Kenapa Aku Pindah Ke Novel

Kenapa Aku Pindah Ke Novel
Sampai Tahun baru.


__ADS_3

Mahira menatap Reyvan dan menangis. Reyvan menjadi lebih dan lebih panik, dia segera menarik Mahira dalam pelukannya sembari menenangkannya.


"Tenang saja itu hanya mimpi buruk, tidak ada yang menyakitimu." Ucap Reyvan.


Mahira semakin menangis, dan memeluk erat Reyvan.


Waktu berlalu begitu singkat, Mahira tidak bisa marah pada Reyvan, demi bisa kembali ke dunia asalnya.


"Mahira, ayo jangan menangis terus. Tenang saja pria sialan itu sudah masuk penjara dan akan di penjara dalam waktu yang lama berikut dengan wanita rubah itu." Vanilla mengusap kepala Mahira dan berpikir Mahira menangis karena trauma dari penculikan.


Mahira kelurar dari pelukan Reyvan lalu berbalik memeluk Vanilla.


"Aku benar benar takut saat itu, takut...."


"Takut plot novel ini terjadi padanya." Batin


Mahira.


"Tidak apa apa, untungnya kami menemukanmu dan bisa menangkap pria sialan itu."


Mahira mengangguk pean.


...----------------...


Penjara.


Kepolisian tahu siapa Sakian, tanpa mempersulit nya Polisi membiarkan Sakian masuk dan datang ke sel dimana tempat Kendra di tahan.


Wajah tampan Sakian begitu halus dan layak menjadi jajaran pria tertampan bersaing dengan aktor ternama, sayangnya Sakian tidak menjadikan ketampananya untuk di nikmati banyak orang, dia lebih suka hidup di bawah bayang bayang Reyvan.


Ketampanannya tidak bisa menyembunyikan tatapan dingin dan kejam Sakian, begitu dia berdiri dan di kunci bersama Kendra dia memandang rendah pria yang dulu memiliki penggemar jutaan kini tergeletak menyedihkan dengan luka yang di perban.


Sakian tersenyum dingin.


"Ini belum seberapa. Apa yang kau lakukan pada Nyonya, akan di balas langsung oleh suaminya."


Tangan Kendra mengepal penuh kebencian, sebelah matanya yang tidak terluka menatap Sakian lalu tertawa.


"Hahahah.... Aku sungguh merasa terhormat mendapatkan ceramah dari Pangeran selatan ini." Ujar Kendra sarkasme.


Sakian menarik kursi dan duduk bersilang kaki.


"Maka ingat baik baik ceramahku ini di otakmu yang kecil itu, karena tidak ada orang lain yang sangat beruntung mendapat ceramah gratis ku. " balas Sakian tak kalah sarkasme.


Tawa Kendra perlahan berhenti setelah mendengar balasan Sakian.


"Kalian sangat kejam memperlakukan manusia..." Ucap Kendra.


Sakian tersenyum sinis. "Kita kejam pada mahluk yang tidak di ketahui jenisnya seperti mu dan betina itu, Karena kalian tidak akan paham hanya dengan beberapa kata yang kami muntah kan, kalian akan mengerti jika kami menjelaskan dengan hal yang sama seperti yang kalian lakukan."


Sakian berdiri dia menepuk bagian bajunya yang berdebu lalu menatap Kendra dengan jijik.


"Jangan berharap bisa meminta bantuan kakakku, Karena sebelum itu terjadi aku akan membuatnya paham seperti apa teman yang dia miliki ini."


Kendra menggertakkan giginya menahan kebencian dan rasa sakit dari tubuhnya.


"Dia akan lebih membantuku daripada mendengarkanmu." balas Kendra.

__ADS_1


Sakian berhenti melangkah tapi dia tidak menengok ke belakang.


"Mari kita lihat, dia akan memilih temannya atau adiknya. Aku punya segudang cara membuatnya menyerah padamu, mungkin kau teman yang baik di depannya tapi di belakangnya kau adalah teman terburuk bahkan tidak pantas di sebut teman, kau memperkosa cinta pertama temanmu dan membuatnya patah hati berlarut larut. Coba pikirkan, apa reaksinya saat dia mengetahui apa yang di lakukan sahabat baiknya ini semasa SMA."


Kendra terdiam tanpa bisa membalas apa yang di katakan Sakian.


Sakian meninggalkan penjara dengan perasaan marah dan bencil.


"Sungguh kebetulan kita bertemu di sini, adik."


Sakian menatap kakaknya yang berjalan bersama dengan pengacara kerajaan, sudah jelas kedatangannya dengan maksud membebaskan Kendra, namun Sakian tidak akan membiarkan itu terjadi.


"Yah... Sangat kebetulan kita bertemu di tempat seperti ini, dimana tempat ini bukan tempat yang pantas untuk Putra Mahkota Kerajaan selatan."


"Dimanapun aku berpijak, tidak ada yang di sebut tidak pantas." Jawab Saka.


Sakian tertawa. "Sungguh mengherankan Putra Mahkota yang sibuk tetapi bisa datang langsung untuk membebaskan narapidana."


Saka mengepalkan tangannya, dia menatap adiknya yang semakin hari semakin buruk bersikap padanya.


"Sakian, berhenti berkeliaran dan menjadi budak orang."


Sakian tertawa sambil menatap kakaknya.


"Aku lebih suka tinggal di luaran, daripada terkurung di istana yang hanya memiliki perang antara saudara."


Saka Tahu dengan jelas mengapa Sakian lebih memilih meninggalkan keluarga kerajaan daripada tinggal, namun dia juga tidak berdaya selain ikut serta memperebutkan tahta bersama dengan saudara tirinya.


"Kakak. Aku hanya akan memberitahu mu satu kali, terserah kau akan percaya atau tidak, namun sebelum kau melangkah lebih jauh dan menodai reputasi baikmu, sebaiknya kau dengarkan aku."


"Dia tidak pantas mendapatkan uluran tanganmu, untukmu mungkin teman terbaik, tetapi dia hanyalah moster yang pandai bersandiwara."


" Sakian..." Interupsi Saka ingin menghentikan Sakian menjelekkan sahabatnya.


"Kakak, tolong jangan hentikan aku, aku punya rahasia terbesar yang ingin aku katakan padamu."


Sakian menunduk sebentar lalu menatap mata Saka sungguh sungguh.


"Akiran tidak pernah menghianati mu, dia sangat setia padamu, tetapi Moster yang berpakaian indah yang menjadi temanmu menghancurkan hidupnya dengan memperkosa nya. Itu saja yang ingin ku katakan."


Saka terkejut dengan apa yang di katakan Sakian.


"itu tidak mungkin!!!" Saka sangat Marah, dia berusaha untuk tidak berteriak.


"Hatimu tahu siapa Moster yang aku maksud, Terima kasih telah mendengarkan Ku.... permisi."


Sakian pergi tanpa menunggu Saka pulih dari keterkejutan nya.


"Kendra..." Ucap Saka.


"Putra Mahkota..."


Ayo kembali ke Selatan.


Saka berbalik meninggalkan Penjara, bersama dengan firma hukum kerajaan, Saka juga menatap mobil Sakian yang perlahan menjauh dari pandangannya.


Sakian mungkin lebih muda dari Saka, namun dia lebih bijaksana dari pada Saka. Sayang sekali Sakian menolak menjadi kandidat Putra Mahkota dan lebih memilih meninggalkan istana beserta aturan aturan yang menurutnya tidak masuk akal.

__ADS_1


...----------------...


Tiga hari kemudian.


Lapas Wanita.


Nela sedang mengantri mengambil makanan bersama narapidana lainnya, penampilannya sekarang jauh lebih buruk dari saat pertama kali Nela datang.


Nela menyodorkan baki makanannya dengan maksud mempermudah penjaga lapas menaruh makanan, tapi tiba tiba saja nampannya di ambil dan di lempar hingga menimbulkan suara dentang yang menarik perhatian.


Nela menghela nafas pelan, dia mengambil nampan yang terbuat dari alumunium itu lalu kembali ke belakang karena antriannya di serobot.


Orang yang melempar nampan Nela tertawa mengejek sambil menatap profokasi ke arahnya.


Tatapannya seolah mengatakan. "Coba lawan aku jika kau berani."


Nela tidak ingin berurusan dengan mereka, dia hanya ingin segera keluar dari lapas dan satu satunya cara adalah dengan bersikap baik.


Nela yang sangat lapar segera menyerahkan nampannya untuk di isi setelah cukup lama mengantri, penjaga lapas melakukan tugasnya mengisi nampan lalu mengembalikannya pada Nela.


"Sipir, kenapa hanya kerupuk dan kuah sayur saja." Protes Nela.


Sipir itu menatap Nela menyesal.


"Lauknya habis, kau sangat terlambat mengantri."


Nela mengepalkan tangannya, dia menoleh untuk mentap pada orang yang mengganggunya.


Tapi pada akhirnya Nela menyerah dan duduk di bangku kosong mulai makan dengan lahap.


Sayangnya takdir tidak begitu baik pada Nela saat ini, di tengah makannya tiba tiba seseorang menumpahka teh manis ke makannya.


"Ups... Maaf,"


Nela mengepalkan tangannya. "Apa masalahmu padaku?"


"Umh... Masalahmu..." orang itu terlihat berpikir.


"Karena kau teman si berengsek Kendra yang sudah menghancurkan hidup kakakku."


Nela melotot. "Apa maksudmu?"


"Diana Maghno, aku harap sekarang kau ingat dengan marga Maghno."


Maghno. Batin Nela.


Samar sama Nela ingat dengan marga Maghno, wajahnya tiba tiba pucat dan menatap Diana seolah diana adalah hantu.


"Tidak mungkin..."


"Aku bersyukur karena Tuan Reyvan menjebloskan mu ke sini, aku dapat dengan mudah menjadi temanmu " Diana menekankan kata teman sebagai pringatan.


Nela sangat ketakutan, dia berlari meninggalkan kantin penjara dengan tergesa-gesa.


begitu Nela sampai di lapasnya, dia segera meringkuk di sudut dan menangis.


"Ini tidak mungkin....."

__ADS_1


__ADS_2