Kenapa Aku Pindah Ke Novel

Kenapa Aku Pindah Ke Novel
Bagiku itu hanya omong kosong.


__ADS_3

Daguezze Mansion.


Duduk santai sambil memainkan ponselnya, Karina tidak menyadari asisten Kakek Daguezze berada di belakangnya dan sedang mengintip apa yang di lakukan Karina hingga sibuk bermain.


Tuan Ruth masih memiliki penglihatan yang baik meskipun usianya tak lagi mudah, dia mengikuti Kakek Daguezze dari sejak kakek Daguezze memulai debut bisnisnya setelah keluar dari ketentaraan.


Mereka berjuang dari medan tempur hingga ke medan usaha, mereka saling mendukung dan menghargai satu sama lain seperti seorang saudara.


Karina;( Dad tenang saja, secepatnya aku akan membuat Reyvan kembali bertekuk lutut padaku dan aku akan segera menjadi istri tuan muda Daguezze, bisnis ayah akan selamat dan tidak perlu menghawatirkan nya lagi.)


Tuan Ruth mengangkat alisnya setelah membaca pesan pesan yang di kirimkan Karina pada Tuan Wilson.


Karina segera menoleh saat menyadari ada orang lain di belakangnya, sedangkan Tuan Ruth segera berdiri tegak dengan ekspresi pokernya.


"Nona Karina, Nyonya Tua memanggil anda."


Karina menunduk sambil menyembunyikan ponselnya.


"Terimakasih paman Ruth."


Tuan Ruth tidak mengatakan apapun, beliau segera pergi tanpa menunggu Karina.


Karina mendengus jijik setelah Tuan Ruth tidak terlihat. "Cih,... pelayan yang rendah beraninya menatapku seperti itu." dumel Karina.


"Lihat saja. Setelah aku menjadi nyonya muda Daguezze, aku akan membuat hidupnya seperti dineraka."


Karina sudah menandai satu persatu orang yang menyinggung nya saat ini dan akan membalaskan dendamnya nanti.


Karina menarik nafas menenangkan rasa marahnya, dia berlatih tersenyum karena dia harus telihat lembut dan ramah di depan Nenek Daguezze.


...----------------...


Nenek Daguezze sibuk mengemas makan ke dalam kotak makan, dia dengan hati hati menaruhnya di dalam tas. Karina mengerutkan keningnya, kebingungan dengan apa yang di lakukan Nenek Daguezze.


"Nenek, apa yang sedang kamu lakukan? kenapa kamu sibuk sendiri tanpa memanggil aku?" Tanya Karina, ekspresi nya penuh dengan keluhan.


"Tidak apa apa, ini hanya mengemas makanan. Kamu harus membawa ini ke kantor Daguezze Group, Reyvan pasti belum makan, dia sering sibuk dan lupa kebutuhan perutnya."


Karina terharu. "Nenek, terimakasih masih mendukungku untuk bersama Reyvan."


"Gadis bodoh. Aku sejak dulu menyukaimu, hanya saja gadis urakan itu muncul dan menghancurkan segalanya." Nenek Daguezze menghela nafas penuh penyesalan.


Karina diam diam tersenyum, inilah yang dia harapkan. Mahira di benci oleh seluruh keluarga Daguezze. Maka dengan begitu Karina akan lebih mudah menyingkirkan Mahira.


"Apa Nenek akan ikut denganku?" Tanya Karina.


Nenek Daguezze menggeleng, "Tidak. aku akan tinggal di rumah, kamu saja yang menemui Reyvan dan buat dia terkesan.


" Oke nenek..."

__ADS_1


Karina merasa seperti berada di atas angin, dia dengan gembira pergi ke gedung Daguezze grup tempat dimana Reyvan sedang bekerja.


Dari awal hingga akhir Karina tersenyum bahagia dia terus membayangkan ekspresi Reyvan yang tersentuh dengan tindakannya ini.


Sesampainya di Gedung Daguezze Group.


Karina di sambut ramah oleh gadis yang menjadi Resepsionis, karena Karina pernah datang bersama Nene Daguezze, Resepsionis itu tidak berani menyinggung Karina.


"Nona Wilson Selamat datang," ucapnya lembut.


Karina tersenyum, dia dengan bangga dan percaya diri memasuki lift dan pergi ke lantai atas dimana ruangan Reyvan berada.


Tidak membutuhkan siapapun untuk menunjukan jalan, Karina terus melangkah sembari tersenyum menyapa karyawan yang kebetulan lewat.


"Aku adalah calon nyonya muda Daguezze, cepat atau lambat mereka akan membungkuk menyambutku." Batin Karina.


Sesampainya di depan ruang Reyvan, Karina semakin melebarkan senyumnya, sebuah kilau kebahagiaan muncul di matanya.


Tangan Karina memegang knop pintu tetapi tiba tiba seseorang memegang tangannya dan mencegah nya.


"Maaf Nona Wilson anda tidak bisa masuk." ucap Sekretaris Reyvan yang entah datang darimana.


Karina menatap sengit Sekretaris itu.


"Kau pikir kau siapa? Beraninya kau-"


"Aku yang menyuruhnya untuk mencegahmu masuk." Tiba tiba Mahira membuka pintu ruang Reyvan dan berdiri dengan tangan di depan dada tanpa ekspresi.


Mahira menelisik Karina dari atas sampai bawah lalu fokus ke kotak makan yang ada di tangan Karina.


"Nona Wilson sangat berkemauan keras dengan membawa makanan untuk seorang pria beristri." Sindir Mahira.


Karina menyembunyikan kontak makan di belakang tubuhnya.


"Ini... Aku membawanya karena Nenek Daguezze memintaku untuk mengantarkannya, beliau khawatir Reyvan kelaparan."


Mahira menatap malas Karina, alasan yang di buatnya sangat klasik dan membosankan. Mahira menguap. "Alasan yang membosankan. Tolong segera pergi jangan ganggu suamiku lagi."


"Mahira.Kau tidak bisa melakukan ini. Bagaimanapun makanan ini di buat oleh nenek Daguezze dengan penuh kasih sayang."


Mahira mencibir. "Lalu kau bisa memberikan nya padaku dan dengan senang hati aku akan menyampaikan kasih sayang nenek untuk suamiku."


Jelas Karina tidak ingin melakukan itu, bagaimana dia bisa mendekati Reyvan jika satu satunya alasan di ambil oleh Mahira.


"Ffttttt--- Tidak mau kan? pergi." Mahira berbalik dan menutup pintu dengan bunyi brak yang mengagetkan Karina dan Sekretaris Reyvan.


Karina sangat malu, kulit wajahnya berubah merah antara malu dan marah.


"Nona Wilson silahkan kembali." ujar Sekretaris.

__ADS_1


Karina masih enggan dan berdiri untuk beberapa saat, dia berharap Reyvan akan datang dan melihatnya, dengan cara itu Karina akan mengadukan sikap Mahira yang memperlakukan nya dengan buruk bahkan tidak memberinya wajah di depan karyawan rendahan seperti Sekretaris Reyvan.


"Ada apa ini?"


Seperti mendapat cahaya ketika dalam kegelapan, Karina menoleh dan melihat Reyvan berjalan bersama Sakian.


"Reyvan..." Karina memanggilnya dengan lembut.


Reyvan mengerutkan keningnya.


"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Reyvan.


Karina tersenyum, air mata yang sempat menumpuk di pelupuk matanya kini jatuh di pipinya. "Aku datang karena nenek Daguezze menyuruhku mengantarkan makanan ini, nenek takut kamu terlalu sibuk dan lupa makan."


Reyvan melirik kotak makan di tangan Karina.


"Aku sudah makan, istriku sudah memberi aku makan." kata Reyvan dingin.


Karina terdiam, tangannya yang memegang kotak makan mengepal hingga setiap buku jarinya memutih.


"Tapi Reyvan-"


"Sakian, bukankah kau belum makan? Ambil kotak makan itu dan makan, setelah itu kembalikan kotaknya pada nona Wilson untuk di bawa pulang sebagai bukti pada nenek." ucap Reyvan tanpa mendengar Karina menyelesaikan kata katanya.


Sakian mengambil kotak makanan yang di bawa Karina. "Terimakasih Nona Wilson." ucap Sakian lalu pergi ke ruangannya.


"Reyvan..." Karina ingin mengikuti Reyvan ke ruangannya tetapi tiba tiba pria itu berbalik menatap sengit Karina.


"Jangan datang lagi dan mengganggu ku. Aku muak melihatmu berkeliaran di sekitar ku, selama ini aku diam karena aku menghormati nenek yang menyayangimu. Tetapi toleransi ku sudah cukup. Mulai saat ini jangan berani berani menenpel padaku dengan alasan hubungan masalalu. Bagiku itu hanya omong kosong."


Karina terdiam, dia hanya bisa menatap punggung Reyvan yang perlahan menghilang.


Merasa di permalukan untuk kesekian kalinya, Karina langsung pergi dari kantor Reyvan tanpa memperdulikan kotak makan yang di bawanya.


...----------------...


Mahira duduk di kursi yang biasa di duduki Reyvan. Mahira menirukan sikap Reyvan saat memarahi pegawainya yang lalai.


"Apa ini pekerjaanmu? Kebodohan apa yang kau lakukan, berapa lama kau bekerja di Daguezze group? Kau masih tidak tahu dimana letak kesalahanmu. Ulangi dan kerjakan ulang, aku tidak mau tahu kalian selesaikan malam ini juga. Jangan berani pulang sebelum menyelesaikan nya."


Mahira tertawa lalu berdiri dan berhambur ke pelukan Reyvan.


"Bagaimana? Apakah aku sudah cocok menjadi Ceo?" tanya Mahira.


Reyvan balas memeluk Mahira lalu membawanya ke sopa dan jatuh bersama sama di sana.


"Awww..." Mahira menjerit karena tubuhn Reyvan begitu berat membebani nya.


"Ceo kecil yang imut."

__ADS_1


Reyvan mengigit hidung Mahira dan membuat Mahira tertawa...


__ADS_2