
Waktu makan malam tiba. Saat Reyvan kembali dari kantor dia tidak kaget di rumahnya begitu banyak orang karena ibunya sudah memberitahukan nya, namun dari sekian banyak orang yang sedang berkumpul di rumahnya, hanya satu orang yang menjadi objek pencarian nya.
Mahira tidak terlihat saat ini. Reyvan mencari di setiap sudut tetapi Mahira tidak di temukan. Reyvan khawatir dia berbalik dan menabrak Nyonya Nera.
"Nak Reyvan. Ada apa?"
Reyvan yang tampak panik menatap Nyonya Nera.
"Dimana Mahira?"
Nyonya Nera kebingungan, memang dia dua puluh menit lalu Mahira bersama mereka, namun setelah itu gadis itu belum terlihat.
"Mama akan mencarinya,"
"Aku sudah mencari ke tempat yang kemungkinan Mahira datangi, namun tidak ada." Ucap Reyvan menghentikan langkah Nyonya Nera.
Ibu Reyvan yang melihat putra dan besannya berbicara serius dia pun menghampiri.
"Ada apa Nak?"
Reyvan menatap ibunya.
"Mahira tidak ada."
Ibu Reyvan kaget, dia menengok kiri kanan mencari Mahira bahkan Vanilla saja duduk bersama ibunya tanpa adanya Mahira.
Tiba tiba ponsel Reyvan berdering, panggilan masuk dari nomor baru.
Reyvan semakin ketakutan, Reyvan buru buru menggeser tombol hijau.
(Halo, Reyvan ini aku Daren. Aku sedang mengejar mobil Suv hitam yang membawa Mahira, dengan plat nomor xxxxxx, aku sudah menghubungi anak buahku untuk mengejar mereka, Kamu segera hubungi Polisi.)
Daren yang tidak menunggu jawaban Reyvan segera menutup panggilannya.
Reyvan keluar dari rumah dan masuk mobil, dia menghubungi Polisi seperti yang di katakan Daren. Reyvan juga menghubungi Sakian dan menyuruh Tim Tacky untuk membantu mengejar Suv hitam yang menculik Mahira.
"Reyvan!!!!" Nyonya Daguezze berteriak.
Kakek dan ayah Reyvan juga pergi kelua tapi Mobil Reyvan melesat dengan kecepatan tinggi.
"Ya Tuhan. Apa yang sebenarnya terjadi..." Nyonya Nera panik.
Karina dan Nenek Daguezze diam diam senang. Mereka menebak telah terjadi hal buruk pada Mahira.
Kakek Reyvan menghampiri istrinya.
"Kau dan Dia tidak melakukan hal hal buruk pada Mahira kan?" Tanya Kakek Daguezze sambil menunjuk bergantian antara nenek dan Karina.
Nenek melotot tak terima. "Apa yang ada di pikiranmu hanya kami yang jahat pada gadis itu, mungkin saja di luar sana banyak orang yang membencinya hingga ingin berbuat jahat padanya. Kenapa selalu menyalahkan kami."
Kakek Daguezze menatap istrinya. "Karena kejdian ini terjadi begitu kalian datang."
"Ya Tuhan... Ya Tuhan... Ya Tuhan... Lihat, suami yang aku temani dari aku muda, menuduhku dengan tuduhan keji semacam itu." Nenek menangis dan berteriak membuat keadaan semakin kacau.
__ADS_1
"Ibu, sebaiknya ibu pulang bersama ayah." Saran Tuan Daguezze.
Nyonya Daguezze juga mengangguk setuju dengan saran ayah Reyvan, tetapi tidak dengan Nenek Daguezze yang semakin naik pitam.
"Mengapa kalian begitu membenciku? Dari masih dalam kandunganku, aku membawamu dan merawat mu, inikah balasan mu padaku?"
Ayah Reyvan menghela nafas. "Bu, Kamu dalam kesehatan buruk, tidak baik berada di dalam kekacauan. Maka dari itu aku menyuruhmu pulang agar lebih tenang."
"Tidak. Aku tidak akan pulang, aku akan menginap di rumah Reyvan."
Semuanya terdiam, tidak ada yang menginginkan nenek berada satu rumah dengan Reyvan dan Mahira, apalagi Karina juga pasti akan tinggal.
"Pulang." Ucap Kakek tegas.
"Tidak!"
Ibu Reyvan menengahi keduanya. "Ayah, ibu. Sebaiknya kalian istirahat, dan menunggu kabar Mahira dari Reyvan, biarkan Karina tinggal di kamar yang sama dengan Vanilla."
"Tante... Aku tidak mau." Vanilla menolak.
Cecilia selaku ibu Vanilla menenangkan Vanilla dan berbisik. "Vanilla menurut saja, jangan menambah kekacauan."
Tanpa bisa menolak, Vanilla setuju tinggal satu kamar dengn Karina.
...----------------...
Di sisi lain Daren terus mengikuti suv hitam yang membawa Mahira sambil menghubungi setiap kaki tangannya, Suv hitam di kemudikan sangat lincah, orang yang mengemudi sangat tahu persis dengan jalan. Daren yang lihai dalam mengemudi pun sampai kewalahan mengejar Suv itu.
Daren menginjak gas mempercepat mobilnya, tetapi Suv itu juga menambah kecepatan tidak membiarkan Daren menyusul.
Tiba tiba sebuah Truk muncul dari arah lain jalan pertigaan dan menghalangi mobil Daren.
Daren segera membanting setir ke kiri membuat mobilnya kehilangan kendali, dan hampir menabrak pagar beton, untung saja Daren segera menginjak rem.
Kepala Daren membentur setir dan membuatnya pingsan karena benturan keras.
Pengemudi truk yang menghalangi jalan berlari ke kegelapan menghilang sebelum anak buah Daren tiba dan menangkapnya.
"Boss...." Lean membuka pintu mobil Daren dan membantunya keluar.
Daren bisa mendengar panggilan Lean tetapi matanya sulit terbuka karena rasa pusing.
"Mahira...." Satu nama yang Daren sebutkan sebelum benar benar tak sadarkan diri.
"Cepat kejar Suv hitam nya..." Teriak Lean.
Lean akan membawa Daren ke rumah sakit, takut penyakit lama bossnya kambuh karena Mahira.
...----------------...
Reyvan Mengikuti arahan Daren, dengan bantuan Polisi melacak plat nomor Suv yang menculik Mahira, Reyvan mengikuti titik merah yang menjdi target.
Reyvan mengerutkan keningnya ketika titik merah yang berjalan kini berhenti di suatu tempat, Reyvan berpikir Mahira mungkin di bawa kesana. Reyvan tancap gas dan mempercepat laju mobilnya.
__ADS_1
"Cepat datang ke arah timur bagian kota, di dekat pabrik tekstil kosong." Ucap Reyvan pada Sakian di ujung telfon.
"Jangan sampai terlambat, siapapun yang berani menyentuh dan menyakiti Mahira ku, jangan beri ampun..." Lanjut Reyvan.
Reyvan mematikan earphone Blotthoot setelah memberi intruksi pada Sakian.
Reyvan tidak tenang, dia ingin segera menemukan Mahira, Reyvan takut orang yang menculik Mahira akan menyakitinya.
Sambil mengemudi Reyvan memikirkan siapa di antara musuhnya yang berani menculik Mahira, tapi Reyvan tidak bisa menebak siapa itu.
"Sial!!!" Reyvan memukul setir sebagai pelampiasan kemarahannya.
...----------------...
Mahira membuka matanya sedikit saat seseorang menggendongnya keluar dari Suv lalu memindahkan nya ke Suv putih.
Mahira melihat pria muda yang tampan menggendongnya. Mahira ingin tertawa, memikirkan apakah penculik sekarang memiliki wajah yang tampan seperti seorang selebritis, bahkan Mahira pikir wajah si penculik tidak asing.
Setelah Mahira di pindahkan ke mobil lain Mahira tidur kembali karena efek obat bius. Si penculik mengenakan kembali maskernya dan masuk ke mobil, dia mengemudi berlawanan arah berbaur dengan mobil yang selesai melakukan kompoi.
Tidak lama setelah penculik pergi, Reyvan dan anak buahnya tiba. Reyvan mencari ke setiap sudut memeriksa apakah Mahira di sana, tetapi tidak ada sedikit pun jejak Mahira selain Suv hitam dan kalung Mahira yang menjadi hadiah ulang tahun Reyvan waktu itu.
Reyvan mengambil kalung itu, dia memegangnya erat seolah kalung itu adalah Mahira.
"Mahira kamu dimana?" lirihnya.
...----------------...
Keesokan paginya.
Mahira membuka matanya, kaki tangannya yang di ikat membuatnya sulit bergerak, yang pertama Mahira liht adalah atap berwarna putih dengan lampu yang masih menyala.
Mahira ingin bangun tetapi dia kesulitan karena kaki dan tangannya yang di ikat, Mahira hanya bisa bergerak gerak di tempat mencoba melepaskan diri.
Tiba tiba pintu di buka, Mahira melihat pria semalam datang membawa nampan berisi makanan.
Pria itu menaruh nampan di meja dan membantu Mahira melepaskan ikatan di tangannya.
"Kamu tidak akan bisa lari dari sini, jadi jangan membuang buang tenagamu untuk kabur dari sini." ucap Pria itu.
"Kamu Kendra, Aktor dengan bayaran termahal?." Tanya Mahira spontan setelah mengingat pria itu.
Ken memperbaiki posisi kaca matanya. "Bagus kamu mengenalku, Nyonya Daguezze."
Mahira termenung, dia jelas tidak saling kenal dan tidak memiliki dendam pribadi, tetapi apa motif Ken menculiknya.
"Bingung mengapa aku menculik mu?" Tanya Kendra.
Mahira menatap Kendra.
"Nela adalah kakak angkat ku,"
Mahira kaget. Tanpa Kendra menyelesaikan kata katanya Mahira bisa menebak dengan jelas apa motif Ken si aktor terkenal menculiknya.
__ADS_1