Kenapa Aku Pindah Ke Novel

Kenapa Aku Pindah Ke Novel
Memiliki anak bersama.


__ADS_3

Karina masih menangis saat kembali ke kediaman Daguezze, entah sengaja atau tidak Karina memperlihatkan kesedihannya di depan Nenek Daguezze sehingga sangat penatua merasa iba.


"Karina, kenapa menangis?" Nenek buru buru menghampiri Karina.


Kakek Daguezze menggelengkan kepalanya lalu kembali fokus pada koran pagi yang belum sempat beliau baca tadi pagi.


"Siapa yang membuatmu menangis?" Nenek Daguezze mengusap pipi Karina penuh kasih sayang.


Karina memegang tangan nenek Daguezze dan tersenyum lembut berusaha terlihat kuat menyembunyikan kesedihannya.


"Nenek Daguezze, lain kali jangan menyuruhku untuk mengantarkan makanan pada Reyvan." ucap Karina tersendat sendat.


"Kenapa?"


Karina langsung menangis lagi.


"Apakah Reyvan menggertak mu?" Tebak nenek Daguezze.


Karina diam, dia hanya terus menangia sedih dan semakin membuat nenek Daguezze marah.


"Anak itu...." Geram nenek Daguezze.


"Bukan Reyvan." Karina menggeleng.


"Lalu siapa?" Nenek Daguezze bertanya lagi.


Karina menundukan kepalanya seolah tidak berani menyebut nama orang itu.


"Katakan!!"


Karina mendongak dan menatap nenek Daguezze sedih. "Nenek itu Mahira..."


"Wanita itu lagi...." geram nenek Daguezze.


Tuan Ruth yang melihat drama Karina hanya menatapnya tanpa ekspresi. Kakek juga tidak ingin ikut campur dalam dramanya, tetapi beliau tidak bisa seperti itu karena kali ini nenek Daguezze akan meledak pada istri Reyvan dan membuat keributan.


"Kalian berdua berhenti membuat keributan." kakek Daguezze melempar koran dan menatap keduanya dengan marah.


"Suamiku..."


Kakek Daguezze berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri nenek Daguezze.


" Berhenti membuat kesulitan untuk cucumu, biarkan Reyvan dan Mahira bahagia. "


Nenek Reyvan melotot. "Apa maksudmu dengan aku merecoki kebahagian Reyvan?"


Kakek Daguezze menatap istrinya lalu berganti pada Karina. "Sekarang kau pilih. Aku tau orang asing di sampingmu."


"Apa maksudmu?" Nenek syok. "Kamu terus membela gadis jahat itu."


"Maksudku sudah jelas, aku tidak ingin membuat keributan di rumahku dan mengganggu kebahagiaan cucuku. Jika kau tidak ingin menyuruhnya pergi dari rumah ini karena tidak tega, sebaiknya kau juga ikut pergi."


Karina dan nenek Daguezze tidak percaya dengan apa yang di katakan kakek Daguezze.


"Suamiku-"


"Berhenti memanggilku suamimu jika kamu masih tidak menurut padaku. Suruh dia cari tempat tinggal lain, dan berhenti mengganggu kehidupan cucuku."


Nenek Daguezze terdiam, dan Karin yang takut di usir dari kediaman Daguezze segera ingin membujuk kakek Daguezze.


"A-"


"Tidak!" Ucap Kakek sembari mengangkat tangannya tanda stop tepat di depan Karina.


"Jangan mencoba membujukku, karena aku tidak akan membiarkan mu tinggal di rumahku lagi, sudah cukup keributan yang kau lakukan di rumah tangga cucuku. Sekarang kau bereskan barang barangmu dan pergi dari rumahku."

__ADS_1


Kali ini Kakek Daguezze benar benar marah bahkan nenek Daguezze yang biasanya lebih mendominasi dalam pertarungan verbal hanya terdiam membisu.


Karina melirik nenek Daguezze namun yang di lirik hanya diam membisu dan menghindari bertatapan langsung.


Karina berlari meninggalkan nenek Daguezze tanpa harapan.


Begitu sampai di kamar, Karina buru buru mengambil koper dan memindahkan bajunya dari le mari ke koper, air matanya jatuh tanpa bisa di tahan.


Setelah di rasa cukup Karina keluar menarik kopernya.


Kakek Daguezze masih marah dan bahkan memalingkan wajahnya dari Karina.


"Kakek dan nenek Daguezze, terimakasih sudah nengijinkan aku tinggal di rumah ini. Maaf selama ini aku merepotkan kalian." Karina melirik keduanya berharap mereka mencegahnya pergi, tapi apa yang di harapannya tidak terjadi. Kakek Daguezze langsung pergi dan di ikuti Tuan Ruth.


Nenek Daguezze menatap Karina penuh penyesalan. "Maafkan aku nak, aku tidak bisa membantu saat ini. Suamiku sangat marah." ucap nenek Daguezze lembut.


Karina tersenyum lalu memeluk nenek. "Aku akan sering mengunjungi nenek." ujar Karina.


"Aku rasa itu tidak perlu, Nona Karina Wilson tidak perlu lagi repot repot datang ke sini, karena aku sebagai cucu menantu akan menemani nenek dan tidak akan membuatnya kesepian." ucap Mahira yang baru saja tiba dan berjalan bersama Reyvan.


Karina mengepalkan tangannya, dia masih ingat betul penghinaan yang di lakukan Mahira padanya di kantor Reyvan.


Mahira berjalan ke arah nenek Daguezze dan memeluknya.


Nenek Daguezze belum sempat menghindar dan tertangkap di pelukan Mahira, setelah beberapa saat baru di lepaskan.


Nenek Daguezze ingin marah tetapi langsung di tahan dan hanya mendengus dingin lalu pergi.


Karina masih berdiri di tempat yang sama sembari menatap punggung Reyvan, dulu punggung itu menjadi sandaran nya dan Reyvan selalu membiarkan punggungnya menjadi tempat ternyaman nya.


"Reyvan, bisakah kita bicara sebelum aku pergi?" Tanya Karina.


Mahira mengerucutkan bibirnya, Reyvan yang melihat itu mencubit pipi Mahira.


"Aku tidak punya waktu." Jawab Reyvan.


"Kau bisa mengatakan nya di depan istriku,"


Karina menggigit bibirnya. "Ini penting," ucap Karina keukeuh.


Mahira menatap Karina yang tampak serius.


"Aku ke dalam dulu." Mahira mengalah dan pergi meninggalkan keduanya.


"Sa-" Sebelum Reyvan menyelesaikan kata katanya, Mahira sudah menghilang.


Reyvan memasang ekspresi cuek lalu pergi ke halaman belakang dan di ikuti Karina.


Reyvan berdiri membelakangi Karina, dari punggungnya saja sudah di pastikan Reyvan enggan melihat wajah Karina dan aura dingin menyelimuti nya seolah menolak pendekatan dalam bentuk apapun.


"Katakan." Ucap Reyvan dingin.


Karina menunduk mengepalkan tangannya.


"Jika tidak ada yang ingin kau katakan, aku akan kembali..."


"Ehh Tunggu Reyvan."


Reyvan refleks menarik tangannya saat Karina mencoba menyentuhnya. Tangan Karina menggantung di udara saat dirinya gagal memegang Reyvan karena tangan Reyvan langsung menghindari nya.


"Maaf." ucap Karina malu dan sedih.


"Reyvan, ada sesuatu yang aku sembunyikan darimu selama bertahun-tahun ini."


Reyvan mengerutkan keningnya dia berbalik dan menatap Karina dengan cemoohan.

__ADS_1


"Jangan mencoba bermain trik denganku." Ucap Reyvan.


Karina segera menggelengkan kepalanya. "Aku memang salah karena berusaha ingin merebutmu dari Mahira, tetapi kali ini aku berkata jujur. Reyvan--"


Karina mengigit bibirnya sejenak lalu menarik nafasnya. "Reyvan, sebenarnya kita memiliki anak bersama."


Jlebbbb....


Mata Reyvan melotot tatapannya berubah marah, tiba tiba mendorong Karina menyudutkan nya di tembok dan langsung mencekik Karina tanpa belas kasihan.


"Sudah aku katakan padamu. Jangan mencoba bermain trik denganku!!!! Apa kau tidak paham yang aku katakan."


"Sshh Akhh...Ak--Aku, S-hhh-serius, Kita memiliki anak perempuan."


"Apa!!!"


Mahira berteriak kaget mendengar Karina dan Reyvan memiliki anak bersama, dan entah sejak kapan Mahira berada di sana dan berhasil mendengar percakapan mereka.


Reyvan menoleh, dia menatap Mahira dan tiba tiba perasaan panik menghantuinya. Reyvan melepaskan cengkraman di leher Karina lalu menghampiri Mahira.


"Sayang, jangan mempercayai ucapannya..." ucap Reyvan.


Mahira menatap Reyvan lalu tersenyum. "Tenang saja, aku bukan gadis bodon yang bisa di tipu." Ucap Mahira.


Meskipun Mahira sudah mengatakan itu Reyvan tetap saja panik.


"Bukti apa yang kau miliki hingga berani mengklaim hal serius seperti ini?" Mahira menatap Karina.


Karina balas menatap Mahira dengan mata sendu. "Kita sama sama perempuan, aku tidak berani bermain dengan hal semacam ini, Mahira kami pernah melakukannya dan Aku...." Karina menunduk dan mulai menangis.


Mahira melirik Reyvan. "Reyvan kalian pernah tidur bersama?"


"Saat itu aku tidak sadar--"


"Aku bertanya, apakah kalian pernah tidur bersama. Ya atau tidak?"


Reyvan memejamkan matanya sambil mengeratkan giginya.


"Ya, kami pernah tidur bersama." jawab Reyvan.


Mahira terdiam, dadanya tiba tiba sakit sepertinya seseorang telah meremas paksa jantungnya, tubuh Mahira jatuh dengan posisi duduk di atas lantai, air matanya jatuh tanpa di sadari.


Mengapa rasanya sulit untuk menyelesaikan misi ini, harusnya ini mudah saja karena ini bukan duniaku, seharusnya tidak sesakit ini karena tidak ada hubungan hati antara aku dan Reyvan tapi mengapa ini sakit, perasaan siapa yang menusuk ini,. Batin Mahira


Mahira menatap Reyvan dengan sisa air mata. "Kamu harus bertanggung jawab pada anakmu."


Mahira berusaha berdiri dan Reyvan ingin membantunya, tetapi Mahira segera mengangkat tangannya memberi tanda berhenti. "Aku bisa berdiri sendiri."


"Sayang."


"Reyvan, kamu hanya bertanggung jawab pada anak perempuanmu dan tidak pada ibunya, setelah itu ayo kita bicarakan ini lagi nanti."


Mahira meninggalkan Reyvan dengan langkah gontai.


Reyvan ingin menyusulnya tetapi Karina langsung memanggilnya.


"Reyvan."


Reyvan menoleh dan menatap Karina sengit. "Jika ini adalah trik yang kau mainkan. Aku tidak akan membiarkanmu lolos, kau boleh percaya atau tidak, tapi ingat satu hal bukan saja prusahaan ayahmu yang akan menghilang, kalian juga hanya akan tinggal nama saja."


"Reyvan aku serius anak kita tinggal di luar negri, dan dia akan datang bersama ayah dan ibuku."


"Oke... Bawa dia dan aku ingin lihat seperti apa dia dan setelah itu mari kita lakukan tes DNA."


Karina mengepalkan tangannya.

__ADS_1


"Ya, ayo kita lakukan tes DNA, jika hanya dengan cara itu kamu akan percaya."


__ADS_2