
Reyvan menggendong Mahira begitu mobil berhenti di depan rumah mereka, dia membawa Mahira seperti seorang putri.
Vanilla si Ratu rempong yang sudah menunggu dan tidak sabar mendengar kabar baik segera berlari membuka pintu dan merecoki Reyvan dan Mahira dengan berbagai pertanyaan.
"Kak Reyvan. Apa yang di katakan Dokter, apa semuanya oke?"
Reyvan tidak ingin menjawabnya, dia tidak memiliki mood untuk mengurus hal hal yang di ributkan adik sepupunya itu, namun Vanilla adalah gadis enerjik yang tidak mudah menyerah, di abaikan sekali tidak membuatnya lemah. Dia mengikuti Reyvan dan bertanya.
"Kak Reyvan, berapa usia kandungan Mahira. Aku tidak sabar memberi tahu nenek dan seluruh keluarga, aku ingin melihat ekspresi mereka dan mengabadikannya. Hahaha... aku akan mengabadikan wajah jelek mereka ketika mendengar kabar itu." Cerocos Vanilla.
Reyvan menghentikan langkahnya, dia menatap Vanilla seolah Vanilla adalah babi gila yang kabur dari peternakan. "Mahira tidak hamil. Dia mengalami Traumatik pasca kecelakaan, jadi jangan ganggu Mahira dengan pertanyaan konyol mu. Pulang sekarang dan tidur di pelukan ibumu."
Vanilla mengerucutkan bibirnya tetapi dalam sekejap ekspresi sedih itu berubah menjadi ceria. "Kak Reyvan, aku akan menginap di sini, aku sangat merindukan Mahira. Jadi biarkan aku tinggal oke."
Reyvan sudah sangat pusing dan khawatir, jika dia terus meladeni Vanilla, entah sampai kapan semuanya akan berakhir.
"Terserah kau saja, tidur dimanapun yang kau suka asal tidak di kamarku." Jawab Reyvan.
Mahira yang melihat bagaimana lelahnya Reyvan dan pusingnya pria itu, meminta untuk di turunkan.
"Reyvan turunkan aku, biarkan aku berjalan sendiri." ucap Mahira pelan.
"Tidak."
"Tapi kamu sangat lelah, aku bisa melihatnya dari wajahmu."
Reyvan menunduk menatap langsung pada mata indah Mahira. "Kalau begitu bisakah kamu melihat keinginan terbesarku?"
Mahira terdiam, tidak terlalu paham dengan pertanyaan pria itu.
"Mahira, keinginan terbesarku adalah selalu terjerat di tempat tidur bersamamu."
Mahira segera mengalihkan tatapannya ke arah lain.
"Aduhh... kepalaku pusing sekali, aku ingin segera berbaring." Mahira berpura pura kesakitan sambil memegang kepalanya agar Reyvan tidak mengatakan omong kosong lagi.
Reyvan tidak berdaya, dia kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar dan meninggalkan Vanilla yang tercengah akibat dari memdengar kata kata terus terang dan frontal kakak sepupunya.
"Sial!!! Kak Reyvan belajar darimana bahasa semacam itu. Hahaha.. Jika kak Renaldi tahu tentang ini dia pasti akan memutuskan pulang dari luar negri." Vanilla terus tertawa sambil berjalan menuju kamar tamu.
...----------------...
Mahira di letakan di tempat tidur. "Terimakasih." Ujar Mahira.
Reyvan yang mendengarnya tersenyum lembut. "Cepat tidur ini sudah larut malam."
__ADS_1
Sebenrnya Mahira tidak mengantuk, tetapi menolak Reyvan yang sudah sangat baik memperhatikan nya membuat Mahira tidak bisa menolak perintah pria itu. Mahira memejamkan matanya berusaha untuk tidur, tetapi rasa kantuk itu sama sekali tidak menghampirinya.
Mahira bolak balik menyamping kiri dan menyamping kanan tetapi tetap saja tidak mengantuk, Mahira duduk, dia melihat pintu kamar mandi yang tertutup rapat, suara gemercik air membuat fikiran Mahira kembali melayang pada olahraga di malam kemarin.
"Akhhh!!!! Kenapa aku mengingat adegan itu." Mahira segera menutupi kepalanya dengan bantal.
"Lupakan Mahira. Lupakan...."
Suara gemercik air berhenti, Mahira menarik selimut dan pura pura tidur, dia yakin sebentar lagi Reyvan akan keluar.
Benar saja, selang beberapa saat Reyvan keluar setelah beberapa saat, Mahira bisa melihat sedikit bayangan Reyvan yang hanya mengenakan handuk menutupi pinggang hingga di atas lutut, pria itu mondar mandir sepertinya sedang melakukan panggilan telpon.
"Kamu belum tidur?" Tiba tiba Reyvan bertanya.
Deg.
Mahira kira Reyvan mengetahui tidur pura puranya, tetapi setelah mendengar Reyvan melanjutkan perkataannya Mahira yakin Reyvan sedang berbicara di telfon.
Tapi Reyvan berbicara dengan siapa, kenapa sikapnya begitu lembut sama seperti memperlakukannya.
"Tidak. Aku baru saja selesai mandi, mungkin sebentar lagi aku akan tidur."
"Umh.."
"Yah... Selamat malam."
Reyvan memasuki walk in closet cukup lama lalu keluar lagi setelah mengenakan jubah tidurnya, dia berjalan ke sisi lain tempat tidur mematikan lampu lalu berbaring. Reyvan melihat Mahira sudah terlelap tanpa sadar bibirnya tersenyum.
Reyvan menarik Mahira dalam pelukannya lalu mencium kening nya. "Selamat Malam."
Ucapan selamat malam itu lebih mirip bisikan tetapi Mahira yang berpura pura tidur masih bisa mendengarnya.
Mahira tidak begitu terpengaruh, karena pikirannya di penuhi dengan berbagai pertanyaan siapa orang yang Reyvan telpon, dan mengapa sikap Reyvan begitu lembut pada orang itu.
"Kamu berselingkuh." Tiba tiba kata kata itu keluar dari bibir Mahira.
Reyvan yang baru saja memejamkan matanya membukanya lagi. "Apa yang kamu katakan?" Tanya Reyvan.
Mahira merasa benci memikirkan pria yang tidur di sampingnya adalah penghianat, apalagi dalam novel di ceritakan Reyvan masih memiliki hubungan baik dengan mantan kekasihnya dan kadang sering bertemu di belakang Mahira, dan sekarang terbukti.
Mahira melepaskan diri dari pelukan Reyvan.
"Tidak ada."
Mahira berbalik memunggungi Reyvan.
__ADS_1
Reyvan menatap punggung Mahira tanpa berkedip.
"Mahira, dua hari ini aku merasa banyak perubahan pada dirimu, terkadang aku berpikir kamu bukan Mahira, tapi tes DNA menyebutkan kamu Mahira, aku tidak tahu satu minggu setelah pernikahan apa saja yang terjadi saat aku di luar negri. Kamu banyak berubah."
Tangan Mahira mengepal erat, Reyvan memang curiga terhadapnya tapi pria itu melakukan tes DNA yang jelas akan membuktikan dirinya adalah Mahira asli, yang salah adalah jiwanya, Dirinya bukanlah Mahira asli.
"Kamu sudah tidak percaya padaku sejak awal, lalu kenapa kamu masih meniduri ku pada malam itu?"
Reyvan menatap kegelapan yang hanya memiliki sedikit cahaya.
"Aku ingin membuktikan kamu Mahira asli atu bukan."
Alasan macam apa yang di berikan Reyvan, Mahira hampir di buatnya gila dan ingin menendang pria itu kelurahan dari tempat tidur.
"Reyvan kamu sudah gila." Komentar Mahira.
"Kamu bisa menyebutku begitu." Jawab Reyvan.
Tiba tiba Reyvan bergeser lebih dekat pada Mahira dan memeluknya dari belakang.
"Perjanjian pernikahan kita yang pertama menyebutkan, kita bersikap seperti pasangan suami istri pada umumnya, tidur bersama dan melakukan semua kegiatan yang di lakukan pasangan suami istri, aku tidak peduli kamu menyukaiku atau tidak. Tapi aku harap kamu tidak melupakannya." Ujar Reyvan.
Bulu kuduk Mahira sepertinya berdiri tegak setelah mendengar apa yang di katakan Reyvan, nada suara yang biasanya lembut agak kasar dan penuh pemaksaan. Mahira membalikan tubuhnya menjadi berhadapan langsung dengan Reyvan.
Meskipun dalam kegelapan, Mahira yakin Reyvan sedang menatapnya. "Jika aku mengatakan aku bukan Mahira, apa kamu akan melepaskanku?"
Senyum samar tersungging di bibir Reyvan. "Tidak akan. Kamu tahu obsesi ku adalah dirimu sendiri, jadi jangan pernah berpikir untuk lari dariku sayang."
Untuk pertama kalinya Mahira berpikir Reyvan sangat menakutkan, dia memiliki berbagai wajah dan trik di lengan bajunya, dia seperti sikopat yang terlihat lembut di luar dan kejam di dalam hingga ke inti.
Tangan Reyvan yang memeluk Mahira semakin erat.
"Aku lebih suka Mahira yang sekarang, dia berani tidak lagi seperti boneka rusak." bisik Reyvan tepat di telinga Mahira, bahkan Reyvan masih sempat mengigit dan menjilat telinga gadis itu.
Telinga Mahira basah dan menjdi dingin.
"Lepaskan. Aku bukan Mahira asli, hanya tubuhnya saja, tapi Jiwanya bukan Mahira yang kamu maksud."
Di tengah malam yang sepi tiba tiba tawa renyah Reyvan bergema membuat Mahira ketakutan setengah mati. "Aku tahu. Karena akulah yang membawamu ke dunia ini, selamat datang." Reyvan tersenyum menyeramkan.
Mahira mendorong Reyvan menjauh darinya lalu dia beranjak dari tenpat tidur.
"Kamu!!!"
Mengetahui kebenaran yang baru saja terungkap tubuh Mahira menjadi kaku.
__ADS_1