Kenapa Aku Pindah Ke Novel

Kenapa Aku Pindah Ke Novel
Maaf aku terlambat.


__ADS_3

...----------------...


Setelah Reyvan dan Sakian berhasil membawa Mahira ke atas, ambulan tiba tepat waktu dan memberi Mahira pertolongan pertama, bahkan Dokter tidak berani bernafas kencang saat Reyvan mendesak mereka untuk menyelamatkan istrinya.


Daren merasa lega setelah melihat Mahira di bawa ke ambulan dan segera di larikan ke rumah sakit, sedangkan Sakian dan yang lainnya mengikuti ambulan.


Daren menunduk dia memijat pelipisnya yang semakin sakit dari waktu ke waktu, tidak tahan dengan rasa sakit di kepalanya Daren akhirnya pingsan dan di tangkap oleh Lean sebelum jatuh ke tanah.


"Boss..." Suara Daren panik.


Anak buah Daren yang lain juga ikut panik, merekan segera menyiapkan mobil dan membawa boss mereka pergi.


...----------------...


Keesokan paginya....


Mahira membuka matanya setelah semalaman tidak sadarkan diri, untungnya luka yang di miliki Mahira bukan luka serius, hanya luka dangkal yang menggores kulitnya.


Reyvan dengan setia menemani Mahira tanpa tidur nyenyak, beberapa kali dia bangun untuk memeriksa Mahira, hingga saat ini Reyvan terjaga dan buru buru menghampiri Mahira begitu melihatnya bangun.


"Mahira..." Reyvan memegang tangan Mahira dan menciumnya beberapa kli sebagai bentuk rasa syukur nya.


"Syukurlah kamu sudah bangun." ucap Reyvan.


Mahira mengerutkan keningnya merasakan sendi sendi tulangnya sakit saat bergerak.


"Aku akan memanggil Dokter." ucap Reyvan sambil menekan tombol di tembok beberapa kali.


Mahira menoleh menatap air yang ada di atas nakas.


Reyvan mengerti keinginan Mahira dan memberinya minum, Mahira belum mengatakan apa apa dari sejak dia sadar dan dia juga menghindari menatap Reyvan.


Reyvan sangat bahagia, dan saat Dokter memeriksa Mahira, Reyvan sedikit mundur memberi dokter ruang lebih luas sambil terus memperhatikan istrinya.


"Nyonya baik baik saja, beliau hanya perlu beristirahat, untuk luka luarnya sebaiknya hindari air dulu untuk beberapa hari, luka luarnya mungkin akan meninggalkan bekas luka namun itu tidak perlu di khawatirkan, karena sekarang banyak metode untuk menghilangkan bekas luka."


Reyvan mengangguk, lalu Dokter beserta perawat meninggalkan ruangan Mahira.


Mahira yang di tinggalkan berdua saja bersama Reyvan hanya memejamkan matanya dan berpura pura tidur lagi.


"Sayang,"


Mahira tidak ingin menanggapi panggilan Reyvan.


Reyvan bingung dengan sikap Mahira, dia mengusap puncak kepala Mahira.


"Aku akan membeli sarapan dulu, sebentar lagi Vanilla akan datang. Maafkan aku karena terlambat menyelamatkan mu." ucap Reyvan menyesal.


Mendengar permintaan maaf Reyvan, Mahira segera membuka matanya dia menatap Reyvan dengan mata sayunya.


"Reyvan,"


"Umh..." Reyvan tersenyum.


"Selama aku pergi bagaimana hubunganmu dengan Karina?"


Reyvan mengerutkan keningnya tidak mengerti dengan pertanyaan Mahira.


"Biasa biasa saja, mengapa kamu menanyakan hubunganku dengan Karina?"


Mahira menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


Reyvan belum curiga dengan sikap Mahira yang acuh padanya, dia dengan santai meninggalkan Mahira begitu Vanilla tiba.


"Mahira, Akhirnya kami menemukanmu. Kau tahu kami sangat khawatir, beberapa hari ini kami bahkan tidak bisa tidur nyenyak." Cerocos Vanilla.

__ADS_1


Mahira tersenyum. "Maaf membuat kalian khawatir."


Vanilla memeluk Mahira. "Aku sangat takut saat kau berada di tangan pria sialan itu."


Mahira menepuk punggung sahabatnya itu menenangkannya. Di dunia novel ini Mahira hanya memiliki satu teman yaitu Vanilla, dia gadis yang baik dan tulus, Mahira asli sangat beruntung memiliki teman sepertinya.


"Daren sepertinya sudah berubah, entah kenapa aku merasa dia mencintaimu, tapi kalian adalah adik kakak. Yahhh.... meskipun tidak sedarah, jika hubungan kalian terjadi itu akan di anggap tidak normal oleh masyarakat." Ucap Vanilla tiba tiba.


Mahira menatap keluar jendela. "Yah..." Balas Mahira pelan.


Menurutnya yang di cintai Daren adalah Mahira asli, bukan dirinya dan mungkin saja yang di cintai Reyvan juga Mahira asli, bukan keinginan Mahira terjebak di tubuh ini, jika boleh memilih Mahira lebih baik menjadi jiwa yang berkeliaran dari pada harus berpura-pura menjadi orang lain.


Tapi Tuhan tahu, hanya ini satu satunya cara untuknya bisa kembali ke dunia asalnya.


"Oh ya.... Daren juga di rawat di rumah sakit, semalam setelah kamu di bawa pergi dengan ambulan dia pingsan. Dia sebelumnya mengalami kecelakaan cukup parah saat mengejar mobil yang menculikmu, tapi sepertinya Kendra dengan persiapan penuh membuat Daren kecelakaan." Jelas Vanilla.


Mahira tertegun, tiba tiba jantungnya berdetak cepat dengan rasa sakit yang sama saat dirinya pertama kali bertemu Daren di club.


Mahira memegang dadanya dan meringis kesakitan.


"Akhh...." Pekik Mahira.


Vanilla kaget. "Mahira apa yang terjadi? Aku akan memanggil Dokter,"


Vanilla menekan tombol dan tidak lama kemudian Dokter datang bersama suster.


Wajah Mahira semakin pucat seiring dengan rasa sakitnya yang semakin bertambah, sepertinya darah telah meninggalkan wajahnya.


"Akhh.... sakit..." sekali lgi Mahira memekik.


"Dokter...." Vanilla mulai menangis.


Suster mendorong Vanilla keluar dari bangsal lalu menutup pintu.


Nafas Mahira tersendat sendat dan jantungnya berdetak semakin cepat.


"Nyonya mohon tenang."


Dokter dan suster mulai bekerja membantu Mahira tenang dan memberi suntikan.


Tidak lama setelah obat di suntikan Mahira menutup matanya tak sadarkan diri.


...----------------...


"Vanilla mengapa kamu di luar?" tanya Reyvan.


"Kak Reyvan, Mahira tiba tiba sakit."


"Sakit bagaimana?" Tanya Reyvan bingung, karena saat dirinya pergi Mahira baik baik saja.


"Aku tidak tahu, tiba tiba saja Mahira mengeluh sakit sambil memegang dadanya."


Reyvan kaget ini kedua kalinya Mahira mengalami hal yang sama. Dokter tidak menemukan gejala penyakit apapun pada istrinya, tetapi hal berulang ulang terus terjadi.


Tidak lama kemudian Dokter keluar.


"Dokter bagaimana keadaan Mahira." Tanya Reyvan dan Vanilla bersamaan.


Dokter menghela nafas. "Untungnya Nyonya baik baik saja,"


"Mahira sakit apa?" Tanya Vanilla matanya mulai meumerah, dan air matanya juga meluncur tanpa bisa di tahan.


"Ini membuat saya bingung Nona, nyonya Mahira pernah mengalami hal yang sama namun tidak ada penyakit apapun yang kami temukan meskipun telah melakukan pemeriksaan tubuh secara menyeluruh, nyonya Daguezze sehat sehat saja."


Reyvan juga bingung.

__ADS_1


"Tapi tenang saja, setelah obat biusnya berhenti bekerja Nyonya Daguezze akan segera sadar kembali."


"Terimakasih Dokter." ucap Reyvan.


Dokter dan perawat berlalu, sedangkan Reyvan dan Vanilla masuk ke bangsal Mahira.


"Kak. Bagaimana dengan penculik dan Wanita jahat itu, apakah pria sialan itu sudah mengakui segalanya."


Reyvan tersenyum sinis dan ekspresi lembutnya berubah menjadi jahat. "Cepat atau lambat mereka akan menerima akibatnya."


Vanilla bergidik ngeri. Ekspresi Reyvan membuat siapapun yang melihatnya akan merinding.


...----------------...


Di kamar rawat lain Daren setengah berbaring sambil mendengar laporan kasus Mahira, sesekali alisnya mengerut saat mendengar hukuman yang di terima Nela dan Kendra menurutnya ringan.


"Lakukan apapun untuk membuat mereka di hukum lebih berat dari apa yang mereka lakukan."


"Baik..."


Mereka berani menyentuh Mahira nya, mereka berani menaruh pikiran jahatnya pada Mahira, maka jangan salahkan dirinya yang menjadi kejam.


Lean menatap Daren dengan perasaan sedih.


"Jangan menatapku seperti itu." tegur Daren.


"Boss..."


"Jangan beritahu ibuku dan siapapun apalagi Mahira tentang penyakitku, Aku tidak ingin menambah beban mereka lagi."


"Tapi Boss, aku yakin kamu bisa sembuh tumor otak itu bisa di angkat dengan mudah apalagi peralatan rumah sakit sekarang sangat canggih."


Daren tertawa. "Berhenti percaya pada harapan, ketika harapan menghianati mu, Kau pasti akan menambah luka."


Lean sedih mendengar Daren berkata seperti itu. Mereka sudah bersama dan hubungan mereka sudah seperti saudara, Lean ingin sekali melihat Daren bahagia, tapi sepertinya Tuhan tidak pernah memberikan yang baik untuknya.


"Pergilah, belikan aku makanan. Aku lapar," Ucap Daren sambil memejamkan matanya menolak bantahan Lean.


Lean buru buru pergi meninggalkan Daren sendirian di kamar.


Setelah Lean pergi, Daren membuka matanya, dia menatap langit dari jendela dan menggumamkan satu nama.


"Mahira..."


Di sisi lain tiba tiba terbangun seolah dia di tarik dari dimensi lain yang menjebaknya. Mahira tidak tahu yang barusan di alaminya mimpi atau nyata, dia berada di dunianya dan melihat kakeknya yang sedih setip hari sambil merawatnya yang sedang berbaring koma.


Mahira tadi ingin masuk ke tubunya terapi sepertinya seseorang mendorongnya dan menolaknya.


Mahira ingat dengan jelas seorang Dokter datang pada kakeknya dan mengatakan tidak perlu mengkhawatirkan biaya rumah sakitnya karena seseorang yang dermawan menanggung seluruh biaya rumah sakit sampai dirinya sembuh.


Seorang Polisi juga mendatangi kakeknya dan meminta keterangannya mengenai dirinya yang mencoba bunuh diri.


Bunuh Diri.... Sangat tidak masuk akal.


Mahira ingin berteriak dia tidak bunuh diri, memang benar dirinya mengkonsumsi obat tidur terlalu banyak tapi bukan bermaksud bunuh diri. Mahira benar benar tidak bisa tidur setelah melakukan operasi istri seorang Menteri lalu membaca novel, dirinya kesal karena rasa kantuk tidak datang, dan akhirnya Mahira minum obat tidur melebihi dosis.


"Mahira...." Reyvan memanggilnya.


Tiba tiba telinga Mahira berdengung dan suara seorang wanita muncul.


(Waktumu sampai tahun baru, jika dalam jangka waktu tersebut kau tidak menyelesaikan misimu. Kau tidak akan bisa kembali ke tubuh aslimu, dan tidak juga di tubuh yang sekarang.)


"Tidak!!!!!" Mahira berteriak sambil menutup kedua telinganya.


"Sayang, Mahira apa yang terjadi?" Reyvan panik melihat Mahira yang berteriak.

__ADS_1


Vanilla yang sedang tidur pun terbangun dan segera menghampiri Mahira.


__ADS_2