan, menghentikan pria itu berbicara banyak.
"Tenang saja, aku tidak akan menyakiti kekasih kecilmu."
Reyvan memejamkan matanya, dia tidak mengerti mengapa Mahira begitu cemburu pada Nela.
Mahira kembali menatap Nela yang menunduk ketakutan.
"Seperti apa Rena jatuh? Apakah dia menghadapmu atau membelakangimu?"
Nela meremas jarinya berusaha agar tidak terlalu gugup.
"Dia membelakangiku."
"Umh..." Mahira mengangguk.
"Tapi bukankah kamu mengatakan Rena datang berteriak memanggil namamu lalu terpeleset, bukankah menurut keteranganmu Rena harus terpeleset menghadapmu, dan lukanya tepat di dahi, tapi luka Rena di belakang kepala."
Mahira sangat cepat mengekspos kebohongan Nela dan membuat Nela terdiam.
"Itu...aku-"
"Melihat dari jejak sepatu Rena dia terpeleset ke belakang, tetapi dari yang aku lihat Rena di tarik hingga jatuh, apalagi dua kancing seragam Rena terlepas."
Nela tidak tahan lagi, dia mendorong Mahira dan berteriak.
"Ya!!!!! Aku mendorongnya. Aku mendorongnya karena dia ingin melaporkan aku pada Reyvan!!!!"
Reyvan kaget melihat Nela berteriak histeris.
Tiba tiba Nela ingin menerkam Reyvan tetapi Reyvan menghindar hingga Nela jatuh tersungkur.
Nela tertawa seperti orang gila lalu menangis.
Ibu Reyvan dan nyonya Nera berlari kembali ke ruang cuci setelah membantu kepala koki, mereka kaget melihat Nela yang seperti itu.
"Reyvan. hiks_hiks_hiks...Aku sangat mencintaimu, kenapa kamu menikahi wanita lain. Aku menunggumu melamarku," Nela menatap Reyvan penuh pemujaan.
"Kau siapa?"
Dua kata yang di ucapkan Reyvan membuat Nela hancur seketika.
"Reyvan... Kamu melupakan aku. Haha...haha.. haha.. hiks...hiks, kenapa? KENAPA KAMU MELUPAKAN AKU?" Nela tertawa lalu menangis sedih.
Nela memukul mukul dirinya seperti orang setres, lalu dia menatap Reyvan lagi.
"Reyvan, aku Nayla. Kita pernah satu sekolah saat SMP, ketika kamu menjadi murid pertukaran ke sekolah kami. Kamu-"
"Aku tidak ingat." potong Reyvan.
Nela alias Nayla menatap Reyvan tak percaya, dia menangis histeris.
"Kamu pasti ingat!!! Reyvan kamu pernah bilang menyukai gadis lembut seperti ku, dan kita saat itu pernah tersesat di hutan, kita ketakutan dan saling berpelukan--"
Reyvan melirik Nela dingin. "Kau terlalu banyak berpikir, berapa usiamu saat itu dan berapa usiaku saat itu. Apa kau pikir perasaan bisa di tentukan begitu saja, kau sudah sangat keterlaluan,"
__ADS_1
Reyvan tidak ingin mengatakan apa apa lagi, dia berbalik pergi tetapi tiba tiba Nela memeluknya seperti gurita menempel di tubuh Reyvan.
Mahira menatap keduanya seperti mereka orang asing, tatapannya dingin dan acuh.
Reyvan berusaha melepaskan diri sambil menatap Mahira, tetapi Nela sekuat tenaga memeluk Reyvan dan membuat Mahira merasa jijik.
Reyvan Tahu Mahira muak, Reyvan melepaskan lilitan Nela dalam satu kali sentakan dan mendorong nya.
Tiba tiba polisi datang dan menangkap Nela, tadi Ibu Reyvan segera memanggil polisi setelah mengetahui Rena di celakai Nela.
"Nona Nela, anda di tahan atas tuduhan percobaan pembunuhan kepada nona Rena, silahkan ikut kami."
"Tidak!!!!"
"Lepaskan aku!!! Reyvan, aku sangat mencintaimu..." Nela berontak tetapi Polisi Polisi itu sangat kuat.
"Reyvan!!!! Lepaskan. Jangan bawa aku, aku ingin Reyvan ku... Reyvan...."
"Tuan Reyvan, kami akan mengurus segalanya, anda tidak perlu khawatir." ucap inspektur polisi.
" Terimakasih, Maaf merepotkan mu." ucap Reyvan.
Polisi membawa Nela pergi dengan paksa dan menyisakan Reyvan, Mahira, ibu Reyvan dan Nyonya Nera.
"Mahira-"
Sebelum Reyvan menyelesaikan kata katanya, Mahira keluar dari ruang cuci kembali ke kamarnya, dia segera mengemasi barang barangnya ke dalam koper.
Reyvan yang mengejar Mahira dan melihat Mahira mengemasi barang barangnya, ketakutan. Reyvan mengambil koper Mahira yang sudah di isi dengan sebagian barang Mahira.
Reyvan melemparkan nya jauh dari Mahira.
Mahira menatap Reyvan, dia tidak mengatakan apapun, Mahira mengambil baju bajunya yang berserakan dan ingin memasukan kembali ke dalam koper.
"Mahira!!!" Reyvan menarik Mahira hingga berdiri di depannya.
"Lepaskan."
"Jangan pergi, aku minta maaf." Reyvan tertunduk malu dan merasa bersalah.
Mahira melepaskan tangan Reyvan yang memegangnya.
"Ayo kita bercerai." ucap Mahira setelah diam beberapa saat.
Ini pertama kalinya Mahira mengatakan ingin berpisah dari sejak mereka menikah, Reyvan ketakutan, dia memeluk Mahira dan menangis.
"Mahira aku minta maaf, seharusnya aku percaya padamu..."
Mahira mendorong Reyvan perlahan. "Reyvan aku ingin kembali ke rumahku, aku ingin tinggal di tempat dimana aku bisa mengambil keputusan."
Reyvan mencium punggung tangan Mahira beberapa kali.
"Sayang, ini rumahmu. Kamu berhak melakukan apapun sayang, Apapun yang kamu inginkan kamu bisa melakukannya. Jangan tinggalkan aku."
Mahira menarik tangannya.
"Kamu bau wanita lain, aku benci itu."
Reyvan mengendus dirinya sendiri, dan benar saja bau parfum Nela menempel padanya.
Reyvan menarik Mahira dan membawanya ke kamar mandi, Reyvan melepaskan satu persatu bajunya dan berdiri di bawah shower, dia juga menarik Mahira hingga mereka berdiri bersama sama, bedanya Mahira masih berpakaian lengkap sedangkan Reyvan tidak.
Mahira memerah, dia memejamkan matanya tetapi tangannya di bingbing memgosok kulit Reyvan atas arahan pria itu. Mahira ingin menarik tangannya tetapi Reyvan menahannya.
"Bantu aku membersihkan diri agar kembali bersih." bisik Reyvan sambil menatap Mahira.
Mahira membuka matanya dan balas menatap Reyvan.
__ADS_1