
Daren bersama Lean menyusuri kembali tempat terakhir Mahira berada, dia berusaha mencari petunjuk walaupun petunjuknya kecil ibarat mencari jarum di atas tumpukan jerami, tetapi Daren tidak ingin menyerah.
"Boss... Kamu masih sakit, tidak baik-"
"Jika kau tidak ingin membantuku, sebaiknya kau pergi biarkan aku mencarinya sendirian." potong Daren.
Lean tidak berani lagi membujuk Daren, dia hanya diam dan mencari petunjuk.
Daren menyipitkan matanya saat melihat ada bekas ban mobil lain selain dari Suv hitam yang membawa Mahira malam itu.
"batre." Ujar Daren.
Lean segera menyerahkannya.
Daren mengambil fotonya dan memperbesar.
Ban mobil ini di buat khusus, tidak sembarang orang bisa memilikinya apa lagi ada inisial K di tanah yang tercetak.
"Cari tahu siapa saja pembeli ban khusus ini."
Lean tahu kemana dia harus mencari tahu, tanpa bertanya lagi Lean segera menjalankan tugasnya.
Daren cukup puas dengan penemuan barunya, dia duduk santai di dalam mobil mengistirahatkan tubuhnya yang belum benar benar pulih.
Daren mengambil ponsel setelah cukup lama memejamkan matanya, dia ingin berbagi informasi dan memberitahu Reyvan tentang penemuannya.
(Hallo)
Daren terdiam saat mendengar suara seorang wanita.
Daren memastikan apakah nomor ini benar-benar milik Reyvan.
(Hallo, siapa di sana?)
Daren menarik nafas. "Aku Daren, ingin berbicara dengan Reyvan."
Karina yang berada di sisi lain tertegun, tiba tiba dia memiliki ide.
(Oh...Maaf, Reyvan sedang mandi. Dia ingin bersiap tidur.)
Daren terdiam.
"Bukankah Karina adalah mantan kekasih Reyvan, kenapa Reyvan malah bersamanya bukannya mencari Mahira." Batin Daren.
Daren tidak mengatakan apa apa, dia langsung menutup panggilan telepon tanpa berpamitan.
Rasa marahnya membuat Daren semakin membenci Reyvan. Di saat Mahira di culik, Reyvan sibuk merajut kasih bersama mantan kekasihnya.
"Boss..." Lean memanggil.
Daren menoleh.
"Boss, pemilik mobil yang menculik nona Mahira adalah Aktor terbaik Kendra."
Daren mengerutkan keningnya mengingat wajah orang yang di sebutkan Lean.
"Motifnya menculik Mahira apa? Setahuku Mahira tidak pernah berhubungan dengan pria ini."
Lean menyerahkan ponselnya menunjukan berbagai informasi tentang Kendra yang tidak di ketahui banyak orang.
Dalam catatan tertulis Kendra seorang yatim piatu yang di besarkan di panti asuhan yang sama dengan Nela. Nela dan Kendra memiliki hubungan baik layaknya saudara.
Daren menyerahkan kembali ponsel Lean.
"Cari tahu properti apa saja yang di miliki si Aktor sialan ini, dan temukan dimana kemungkinan dia menyekap Mahira." Printah Daren.
Tanpa menunggu waktu lebih lama Lean sigap menghubungi seseorang, setelah itu Daren menyuruh Lean menghubungi Sakian untuk melaporkan tentang Mahira, masa bodo dengan Reyvan yang sibuk bersama mantan kekasihnya, yang jelas Daren sudah memberi tahunya. Jika Reyvan tidak ingin ikut menyelamatkan Mahira, Daren sendiri sanggup menyelamatkannya.
...----------------...
Mahira berusaha kerasa bersikap normal memperlakukan Kendra seperti seorang teman, karena hanya ini cara agar dirinya bisa melemahkan kewaspadaan Kendra dan Mahira bisa diam diam kabur dari tempat ini.
"Hai, baunya sangat enak..." Ucap Mahira dengan senyum lebar.
Kendra yang senang di puji dengan semangat menyelesaikan masakannya.
"Duduk sebentar lagi makanannya akan siap." Ujar Kendra sambil menujuk kursi dengan dagunya.
Mahira mengangguk antusias, dia duduk tepat di tempat Kendra suruh.
__ADS_1
Kendra cukup puas dengan kepatuhan Mahira, tanpa rasa curiga Kendra membiarkan Mahira berkeliling melihat lihat Villanya.
"Villanya sangat indan, nyaman untuk sekedar istirahat dari kesibukan." komentar Mahira.
Kendra membalas komentar Mahira dengan anggukan pelan sembari memotong sayuran.
Mahira melirik ponsel Kendra yang tergeletak di atas lemari pendek tak jauh dari tempatnya duduk, Mahira menarik nafas sambil melihat Kendra yang sibuk.
Berpura pura mengobrol dengan Kendra dan bertanya tentang banyak hal, diam diam mengambil ponsel Kendra dan menyembunyikan nya di balik bajunya.
hufhhh~
Mahira merasa aman untuk sementara waktu, dia sekarang harus pergi menghindari Kendra ke tempat lain.
"Kendra, aku perlu ke toilet sebentar." Ujar Mahira.
Kendra mengangguk menatap Mahira sebentar.
Mahira yang telah mengetahui dimana letak toilet segera pergi.
Di dalam toilet Mahira mengunci diri, dia buru buru mengeluarkan ponsel Kendra untungnya ponsel Kendra tidak di kunci dengan pin, pola ataupun sidik jari.
Mahira memiliki ingatan yang baik dia dengan mudahnya mengingat nomor Reyvan dan mengetik nya buru buru.
Tutttt.............
Nada sambung mulai berdering, Mahira dengan perasaan was was menunggu Reyvan menjawabnya.
Tutttt..........
(Hallo....)
Mahira terdiam, suara seorang wanita yang menjawab panggilan dari ponsel Reyvan.
(Hallo siapa ini, apa ada yang bisa saya bantu? Reyvan sedang di kamar mandi.)
Rasa panas dan sakit tiba tiba menusuk mata Mahira, dan air mata meluncur begitu saja.
(Hallo.... siapa di sana.)
Mahira sangat mengenal pemilik suara itu.
Dirinya menghilang karena di culik, tetapi Reyvan sepertinya begitu santai dan menikmati waktu bersama dengan Karina.
Mahira menangis tanpa bisa di tahan, dadanya sakit.
Setelah menangis hampir sepuluh menit Mahira segera mengetik nomor Daren dan menghubunginya.
Tutt.......
Mahira menunggu Daren menjawab telfonnya....
(Hallo...)
Mahira gembira setelah mendengar suara Daren di ujung sana.
"Daren...." Tanpa sadar Mahira berteriak.
Brraakkkkkk.....
"Braninya kamu!!!!! "
Plakkkkkk......
...----------------...
Jantung Daren hampir meledak saat mendengar tamparan kencang dari ujung sana.
"Mahira....."
Tut.. tut... tut.. tut...
"Boss..." Lean menatap Bossnya.
"Mahira!!! Mahira... Sial!!!!"
Daren sangat marah dan panik, dia menatap Lean dan bertanya. "Apa villanya sudah di temukan?"
"Ya... Villanya berada di gunung pinggiran kota bagian timur." Jawab Lean.
__ADS_1
Daren mengepalkan tangannya, dia ingin sekali membunuh Aktor sialan yang menculik Mahira.
"Panggil seluruh orang di organisasi menyusul kita," perintah Daren.
"Baik Boss."
"Apa kau sudah memberitahu asisten Reyvan?"
"Yah..."
Daren mengangguk, setelah itu mereka pergi ke lokasi di mana Mahira berada.
...----------------...
Reyvan baru saja selesai mandi, dia keluar dari kamar mandi sambil menggosok rambutnya dengan handuk.
"Kenapa kau di sini?" Reyvan mengerutkan keningnya.
Karina tersenyum menyembunyikan ketakutan nya.
"Aku ingin memberitahumu, Nenek tiba tiba sakit perut."
Reyvan yang setengah telanjang membuat Karina meumerah dari waktu ke waktu, apalagi tubuh Reyvan tegap dan atletis, dia merawatnya dengan baik di tengah kesibukan perusahaan.
"Aku akan menemui nenek. Keluar dari kamarku."
Karina keluar dari kamar Reyvan meskipun tidak mau.
Brakkkk......
Begitu Karina berdiri di depan pintu kamar Reyvan, pintu di tutup dengan keras dari dalam. Tidak perlu di tanya siapa yang melakukan itu karena sudah pasti jawabannya.
Karina terdiam dengan ekspresi kaku menatap pintu jati di depannya. Kedua tangannya terkepal erat merasa di permalukan oleh Reyvan, tetapi dirinya tidak bisa berbuat apa apa selain diam dan menerima.
...----------------...
Villa Kendra.
Mahira mendorong Kendra hingga pria itu jatuh, Mahira mengambil ponsel yang jatuh terpental akibat dari tamparan Kendra padanya yang membuat Mahira jatuh.
Sudut bibir Mahira robek dan darah segar keluar dari sana.
Mahira mengabaikan rasa perih dan berusaha sekuat tenaga untuk berdiri dan mendorong Kendra.
Mahira melihat Kendra mulai bangkit, dia buru buru berlari mencari pintu utama untuk melarikan diri, tetapi beberapa kali Mahira salah karena desain rumah ini sangat rumit.
Kendra mengikuti kemana Mahira berlari sambil tertawa mengejek, senang dengan kesulitan Mahira Kendra berdiri sambil melihat Mahira yang berlarian.
"Kau tidak akan bisa lari dari sini." Ucap Kendra.
Mahira melemparkan vas mahal tepat di depan Kendra yang ingin mendekat.
"Aku akan keluar dari tempat terkutuk ini, kau boleh percaya ataupun tidak."
Kendra tersenyum mempesona, dengan senyumnya orang akan terpana dan memuja ketampanannya, tetapi untuk Mahira tidak sama sekali karena jenis ketampanan yang melebihi Kendra sudah pernah dia lihat, ketampanan Kendra di bawah Reyvan dan Daren.
"Mahira, berperilaku baik. Aku tidak akan menyakitimu, percayalah..." ujar Kendra menatap Mahira penuh cinta.
"Cih....Jangan harap."
Kendra tidak marah dengan penghinaan Mahira, dia menyukai Mahira dari sejak pertama melihat foto Mahira.
Mahira melihat sebuah kunci dan buru buru mengambilnya, dia berlari lagi dan menggunakan instingnya menebak pintu.
Kendra mengejarnya, dan aksi saling kejar dengan lemparan benda benda pun terjadi.
Villa yang tadi rapih bersih dah nyaman berubah menjadi villa setelah di serang badainangin topan.
Kendra kesulitan karena benda benda pecah dah barang barang yang berserakan di lantai.
Mahira menggunakan waktu itu dengan pergi ke sebuah pintu yang di yakininya pintu keluar.
Treekkk....
Kunci berhasil di purar, Mahira menarik gagang pintu dan membukanya. Angin berhembus seketika,.
Mahira sangat bahagia, dia buru buru keluar dan mengunci pintu dari luar.
Kendra yang melihat tingkah Mahira tertawa.
__ADS_1
"Naif...." ucapnya.
Mahira tidak peduli dia berlari ke tempat yang salah, yang jelas dirinya tidak ingin berada di tempat sial yang sudah mengurungnya hampir empat hari.