Kenapa Aku Pindah Ke Novel

Kenapa Aku Pindah Ke Novel
obsesi


__ADS_3

Pagi kemudian.


Mahira tidak bisa tidur nyenyak setelah pertengkarannya dengan Reyvan semalam, kantung mata begitu jelas membuatnya terlihat seperti panda, kepalanya juga sedikit pusing. Mahira memijat pelipisnya.


Tiba tiba pintu di buka dan Reyvan masuk dengan bantal yang semalam, dia meletakan bantal di sisi tempat tidur lainnya lalu berjalan ke kamar mandi tanpa berbicara dengan Mahira.


Mahira juga mengabaikan Reyvan, dia tidak ingin berbicara dengan Reyvan.


Mahira beranjak dari tempat tidur dan kaget saat melihat bercak darah di seprei.


"Ya Tuhan." Mahira memeriksa baju bagian belakang dan benar di sana ada bercak yang sama.


Siklus menstruasi nya yang pertama setelah dia datang ke novel.


Mahira menggulung seprei dan menggantinya dengan yang baru.


"Kenapa harus datang sekarang sih, aku pikir di novel tidak akan datang bulan." keluh Mahira sambil memasang seprei baru.


Reyvan keluar dari kamar mandi dan berdiri di belakang Mahira dia melihat cetakan merah di gaun tidurnya.


"Ada apa?" Reyvan menghampiri Mahira.


Mahira kaget, dia buru buru berbalik menyembunyikan bagian belakang tubuhnya.


Reyvan sudah melihat segalanya, dia membuka setiap laci mencari pembalut dan memberikannya pada Mahira setelah di temukan.


"Aku sudah membelinya, merek ini yang biasa kamu pakai." ucap Reyvan.


Mahira kaget dan sangat malu, dia mengambil pembalut. "Terimakasih..." Ucap Mahira.


Reyvan mengangguk, lalu di pergi ke walk in closet.


Mahira menatap punggung Reyvan yang perlahan menjauh dan menghilang ketika pintu walk in closet di tutup.


Setelah cukup lama berdiri dan melamun, Mahira pergi ke kamar mandi, dia menaruh seprei kotor di keranjang cuci.


...----------------...


Saat sedang sarapan Reyvan, ibunya dan nyonya Nera sedang duduk menunggu Mahira datang.


Nela yang sudah mendapatkan tugas langsung dari Reyvan, seperti biasa membuatkan kopi untuk Reyvan, tingkahnya yang terlihat biasa saja tidak membuat Reyvan dan ibunya curiga.


Ibu Reyvan memuji Nela karena pekerjaannya sangat bagus, teh dan kopi buatannya sangat pas dan cocok di lidahnya.


"Mahira masih belum turun juga?" Nyonya Nera bertanya.


Ibu Reyvan menatap putranya yang tak menjawab.


"Reyvan, apa kalian bertengkar?" Tanya ibu Reyvan.


Reyvan dengan santai menyeruput kopinya, dia melihat sebentar pada ibunya lalu fokus kembali pada koran bisnisnya.


Ibu Reyvan menghela nafas pelan, dia tahu dengan benar jika putranya bersikap seperti ini, itu artinya apa yang dia tanyanya memang benar.


"Tidak baik bertengkar lama lama, Mahira lebih muda darimu, sebagai yang lebih tua kamu harus bisa lebih memahaminya." nasehat ibu Reyvan.


Reyvan terdiam. Ibunya mengatakan dirinya lebih tua seolah olah dirinya benar-benar tua dan sangat tua seperti seorang kakek. Reyvan mengingat pertengkaran nya semalam dengan Mahira, Mahira mengatakan Seorang anak seperti Mahira tidak bisa tidur dengan pria dewasa seperti Reyvan, atau orang akan salah paham dan mengira Reyvan seorang fedofilia.


Jelas itu adalah sindiran pedas karena Reyvan menyebut Mahira kekanak kanakan.


Tidak lama kemudian Mahira turun dan ikut bergabung dengan ketiganya, Mahira tampak lesu dan pucat, perutnya sakit karena siklus menstruasi nya.


"Rena, buatkan rebusan gula merah untuk nyonya." perintah Reyvan yang kebetulan Rena mengantarkan jus.


"Baik Tuan." Rena Kembali ke dapur.

__ADS_1


Mahira tidak ingin bicara banyak karena rasa sakit di perutnya. Reyvan tidak tega melihatnya kesulitan seperti itu, dia berpindah duduk lebih dekat ke Mahira.


Reyvan mengulurkan tangannya mengusap perut Mahira.


"Ayo kita pergi ke Dokter,"


Mahira menggelengkan kepalanya.


"Tidak apa apa, aku hanya butuh istirahat." jawab Mahira.


Rena yang di perintahkan Reyvan membuat rebusan gula merah akhirnya datang setelah lebih dari lima menit.


"Tuan rebusan gula merah untuk Nyonya,"


Reyvan mengambil mangkuk rebusan gula merah dan meniupnya sebentar.


Mahira tersentuh dengan perhatian Reyvan, kemarahan nya yang semalam perlahan memudar.


"Perutku sakit, sangat sakit." Keluh Mahira.


Reyvan mengusap kepala Mahira. "Aku akan memanggil dokter keluarga, kamu istirahat. Aku akan pulang lebih cepat untuk menemanimu."


Mahira mengangguk setuju.


"Sekarang minum rebusan gula merah ini, setidaknya akan mengurangi sedikit rasa sakitnya." ucap Reyvan.


Untungnya ramuan itu hanya gula yng memiliki rasa manis, Mahira juga menyukainya, Jika rasa ramuan itu pahit Mahira akan menolak meminumnya.


Nyonya Nera dan Ibu Reyvan berpura pura tidak melihat mereka dan bersikap seolah dunia mereka berbeda.


"Sarapan dulu, setelah itu aku akan mengantarmu kembali ke kamar." Reyvan menyuapi Mahira.


...----------------...


Rena pergi mencari Nela setelah dirinya mengantar rebusan gula merah, Rena ingin memastikan sesuatu tentang kecurigaannya.


Rena bertekad untuk membuat Nela berhenti berkhayal dan membuat gadis itu sadar dengan posisinya, meskipun usianya lebih muda dari Nela, tapi Rena akan tetap mengingatkan Nela apa yang dia lakukan adalah kesalahan.


Rena mencari Nela kemana mana yang kemungkinan Nela melakukan pekerjaannya, tetapi dia tidak menemukannya, kecurigaan Rena semakin kuat saat ini.


"Rena, kenapa kamu berlarian? Masih banyak pekerjaan yang belum di urus." Kepala pelayan yang tak lain adalah ayah Rena mengingatkan.


"Ayah, apa kamu melihat kak Nela?"


Ayah Rena mengerutkan keningnya mengingat dimana dia melihat Nela terakhir kali.


"Terakhir kali ayah melihat Nela berada di ruang cuci."


Rena mengangguk paham, dia segera berlari tanpa memperdulikan panggilan ayahnya.


...----------------...


Obsesi yang berlebihan membuat seseorang menjadi delusi. Nela mengalami hal yang sama, obsesi nya membuatnya hampir gila dan berbicara sendiri pada pakaian Reyvan yang belum di cuci.


Nela Mencium baju kotor Reyvan dan menghirup aroma tubuh Reyvan yang tertinggal.


"Huffhhh~...."


Nela memejamkan matanya menikmati setip hembusan yang memasuki indra penciumannya.


"Reyvan aku sangat mencintaimu. Kamu adalah milikku...Hanya miliku." Ucap Nela dengan ekspresi gila dan obsesi.


"Kak Nela!!!!!"


Tiba tiba suara lantang Rena bergema menyebut nama Nela.

__ADS_1


Nela segera menyembunyikan baju kotor Reyvan di belakang tubuhnya.


Rena berjalan dengan langkah kasar ke arah Nela, dia mengambil baju Reyvan.


"Kak Nela, Kamu... kamu menyukai Tuan Reyvan."


Nela menatap Rena tanpa berkedip, dia tidak berkata ya atau tidak dia hanya menatap Rena terus.


"Kak Nela. Kau benar benar menyukai Tuan Reyvan?"


"Ya. Aku menyukainya, dan aku sangat mencintainya."


Rena terdiam, dia berfikir Nela akan menyangkalnya tapi ternyata Nela mengakuinya.


"Kak Nela, jika Tuan Reyvan tahu dia tidak akan memaafkanmu."


Nela tertawa sinis. "Jika kau diam Reyvan tidak akan mengetahuinya."


Gambaran Nela yang baik dan lembut hancur begitu saja, berubah menjadi Nela yang kasar dan sinis.


"Aku akan memberi tahu Tuan Reyvan dan Nyonya Mahira..." Rena berbalik pergi, tetapi baru saja tiga langkah Rena berjalan, Nela menarik baju Rena dan tak sengaja terpeleset jatuh dan kepalanya membentur mesin cuci.


Darah keluar dari luka di kepala Rena. Nela kaget, dia panik dan segera berjongkok.


"Rena...Rena..." Nela memanggil manggil Rena tetapi gadis itu tidak sadarkan diri.


"Ya Tuhan!!!" Nela mengusap wajahnya kasar.


Nela keluar dari ruang cuci dan kembali lagi setelah beberapa saat.


"Rena. Jangan bercanda denganku, bangun!!!" Nela mengguncang guncang tubuh Rena.


"Arrrrgghhhh...." Nela menggeram frustasi.


Nela berlari keluar dan memanggil kepala koki yang berada di dapur.


"Paman. Nela jatuh terpeleset dia tidak sadarkan diri dan kepalnya mengeluarkan banyak darah." Nela menghampiri kep


ala Koki sambil menangis.


Kepala Koki kaget.


"Apa yang terjadi Nela?"


Nela menangis sedih, dia menjelaskan sambil gemetar.


"Paman, Hiks-Hiks- t-tadi Rena datang ke ruang cuci, d-dia-dia tidak hati hati hingga terpeleset dan jatuh. Paman, ayo lihat..."


Rena menarik tangan kepala Koki membawanya ke ruang cuci.


Sesampainya di ruang cuci genangan darah semakin banyak, kepala Koki berlutut dan menangis.


"Rena, bangun nak..."


"Paman, apakah Rena akan baik baik saja?"


Nela menangis, air matanya terlihat alami tidak seperti di buat buat.


Ibu Reyvan dan nyonya Nera datang ke ruang cuci setelah mendengar keributan.


"Ya Tuhan!!! Apa yang terjadi?" Ibu Reyvan menutup mulutnya karena syok.


Nyonya Nera berjongkok memeriksa denyut nadi Rena.


"Ayo panggil ambulan." ucap Nyonya Nera.

__ADS_1


Ibu Reyvan mengangguk dan pergi, beliau mengambil ponsel untuk menghubungi rumah sakit meminta ambulance.


Nela semakin menangis histeris untuk menyembunyikan kejahatannya, dia memanggil manggil nama Rena.


__ADS_2