Kenapa Aku Pindah Ke Novel

Kenapa Aku Pindah Ke Novel
Jangan pergi.


__ADS_3

Keesokan harinya.


________________


"Aku tidak ingin pulang." Ujar Mahira.


Reyvan tidak memperdulikan ucapan Mahira, dia tetap menyisir rambut gadis itu dan mengikat sederhana.


"Sudah siap. Ayo kita pulang," Reyvan merapikan poni Mahira.


"Reyvan aku benar benar tidak ingin pulang." sekali lagi Mahira menyampaikan maksud hatinya.


Reyvan tersenyum, dia menatap Mahira lalu duduk di samping istrinya.


"Mahira, kita sudah sama sama dewasa kita suami istri. Cepat atau lambat kita harus menghadapi dan menyelesaikan masalah antara kita."


Mahira terdiam.


"Masa laluku memang buruk dan aku tidak bisa merubahnya sekarang, tapi selama kita bersama, aku tidak pernah menghianati pernikahan kita." Nada suara Reyvan terdengan lemah dan tertekan.


Tenggorokan Mahira tersendat, hidungnya sakit karena menahan tangis. Dia tidak mengatakan apa apa tetapi kebungkaman Mahira membuat Reyvan yakin Mahira mendengarnya.


"Aku tunggu di mobil," Reyvan pergi meninggalkan Mahira sendirian.


Mahira menghela nafas pelan setelah kepergian Reyvan, airmata nya tidak bisa lagi di tahan.


Mahira benar benar bingung dengan keadaan saat ini, menjadi istri Reyvan membuatnya tertekan, masa lalu Reyvan yang kembali dan Mahira juga belum di Terima sepenuhnya oleh keluarga Reyvan, dengan kedatangan anak Reyvan dari hasil hubungannya dengan Karina akan semakin mempersulitnya untuk kembali ke dunia aslinya.


Pintu kamar Mahira sedikit terbuka. Daren yang kebetulan lewat melihat Mahira menangis, dia berhenti dan mengetuk.


"Tokk...tokk....tok...


" Boleh aku masuk?" tanya Daren.


Mahira mengangguk sebagai jawaban, Daren pun masuk dan duduk di samping Mahira.


Mhira buru buru menghapus air matanya.


"Reyvan adalah pria yang baik, melihatnya aku bisa yakin dia sangat mencintaimu. aku dan Reyvan sama sama seorang pria, aku bisa melihat dia sangat tulus. Jadi pergi ikuti dia dan katakan segalanya, jika kamu mencintainya kau harus bisa menerima masa lalunya, jika tidak mencintainya, hentikan semuanya sekarang juga."


Mhira mendongak, tatapan Daren begitu meyakinkan. Mahira yang melihatnya seperti mendapat pencerahan.


"Terimakasih." dengan masih terisak, Mahira meninggalkan Daren untuk menyusul Reyvan.


Daren hanya terkekeh melihatnya, setelah memberi pidato gratis dan emosional, dia hanya di tinggalkan dengan ucapan terimakasih.


...----------------...


Reyvan sudah menunggu cukup lama, tapi Mahira belum keluar. Reyvan menyalakan mobilnya dan siap pergi, tetapi tiba tiba pintu mobil di sisi lain di buka dan Mahira masuk.


Reyvan menghela nafas pelan.

__ADS_1


"Maaf membuatmu menunggu lama."


"Tidak apa apa..." Jawab Reyvan lembut.


Reyvan mengemudi meninggalkan rumah Nyonya Nera.


...----------------...


Kediaman Daguezze.


Nenek Daguezze sangat marah mengetahui Reyvan yang tidak kembali dan mengabaikan Fridha.


"Telpon putramu sekarang, dia punya kewajiban lain. Anaknya baru saja kembali tapi dia berkeliaran bersama wanita itu." Nenek mengomel hingga membuat telinga ibu Reyvan serasa ingin di jahit karena putus.


Kakek sudah tidak bisa lagi menahan emosinya, baru saja beberapa potong roti yang beliau telan dan beberapa teguk susu tetapi kakek Daguezze memutuskan untuk pergi bersama Tuan Ruth.


"Suamiku..." Nenek Daguezze memanggilnya.


"Reyvan sudah dewasa, tidak perlu untukmu terus mengomeli orang orang di rumah, Biarkan Reyvan membujuk istrinya." ucap Kakek.


"Tapi Reyvan punya anak sekarang!"


"Bukankah ada Karina. Dia ibunya kan? Selama bertahun-tahun ini mereka hidup tanpa Reyvan baik baik saja. Lalu kenapa sekarang kalian menekannya, biarkan Reyvan menyelesaikan masalahnya bersama istrinya. Setelah itu dia akan merawat anaknya."


"Kamu membela wanita itu?" Teriak Nenek Daguezze sambil melotot.


"Yah! Jika kau berada di posisi Mahira, aku memiliki anak di luar nikah. Apa kau bisa mentoleransi nya?"


Kakek Daguezze sudah cukup sakit kepala dengan omelan nenek Daguezze, mereka suami dan istri tetapi sifat mereka bertolak belakang.


Nenek Daguezze tidak bisa berkata apa apa, beliau terdiam dan hanya bisa menatap punggung kakek Daguezze yang perlahan menghilang.


Tidak lama kemudian Mahira bersama Reyvan sampai dan keadaan tidak sekacau tadi, nenek Daguezze sedang istirahat di kamar di temani Karina, sedangkan ibu Reyvan sedang bermain bersama Fridha.


"Mom." Mahira menyapa Ibu Reyvan.


Ibu Reyvan tersenyum bahagia melihat Mahira yang kembali. "Syukurlah. Mom senang kaliann kembali."


"Iya Mom."


Fridha dengan wajah polosnya menatap Mahira lalu ke Reyvan secara bergantian.


"Dia siapa? Kenapa datang bersama Papa?" pertanyaan polos Fridha membuat punggung Mahira mengigil berkeringat.


Reyvan yang merasakan perubahan suasana hati Mahira, dia segera memegang tangannya erat erat dan menatap Fridha. "Fridha, wanita yang berdiri di sampingku adalah istriku yang sah, dan otomatis dia juga ibumu."


Fridha merengut jelas dari ekspresi nya gadis kecil itu menolak kebenaran tentang Mahira.


"Aku akan mencari Mommy." ucap Fridha lalu pergi tanpa memberi kesempatan Mahira untuk berbicara.


"Anak yang kurang sopan santun." komentar Mahira lalu melepas tangannya dari cengkraman Reyvan dan pergi ke kamar.

__ADS_1


Ibu Reyvan menatap putranya dengan kasihan.


"Jangan terlalu di fikirkan. Mahira dan Fridha masih membutuhkan waktu."


Reyvan tidak mengatakan apapun, tetapi diam diam setuju dengan pemikiran ibunya.


...----------------...


"Mommy..."


Karina menengok saat Fridha berbisik di belakangnya.


"Ada apa?" Karina menatap Fridha dengan tatapan dingin.


Fridha merasakan dirinya terancam dan langsung mundur dua langkah.


Tatapan kasih sayang yang beberapa hari ini Karina tunjukan hanya sebatas akting belaka untuk mengelabui keluarga Daguezze.


"Sekarang tidak ada orang. Jangan memanggilku Mommy."


Fridha menundukkan kepalanya dengan rasa bersalah.


"Maaf." Bisik Fridha.


Karina mendengus jijik, dia lalu duduk dan menyuruh Fridha juga duduk.


"Katakan." ucap Karina dengan nada perintah.


"Ah... itu, istri sah papa sudah kembali."


Mendengar apa yang di katakan Fridha, Karina sangat Marah.


"Sial! Wanita itu benar benar tidak menyerah."


Fridha ketakutan. "Tante..."


"Apa!" Karina melotot tajam dan membuat Fridha ketakutan lalu menunduk.


Karina tidak tahan dengan Fridha lalu menyuruh gadis kecil itu pergi dari kamarnya.


"Ingat jangan membuat kesalahan apapun atau sekecil apapun, jika kamu membuat kesalahan. Ibumu akan menanggung akibat yang kau buat."


"Y..ya ya..." ucap Fridha terbata.


Karina melambaikan tangannya menyuruhnya pergi.


Mahira bersembunyi tak jauh dari kamar Karina dan samar samar mendengar percakapan keduanya, senyum dingin terbentuk di bibirnya, matanya yang cantik menatap tajam pada pintu yang baru saja di tutup.


"Ayo kita bermain Karina."


Mahira kembali ke kamar Reyvan. Mahira tidak memiliki banyak barang di rumah keluarga Daguezze, karena barang barang di sini hanya kebutuhan untuknya dan Reyvan sementara, untungnya Mahira sudah packing untuk pergi ke Singapura dan di simpan di rumah nyonya Nera.

__ADS_1


Mahira terus memikirkan sikap buruk Karina pada Fridha, dia bertanya tanya bukankah Fridha adalah anaknya bersama Reyvan tapi Karina memperlakukan seolah Fridha bukan miliknya.


"Pasti ada sesuatu yang di sembunyikan Karina." gumam Mahira.


__ADS_2